Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Gagal Memanfaatkan Kesempatan


“Hmmm,…..”


Evan seakan sedang memikirkannya, dia sangat bingung harus menanggapi permintaan kedua bocah kembar ini seperti apa.


Pasalnya rumah yang saat ini dia tempati adalah rumah pribadi tempat persembunyiannya dinegara A dan juga masih ada si comel dihalaman rumahnya.


Sebenarnya tidak masalah kalau lokasi rumahnya terekspos, tapi yang menjadi masalah terbesarnya keberadaan si comel yang masih berada dihalaman rumahnya.


Bagaimana reaksi Zhia dan si kembar saat melihat seekor leopard hitam yang notabennya merupakan salah satu binatang buas yang dilindungi oleh pemerintah malah berada di halaman rumahnya.


Sementara, selama ini dia kenal Zhia dan si kembar sebagai pria yang sangat baik bagaikan malaikat penolong dikehidupan mereka.


Pasti setelah melihat keberadaan si comel, pemikiran mereka tentangnya akan langsung mempertanyakan dan bahkan sampai tidak mempercayainya lagi.


“Paman, Boleh ‘yah!” Luca ikut membujuknya.


“Sepertinya hubunganmu dengan cucu kembarku sangat dekat ‘yah?” ujar Julia yang tampak tidak suka melihat kedekatan Evan dengan cucu kembarnya.


“Tentu saja, Nyonya! Karena semenjak mereka berdua masih berada didalam kandungan Zhia, akulah yang selalu berada disampingnya. Bahkan sampai dokter dan perawat menganggapku sebagai ayahnya mereka.” sahut Evan yang malah menambah provokasi sehingga Julia semakin tidak menyukainya.


“Begini, Mah! Maksud perkataan Evan tadi,_.........”


“Mamah mengerti, Zhi! Kau tidak perlu menjelaskannya lagi.” ujar Julia yang terus saja memotong perkataan Zhia.


Karena Julia tahu selama ini Zhia hanya seorang diri dalam membesarkan dan merawat si kembar dan hanya ada Evan yang selalu membantunya.


Julia tidak perlu mempertanyakan apapun pada Zhia, tetapi dia mempertanyakan ketulusan Evan yang membantunya.


“Paman! Paman belum menjawab permintaan Luci! Luci dan Kak Luca boleh ‘kan mengunjungi rumah paman?”


Lucia yang merasa terabaikan langsung saja menyela pembicaraan Grandmanya dengan Evan. Sebab rencananya dengan sanag kakak lebih penting dari pada pembicaraan yang tidak terarah itu.


“Hmmm,…..Tentu boleh ‘dong! Kapan Luca dan Luci akan datang mengunjungi rumah paman?” ujar Evan yang terpaksa harus mengijinkan gadis kecil itu untuk bermain dirumahnya.


Mungkin dia akan menyuruh beberapa orang untuk memindahkan si comel ketempat lain untuk sementara.


“Kalau hari ini juga, boleh tidak?” sahut Luca dengan cepat.


Karena semakin cepat mereka mendapatkan informasi dari computer Evan, maka semakin cepat juga kecurigaan mereka tentang Evan terjawab.


“Tidak boleh!” seru Julia yang segera melarangnya.


“Kenapa tidak boleh, Grandma? Luci ‘kan hanya ingin bermain dengan paman Evan?” ujar Lucia dengan raut wajahnya yang terlihat sudah cemberut.


“Iya, Grandma! Kami ‘kan kangen ingin bermain lagi dengan paman Evan seperti dulu!”


Luca pun membantu adiknya membujuk Grandmanya agar mengijinkan mereka berkunjung kerumah Evan.


“Maksud Grandma tidak boleh sekarang, sayang!”


Julia mencoba menjelaskan dengan hati-hati pada si kembar.


“Kalian berdua boleh ‘kok mengunjungi rumah paman Evan kalian itu, tapi dengan satu syarat yaitu harus bersama papah dan mamah kalian. Jangan hanya kalian berdua saja yang pergi. Kalau bisa ajak Grandma dan Grandpa juga. Iya ‘kan, Tuan Evan?” lanjut Julia yang menekankan kalimat dibelakangnya pada Evan.


“Kenapa kami tidak boleh pergi berdua saja, Grandma? Paman Evan ‘kan tidak jahat, malah sebaliknya paman Evan sangat baik dan sayang pada kami berdua. Benarkan apa yang Luci katakan, Paman Evan?” sahut Lucia yang tanpa segan memuji sikap baik Evan selama ini.


“Iya, Grandma tahu bahwa paman Evan kalian ini sangat baik! Tapi Grandpa, Grandma dan papah kalian juga ingin mengetahui bagaimana rumah paman Evan kalian ini juga. Maka dari itu, Grandma dan yang lainnya juga ingin ikut mengunjungi rumah paman Evan kalian.” Jelas Julia yang secara tidak langsung meminta Evan untuk mengundangnya datang secara resmi.


“Bagaimana menurutmu, Tuan Evan? Bukankah saya dan suami saya serta papahnya si kembar bisa berkunjung kekediamanmu?”


Serangan telak langsung Julia lontarkan pada Evan didepan Zhia dan Si kembar.


“Tentu, Nyonya! Saya pasti akan mengundang anda dan Tuan Xavier untuk berkunjung kekediaman saya yang sederhana itu.” sahut Evan yang mau tidak mau harus menyetujuinya.


Mendengar perkataan Julia dan Lucia yang sangat berbanding terbalik maksudnya, membuat Evan menjadi bingung bagaimana cara menyikapinya.


Disatu sisi, sangat jelas terlihat bahwa Julia sangat mencurigai sikap baiknya terhadap Zhia dan si kembar.


Sementara disisi lain, Lucia yang sangat polos malah memuji dirinya tanpa rasa segan sedikitpun. Padahal Evan telah merencanakan hal jahat pada kedua anak kembar itu.


Sebagai pengingat, Evan tidak pernah mengetahui bahwa Luca dan Lucia merupakan anak kembar yang sangat genius.


Evan hanya tahu bahwa mereka adalah anak-anak yang cerdas dan meraih banyak prestasi disekolahnya hanya dianggapnya sebagai bocah cerdas seperti pada umumnya.


“Kapan-kapan saja ‘yah, sayang! Jangan hari ini, hari ini paman masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” ujar Evan yang akhirnya harus mencari alasan untuk menunda kunjungan si kembar kerumahnya.


Apalagi kalau Julia dan keluarga Xavier lainnya ikut berkunjung, Evan harus membereskan semua hal yang mencurigakan tentangnya terlebih dahulu.


“Yah, padahal Luci sudah tidak sabar ingin melihatnya!” ujar Lucia yang tampak kecewa karena dia harus gagal memanfaatkan kesempatan yang sangat bagus itu.


“Sayang, jangan seperti itu! Paman Evan ‘kan datang kesini untuk bekerja. Jadi wajar ‘dong kalau paman Evan sangat sibuk dengan pekerjaannya.”


Zhia akhirnya membuka mulutnya, setelah cukup lama diam memperhatikan percakapan Evan dengan mamah mertuanya itu yang lebih seperti aksi saling sindir dan mengutarakan ketidak sukaan mereka satu sama lain.


“Iya, Luci sayang! Lagian mamah kalian ‘kan masih sakit, papah dan Grandpa juga sedang pergi bekerja. Kita cari waktu yang pas saja untuk mengunjungi rumah paman Evan kalian. Iya ‘kan, Tuan Evan?” Lagi-lagi Julia menyerang Evan secara tidak langsung.


“Iya, Luci! Nanti kalau paman sudah punya waktu kosong, paman yang akan menjemput kalian untuk datang!” ujar Evan yang hanya bisa mengalah, kalau tidak semua identitasnya akan terbongkar sebagai ketua mafia Klan Tiger Dark.


Luca dan Lucia pun saling melempar pandangan satu sama lain, seakan sedang mengadakan diskusi darurat melalui tatapan mata mereka. Tak lama, kemudian Luca menganggukan kepalanya menadakan bahwa tidak masalah mereka melewatkan kesempatan yang sangat bagus itu.


“Baiklah! Tapi paman Evan sudah janji pada Luci ‘loh!” ujar Lucia yang harus terima dengan keputusan Evan dan Grandmanya.


“Iya, sayang! Paman janji.” ujar Evan sembari membelai rambut Panjang Lucia dengan lembut.


“Paman! Ingat ‘loh, kalau janji harus ditepati!” sahut Luca mengingatkan dengan wajah polosnya yang terlihat serius dan juga menggemaskan tentunya.


“Yes, Boy! Paman akan selalu mengingatnya.” ujar Evan yang akhirnya tersenyum melihat tingkah menggemaskan kedua bocah kembar itu.


“Ya sudah! Bukankah kau tadi bilang bahwa banyak pekerjaan yang harus dilakukan hari ini, tapi kenapa masih disini!”


Kembali pada tujuan utama, Julia langsung mengusir Evan untuk segera pergi menggunakan Bahasa yang halus tapi mengandung makna yang sangat mendalam.


“Benar, Nyonya! Kalau begitu saya pamit sekarang!” ujar Evan yang sudah tidak tahan lagi menghadapi sikap Julia yang sangat jelas manampakkan ras tidak sukanya atas kehadiran Evan disana.


“Kau akan pergi sekarang?” tanya Zhia yang merasa tidak enak hati terhadap Evan.


“Iya, Zhi! Aku hanya ingin melihat dan memastikan keadaanmu serta si kembar saja.


Karena aku sudah melihat kalian baik-baik saja, maka sudah tidak ada alasan lagi aku masih disini!” ujar Evan pada Zhia.


“Maaf ‘yah! Karena kami selalu merepotkanmu dan membuatmu selalu merasa khawatir dengan keadaan kami!” ucap Zhia yang merasa bersalah pada Evan yang telah banyak membantunya.


“Tidak apa! Asal kalian baik-baik saja, aku sudah cukup lega!” sahut Evan sembari memberikan senyuman manisnya pada Zhia.


“Luca! Luci, Paman pergi sekarang ‘yah!” Evan pun beralih berpamitan pada si kembar.


“Paman ingat janjinya ‘loh!” Lucia mengingatkan lagi atas janjinya.


“Iya, sayang!” sahut Evan singkat.


“Hati-hati dijalan, paman!” ujar Luca yang mengantar Evan dengan senyuman manisnya.


Bersambung...............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚