Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Double L Rangers


“Aku tidak tahu! Kalau aku tahu pria malam itu sehebat dan sesempurna dirimu, aku pasti mencari target yang lain malam itu!” sahut Zhia sembari memayunkan bibirnya, hingga membuat Rayden tak tahan untuk mencium bibir itu lagi.


Cup,….


Sebuah kecupan manis kembali Rayden berikan pada bibir Zhia, dia kemudian berkata “Mulai sekarang, jangan berpikir ataupun memikirkan pria lain. Karena kau sudah menjadi milikku!”


Zhia pun kembali terpesona dengan perbuatan dan perkataan manis Rayden seakan dirinya menjadi orang yang paling berharga didalam hidup pria itu.


Hati Zhia menghangat, perlahan sosok Rayden semakin memenuhi hatinya yang selama ini kosong.


“Kenapa kau diam? Jangan bilang kalau kau sedang memikirkan manusia brengsek itu lagi?” ujar Rayden dengan tatapan penuh menyelidik.


“Tidak!” sahut Zhia dengan cepat, matanya seketika membulat saking terkejutnya. Kenapa Rayden bisa-bisanya mengatakan hal semustahil itu.


“Aku tahu! Kau tidak akan mungkin memikirkan pria itu!” ujar Rayden yang memang sengaja ingin menggoda istrinya itu.


“Terima kasih, karena sudah mau terbuka padaku dan memberi informasi pertama kali padaku mengenai orang itu.” Lanjut Rayden sembari membelai rambut panjang Zhia dan sesekali mempermainkan ujung rambut Zhia dengan jari tangannya.


Tanpa sadar Rayden melihat luka tusukan yang berada didada Zhia. Raut wajah Rayden berubah sedih, dia menyentuh luka yang diperban itu dengan lembut dan berkata “ Pasti ini sangat sakit, bukan?”


“Aku tidak apa-apa! Hanya luka kecil dan semua ini berkat Evan yang tepat waktu menolongku!” ujar Zhia yang terus saja mengingat kebaikan Evan.


Akan tetapi, perkataan Zhia membuat Rayden terpikirkan sesuatu yang masih mengganjal pikirannya saat ini. Seketika dia kembali teringat dengan salah satu rekaman cctv yang dia periksa semalam.


“Benar, Evan! Aku ingat ada satu lagi petunjuk yang sangat penting dalam salah satu rekaman cctv itu. Aku harus kembali mengeceknya sekarang!” batin Rayden, dia seperti menemukan sebuah harta karun saja.


“Zhi, ada sesuatu yang harus aku urus diruang kerja sekarang! Kita lanjutkan ini nanti malam saja ‘yah! Ouhya, aku lupa kalau kau sedang terluka. Kita lanjutkan saat lukamu sudah sembuh saja.”


Rayden pun segera menurunkan tubuh Zhia dari pangkuannya, dia dengan terburu-buru pergi keruang ganti meninggal Zhia yang masih berdiri menatap tingkah anehnya.


“Dasar pria aneh! Siapa juga yang bernafsu mau melakukan itu tadi.”


Zhia menggerutu dengan kesalnya, karena seakan dia yang terlihat sedang merayu Rayden.


Zhia pun tidak mau ambil pusing lagi dengan perkataan Rayden itu. Zhia pun Kembali melanjutkan tujuannya masuk kedalam kamar mandi tadi yaitu untuk membersihkan dirinya.


Sementara Rayden yang baru saja selesai mengenakan pakaian kerjanya, segera berjalan menuju keruang kerjanya lagi.


Rayden bahkan tidak sadar bahwa kedua malaikatnya sudah bangun saat berjalan melewati kamar tidurnya tadi. Karena didalam pikiran Rayden saat itu adalah memastikan apakah Evan sekutunya atau musuhnya.


“Kak, papah kenapa? Apakah papah tadi tidak melihat kita disini?” tanya Lucia dengan wajah bangun tidurnya yang bingung.


“Papah sepertinya sedang sangat sibuk sekarang! Papah bahkan tidak tidur semalaman!” Luca menjawabnya tanpa sadar.


“Bagaimana kak Luca bisa tahu, kalau papah semalam tidak tidur?”


Lucia pun merasa semakin penasaran. Apalagi saat kakaknya mengetahuinya, sedangkan dia tidak.


“Hehehee,….Karena semalam kakak membantu papah merentas data dan menemaninya bekerja mencari orang yang melukai mamah di ruangan kerjanya!”


Luca akhirnya memberitahu adik kembarnya itu mengenai kejadian semalam.


“Iiiihhh,…. Kak Luca jahat! Kenapa Luci tidak di ajak! Luci ‘kan juga mau membantu papah!”


Lucia pun akhirnya mengambek, mendengar papah dan kakaknya bekerjasama tanpa dirinya.


“Kamu ‘kan sudah tidur, Luci! Lagian kalau kamu ikut siapa yang akan menemani mamah disini!”


Luca tampak seperti kakak yang sangat baik, dia dengan lembut menjelaskan agar adik kembarnya itu mengerti.


“Ouhya,…Kak Luca punya kabar yang sangat baik untukmu!” Luca tiba-tiba teringat dengan perkataan papahnya semalam.


“Apa?” sahut Lucia dengan juteknya.


“Papah bilang, katanya kita diperbolehkan masuk ke grup mafianya papah!” seru Luca dengan penuh semangat.


“Beneran kak? Papah mengijinkan kita bergabung dengan grup mafianya milik papah?”


Lucia langsung berseru, tiba-tiba saja rasa ngambeknya menghilang entah kemana. Wajahnya terlihat lebih antusian di bandingkan Luca, apalagi kalau sudah menyangkut dunia bela diri kesukaannya.


Baik Luca maupun Lucia mengartikan klan sama saja dengan grup pada umumnya yang biasa mereka ikuti saat disekolah.


“Iya, beneran! Kalau tidak percaya, tanyakan langsung pada papah sana. Palingan papah akan melarangnya lagi melihatmu yang begitu bersemangat begitu.” ujar Luca yang ingin sedikit menggoda adik kembarnya.


“Ouhya, kak! Tadi ‘kan kak Luca bilang kalau papah sudah mencari orang yang melukai mamah? Siapa orang itu, kak? Biar Luci beri pelajaran.”


Lucia tiba-tiba saja teringat perkataan Luca yang mengatakan bahwa kakak dan papahnya telah mencari orang yang telah berani melukai mamahnya.


Lucia pun mencecar Luca dengan berbagai pertanyaan sembari menggulung lengan baju tidurnya.


“Papah belum menemukannya, Luci! Tapi nama pelakunya hampir sama persis dengan nama paman Jay! Karena itulah papah sepertinya telah meretas data dari paman Jay dan bahkan sampai paman Evan juga!” ujar Luca yang tidak sengaja mencuri dengar setiap papahnya bergumam pada dirinya sendiri.


“Kenapa paman Evan juga? Bukankah paman Evan yang telah menyelamatkan mamah?”


Lucia merasa penasaran dengan alasan papahnya juga mencari informasi mengenai Evan, padahal sudah jelas-jelas Evan ‘lah yang telah menyelamatkan mamahnya dari penyerangan itu. Bahkan sampai melukai tangannya sendiri.


“Kakak juga tidak tahu! Tapi sepertinya ada hubungannya dengan grup sebelah yang bermusuhan dengan grupnya papah!” sahut Luca yang memang tidak mengerti dengan informasi apa yang sedang dicari oleh papahnya itu.


“Berarti sudah waktunya ‘Double L Rangers’ beraksi sekarang!” seru Lucia dengan penuh semangat yang menggebu-gebu.


“Double L Rangers? Apa itu?” ujar Luca dengan penuh tanya kepada adiknya.


“Tentu saja kita berdua, kak! Luca dan Lucia, kalau disingkat menjadi Double L dan Rangers itu artinya kita akan menjadi pahlawan untuk membantu mamah dan papah!” jelas Lucia yang sepertinya sudah kecanduan nonton Power Rangers film kesukaannya.


“Kau benar, Luci! Ayo, kita bantu papah diam-diam. Nanti setelah papah sudah pergi kekantor kita akan menyelinap diam-diam keruang kerja papah.” sahut Luca yang menjadi bersemangat lagi untuk meretas computer papahnya yang ada diruang kerja pribadinya.


“Siap, kak! Ayo, kita mulai!” sahut Lucia dengan cepat.


“Double L Rangers! Beraksi!” seru Luca dan Lucia serentak, mereka bahkan melakukan gerakan memutar tangan searah jarum jam.


Kemudian, salah satu tangan mereka diarahkan menjulang kelangit dan tangan yang satunya lagi berada dipinggang.


“Kalian sedang apa?”


Suara Zhia membuat si kembar merasa terkejut. Ternyata aksi mereka yang meniru pahlawan dalam TV dilihat semuanya oleh Zhia. Beruntung percakapan mereka tidak didengar oleh papahnya itu.


“Mamah!” seru Luca dan Lucia yang langsung berlari menghampiri mamahnya dan kemudian memeluknya.


“Mamah sudah baikan?” tanya Luca pada mamahnya


“Apa Luka mamah masih terasa sakit?” Belum sempat Zhia menjawab pertanyaan putranya, kini putri kecilnya juga ikut bertanya.


“Sini biar Luca membantu mengoleskan obat!”


Luca bahkan dengan senang hati akan merawat mamahnya yang sedang sakit.


“Apa mamah mau dipijat? Luci akan memijat seluruh tubuh mamah yang terasa sakit.” Lucia pun tidak mau kalah dengan kakaknya.


“Tidak perlu, sayang! Mamah sudah membaik sekarang. Ini hanya luka kecil bagi mamah, jadi kalian tidak perlu khawatir.”


Zhia pun menolak kebaikan hati kedua anak kembarnya itu dengan lembut.


“Padahal kami ingin merawat mamah dengan baik!” ujar Luca dan Lucia yang langsung tertunduk dan merasa kecewa, karena mamahnya ternyata tidak membutuhkan bantuan mereka disaat sakit seperti ini.


Bersambung...........


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚