Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Hampir Lepas Kendali


“Ray, ada apa?” tanya Zhia yang menyadari Rayden sedang melamunankan sesuatu.


“Tidak ada apa-apa, sayang! Aku hanya sudah tidak sabra ingin pestanya cepat berakhir.”


Jawaban Rayden sontak membuat Zhia tersipu malu. Secara tidak langsung Rayden mengatakan duia sudah tidak sabra ingin melakukan malam pertamanya.


“Apaan ‘sih, Ray! Mesum banget ‘sih kamu!” ujar Zhia sedikit memukul dada bidang milik Rayden dengan malu.


“Ouhya,……Luca dan Lucia kemana ‘yah? Kenapa tidak kelihatan ‘yah?” lanjut Zhia yang menyadari bahwa kedua abanak kembarnya itu sudah lama belum kembali.


Bahkan di aula pesta mereka tidak terlihat dimana pun.


Degh,……


“Jangan-jangan, benar memang telah terjadi sesuatu dan ini ada kaitannya dengan anak-anakku! Sialan, awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku.” batin Rayden.


Entah kenapa tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada kedua anak kembarnya. Rayden yakin bahwa ada penyusup yang berhasil masuk kedalam pesta pernikahannya dan menjadikan kedua anak kembarnya sebagai target utamanya.


“Ray? Kok kamu malah melamun lagi ‘sih?”


Perkataan Zhia kembali menyadarkan Rayden dari lamunannya. Sesaat Rayden bingung mau menjawab apa, sudah pasti si kembar sedang dalam masalah hanya dengan melihat gerak gerik semua pengawal disana terutama Will dan Levi.


Tapi jelas Rayden tidak boleh mengatakan yang sebenarnya pada Zhia, kalua tidak suasana pesta akan menjadi kacau.


“Hah, kapan aku melamun? Aku tadi cuma sedang berpikir apa kita sudahi saja pestanya? Tadi aku melihat si kembar sepertinya ikut dengan papah dan mamah keruang istirahat, sepertinya mereka sudah merasa lelah.” ujar Rayden sepertinya harus berbohong demi kebaikan Zhia.


“Syukurlah kalau mereka bersama dengan mamah dan papah, aku jadi merasa lebih lega! Tamu undangan sepertinya sudah mulai pulang satu persatu, Ray! Kita tunggu sebentar lagi ‘yah?” pinta Zhia yang merasa tidak enak karena masih ada beberapa kenalan Rayden yang masih ingin mengucapakan selamat atas pernikahan mereka.


“Terserah kamu saja, Zhi! Jangan memaksakan diri ‘yah?” ujar Rayden sambil tersenyum dengan manisnya, meskipun didalam hatinya merasa sedikit cemasdan khawatir dengan keadaan kedua anak kembarnya itu.


...****************...


Sementara didalam ruangan beristirahat keadaan Julia mulai sedikit membaik dari sebelumnya.


Tapi perasaan Julia masih saja merasa tidak tenang sebelum kedua cucu kembarnya kembali dengan selamat dan dalam keadaan baik-baik saja.


“Bagaimana kerja kalian semua? Menjaga dua anak kecil saja kalian tidak mampu! Pah, cucu kita dimana?”


Julia sudah pasti memarahi dan menanyakan kinerja Will dan para pengawal yang lainnya. Julia terus menangis dan menanyakan keberadaan cucu kembarnya pada sang suami.


“Maafkan kami, Nyonya besar!”


Will hanya bisa mengucapkan kata maaf atas keteledorannya dan pengawal yang lain dalam bertugas. Sepertinya mereka harus bersiapa menerima hukuman berat atas kesalahan ini.


“Will, kau bantu Levi saja!”


Perintah Noland yang masih bisa berpikir lebih rasional dibandingkan menyalahkan pengawalnya pada saat seperti ini.


Hukuman pasti akan Noland berikan pada Will dan juga pengawal yang lainnya, tapi menemukan cucu kembarnya sekarang adalah prioritas paling utama untuk mereka.


“Baik, Tuan besar!” sahut Will, dia pun langsung pergi keruang kendali untuk membantu Levi yang sudah berada disana terlebih dahulu.


Sementara Noland harus menenangkan istrinya yang terus saja menangis dan khawatir dengan keselamatan Luca dan Lucia.


Diruang kendali monitor, Levi dan beberapa anak buah yang lain sedang memeriksa semua rekaman cctv. Mereka semua terus saling bekerjasama mencari keberadaan si kembar.


Levi sudah memeriksa rekaman ccrtv yang berada disetiap jalan keluar hotel, tapi dia tidak menemukan si kembar didalam rekaman itu.


Hal itu berarti si kembar dan sang penculiknya masih berada didalam hotel itu, mereka harus lebih ekstra dalam mencarinya.


“Kalian semua periksa dengan hati-hati, jangan sampai ada yang terlewatkan! Bagaimana dengan atap hotel? Kalian sudah memeriksanya?” ujar Levi yang memeriksa hingga tempat paling mendetail yang biasa digunakan para penjahat.


“Sudah, Tuan! Tidak ada tanda-tanda mereka berada disana, Tuan!” sahut salah satu anak buah yang telah memeriksa rekaman cctv yang berada diatap.


“Lev, bagaimana sudah menemukan petunjuk?” ujar Will begitu memasuki ruang kendali monitor.


“Belum, tapi sepertinya mereka masih berada didalam hotel ini! Tapi aku belum menemukan petunjuk yang lebih spesifik lagi!” sahut Levi yang sedang serius menantap setiap layar monitor yang ada didepannya sekarang.


“BERHENTI!!” seru Will pada salah satu anak buahnya yang sedang memutar salah satu rekaman cctv yang masih berada dilantai yang sama dengan aula pesta.


“Ada apa?” tanya Levi yang langsung mengalihkan pandangannya pada layar monitor yang ditubjuk Will.


“Putar ulang rekaman cctvnya!” perintah Will yang seperti melihat sesuatu didalam rekaman itu.


“Ba-baik, Tuan!" sahut anak buah dengan cepat dia memutar kembali rekaman cctv yang tadi telah dia putar.


“Berhenti disitu!”


Perintah Will lagi dengan cepat, anak buahnya pun mengikuti apa yang diperintahkan.


“Perbesar!” lanjut Will.


Benar saja, itu si kembar yang sedang mereka cari Bersama dengan sang penculik yang menyamar sebagai pelayan.


“Ketemu! Katakan, jalan ini mengarah kemana saja?” ujar Levi yang pada sang manager hotel yang pastinya mengetahui dengan pasti setiap seluk beluk hotelnya.


“Itu mengarah keberapa kamar, Tuan! Dan juga ada mengarah pada sebuah Gudang persediaan,_.......”


“Kita kegudang itu sekarang, Lev!” sahut Will yang segera memotong perkataan sangan manager hotel dan langsung bergerak cepat menuju keruang Gudang penyimpanan itu.


Levi dan beberapa anak buah yang lainnya pun segera mengikuti Will yang berjalan mendahuluinya.


Sementara didalam gudang itu, Lucia masih melawan Liam yang semakin terdesak. Iblis kecil, itulah sebutan yang terus diucapkan oleh Liam yang semakin terdesak oleh serang demi serangan yang di berikan oleh Lucia.


Klaaanggg,………………


Tujuan Lucia akhirnya tercapai, dia berhasil menjatuhkan pisau yang digunakan Liam untuk menyerang. Lucia tanpa ragu mengambil pisau itu dan melempar tongkat kayunya kesembarangan tempat.


Sembari memainkan pisau ditangannya, Lucia kembali berjalan mendekati Liam yang sekarang baru merasa ketakutan melihat kemampuan Lucia yang sesungguhnya.


“Berhenti kau dasar anak iblis!” seru Liam dengan tubuh gemetarnya berjalan mundur menjauhi Lucia yang semakin mendekat padanya.


“Waahh,……Paman memang tidak ada takut-takutnya ‘yah! Masa ngatain Luci anak iblis, kadi iblis beneran baru tahu rasa!” gumam Luca yang masih saja merasa takjub dengan keberanian Liam, apalagi disaat adiknya sudah benar-benar mengamuk.


“Paman pelayan! Katanya paman ingin mengajak kami bermain, tapi kenapa paman terlihat takut?” ujar Lucia semakin berjalan mendekatpada Liam.


“Ouhya,…..Tadi cara paman salah saat menggunakan pisau ini! Sini biar Luci tunjukkan cara yang benar agar paman lain kali tidak salah lagi dan merusak gaun orang lain!” lanjut Lucia dengan lihainya dia terus memainkan pisau itu seperti sedang bermain yoyo saja.


“Dasar bocah sialan!”


Liam berusaha mencari senjata yang bisa di gunakan untuk melawan bocah iblis itu, dia terus melihat kanan dan kirinya sampai dia menemukan sebuah tongkat besi yang tidak jauh darinya.


Liam pun segera mengambilnya, dia langsung saja menyerang Lucia dengan menggunakan tongkat besi itu secara membabi buta.


Namun sayangnya, sebuah tongkat besi maupun pedang tidak akan menjadi masalah untuk seorang Lucia selama yang menggunakannya itu orang bodoh seperti Liam.


Dengan santainya, Lucia terus menghindar dan menyerang sampai membuat Liam mengalami beberapa luka sayatan akibat serangan dari pisau Lucia.


Hingga sampai dititik Lucia merasa sangat marah karena Liam mengatakan sesuatu yang buruk tentang mamahnya, yaitu


“Kau hanya anak seorang pelacur! Tanyakan pada ibu, apakah benar dia pernah memohon untuk aku tiduri! Meskipun jawabanya tentu sudah sangat pasti. Hahahaa,………….”


Dengan penuh amarah Lucia berniat ingin melemparkan pisau yang berada ditangannya kearah Liam, dia telah menargetkan antara kepala atau jantungnya yang ingin dia jadikan sasaran pisaunya itu.


Luca pun menyadari apa yang ingin dilakukan oleh adik kembarnya itu, dia pun berusaha menghentikannya dengan berkata “ Luci, jangan! Papah dan mamah tidak akan pernah menyukainya jika kau melakukan itu!”


Srrrttttttttttttt,……………………..Jleb,………..


Bersambung............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚