Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Rekaman Terakhir


“Sayang, tapi mamah sungguh tidak apa-apa sekarang!”


Zhia membelai lembut rambut kedua anak kembarnya itu.


“Ya sudah kalau mamah tidak membutuhkan bantuan dari kami! Kami berdua memang anak yang tidak berguna untuk mamah.”


Lucia terlihat sangat sedih, dia ingin sekali merawat mamahnya seperti mamahnya merawat mereka saat sedang sakit.


“Jangan sedih begitu ‘dong, sayang! Hati mamah ‘kan jadi terasa sakit melihat kalian bersedih seperti ini.”


Zhia mencoba membujuk kedua anak kembarnya itu agar tidak merasa tidak di butuhkan atau di abaikan olehnya.


“Hmmm, bagaimana kalau kalian berdua bantuin mamah mengeringkan rambut!”


Zhia pun mengalihkan perhatian si kembar pada rambutnya yang masih basah karena dia baru saja selesai keramas. Luka tusukkan didadanya, tidak membuat Zhia menjadi bersikap manja sedikitpun.


“Oke, Mah!” seru Luca dan Lucia dengan penuh antusias.


“Mamah duduk dulu dikasur!” pinta Lucia yang menyuruh mamahnya untuk duduk di atas kasur, Lucia bahkan terlihat hati-hati membantu mamahnya berjalan sampai menuju ranjang.


“Luca akan mengambil handuknya, Mah!”


Sementara Luca langsung berlari masuk keruang ganti untuk mengambil handuknya.


Setelah mengambil dua handuk yang dibutuhkan, Luca pun Kembali berlari untuk melakukan tugasnya.


Luca memberikan salah satu handuknya kepada Lucia dan mereka pun mulai melakukan tugas mereka yaitu mengeringkan rambut panjang mamahnya.


Mereka melakukan tugasnya sambil bercanda ria dengan mamahnya. Pagi hari dikamar itu sudah dipenuhi dengan canda tawa dari si kembar dan mamahnya, hanya satu yang kurang yaitu papah mereka yang harus berkutat didepan computer diruang kerjanya.


Rayden tengah memastikan kembali rekaman cctv disaat Evan muncul secara tiba-tiba di tempat kejadian penyerangan.


Rayden terus membandingkan waktu kemunculan Evan dengan salah satu rekaman cctv yang sepertinya terlewatkan oleh Will.


“Ketemu! Jadi kau rupanya.” gumam Rayden yang akhirnya menemukan penyebab perasaan terganggunya.


Dalam rekaman cctv yang terlewatkan oleh Will, ternyata terdapat sosok Evan yang sudah berada di dekat Zhia jauh sebelum orang-orang itu mengepung dan menyerang Zhia.


Bahkan saat Zhia sedang dipojokkan oleh orang-orang itu Evan hanya diam melihatnya saja, Evan langsung bergerak setelah melihat seseorang menusuk Zhia.


Rayden segera meraih ponselnya, dia menekan sebuah nomor dan menghubunginya.


“Hallo, Tuan! Ada apa malam-malam begini menghubungiku lagi? Bukankah tadi Tuan sendiri yang menyuruhku untuk beristirahat?” ujar Will yang mengangkat panggilan telepon dari Tuannya dengan kedua matanya yang masih tertutup rapat, bahkan setengah nyawanya masih berada di alam mimpi.


“Aku tarik kembali perkataanku yang tadi! Kau cepat kesini, kita harus pergi ke markas sekarang juga!”


Perintah Rayden, lalu memutuskan sambungan teleponnya sebelum Will menjawabnya.


Rayden segera membereskan semua rekaman dan hasil pencariannya semalam, lalu menyembunyikannya lagi ditempat rahasianya.


“Aishhh,…Kalau seperti ini terus, aku bisa berubah menjadi zombie paling tampan!”


Will terus menggerutu pada ponselnya sedang dia pegang. Seakan Will menganggap bahwa ponsel itu adalah Rayden, dia memarahi, memukuli, mengumpat bahkan sampai melempar ponselnya berulang-ulang.


Meskipun begitu, Will tetap saja patuh akan perintah Rayden. Will segera bersiap dan langsung menuju ke tempat Tuannya dengan cepat.


Sekarang Rayden sudah mengetahui semuanya, siapa pelaku dan siapa dalang yang berhubungan dengan penyerangan yang membuat istrinya terluka itu.


Rayden akan pastikan semua orang yang terlibat dalam penyerangan itu akan mendapat balasan yang setimpal, terutama untuk Liam dan Grace. Dua sampah masyarakat yang seharusnya sejak awal sudah Rayden basmi.


Mungkin Rayden akan dengan mudah untuk menangkap Liam, tetapi berbeda dengan Grace yang mendapat dukungan dari klan Tiger Dark.


Sementara untuk Evan dan orang bernama Jaydon yang didalam folder berstatus sebagai ketua klan Tiger Dark yang baru, Rayden akan berpura-pura mempercayai apa yang mereka ingin tunjukkan padanya.


Karena hanya ini yang bisa mempermudah Rayden menemukan musuhnya yang sebenarnya, berpura-pura percaya tapi tetap waspada.


“Mulai sekarang aku akan mengikuti permainan kalian! Aku ingin tahu sampai kapan Evan akan bersembunyi dan menunjukkan wajah aslinya didepanku!” gumam Rayden yang telah mempunyai rencana bagus untuk mengatasi musuh besarnya itu.


Rayden pun keluar dari ruang kerjanya. Kemudian, Rayden kembali kekamarnya untuk melihat apakah kedua anak kembarnya sudah bangun atau belum.


Namun, baru saja Rayden akan menutup pintu ruang kerjanya. Will tiba-tiba saja muncul tepat didepannya, hingga membuatnya sangat terkejut.


“Tuan, saya sudah berada disini!” ujar Will dengan suara yang terdengar seperti Zombie dan mata pandanya yang sangat parah, sudah pantas untuk disebut sebagai Zombie.


“Astaga,.. gaga! Siapa kau?’ seru Rayden dengan tampang terkejutnya melihat penampilan Sekertarisnya yang bagaikan mayat hidup itu.


“Ini aku, Tuan! William Coopers, sekertaris pribadi anda yang paling tampan, genius, bertanggung jawab, dapat di andalkan dan rajin menabung serta tidak sombong!” sahut Will dengan segenap gelar yang dia dapatkan hingga sekarang.


Dengan wajah tanpa rasa bersalah, Rayden mencecar Will dengan berbagai pertanyaan.


Padahal yang membuat penampilan Will sampai seperti mayat hidup adalah Rayden sendiri yang memberi tugas tidak kira-kira.


“Tuan, saya seperti ini berkat anda! Begadang mengurus konferesi pers hari itu, mengurus jadwal anda di kantor, memeriksa rekaman cctv, mencari keberadaan mantan tunangan anda, menghancurkan keluarga mantan calon mertua anda, mencari pengawal untuk Nyonya muda dan yang terakhir menyuruhku datang pagi-pagi buta begini. Apa anda tidak tahu ini baru jam berapa? Baru jam 6 pagi, Tuan! Aku bahkan belum sampai sejam untuk menutup mataku yang berharga ini!”


Will pun tidak tahan lagi, sebelum Tuannya itu menambah pekerjaan baru untuknya lebih baik dia merengek dan mengatakan semua tugas-tugasnya yang sampai membuatnya bagaikan mayat hidup itu.


“Kasihan sekali kamu, Will!” ucap Rayden seraya menepuk-nepuk bahu Will seakan memberikan semangat.


“Benarkan, Tuan!” sahut Will dengan wajah hampir menangis.


“Iya, benar! Tapi maaf, itu sudah menjadi tugas dan pekerjaanmu. Jadi tolong dinikmati saja apa adanya ‘yah!”


Setelah memberikan semangat dalam sekejap Rayden langsung menjatuhkan harapan Will.


Kemudian berjalan menuju kekamarnya untuk berpamitan pada istri dan kedua anak kembarnya sebelum pergi.


Sementara Will hanya bisa diam dan mengikuti Tuannya itu sembari mengelap air mata seakan dia sedang menangis, meratapi nasibnya yang malang.


“Tuan, anda kejam sekali pada saya. Hikss,…” gumam Will dengan sedihnya.


Rayden pun masuk kedalam kamar pribadinya, dia pun tersenyum melihat pemandangan indah yang berada didepan matanya sekarang. Dimana Zhia dan kedua anak kembarnya sedang bercanda tawa dengan bahagianya.


“Selamat pagi, Papah!” sapa Lucia saat melihat papahnya datang, dia pun menyambut kedatangan papahnya dengan senyuman secerah sinar Mentari.


Rayden pun tersenyum dan berjalan menghampiri istri dan anaknya.


“Selamat pagi, Pah! “ sapa Luca juga sembari memegangi handuk untuk mengeringkan rambut mamahnya.


“Selamat pagi! Anak kembar kesayangan papah.”


Rayden pun berbalik menyapa dan memeluk kedua anak kembarnya itu. Tidak lupa dia juga mencium pipi chubby mereka yang terlihat sangat menggemaskan itu.


Sementara Zhia kembali merasa diabaikan disini


“Kalian sedang apa?” tanya Rayden pada kedua anak kembarnya itu.


“Membantu mengeringkan rambut mamah, pah!” Lucia pun menjawab dengan cepat.


“Kau keramas, Zhi? Bukankah kita tidak jadi melakukannya tadi?” ujar Rayden yang yang langsung menatap kearah Zhia penuh tanya, dia sebenarnya hanya ingin menggoda istrinya saja.


“Melakukan apa, Pah?” seru Luca dan Lucia dengan wajah polosnya karena merasa penasaran.


“Isshh,..Kau ini bicara apa ‘sih?”


Zhia pun menatap Rayden dengan geram, bahkan pipinya sudah kembali merona saat mengingat kejadian di kamar mandi tadi.


“Tidak apa-apa! Papah mau pamit pergi bekerja sekarang, banyak pekerjaan yang harus papah selesaikan dikantor.”


Rayden pun segera mengalihkan pembicaraan, apalagi mengingat Luca dan Lucia yang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Bisa gawat kalau mereka terus bertanya seperti ini.


“Pergilah, Pah! Bekerja yang rajin ‘yah, Pah! Biar dapat uang yang banyak.” sahut Lucia dengan menggambarkan kata ‘banyak’ dengan menggunakan kedua tangannya.


Bersambung........


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚