
“Benarkah? Luci juga ingin melihatnya.”
Lucia pun segera menghampiri kakaknya, dia juga ingin memastikan sendiri apa yang disembunyikan oleh papah.
Dalam folder itu terdapat satu File dengan judul ‘BlackSky’. Luca pun segera membuka dan membaca isi dari File tersebut.
Betapa terkejutnya Luca dan Lucia begitu mengetahui isi file yang ternyata terdapat nama papah mereka sebagai ketua klan dari BlackSky.
Ada juga nama Will dan Levi tertulis disana serta masih banyak ribuan nama lagi yang terdapat disana.
“Kak, apa itu klan BlackSky? Kenapa papah menjadi ketuanya?” tanya Lucia yang tidak mengetahui perkumpulan jenis apa itu.
“Entahlah, kakak juga tidak tahu! Tapi kita bisa mencari tahunya, bukan?” ujar Luca yang langsung membuka tab baru untuk melakukan pencarian informasi diinternet.
Luca langsung mengetik kata ‘BlackSky’ dikolom pencarian dan segera menekan tombol enter.
Dalam sekejap semua informasi yang berhubungan dengan kata BlackSky muncul memenuhi layar komputernya.
Luca dan Lucia langsung merasa shock begitu yang muncul paling atas pencarian adalah klan BlackSky, klan mafia yang paling ditakuti oleh seluruh dunia.
......................
Disisi lain, Rayden mulai sadar dengan kemampuan putranya yang menguasai dunia IT. Tanpa peduli lagi dengan rapatnya, Rayden segera berlari menuju keruangannya dengan Will yang segera mengikutinya dengan perasaan bingung.
Rayden berharap Luca tidak melakukan apa yang sedang ada didalam pikirannya sekarang yaitu mencari informasi pribadinya di dalam computer kerjanya.
Sesaat Rayden melakukan kesalahan dengan melupakan kenyataan bahwa kedua anak kembarnya adalah anak yang sangat genius, bahkan melebihi perkiraannya.
“Tuan, ada apa?” tanya Will yang berusaha mencari tahu apa yang tengah mengganggu pikiran Tuannya, hingga langsung berlari begitu saja meninggalkan rapat mereka yang hampir selesai.
“Apa mereka bersama dengan Nana diruangan kerjaku?” tanya Rayden yang mencoba memastikan bahwa pikirannya saat ini salah.
“Tidak, Nana tadi minta ijin keluar untuk membeli camilan yang diminta oleh Tuan dan Nona kecil!” sahut Will yang masih saja tidak mengerti denga napa yang dipikirkan oleh Tuannya itu.
“Akkhh, Sial! Sudah jelas mereka sedang berusaha mencari tahunya.” Gumam Rayden yang semakin mempercepat larinya.
“Jangan-jangan,…..! Tuan, tunggu saya.”
Akhirnya Will juga teringat dengan kemampuan kedua bocah kembar itu. Seperti yang dilakukan Rayden, Will pun segera menyusulnya.
Sementara Luca terus saja mencari lebih banyak data mengenai klan BlackSky, dia memastikan satu persatu bukti yang menyatakan bahwa papahnya adalah seorang ketua.
Sedangkan Lucia dengan setia berada disamping kakaknya untuk melihat secara langsung apa yang mereka temukan.
“Kak, benarkah papah seorang mafia?” tanya Lucia, matanya sudah sangat berkaca-kaca.
Gadis kecil itu tidak mengira bahwa papahnya adalah orang yang paling berbahaya dan ditakuti semua orang serta memiliki banyak musuh yang berbahaya.
Karena selama ini, Lucia hanya mengira papahnya seorang Ceo hebat saja yang sangat menguasai dunia IT seperti sang kakak.
“Sepertinya memang begitu, Luci! Lihatlah semua buktinya ada didalam computer milik papah. Pantas saja folder ini dilindungi oleh kata sandi dengan tingkat kesulitannya yang sangat tinggi.” Ujar Luca yang mau tidak mau harus mengakui bahwa papahnya adalah orang jahat.
“Tapi kenapa papah berbohong kepada kita dan mamah?” ujar Lucia yang masih tetap tidak ingin mempercayai bahwa papahnya adalah seorang mafia.
Brakkkk,…….
Rayden muncul dibalik pintu dengan deru nafasnya yang terengah-engah, kemudian disusul oleh Will dibelakangnya dengan keadaan yang sama dengan Tuannya. Mereka seperti sedang melakukan lari marathon bersama.
Luca dan Lucia berdiri mematung di sana, melihat kedatangan papahnya dan juga Will.
Mata kedua bocah kembar itu semakin berkaca-kaca begitu melihat sosok papahnya yang selama ini mereka kagumi ternyata adalah seorang ketua mafia yang sangat kejam.
Bahkan airmata Lucia sudah berjatuhan membasahi pipi chubbynya.
“Luca! Luci, papah,_....”
“Apa benar papah adalah seorang mafia?” seru Lucia dengan deraian airmatanya.
“Bukan mafia biasa, Luci! Tapi ketua mafia.” Bisik Luca pada adiknya yang sudah menangis tersedu-sedu itu.
“Kakak, diamlah! Luci sedang bicara dengan papah! Huhuhuuu,…” bentak Lucia pada kakak kembarnya itu.
“Will!”
Rayden pun memberi isyarat pada Will untuk menunggu diluar dan tidak membiarkan siapapun masuk kedalam ruangannya itu.
“Baik, Tuan!” sahut Will yang seperti biasanya langsung melakukan tugasnya sesuai dengan perintah.
Will pun segera keluar dan berjaga didepan pintu.
Begitu Will sudah meninggalkan ruangan itu, Rayden pun berjalan perlahan berniat untuk menghampiri kedua anak kembarnya itu yang sedang menangis.
Lebih tepatnya Lucia yang sedang menangis, sementara Luca hanya marah saja pada papahnya.
“Papah berhenti disitu! Jangan mendekat lagi!” teriak Lucia sekencang-kencangnya, hingga membuat Rayden merasa sangat terkejut dengan sikap dari putri kecilnya itu yang selalu saja bergelayut manja padanya.
“Luci, dengarkan papah! Papah bisa menjelaskan semuanya!”
Rayden mencoba membujuk putri kecilnya itu, dia kembali mencoba mendekat pada mereka.
“Jangan mendekat! Papah diam saja disitu!”
Namun teriakan Lucia langsung menghentikan langkahnya untuk terus maju.
“Kalau papah mau bicara dari situ saja!” lanjut Lucia dengan wajah cemberutnya.
“Luci, kenapa kamu bersikap seperti itu pada papah? Kamu marah karena tidak diajakin gabung dengan klannya papah, bukan?”
Luca kembali berbisik pada Lucia, sehingga dia harus mendapat bentakkan keras dari adiknya.
“Kak Luca, diamlah! Kalau sudah tahu, kenapa masih nanya!” bentak Lucia pada sang kakak, tapi lebih terdengar sebagai rengekkan gadis kecil yang merasa kesal karena digoda terus menerus.
“Papah! Apakah benar papah ketua mafia? Kenapa papah menyembunyikannya dari kami dan mamah? Apakah penyerangan itu malam itu juga ada kaitannya dengan papah sebagai ketua mafia? Dan apakah Grandpa dan Grandma mengetahui tentang papah yang menjadi ketua mafia? Papah, jawab bertanyaan Luci sekarang!”
“Aku tahu anakku sangat genius, tapi tidak bisakah sifatnya tetap seperti anak pada umumnya? Aku seperti sedang berhadapan dengan orang dewasa sekarang, bukan berhadapan dengan anak kecil yang usianya baru enam tahun. Zhi, kenapa harus gen milikku ‘sih yang mendominasi? Kenapa tidak gen milikmu saja yang menurun pada anak kita agar aku bisa dengan mudah membohongi mereka seperti aku membohongi dirimu!” batin Rayden yang menyalahkan gen milik keluarganya karena sangat merugikan baginya, disaat-saat seperti ini.
“Papah!” seru Luca dan Lucia yang menyadarkan Rayden dari lamunannya.
“Papah akan menjelaskan semuanya, tapi tidak bisakah kalian sedikit mendekat. Hati papah terasa sangat sakit, melihat kalian bersikap seperti ini.” ujar dengan menunjukan wajahnya yang terlihat putus asa kepada kedua anak kembarnya.
“Kami tidak akan mendekat pada papah, sebelum papah menjawab semua pertanyaan kami!” seru Luca yang malah memanfaatkan keputusasaan dari papahnya itu.
“Baiklah, sebenarnya papah adalah,_....”
Drrrttt,…..Drrrtttt,….Drrrtttt,…..
Perkataan Rayden harus terhenti karena ponsel yang berada disaku jasnya tiba-tiba bergetar.
Rayden pun segera mengambilnya dan melihat siapa yang sedang menghubunginya saat itu.
Rayden pun mengkerutkan keningnya begitu melihat panggilan masuk itu dari papahnya, padahal biasanya papahnya menghubungi Will jika memperlukan sesuatu.
“Ada apa, Pah!” ujar Rayden begitu dia mengangkat panggilan masuk dari papahnya itu.
“Cano, kerumah sakit sekarang Zhia terluka!”
Noland langsung saja menyuruh Rayden untuk segera datang kerumah sakit, nada bicaranya terdengar sangat cemas dan khawatir.
“APA?!?” seru Rayden yang sangat terkejut Ketika mendengarnya.
“Apa yang terjadi sampai Zhi terluka?” lanjut Rayden yang langsung merasa sangat cemas dengan keadaan istrinya itu.
Mendengar mamahnya terluka, Luca dan Lucia pun segera menghampiri papahnya.
Wajah si kembar juga terlihat sangat cemas dan khawatir, mereka menatap papahnya seakan sedang meminta penjelasan.
“Cepatlah kerumah sakit sekarang, nanti papah jelaskan semuanya!” seru Noland yang tak ingin bicara lama-lama ditelepon.
“Baiklah, Pah! Cano dan anak-anak akan ke rumah sakit sekarang juga!”
Setelah mengatakan itu, Rayden segera menutup sambungan teleponnya.
Kemudian dia beralih menatap kedua anak kembarnya dan berkata “Papah akan jelaskan pada kalian berdua yang sejujurnya nanti. Sekarang kita harus ke rumah sakit karena mamah kalian terluka!”
Luca dan Lucia pun mengangguk menandakan mereka mengerti apa yang dikatakan papahnya.
Karena yang terpenting sekarang adalah keadaan mamahnya yang katanya sedang dirawat di rumah sakit.
“Ayo, kerumah sakit sekarang!” ujar Rayden pada kedua anak kembarnya.
Luca dan Lucia pun menggandeng tangan papahnya, mereka melupakan sejenak pertengkaran mereka yang tadi.
“Tuan!” sapa Will begitu Rayden dan si kembar keluar dari ruangan yang sedari tadi dijaga ketat olehnya.
“Will, siapkan mobil sekarang! Kita kerumah sakit secepatnya!” perintah Rayden dengan ekspresi dan wajah dinginnya.
“Baik, Tuan!”
Will pun segera mengambilnya dan segera menghubungi sang supir untuk menunggu mereka didepan lobi sembari mengikuti Tuannya itu.
“Apa yang terjadi?
Apakah kedua bocah kembar itu sudah mengetahui tentang Tuan yang menjadi ketua klan mafia?
Kalau iya, tapi kenapa reaksi mereka seperti tidak terjadi apapun?
Tapi tadi jelas-jelas aku mendengar mereka menanyakan tentang identitas Tuan sebagai mafia? Apa aku salah dengar ‘yah?
Dan sekarang apa lagi kerumah sakit? Apakah mereka ingin mengecek ulang hasil tes DNA nya?
Mana mungkin, tanpa di tes DNA pun sudah pasti mereka ayah dan anak. Dari wajahnya saja sudah sangat mirip. Apalagi kalau ditambah dengan otak genius dan sikapnya itu klop banget pokoknya ’dah!” batin Will terus bertanya-tanya, otaknya dipenuhi pikiran yang aneh-aneh tentang ketiga Tuannya sembari memperhatikannya dari belakang.
Mereka pun langsung menuju kerumah sakit dengan kecepatan penuh.
Pikiran Rayden sudah tidak karuan, baru saja dia merasa ketenangan didalam hidupnya bersama dengan sang istri serta anak kembarnya.
Kini Rayden harus menghadapi masalah lagi, yaitu kedua anak kembarnya yang telah mengetahui identitasnya sebagai ketua mafia dan juga Zhia yang terluka.
Disisi lain, Nana menatap dengan wajah bingung melihat Tuannya membawa pergi kedua anak kembar yang tadi menyuruhnya membelikan camilan.
Wajahnya berubah kesal begitu menyadari bahwa sepasang anak kembar Tuannya itu telah mempermainkan dirinya, Nana pun berdecak kesal “Sial, bisa-bisanya aku dipermainkan oleh kedua bocah kembar itu!”
Bersambung............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚