Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Penyesalan!


“Tuan, tidak ada gunanya anda marah-marah seperti ini! Lebih baik kita menyerang mereka langsung saja selagi kita masih mempunyai Zhia sebagai tawanan!” ujar Jayden yang mengusulkan untuk tidak melarikan diri lagi sebagai pengecut seperti sebelum-sebelumnya.


“Maksudmu kita selama ini hanya berlindung dibawah wanita itu saja. Tanpa adanya wanita itu sebagai tawanan kita pun aku masih bisa menyerang Cano dan membunuhnya dengan tanganku sendiri! Kau mengerti?”


Evan membentak Jayden dengan keras karena tidak terima dengan perkataan Jayden yang secara tidak langsung meragukan kemampuan kepemimpinannya.


“Ba-baik, Tuan! Saya mengerti.”


Jayden hanya bisa diam, setelah pendapatnya ditolak mentah-mentah oleh Evan.


“Aku tahu maksudmu mengatakan hal barusan. Usulanmu memang tidak buruk juga, tapi aku sudah memikirkan cara lain untuk mengakhiri balas dendam ini.”


Evan kembali tenang setelah tadi melampiaskan semua kemarahannya. Meskipun Evan tidak meminta maaf kepada Jayden karena tadi telah membentaknya, tapi memang itulah sifat Evan sejak kecil tidak pernah mau disalahkan dalam hal apapun.


Dan Jayden sangat mengerti sifat Evan itu, karena itulah dia juga terbawa sampai sekarang.


Tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan malah menyalahkan orang lain atas kehancuran dirinya sendiri.


“Lalu apalagi yang akan kau lakukan sekarang? Perusahaan sudah diambang kebangkrutan dan tidak ada yang mau membantu kita secara finansial. Jika seperti ini terus, maka kita tidak bisa apa-apa lagi untuk melawan Cano dan anak buahnya!”


Jayden menjelaskan situasi mereka sedang semakin terdesak oleh Cano, apalagi setiap sinyal bantuan yang dia kirim tidak ada satu pun yang meresponnya.


Jayden sudah merasa sangat khawatir dengan situasi klan mereka sekarang, akan tetapi Evan masih terlihat sangat santai dalam menghadapinya.


“Kita akan melawannya, tapi bukan dipulau ini! Cano harus mati ditempat yang sama dengan kematian keluarga kita.” ujar Evan yang ternyata sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang.


“Jadi, maksudmu semua pelarian kita selama ini yang bagaikan seorang pengecut hanyalah siasatmu saja untuk membuat Cano frustasi, begitu?” ujar Jayden yang mulai mengerti alasan Evan terus melarikan diri setiap Rayden telah menemukan lokasinya.


“Kau sudah mengerti sekarang! Bagaimana dengan keadaan sekitar pulau ini? Apakah ada tanda-tanda kehadiran Cano kepulau ini?”


Evan pun beralih menanyakan posisi dari musuhnya, karena dia harus memastikan apakah ada alat pelacak atau tidak ditubuh Zhia.


Atau kemungkinan terburuknya ada mata-mata Cano diantara banyaknya anak buahnya.


“Sejauh ini tidak ada tanda-tanda Cano dan anak buahnya mendekat, karena transportasi yang bisa mencapai pulau ini hanya kapal dan helicopter saja. Hanya ada satu kapal pelayan saja yang berada disekitar pulau ini. Jadi, sepertinya memang tidak ada alat pelacak ataupun mata-mata Cano diantara kita semua.”


Jelas Jayden yang masih belum menyadari bahwa sebenarnya kapal pelayan itu adalah kapal milik Rayden beserta dengan anak buahnya.


Mendengar hal itu, Evan pun langsung marah-marah lagi kepada Jayden.


Tanpa harus menyelidikinya lagi Evan sudah tahu bahwa kapal nelayan itu pasti hanya untuk penyamaran Cano dan anak buahnya saja.


“Dasar bodoh! Apa kau tidak pernah berpikir bahwa kapal nelayan itu hanya sebagai penyamaran dari Cano dan anak buahnya saja, Hah? Mereka pasti memastikan keadaan dipulau ini terlebih dahulu sebelum menyerang!”


Evan kembali berteriak dan melempar sebuah vas besar kearah Jayden. Beruntung vas itu tidak mengenai tepat ditubuh Jayden, sehingga Jayden hanya mengalami luka goresan saja di bagian kakinya.


Karena terkena pecahan dari vas itu, dari awal Evan memang tidak berniat mengarahkannya langsung pada tubuh Jayden.


“Ma-maafkan saya, Tuan! Saya tidak pernah berpikir sampai seperti itu.”


Jayden hanya bisa meminta maaf sembari menundukkan kepalanya saja atas kecerobohannya itu.


“Sudahlah! Siapkan helikopternya sekarang, sudah waktunya kita mengakhiri semua ini.”


Evan sudah tidak bisa berbuat apapun lagi, dia harus segera membawa Zhia pergi ketempat yang sudah dia siapkan untuk membunuh Rayden.


Tempat yang menumbuhkan dendamnya yang sebenarnya semua itu terjadi atas kesalahannya sendiri yaitu rumah keluarganya yang ada dinegara A.


Dimana semua anggota keluarganya terbenuh disana hanya untuk melindungi bajingan seperti dirinya.


“Baik, Tuan! Akan segera kami laksanakan secepatnya.” ujar Jayden dengan cepat.


Setelah itu, dia langsung pergi untuk menyiapkan apa yang baru saja diperintahkan oleh Evan itu.


Sementara Evan langsung menghubungi seseorang, terdengar jelas bahwa Evan sudah menyiapkan renncana besarnya untuk membunuh Rayden.


Evan langsung memberi perintah begitu panggilan teleponnya terhubung. Semua yang Evan lakukan selama ini memang untuk rencana puncaknya yaitu sekarang.


Dimana banyaknya anak buah Rayden yang terjebak dikedua pulau itu dan dia sendiri yang akan mengundang Rayden ketmpat yang sudah dia siapkan sebelumnya.


“Baik, Tuan!” sahut orang itu dengan cepat.


Setelah mendengar jawaban dari orang itu, Evan pun langsung memutuskan sambungan teleponnya dan membuangnya ponselnya begitu saja di wastafel.


Evan kemudian berjalan menuju kejendela, dari jendela itu Evan bisa melihat sebuah kapal besar yang tidak jauh dari pulaunya berada.


Segala upaya sedang Rayden lakukan untuk menyelamatkan Zhia dari cengkraman si psikopat Evan, disisi lain Evan terus memainkan berbagai triknya untuk membawa jauh Zhia dari Rayden.


Sementara Zhia sedang duduk meringkuk didalam ruang bawah tanah yang dngin dan pengap dengan tubuhnya yang lebam akibat pukulan dari Evan saat melampiaskan kebenciannya terhadap Rayden.


“Sayang, mamah sangat merindukan kalian berdua! Luca, Lucia apakah kalian juga merindukan mamah? Hikss,…..”


Zhia menangis meringkuk, dia benar-benar merindukan kedua anak kembarnya.


Sudah berhari-hari Zhia menjadi tawanan Evan, semenjak itu pula dia tidak bisa melihat wajah kedua anak kembarnya dan juga memeluknya dengan eratnya.


“Ray, aku juga sangat merindukan dirimu! Aku sangat menyesali semuanya, Ray! Seharusnya aku mendengarkanmu untuk menjaga jarak dengan Evan, seharusnya aku lebih mempercayaimu dari pada orang lain. Seharusnya aku menunggumu sampai siap mengatakannya sendiri padaku, bukan mempercayai perkataan orang lain dan berakhir seperti ini. Aku sangat menyesalinya, Ray! Hiks,…… Hiksss,…..”


Zhia sangat menyesali keputusannya sendiri, menyalahkan kebodohannya sendiri dan menerima pahitnya nasibnya yang malang itu.


“Aku sangat merindukanmu, suamiku! Luca dan Lucia, anak kembarku yang manis dan menggemaskan! Papah dan Mamah, meskipun bukan orangtua kandungku! Aku juga merindukan Alea dan Eva, aku harap mereka berdua baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu pada mereka, semua itu karena kesalahanku! Aku yang sangat bodoh dan terlalu naif, karena mempercayai iblis seperti Evan. Hiksss,…..Hiksss,……Semuanya salahku!”


Zhia semakin menangis terisak, tubuhnya yang lemah gemetar hebat. Pikirannya sudah diepenuhi dengan berbagai hal buruk, dia sangat takut terjadi sesuatu kepada orang-orang yang sangat dicintainya itu.


Sesungguhnya Zhia sangat tahu bahwa Rayden dan yang lainnya tidak akan tinggal diam ketika tahu dirinya diculik, mereka semua pasti akan melakukan segala macam cara untuk berusaha menyelamatkannya apapun hasilnya nanti.


“Ray, aku mohon padamu! Jangan pernah mengorbankan nyawamu sendiri untuk wanita sepertiku. Wanita keras kepala dan tidak memiliki apapun didunia ini. Lebih baik aku mati daripada melihatmu terluka, Ray! Hikss,….”


“Jika aku mati ditangan Evan! Itu bukanlah salahmu, tapi karena salahku sendiri yang terlalu mempercayai penilaianku sendiri. Tapi aku mohon padamu, Ray! Kau tidak perlu mengingatnya bahwa kau pernah mencintai wanita keras kepala seperti diriku, tapi aku minta ingatlah aku sebagai ibu dari Luca dan Lucia. Itu sudah cukup bagi wanita sepertiku. Hikss,…. Hikssss,…….”


Seakan hari ini adalah ahari terakhirnya, Zhia tiba-tiba saja terbayang kenangan indahnya bersama dengan Rayden, kedua anak kembarnya ddan juga semua orang yang telah membuatnya bahagia akhir-akhir ini sebelum dirinya diculik.


Zhia memang membayangkan kenangan indah itu sambil tersenyum. Akan tetapi, airmatanya terus mengiringi senyumannya yang terasa sangat kelu.


Mungkin kebahagiannya memang hanya sampai hari ini saja, tetapi setidaknya Zhia ingin melihat kedua anak kembarnya walau hanya melalui fotonya saja.


Namun penyesalan tinggal ‘lah penyesalan, karena waktu tidak dapat dia putar kembali.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚