Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Pengejaran Tak Berujung!


Zhia pun segera meraih gelas itu dan memukulkannya dengan tepat di kepala Evan. Saat Evan merasa kesakitan, Zhia menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri dari Evan.


Kemudian, Zhia langsung mengambil sebuah pecahan gelas itu dan mengarahkannya pada lehernya sendiri.


“Jangan pernah menyentuhku! Lebih baik aku mati dari pada disentuh iblis sepertimu!” teriak Zhia dengan deraian airmatanya yang masih menggalir dengan derasnya.


Evan terdiam dengan amarahnya yang semakin memuncak, dia berniat untuk melangkah mendekati Zhia lagi dan mengabaikan perkataaannya.


Namun ternyata perkataan Zhia tidak main-main, semakin Evan mendekat semakin Zhia menekankan pecahan gelas itu pada lehernya sendiri hingga mengeluarkan darah.


“JANGAN MENDEKAT!?!”


Zhia kembali berteriak dengan sekuat tenaganya hingga Jayden langsung bergegas memeriksanya begitu mendengar teriakan itu.


“Ada apa, Tuan?” ujar Jayden yang telihat sangat panik melihat kepala Evan mengalir darah.


Jayden juga menatap kearah leher Zhia yang juga mulai mengeluarkan darah, meskipun tidak sebanyak yang dikeluarkan dari luka Evan.


Terlihat jelas bahwa Evan saat ini sedang dikuasai dengan kemarahan, sementara seluruh tubuh Zhia gemetar ketakutan atas kejadian tadi yang hampis saja mengotori tubuhnya.


“Kenapa? Kenapa kalian berdua harus melakukan ini padaku? Kalian berdua ‘lah yang selama ini menjadi tempat berlindung untukku dan juga kedua anak kembarku, tapi kenapa kalian sendiri yang melukaiku sekarang. Sebenarnya ada apa dengan kalian semua?” seru Zhia disela isak tangisnya tanpa berniat menurunkan pecahan gelas yang berada tepat dilehernya.


“Kenapa harus Cano? Kenapa harus dia yang menjadi ayah dari anak-anakmu dan kenapa harus dia yang menjadi suamimu? Jika bukan dia, maka aku tidak ada alasan untuk menyakitimu seperti ini. TAPI KENAPA HARUS DIA, ZHIII!!!”


Kali ini Evan tidak bisa menahan amarahnya lagi, dia berteriak lebih keras lagi Zhia yang membuat wanita itu semakin ketakutan.


Jayden yang berada disebelahnya sampai terlonjak kaget begitu mendengar bentakkan Evan yang begitu menggelagar dikuping sebelah kanannya.


“Jika memang aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri, maka sudah pasti aku tidak akan pernah mau mengenal iblis sepertimu ini. Bukan pertemuanku dengan Ray yang aku sesali, tapi pertemuanku denganmu, Evan!” seru Zhia yang terlihat sangat kecewa terhadap Evan.


Brakkk,………


Plakkk,…..


Evan memukul sebuah lemari yang berada tepat disebelahnya sebagai pelampiasan kemarahan atas perkataan Zhia barusan.


Belum puas melampiaskan kemarahannya dengan memukul lemari. Evan kemudian melangkah mendekat pada Zhia dan menamparnay dengan sangat keras, sampai membuat Zhia tejatuh dilantai.


“Dasar wanita tidak tahu diri!” ujar Evan dengan tatapan membunuhnya, dia pun kembali melayangkan tangannya hendak memukul Zhia lagi.


“Evan, cukup! Jika kau membunuhnya seperti ini, maka rencana yang selama ini telah kita siapkan akan menjadi sia-sia saja!”


Beruntung karena Jayden langsung menghentikan niat Evan yang ingin membunuh Zhia saat itu juga, karena membunuh Rayden adalah tujuan utama dari balas dendamnya ini bersama dengan Evan.


“Dasar wanita sialan!” gumam Evan yang masih menatap tajam kearah Zhia sebelum perrgi meninggalkan ruangan itu.


Setelah kepergian Evan dan Jayden, Zhia pun langsung meringkuk sambil menangis terisak dilantai.


Sakitnya luka goresan dilehernya dan tamparan dari Evan tidak sesakit hatinya begitu sadar akan kenyataan bahwa Evan bukanlah orang yang baik seperti yang selama ini dia kira.


Pada akhirnya kepercayaannya di manfaatkan oleh orang-orang yang Zhia sayangi.


Evan membohongi dirinya dibalik sosok teman dan kakak yang sangat baik, sedangkan Rayden membohongi dirinya sebagai suami dan ayah yang baik.


Namun pada kenyataannya, baik Evan maupun Rayden ternyata seorang ketua mafia yang saling bermusuhan satu sama lain.


Dan malangnya Zhia serta kedua anak kembarnya yang berada ditengah permusuhan mereka.


Disisi lain Jayden sedang mengobati luka pada kepala Evan, akibat dari pukulan Zhia tadi.


Dan tak lama kemudian, pesawat mereka sampai disebuah pulau terpencil yang tidak berpenghuni sama sekali kecuali orang-orangnya Evan.


Zhia yang awalnya akan dikurung disalah satu kamar yang ada disana, akhirnya malah dikurung dipenjara bawah tanah oleh perintah Evan sendiri.


...****************...


Dan pada satu sisi yang lain, Rayden sudah bersiap melakukan pengejaran tak berujung kepada Evan dan para sekutunya itu.


Dalam penyerangan ini, Rayden hanya didampingi oleh Levi. Karena Will diberikan tugas lainnya dinegara A yaitu untuk membantu mengurus perusahaan bersama Noland dan mengamankan situasi disekitar anak kembarnya.


Berkat bantuan dari putra geniusnya, Rayden bisa mengetahui kemana pun Evan akan pergi membawa istrinya.


Sekarang dia sedang berada dibandara untuk mengikuti alat pelacak yang ada didalam cincin Zhia.


Karena tidak tahu ada berapa banyak musuh ditempat itu, Rayden pun membeli beberapa pesawat agar bisa membawa banyak anak buahnya untuk menyerang disana.


“Tuan, semuanya sudah siap1 kita bisa berangkat sekarang juga.”


Lapor Levi pada Tuannya yang sedang bersama dengan Will dan juga Noland disana.


“Benarkah? Tunggu sebentar lagi!” ujar Rayden yang meminta sedikit wakttu untuk berbicara dengan papahnya.


“Baik, Tuan!” sahut Levi yang mengisyaratkan pada anak buahnya untuk menunggu sebentar.


“Pah, bagaimana dengan keadaan mamah dan si kembar?” tanya Rayden yang juga mengkhawatirkan mamah serta kedua anak kembarnya setelah Zhia.


“Untuk Luca dan Lucia, mereka bisa saling menghibur satu sama lain. Anak-anakmu begitu dewasa dalam menghadapi masalah penculikkan mamahnya ini, mereka mengalihkan semua kesedihan menjadi sebuah upaya untuk melakukan segala cara agar bisa membantumu menemukan Zhia. Mereka anak-anak yang sangat pintar, sementara mamahmu perlahan mulai menunjukkan tanda-tanda seperti dulu lagi.”


Noland menjelaskan semuanya, awalnya dia merasa sangat bangga menceritakan tentang kedua cucu kembarnya yang selalu membuatnya merasa bangga dan juga takjub.


Namun diakhir perkataannya dia merasa sedih, karena jiwa istrinya kembali terguncang sama seperti waktu kehilangan Rayna dulu.


“Papah lebih baik focus pada mamah dan si kembar saja! Biarkan Will saja yang mengurus semuanya disini selama aku tidak ada. Kau bisa ‘kan, Will?” ujar Rayden yang secara langsung memberikan banyak tugas dibahu Will.


“I-iya, Tuan! Meskipun aku menjawabnya tidak bisa, anda pasti akan memaksaku untuk bisa melakukannya.” Sahut Will yang sebenarnya tidak yakin dengan dirinya sendiri.


“Kau pasti bisa! Kali ini aku akan menyelesaikan semuanya, aku pasti akan membawa Zhia kembali tanpa luka sedikitpun. Meskipun pengejaran ini tidak berujung, aku akan tetap mengejarnya sampai dapat.” Ujar Rayden dengan penuh keyakinan pada dirinya sendiri.


“Papah akan selalu percaya padamu, Cano! Kau pasti bisa melakukannya.” Ujar Noland yang akan selalu percaya akan kemampuan putranya itu.


“Kami akan berangkat sekarang, Pah!” pamit Rayden pada papahnya dan juga Will.


“Berhati-hatilah!” pesan Noland pada putranya itu.


Rayden hanya tersenyum, setelah itu dia bersama dengan Levi serta yang lainnya langsung berjalan memasuki pesawat mengikuti alat pelacak.


Tak lama kemudian, pesawat itu pun terbang menuju ketempat yang akan mereka tuju.


Setelah melakukan penerbangan cukup lama, akhirnya Rayden dan anak buahnya samapai juga dipulau tempat Evan membawa Zhia.


Sebelum pendaratan, Rayden dan semua anak buahnya menyiapkan semua senjata yang akan digunakan untuk menyerang dan bertahan disana.


Sesuai dugaan awal Rayden dan Levi, landasan udara itu telah dikepung oleh banyaknya anak buah Evan.


Sehingga membuat Rayden dan yang lainnya tertahan cukup lama untuk membereskan mereka semua.


“Tuan, kami akan membuka jalan untuk anda! Ikuti alat pelacaknya dan segera selamatkan Nyonya muda. Saya dan yang lainnya akan segera membereskan yang disini!” ujar Levi pada Rayden, karena mereka tidak pernah menyangka bahwa anak buah Evan akan sebanyak ini dan begitu turun dari pesawat mereka malah langsung diserang secara membabi buta.


“Oke, kita mulai sekarang!” sahut Rayden yang sudah bersiap untuk menerobos medan pertempuran demi segera sampai di sebuah rumah yang ada dipulau itu dan Rayden sangat yakin Zhia pasti ada didalam rumah itu.


Dan ternyata disaat Rayden sedang berusaha mencapai rumah itu, Evan dan Jayden malah memindahkan Zhia kembali kepesawat meraka akan mencari tempat persembunyian lain.


Evan memukul Zhia hingga pingsan, sehingga membuatnya mudah untuk memindahkannya.


Bahkan kali ini, Evan menghancurkan semua pesawat yang tadi digunakan oleh Rayden dan anak buahnya tanpa tersisa.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚