Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Kewaspadaan Rayden!


Tidak mudah untuk mengelabui seorang Rayden Cano Xavier. Pengalaman meremehkan seorang wanita seperti Grace sudah cukup membuatnya sangat banyak belajar arti dari tidak meremehkan orang lain.


Merasa ada yang mengganjal dari data mengenai musuhnya, Rayden mulai meretas data itu satu persatu sampai dirinya benar-benar merasa sangat yakin atas data yang dia dapatkan itu.


Pertama yang menjadi tujuan Rayden meretas adalah data mengenai Jaydon Carson dan Jayden Carson. Menurut Luca, nama mereka sangat mirip tapi wajahnya berbeda jauh.


Ada kemungkinan besar bahwa mereka adalah satu keluarga, tapi yang membuat Rayden menjadi tidak habis pikir adalah didalam data yang berhasil dia retas Jayden tidak pernah menginjakkan kakinya di negara A.


Jayden juga mempunyai keluarga yang terpandang di negara B, catatan kriminalnya juga sangat bersih dari kejahatan. Sungguh semua data mengenai Jaydon dan Jayden berbanding terbalik satu sama lain.


Rayden sempat berfikir bahwa mereka tidak mempunyai keterkaitan sama sekali. Akan tetapi, Rayden tiba-tiba saja teringat dengan Evan.


Kecurigaannya muncul kembali, Rayden pun segera meretas data pribadi dan perusahaan milik Evan.


“Apa ini? Kenapa aku selalu saja menemui jalan buntu. Tidak mungkin ada pebisnis yang sebersih ini, aku yakin pasti ada sesuatu yang tersembunyi dibalik ini.” gumam Rayden yang selalu saja tidak menemukan keburukan sedikit pun pada data pribadi Evan dan Jayden.


Akan tetapi, hal itu semakin menambah kecurigaannya pada sosok Evan.


“Tunggu dulu! Dari mana datangnya Evan yang muncul tepat waktu saat Zhia diserang! Ini terasa semakin aneh saja. Aku harus menanyakan rekaman cctvnya lagi pada Will.”


Akhirnya, setelah berpikir sampai frustasi cukup lama. Rayden bisa menemukan petunjuk untuk memulai penyelidikkannya lagi.


Rayden segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Will dan meminta rekaman cctv yang terdapat gambar Evan.


Namun, tanpa disangka Rayden malah tidak sengaja membuka galeri foto di ponselnya.


Rayden tampak sangat terkejut begitu melihat ada beberapa foto dirinya dengan Zhia yang sedang tertidur sambil berpelukkan.


Rayden pun teringat dengan malam itu, pertama kalinya dia menemukan dan mengetahui bahwa si kembar adalah anak kandungnya.


Rayden terpesona melihat foto dirinya dan juga Zhia yang saling berpelukkan itu, dia bahkan sampai lupa tujuannya mengambil ponsel itu.


Rayden tidak perlu mencari tahu siapa yang menggunakan ponselnya auntuk menggambil gambar itu, jawabannya hanya ada satu yaitu Luca dan Lucia.


“Pasti ini ulah kalian berdua! Terima kasih ‘yah sayang, karena sudah hadir didunia ini sebagai anak papah!” ucap Rayden dengan senyuman manisnya, dia mengecup pipi Luca dengan lembut.


Plakk,…….


Namun, tanpa sadar Luca malah memukul wajah papahnya. Mungkin Luca kira ciuman dari papahnya seperti nyamuk yang mengganggu tidurnya. Rayden yang mendapat pukulan dari putranya itu, seketika berubah menjadi kesal.


“Astaga, bocah ini! Kau kira papahmu ini nyamuk apa?” gerutu raydeng dengan kesal.


Ingin sekali rasanya Rayden mencubit pipi Chubby Luca, tapi dia tidak mau mengganggu tidur putra kesayangannya itu.


Rayden kemudian kembali teringat dengan tujuan dia mengambil ponselnya yaitu untuk menelpon Will.


Tapi sebelum itu Rayden menjadikan fotonya bersama Zhia menjadi wallpaper dilayar ponselnya agar dia bisa melihat foto itu ketika dia membuka ponselnya.


Drrrtttt,…….Drrrttttt,…..


Sesaat Rayden menunggu sambungan teleponnya diterima oleh Will. Tak lama kemudian terdengar suara Will.


“Hallo, Tuan! Ada apa anda menelpon saya?” ujar Will begitu menerima sambungan telepon dari Tuannya itu.


“Will, kiriman kan semua rekaman cctv yang kau dapatkan di tempat kejadian penyerangan itu sekarang juga!” Perintah Rayden tanpa basa basi langsung pada tujuannya.


“Baik, Tuan! Mau dikirim lewat apa? Whatsapp, Email, kurir atau Grab, Tuan!” Karena merasa sedikit suntuk, Will pun mencoba sedikit bercanda dengan Tuan dinginnya itu.


“Lewat peti mati saja, Will! Sekalian tubuhmu diletakkan didalamnya. Kau sudah mengerti Will!” sahut Rayden dengan nada dinginnya dan langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak.


“Astaga, menakutkan sekali Tuanku kalau diajak bercanda!” gumam Will, bulu kuduknya langsung berdiri membayangkan dirinya sedang berbaring didalam peti mati.


“Dorrrr,………!!!” teriak Levi sembari menepuk bahu Will, dia datang melalui jendela ruang tamu yang terbuka. Sengaja dia lakukan untuk mengagetkan Will yang tengah bergumam sendiri.


“Astaganaga! Anjimmmm! Anjirrr,…..Eeehh anjing! Sialan kamu, Lev! Bikin jantungan saja.”


Tanpa di sangkan oleh Levi ternyata seorang Will bisa latah juga, jika dikejutkan seperti itu.


“Hahahahaaa,….Will, lihatlah ekspresimu itu. Benar-benar sangat kocak. Hahahaa,….”


Levi bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Will yang terlihat seperti orang idot saat itu.


“Masih bisa ketawa kau rupanya ‘yah!” seru Will dengan kesalnya, apalagi dirinya dipermainkan oleh anak kecil seperti Levi.


“Hahaha, siapa orangnya yang tidak tertawa melihat tampangmu yang seperti tadi mirip Mr Bean!”


Levi terus saja tertawa bahkan kini dia berani mengatai wajah Will dengan tokoh komedi yang terkenal itu.


“Sialan kau! Kau datang dari mana ‘sih sampai aku tidak sadar sama sekali?”


Will tidak peduli lagi dengan Levi yang terus menertawakannya itu, tapi dia menjadi penasaran dari mana munculnya bocah itu bahkan sampai dia tidak menyadarinya sama sekali.


“Hay, bocah! Bukankah masih ada pintu terus kenapa kau malah masuk lewat jendela? Memangnya kau itu cicak yang bisa merambat didinding, hah!” seru Will dengan nada kesalnya.


“Hehehee,….Awalnya aku mau masuk lewat pintu, tapi aku teringat kejadian sebelumnya. Jadi, aku memilih memanjat tembok dan masuk lewat jendela dari pada lewat pintu dan di todong senjata lagi! Tapi ada baiknya juga, aku jadi bisa melihat tampang konyol terkejutmu itu, hahahaaa,…..”


Jelas Levi yang kembali tertawa saat teringat raut wajah terkejut Will tadi.


“Untung, tidak aku smackdown tadi! Kalau tidak kau pasti sedang dalam perjalan menuju keruang angkasa sekarang!” seru Will masih denngar raut wajah kesalnya.


“Bagaimana kamu bisa melakukan smackdown, ekspresimu saja tadi sudah seperti bencong yang lagi mangkal di perempetan lampu merah. Hahahaa,…” Levi terus saja menggoda dan menertawakan Will.


“Sudah hentikan! Apa kau mendapatkannya?” tanya Will yang berganti bersikapa sangat serius.


“Tentu saja! Lihatlah ini.”


Levi segera membuka tas yang tadi dibawanya, dia pun membuka tas tersebut dan mengeluarkan semua isi yang ada didalamnya.


“Woww, good job, bro!” puji Will sembari melihat semua bukti yang dapat menghancurkan keluarga Adenthe itu.


“Apa kau membunuh orang disana?” tanya Will lagi yang memastikan supaya dia bisa mengatur untuk rencana selanjutnya.


“Mana ada aku membunuh! Kehadiranku saja disana tidak diketahui satu orang pun, mereka semua tertidur seperti babi saja.”


Tampak jelas Levi merasa sedikit kecewa, karena tidak mendapat kesenangan sedikitpun dalam tugasnya kali ini.


“Kasihan, setidaknya kau mendapat kesenangan dariku, bukan!” ujar Will yang kembali mengingatkan kejadian tadi.


“Hehehee, sedikit!” sahut Levi sambil cengengesan tidak jelas.


“Sudahlah, bantu aku memeriksa ini! Aku harus mengirin rekaman cctv ini pada Tuan sekarang juga! Kalau tidak, bisa dimasukan dalam peti dan di kubur hidup-hidup diriku ini oleh Tuan.” ujar Will kembali focus pada layar laptopnya.


Sementara Levi disuruh untuk memeriksa semua berkas tadi.


“Jadi, tadi Tuan yang menelponmu?” ujar Levi sembari memeriksa berkasnya.


“Hmmm, sepertinya Tuan telah menemukan sesuatu yang aku lewatkan!” sahut Will dengan pandangan yang focus pada layar laptopnya.


“Will, sepertinya kasus sekarang semakin serius ‘yah! Aku merasakan beberapa hal yang merasa aneh dengan semua kejadian yang terjadi.”


Levi tanpa sadar mengatakan apa yang mengganggu pikirannya.


“Maksudmu?” tanya Will yang menatap Levi meminta penjelasan.


“Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi sepertinya sudah ada yang mengatur semua kejadian ini. Dan lebih anehnya lagi, klan musuh kemabli bergerak setelah kehadiran anak Tuan dipublikasikan. Bukankah itu sangat aneh!” jelas Levi yang telah memikirkannya sejak lama.


“Benar juga perkataanmu!” sahut Will membenarkan apa yang dikatakan Levi.


“Benarkan? Seakan-akan musuh datang bersamaan dengan kehadiran anak Tuan ke negara ini. Bukankah anak Tuan sebelumnya tinggal dinegara B?”


Perkataan Levi benar-benar menyadarkan Will dengan kemungkinan penting yang sudah Will lewatkan. Namun, baik Will maupun Levi tidak bisa melakukan pergerakan apapun sebelum diperintahkan oleh Rayden. Akan tetapi, mereka bisa mencari tahunya secara diam-diam untuk berjaga-jaga


Disatu sisi, Rayden perlahan mulai memikirkan sebuah cara agar bisa menemukan titik terang atas identitas Evan, Jayden dan Jaydon.


Semua datanya bagaikan sebuah puzzle yang membingungkan, tapi tidak membuat Rayden menyerah untuk mencari kebenarannya.


Kini Rayden hanya bisa mengambil sikap waspada pada ketiga orang yang mencurigakan itu. Terlebih lagi, saat mereka mulai mendekati Zhia dan Si kembar.


Bersambung...............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Maaf 'yah kak baru update. Ada urusan mendesak diluar kota dan sekarang baru ada waktu istirahat.🙏🙏🙏


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚