Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Keberadaan Para Penjahat


Evan pun pergi meninggalkan kediaman Xavier dengan perasaan kesal. Pasalnya, bukan hanya gagal mendekati Zhia dan si kembar. Evan malah harus beradu mulut dan emosi dengan ibu dari musuhnya.


“Sialan, wanita tua itu! Berani-beraninya dia menantangku secara terang-terangan, bahkan membatasi hubunganku dengan Zhia dan si kembar!” umpat Evan begitu berada didalam mobilnya.


“Aku pasti akan membalas perlakuan wanita tua itu berkali-kali lipat. Awas saja kau nanti.” Sambung Evan yang masih dipenuhi amarah.


“Aku harus pergi kemarkas sekarang juga!”


Evan pun segera mengemudikan mobilnya ke markas barunya, dia harus segera menemui Jay untuk melakukan sesuatu.


Berbeda dengan Zhia dan si kembar yang diperingati oleh Julia agar jangan terlalu dekat dengan Evan.


Karena entah kenapa perasaannya tidak enak jika menantu dan cucu kembarnya terlalu dekat dengan pria yang bernama Evan itu.


Meskipun Zhia dan Si kembar telah menjelaskan bahwa Evan adalah orang uyang selalu menolong mereka di negara B, tetap saja tidak bisa mengubah rasa curiga Julia.


Mau tidak mau Julia harus mengingatkan Zhia dan Si kembar agar tidak terlalu dekat dengan Evan itu.


“Zhi, apa kalian memang sedekat itu dengan dia?” tanya Julia pada menantu kesayangannya, tepat setelah Evan keluar dari ruang tamu.


“Iya, Mah! Tapi hubungan kami hanya sebatas teman dan atasan saja ‘kok, Mah! Tidak pernah lebih dari itu.” Jelas Zhia yang dapat menangkap maksud dari pertanyaan mamah mertuanya.


“Dengan si kembar juga?” ujar Julia lagi yang beralih pada Luca dan Lucia yang juga masih disana.


“Iya, Paman Evan sangat baik! Paman sering mengajak kami pergi bermain dirumahnya yang sangat besar, hampir seperti rumah papah. Iya ‘kan. Kak?” sahut Lucia yang menjelaskan bagaimana kedekatan mereka dengan Evan. Lucia bahkan sampai meminta pendapat kakaknya.


“Betul, Grandma! Tapi kenapa Grandma bertanya seperti itu?” ujar Luca yang menyadari bahwa Grandmanya merasakan ada sesuatu yang salah dengan Evan.


“Tidak ada apa-apa! Tapi bisakah kalian berdua mulai sekarang jangan terlalu dekat dengannya. Bukan apa-apa, Grandma hanya takut nanti papah kalian akan cemburu kalau kalian berdua terlalu dekat dengan paman Evan kalian itu.”


Julia ingin melarang si kembar untuk sedikit menjaga jarak dengan Evan, tapi dia bingung bagaimana cara mengatakannya.


Julia pun terpaksa menggunakan putranya sendiri sebagai alasan untuk melarang si kembar dekat-dekat dengan Evan.


“Tapi kalau ada papah, boleh ‘kan Grandma?” ujar Lucia memasang wajah memelasnya yang menggemaskan.


“Boleh ‘yah?” sahut Luca yang ikut melakukan hal yang sama seperti Lucia.


“Haaah,…..Bagaimana lagi caranya agar bisa membuat kalian berdua mengerti maksud perkataan Grandma ini!”


Julia hanya bisa menghela nafasnya dengan berat melihat kedua cucu kembarnya yang seperti akan sangat sulit mengikuti perkataannya.


“Maaf, Mah! Mungkin Luca dan Lucia akan sedikit sulit untuk melakukannya, karena hubungan mereka sudah sangat dekat semenjak mereka masih kecil,” ujar Zhia yang tidak bisa menjanjikan apapun soal itu.


“Ya sudah! Kalau kalian tidak bisa melakukan permintaanku, tapi kalian harus tetap hati-hati bahkan pada orang yang dikenal sekali pun.” ujar Julia yang harus mengalah akan keputusan Zhia dan Si kembar.


“Baik, Grandma!” sahut Luca dan Lucia secara bersamaan.


...****************...


Disatu sisi, Evan telah sampai dimarkas rahasia klannya yang baru. Disana ternyata sudah ada Jay yang tengah memarahi seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Grace.


Evan pun berjalan masuk menghampiri Jay dan kemudian bertanya “Ada apa ini, Jay?”


“Kau tanyakan sendiri saja pada wanita bodoh itu!” sahut Jaydon dengan kesalnya.


Evan langsung mengeryitkan dahinya saat mendengar jawaban dari Jaydon, dia pun menatap kearah Grace meminta penjelasan. Namun, Grace hanya menangis dalam diam sembari menundukkan kepalanya.


“Hay, kau! Apalagi yang kau perbuat kali ini?” tanya Evan dengan nada bicaranya yang sangat dingin dan tatapan tidak suka.


“Aku hanya ingin balas dendam pada keluarga Xavier dan juga wanita sialan itu, tapi kenapa kalian semua terus mengurungku didalam rumah itu!” teriak Grace, tatapan matanya pebuh kebencian dan juga dendam.


“Benarkah hanya itu?” ujar Evan lagi masih dengan nada yang sama.


“Mereka telah menghancurkan keluargaku! Ayahku masuk penjara dan mamah harus mengakhiri hidupnya karena tidak tahan menahan malu. Semua kerabatku juga dihancurkan. Kenapa? Kenapa harus mereka yang menanggung kesalahanku? Aku yang membuat kesalahan, seharusnya,……………”


“Dunia kami tidak memandang siapa yang bersalah dan siapa yang perlu menanggung hukumannya! Karena satu orang yang bersalah, maka seluruh anggota keluarganya juga harus mendapatkan hukumannya. Baik itu dengan cara membunuhnya secara langsung ataupun memaksanya untuk bunuh diri, itu sudah menjadi hal biasa untuk kami. Jadi mulai sesuaikan dirimu dengan hal ini!”


Jelas Evan dengan nada dinginnya dan raut wajahnya yang terlihat sangat menakutkan.


Evan tidak peduli dengan apapun yang dikatakan Grace, dia dari awal sudah memilih untuk menjadikan wanita itu sebagai pionnya.


Maka sebelum Evan bisa menggunakan Grace untuk mencapai tujuannya, dia tidak akan melepaskan dengan mudahnya.


“Kau bilang aku bisa membalaskan dendamku pada Cano dan wanita sialan itu, tapi kenapa kau malah terus mengurungku seperti ini!” ujar Grace tertekan karena merasa telah dikurung oleh Evan.


Bukannya menjawab pertanyaan Grace, Evan malah beralih bertanya pada Jay bahkan seakan tengah melimpahkan kesalahan pada Jaydon yang tidak mau berurusan dengan wanita seperti Grace itu.


“Kau sudah gila ‘yah! Dari awal bukannya kamu mengurungnya. Aku ‘sih tidak mau urusan dengan wanita sepertinya!” sahut Jaydon dengan nada ketusnya.


“Aku tidak pernah mengurungnya!” ujar Evan dengan wajah polosnya.


“Bodo amat! Selesaikan sendiri yang satu ini!” sahut Jaydon dengan sikap acuhnya.


“Hay, bukankah aku hanya menyuruhmu untuk bersembunyi sementara waktu! Kenapa kau malah menuduh bahwa aku mengurungmu?” Evan pun kembali berhadapan dengan Grace.


“Kalau bukan mengurungku, kenapa anak buahmu mengunciku didalam rumah itu!” seru Grace yang tidak terima atas perlakuan anak buah Evan padanya.


“Benarkah kalian melakukan itu?”


Evan pun langsung menatap tajam kearah anak buahnya yang bertugas mengawasi Grace.


“Maafkan kami telah melakukan kesalahan besar, Tuan!”


Sangat ketakutan, itulah yang Grace lihat diwajah para anak buah Evan yang saat ini sedang bersujud dihadapan Evan dan Jaydon.


Tanpa mengatakan apapun, Evan langsung saja mengambil sebuah senjata api yang berada didepan Jaydon dan mengarahkannya ke kepala salah satu anak buahnya itu.


Jaydon pun terkejut melihat aksi Evan yang gila itu, dia segera menghentikan Evan yang seperti akan membunuh anak buahnya sendiri hanya kerena masalah sepele seperti Grace.


Jaydon memegang senjata itu sembari berkata “Hentikan! Kau sudah keterlaluan dengan melakukan hal ini!”


“Tuan, tolong ampuni kesalahan kami!”


Beberapa anak buah yang nyawanya sedang terancam itu pun segera memohon agar Evan mau membiarkan mereka hidup.


“Hay, kau! Perlukah aku berhenti sekarang atau melanjutkannya!”


Namun, si iblis Evan tidak akan pernah menghiraukan anak buahnya yang memohon untuk diampuni dengan perasaan yang sudah sangat putus asa itu.


Bahkan Evan tanpa ragu membuat Grace yang mengambil keputusan atas nyawa anak buahnya.


Grace tampak sangat shock saat melihat kegilaan Evan, dia ingin mengatakan untuk berhenti tapi lidahnya terasa kelu untuk berbicara.


Jaydon pun menatap ke arah Grace dengan tatapan membenci dan juga penuh kemarahan.


“Jika kau mengatakan untuk berhenti, maka mereka akan selamat. Tapi jika kau diam saja berarti aku akan melanjutkannya. Aku akan membunuh mereka semua atas namamu, jadi kematian mereka adalah kesalahanmu, Grace Adenthe!” ujar Evan yang mengeluarkan senyuman iblisnya, dia perlahan mulai menarik pelatuk dan,_....


Dorrr,…………….


Sebuah suara tembakan terdengar memenuhi ruangan yang minim cahaya itu.


“Aaakkhhh,….”


Suara teriakan Grace mengiringi suara tembakan yang sebelumnya.


Grace menangis histeris dan tubuhnya gemetar ketakutan, menundukan kepalanya sembari menutup kedua telinganya rapat-rapat.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚