Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Berakhir! Part. 2


“Zhi,….”


Rayden langsung berlari menghampiri tubuh Zhia, mendekap dalam pelukkan dan memastikan keadaan Zhia.


Sangat jelas bahwa Evan telah mengarahkan senjata apinya kearahnya dan Zhia yang tiba-tiba muncul dan menghadang serangan Evan.


Akan tetapi setelah Zhia diperiksa secara menyeluruh oleh Rayden, tidak terdapat satu pun luka akibat terkena peluru dari Evan.


Rayden pun segera menatap kearah Evan yang masih terpaku ditempatnya, tatapan Evan membulat dan perlahan mengalihkan tatapan matanya kearah kirinya.


Didalam lensa bola mata Evan menangkap sesosok orang yang tengah memegang senjata api yang terarah kepadanya.


Brrruuuhhh,……


Bruukk,….


Detik berikutnya, Evan langsung memuntahkan darah segar dari mulutnya dan tak lama kemudian dia terjatuh lalu terbaring lemah dilantai.


Darah segar terus mengalir dari kepala Evan yang masih terpaku menatap kearah kirinya.


Baik Noland, Rayden dan Jayden serta Lucia langsung mengikuti arah mata Evan menatapnya.


Terlihat jelas Luca tengah berdiri disana dengan memegang sebuah senjata api yang sebelumnya dibawa oleh Rayden.


Tangan Luca gemetar hebat hingga tanpa sadar dia menjatuhkan senjata itu, wajahnya seketika memucat dan kemudian terduduk lemas disana.


Semua orang dibuat tidak percaya dengan apa yang telah Luca lakukan terhadap Evan.


Luca sendiri pun tidak percaya dengan apa yang telah diperbuatnya barusan, dia bermaksud ingin membuat Lucia lepas dari tawanan Jayden.


Namun keadaan memaksa Luca melakukan hal lain yang tidak pernah ingin dia lakukan.


Saat Luca telah menemukan tempat yang strategis dan ingin membidik Jayden dengan menggunakan ketapelnya.


Akan tetapi, Evan sudah mengarahkan senjata apinya ke arah papahnya dan Luca melihat mamahnya yang tengah berlari hendak menyelamatkannya.


Diantara papah dan mamahnya, Luca sungguh tidak ingin kehilangan keduanya.


Ditengah keputusasaannya menghadapi situasi yang sangat menegangkan, Luca tidak sengaja menemukan senjata api milik papahnya tidak jauh dari tempatnya bersembunyi.


Tanpa berpikir panjang, Luca pun langsung mengarahkan senjata itu tepat dikepala Evan dan dengan cepat menarik pelatuknya.


Sesaat Luca sangat shock mengira bahwa dia terlambat, dia terpaku melihat mamahnya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri tepat dihadapan papahnya.


Luca mengira bahwa Evan telah terlebih dahulu menarik pelatuknya dan peluru itu mengenai mamahnya.


Semua orang masih terpaku ditempatnya masing-masing, mereka sedang berusaha mencerna semua yang terjadi.


Bahkan Lucia sampai lupa untuk memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan dirinya dari Jayden.


Sementara itu, suara tembakkan itu terdengar sampai ditelinga Levi dan Will yang sudah hampir berhasil mengalahkan Felix.


Entah kenapa begitu mendengar suara tembakkan itu, Levi langsung berlari secepat mungkin masuk kedalam rumah itu dan meninggalkan Will yang harus menangani Felix seorang diri.


Kemarahan Levi semakin memuncak begitu tiba disana, dia menyaksikan Nona kecil kesayangannya sedang berada dijadikan tawanan oleh Jayden.


“Beraninya orang seperti dirimu meletakkan pisau dileher Nona kecilku!”


Tanpa basa basi lagi, Levi langsung berlari ke arah Jayden dengan penuh kemarahan.


Dan begitu Levi sudah berada tepat dibelakang Jayden, dia langsung saja menyayat leher Jayden dengan belati kesayangannya.


Srrrreekkk,……..


Darah akibat sayatan yang tepat memutuskan urat nadi Jayden terciprat mengenai rambut panjang Lucia.


Seketika tubuh Jayden tergeletak di lantai, Lucia semakin terpaku dengan situasi menyeramkan yang baru saja dilihatnya.


Lucia perlahan membalikan tubuhnya, kedua bola matanya membulat melihat Jayden yang tengah meregang nyawa dengan tragis ditangn Levi.


“Matilah! Itu hukuman yang tepat untukmu, karena telah berani mengacungkan pisau ke leher Nona kecilku!” ujar Levi yang hanya menatap dingin Jayden yang tengah kehabisan darah.


Sesaat mata Lucia dan Levi saling bertemu, hingga tiba-tiba semua yang ada dihadapan Lucia berubah menjadi gelap.


Akhirnya Lucia tidak sadarkan diri karena terlalu shock dengan semua yang dilihatnya. Levi dengan sigap menangkap tubuh kecil Lucia didalam pelukkannya.


“Papah, jangan berdiam diri saja disana! Cepat tenangkan Luca!” seru Rayden pada Noland yang masih mematung ditempatnya.


Perkataan Rayden langsung menyadarkan Noland dari rasa keterkejutannya, dia pun segera menghampiri Luca yang tengah gemetar ketakutan.


Noland langsung memeluk dan meraihnya dalam gendongannya.


Luca langsung menangis sejadi-jadinya saat sudah berada dipelukkan hangat Grandpanya.


Luca benar-benar berada didalam ketakutan yang luar biasanya, karena tanpa sengaja dan tanpa dia sadari Luca telah membunuh Evan dengan tangannya sendiri.


“Sayang, tenanglah! Semuanya telah berakhir, tidak apa-apa semuanya bukan salahmu!” ujar Noland yang terus membelai lembut kepala Luca dan sesekali menciumnya, memeluknya dengan erat dan menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Grandpa,…..Hikssss,….Lu-luca,…te-telah membunuh paman Evan! Huwaaaa,….Huhuuuu,….”


Noland sampai menitikkan airmatanya, setiap mendengar pengakuan Luca yang terus mengatakan bahwa dia telah membunuh Evan.


Jika saja Evan dan Jaydon bersikap seperti Luca yang mau mengakui kesalahannya, meskipun Luca tidak sengaja melakukannya.


Mungkin kejadian buruk yang terjadi 10 tahun yang lalu ditempat yang sama dan dengan alasan yang sama, tidak akan pernah terulang lagi sekarang.


Jika saja mereka mengakui dan mempertanggung jawabkann semua kejahatan yang telah mereka perbuat pada Rayna, mungkin saja tidak banyak memakan banyak korban seperti sekarang.


“Ayo, kita bawa mereka kerumah sakit sekarang!” ujar Rayden yang kembali menyadarkan Noland dari lamunannya.


Rayden pun langsung menggendong tubuh Zhia ala bride style dan bergegas keluar dari rumah itu untuk menuju kerumah sakit.


Disusul oleh Levi yang menggendong Lucia yang sudah tidak sadarkan diri dan Noland yang bersama Luca yang masih ketakutan setengah mati.


Begitu keluar dari rumah itu, mereka bertemu dengan Will yang sudah berhaasil meringkus Felix.


Will tidak membunuhnya, diahanya membuat Felix pingsan saja.


Will sebenarnya ingin bertanya apa yang telah terjadi didalam sana selama dia sibuk berurusan dengan Felix, apalagi melihat Nyonya mudanya beserta Tuan dan Nona kecilnya tidak sadarkan diri dan ketakutan.


“Tuan,_.....”


“Will, bereskan yang disini! Kami harus segera kerumah sakit sekarang!”


Rayden segera memotong perkataan Will dan langsung saja memberi perintah.


“Baik, Tuan! Akan segera saya laksanakan!” sahut Will sembari membungkuk memberi hormat.


“Tuan gunakan mobil ini saja! Saya baru saja merampas kuncinya dari orang itu. Silahkan gunakan sesuka anda, Tuan!” lanjut Will sembari menunjuk sebuah mobil berwarna hitam dan memberikan kuncinya.


Will mendapatkan kunci mobil itu dari saku celana Felix saat berhasil mengalahkannya.


Apalagi mengingat Will yang selalu siap siaga di keadaan apapun, sebenarnya dia berniat menggunakan mobil itu untuk kembali.


Sehingga dia tidak perlu berjalan jauh untuk menuju ke mobil mereka terparkir sebelumnya.


“Kerja bagus, Will!”


Puji Rayden singkat, tapi berhasil membuat Will serasa melayang bebas di udara.


Will membantu membukakan pintu mobilnya, sehingga memudahkan Rayden membaringkan Zhia dikursi penumpang yang berada didepan.


“Bagus, kerjakan sisanya dengan baik juga!”


Noland pun ikut memujinya, tapi kata terakhirnya penuh dengan penekanan untuk Will menyelesaikan semuanya.


“Te-terima kasih, Tuan besar!” sahut Will yang sebenarnya mau mengucapkan terima kasih atau tidak pada pujian Nonald yang terasa tidak sampai ke hatinya itu.


“Semangat, brother! Aku hanya bisa bantu doa saja ‘yah! Hahahaa,…”


Levi pun tidak lupa memberikan semangat untuk teman senasibnya itu, juga tidak ketinggalan sedikit meledeknya sebelum dia pergi.


“Sialan kau! Cepat pergi sana!” sahut Will dengan raut wajah kesalnya.


“Hahahaa,……..Santai, bro! Tanpa diusir pun aku tetap akan pergi, siapa juga yang mau membantumu membereskan yang disini!”


Levi dan Will kalau sudah bertemu memang tiada kata untuk tidak berantem, pasti ada saja yang mereka berdua perdebatkan.


“Sialan kau!” umpat Will yang semakin kesal dengan perkataan Levi.


“Levi, cepat masuk mobil! Kau mau ikut kami ke rumah sakit atau membantu Will membereskan yang sini!” seru Rayden yang hanya tinggal menunggu Levi membawa Lucia masuk kedalam mobil.


“Ba-baik, Tuan!” sahut Levi yang segera masuk kedalam mobil itu. Setelah Levi sudah masuk kedalam mobil, Rayden pun langsung tancap gas menuju kerumah sakit.


“Dasar bocah sialan! Bahagianya dia sekarang bisa menggendong Nona kecil kesayangannya itu. Hahahaa,…..” ujar Will yang tertawa mengingat betapa Levi sangat menyukai Nona kecil mereka.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚