
Ternyata apa yang di[pikirkan oleh Noland memang benar, Luca dan Lucia berniat untuk meminta keadilan atas perlakuan paman Evan mereka.
Hal dibicarakan dengan Will ternyata mengenai akar masalah yang sedang terjadi sekarang, sebelum mereka ikut terlibat meraka harus tahu awal mulanya terlebih dahulu.
“Paman Will, tolong katakan dengan sejujurnya. Apakah paman Evan yang telah membunuh kakak Eva?” ujar Luca dengan tatapan serius yang meminta penjelasan.
“Iya, Evan ‘lah yang membunuh Eva dan pengawal yang lainnya!” sahut Will yang tidak dapat menutupinya lagi.
“Apa semuanya dibunuh? Lalu bagaimana dengan Kak Alea?” seru Lucia yang sangat berharap Alea bisa diselamatkan.
“Nona Alea masih hidup dan sekarang sedang menjalani perawatan di rumah sakit secara intensive!” jelas Will masih dengan wajah sedihnya.
“Syukurlah, Luci tidak mau kehilangan Kak Alea juga!” ujar Lucia yang sedikit bernafas lega mendengarnya, meskipun keadaan Alea jauh dari kata baik-baik saja.
“Paman Will, apakah papah kami melakukan hal buruk pada paman Evan?”
Pertanyaan yang tidak pernah Will duga selama ini dari Tuan kecilnya membuatnya sangat terkejut.
“Tidak, Tuan kecil! Bukan Tuan muda yang memulai semua ini, tapi Evan ‘lah yang memulai segalanya. Jika bukan karena mereka,_.............”
“Apakah paman Evan yang telah membunuh adik kembar papah yang bernama Rayna itu?” ujar Lucia yang memotong perkataan Will.
“Be-benar, Nona kecil!” sahut Will dengan sedikit tergagap.
“Baiklah, kami sudah mengerti sekarang! Terima kasih banyak paman Will atas informasinya.” ucap Luca yang semakin membuat Will bingung dengan sikap kedua anak kembar itu.
“Paman Will mulai sekarang jangan terkejut ‘yah, kalau kami aktif dalam pencarian mamah!” ujar Lucia dengan penuh percaya diri.
Saat sedang memikirkan perkataan Nona kecilnya yang terdengar penuh arti itu, tiba-tiba Will dikejutkan dengan dering ponselnya yang menandakan ada panggilan masuk.
Begitu melihat layar ponselnya, Will dapat mengetahui bahwa Levi ‘lah yang menghubunginya. Will pun segera menjawabnya.
“Ada apa?” tanya Will langsung pada intinya.
“Beraninya kau bicara seperti itu padaku ‘yah, Will?” ujar Rayden dengan penuh penekanan disetiap katanya.
“Ma-maafkan saya, Tuan! Saya kira tadi Levi yang menghubungiku!”
Will pun langsung dibuat salah tingkah begitu menyadari bahwa orang yang menghubungi dirinya adalah Tuan mudanya sendiri.
Ternyata menggunakan ponsel Levi untuk menghubungi Will, karena ponselnya kehabisan baterai.
Saat ini Rayden sudah berada dibandara X dan telah memeriksa tentang keberadaan Evan dan Zhia disana.
“Kami kehilangan petunjuk! Ternyata Evan orang yang sangat teliti, dia membuat ponselnya dibandara dan menggunakan identitas palsu untuk melakukan penerbangan. Ditambah lagi, pesawat yang digunakan oleh Evan membawa kabur Zhia sekarang hilang kontak dengan pusat kembali. Will, kau cepat ke mansion! Tanyakan pada putraku, apakah dia sudah berhasil mengaktifkan alat pelacak pada cincin itu?” Jelas Rayden yang terdengar sangat putus asa di seberang sana.
“Paman Will, bilang pada papah kalau Luca sudah mengirim kembali aplikasinya yang sudah diaktivkan!” ujar Luca yang mendengar perkataan papahnya, meskipun terdengar sangat lirih saat sampai ditelinganya.
“Kata Tuan kecil, anda diminta untuk mengecek email! karena Tuan dan Nona kecil sekarang sedang bersama denganku!”
Will pun menyampaikan apa yang Luca katakana padanya tadi.
“Kau sudah berada di mansion? Bagaimana keadaan anak-anaku sekarang? Apakah mereka masih menangis?”
Sederet pertanyaan Rayden langsung lontarkan ketika mengetahui bahwa Will sedang bersama dengan anak kembarnya.
“Tuan dan Nona kecil baru saja berhenti menangis! Kami sedang tidak berada di mansion, tapi di rumah berkabung! Tuan pengawal Nyonya muda yang bernama Eva tidak bisa tertolong lagi, dia meninggal dunia saat menjalani operasi!”
Jelas Will yang baru bisa mengabari mengenai kematian Eva pada Tuannya, karena dia tidak mau menambah beban pikiran Tuannya itu.
“Sampaikan pada keluarganya, aku turut berduka Will!” pinta Rayden yang merasa sedikit menyesal karena tidak hadir dipemakaman Eva yang mengorbankan nyawa sendiri demi melindungi istrinya.
“Baik, Tuan!” sahut Will, meskipun itu sudah disampaikan oleh Noland sebelum Rayden mengetahui bahwa Eva sudah meninggal dunia.
“Kalau begitu aku tutup dulu, Will!”
Setelah mengatakan itu seperti biasa, Rayden langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Karena sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu, kali ini Will pun tidak ambil pusing mengenai kebiasan buruk Tuan mudanya itu.
“Tuan dan Nona kecil, jika sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi disini! Lebih baik kita kembali saja sekarang, Tuan dan Nyonya besar pasti sedang mencari-cari anda berdua!” ujar Will yang masih harus melakukan hal lain setelah urusan pemakaman Eva selesai.
“Ayo, Paman Will! Kami juga masih harus melakukan sesuatu!” sahut Luca yang berjalan terlebih dahulu bersama dengan Lucia.
“Apa lagi yang mereka rencanakan?” gumam Will yang menjadi sangat penasaran dengan aksi tidak terduga dari kedua anak kembar itu sembari berjalan mengikutnya sampai bertemu dengan Tuan dan Nyonya besarnya.
...****************...
Sementara, Evan, Jayden dan beberapa anak buahnya sedang berada diperjalanan udara untuk membawa Zhia kesebuah pulau yang sangat terpencil.
“Berapa lama lagi kita akan sampai?” tanya Evan pada Jayden.
“Sekitar saju jam lagi, Tuan!” jawab Jayden dengan perkiraan saja.
“Baiklah, bagaimana dengan keadaan dinegara A?” ujar Evan yang tertarik ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Rayden sekarang.
“Menurut beberapa anak buah kita yang disana, Cano seperti kehilangan kendali. Dia memblokir semua bandara untuk menemukan keberadaan kita dan Zhia, sepertinya keputusan yang tepat untuk kita menggunakan ponsel yang baru dan membuang lama. Karena ternyata Cano menyuruh orang untuk meretasnya!” jelas Jayden yang secara tidak langsung memuji insting tajam milik Evan.
“Ini baru permulaan! Akan aku buat lebih dia menderita lagi.” Ujar Evan dengan senyuman iblisnya.
Setelah mengatakan itu, Evan pun beranjak dari tempat duduknya. Hingga membuat Jayden penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Evan setelah ini.
“Kau mau kemana?” tanya Jayden yang tidak dapat menahan rasa penasarannya lagi untuk bertanya.
“Bersenang-senang dengan istrinya Cano. Kau mau ikut?” ujar Evan yang ternyata ingin mengulang kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dulu korbannya adalah Rayna, adik kembar Rayden dan sekarang istrinya yaitu Zhia.
“Apa kau akan meniduri Zhia?” seru Jayden yang tidak pernaha menyangka Evan akan melakukan hal itu juga.
“Kenapa? Kau tidak sudi?” ujar Evan yang menatap tajam pada Jayden.
“Iya, jika itu Zhia aku tidak mau. Kau saja sana!” sahut Jayden yang tidak mau ikutan.
“Ya sudah!”
Evan pun pergi meninggalkan Jayden menuju kesebuah ruangan dimana Zhia berada.
Pesawat pribadi yang Evan sewa merupakan pesawat dengan fasilitas mewah dimana ada sebuah kamar didalamnya dan Zhia dikurung didalamnya.
“Evan, tolong jangan seperti ini! Biarkan aku kembali!” pinta Zhia begitu melihat Evan masuk kedalam ruangan itu.
“Kenapa aku harus melakukan itu? Aku bahkan bisa melakukan apapun padamu sekarang termasuk memuaskanmu.”
Mendengar perkataan Zhia pun langsung mundur secara perlahan untuk menjaga jarak, apalagi tatapan Evan dipenuhi ***** sembari memperhatikan tubuhnya.
Namun sayangnya, Evan malah tersenyum puas melihat reaksi Zhia seakan dia telah menemukan mainan barunya setelah Rayna.
“Jangan mendekat! Jangan pernah sekali pun kau menyentuhku!” seru Zhia dengan tubuhnya yang mulai gemetaran karena takut Evan akan melakaukan sesuatu padanya.
Evan hanya menyeringai dan sedetik kemudian Evan langsung saja mendorong tubuh Zhia dengan kasar hingga terjatuh tepat diatas ranjang.
Zhia berusaha untuk bangkit, tapi sayangnya Evan langsung saja menindih tubuhnya dan mengunci kedua tangannya.
“Evan! Lepaskan aku, kumohon jangan seperti ini.” Pinta Zhia dengan deraian airmatanya.
“Sudah aku bilang! aku ingin memuaskan dirimu, Zhi!” bisik Evan tepat ditelinga Zhia.
Setelah itu, Evan langsung saja menciumi Zhia secara brutal.
Zhia tentu saja berusaha memberontak dengan sekuat tenaganya, dia menangis terisak mendapat pelecehan seperti itu dari orang yang pernah menjadi orang yang paling dia percaya.
Disaat Zhia sudah mulai putus asa untuk memberontak lagi, tangan Zhia meraih sebuah gelas yang ada didekat tempat tidurnya.
Prankkk,………….
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚