
Beralih pada saat Rayden sedang memijat Zhia, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dikamar mereka.
Awalnya Rayden tidak mau menggubrisnya sama sekali, tetapi semakin lama suara ketukan pintu semakin terdengar kencang.
Rayden pun langsung pergi untuk membukakan pintunya karena dia tidak ingin Zhia terbangun lagi dan dia pikir itu hanya layanan hotel yang dipesan oleh Will.
“Siapa?” ujar Rayden dengan dingin begitu dia membuka pintunya.
Namun, setelah pintu terbuka tidak ada satu orang pun yang berada disana. Hanya ada sebuah kotak bertuliskan ‘Hadiah Pernikahan” tergeletak didepan pintu.
Rayden pun langsung membukanya, betapa terkejutnya dia saat melihat isi didalamnya.
Kotak itu berisi sepasang bola mata manusia yang masih berlumuran darah dan beberapa gigi manusia serta sepucuk surat yang ditulis dengan menggunakan darah.
Ada juga beberapa lembar foto adik kembarnya yang sudah tewas dengan penuh luka disekujur tubuhnya.
...‘Mata dibalas Mata...
...Gigi dibalas Gigi...
...Dan nyawa harus dibalas dengan nyawa...
...Ingatlah!...
...Aku juga akan mengambil nyawa orang yang paling kau cintai,...
...Seperti kau mengambil nyawa orang-orang yang paling berharga didalam hidupku!...
...Jika istri dan anak-anakmu mati, jangan salahkan aku!...
...Tapi salahkan saja Rayna Cano Xavier, karena dia ‘lah sumber masalahnya!’...
Mengetahui isi surat itu, wajah Rayden seketika terlihat sangat marah.
Rayden langsung meremas surat itu dengan kuatnya, dia pun langsung memperhatikan ke sekelilinya berharap bisa menangkap orang itu.
Namun sayangnya, tidak ada satu pun jejak orang itu yang ditinggalakan.
Rayden pun segera kembali kekamarnya, mecari keberadaan ponselnya dengan satu tangannya memegangi surat itu dan beberapa foto jenazah adik kembarnya. Rayden menekan nomor pribadi Will dan segera menghubunginya.
“Will, kekamarku sekarang!”
Begitu selesai mengatakan itu, Rayden pun langsung menutup pangilan teleponnya secara sepihak.
Tangannya gemetar hebat, matanya semakin memerah mengingat bagaimana keadaan adiknya saat ditemukan diselak belukar.
“Ada apa dengan, Tuan! Atau jangan-jangan telah terjadi sesuatu. Aku harus secepatnya kesana!” gumam Will setelah menerima panggilan telepon dari Tuannya.
Will yang sedang menunggu sarapan untuk Tuan dan Nyonya mudanya, langsung saja berlari menuju kekamar Tuannya dengan kecepatan penuh. Will sudah tidak mempedulikan sarapan itu, perasaannya sudah tidak enak terlebih dahulu.
“Tuan, apa yang terjadi? Haaa,…Haaa,…” ujar Will begitu sampai, disana sudah ada Rayden yang sedang menunggunya.
Nafasnya terengah-engah karena berlari sangat kencang.
“Will, periksa semua rekaman cctv yang berada disekitar sini sekarang juga!”
Perintah Rayden tanpa ekspresi sedikitpun. Will langsung menyadari ada sesuatu yang salah pada Tuannya, sosok Rayden yang sekarang mengingatkan Will pada sosok Rayden pada 10 tahun silam.
Rayden pun bersikap biasa saja saat berhadapan Dengan Zhia, seolah tidak terjadi apapun.
Karena Rayden sedang menjalani masa bulan madunya yang indah, terpaksa dia menyuruh Will untuk kembali dan membereskan masalah itu dengan papah Noland.
“Tuan, apa ini?”
Will tidak langsung melaksanakan perintah dari Tuannya, dia malah mengambil sebuah bingkisan yang berada didekat kaki Tuannya itu.
Terlihat jelas melalui raut wajah Will bahwa dia juga terkejut begitu melihat isi didalam bingkisan itu.
“Tuan, ini,_........”
“Dia kembali dan dia masih hidup selama ini!” ujar Rayden yang memotong perkataan Will, dia juga menyerahkan surat beserta foto yang dari tadi dipegang ditangannya.
Will segera menerima dan membacanya, reaksi Will tidak jauh dari reaksi rayden sebelumnya.
Sekarang Rayden dan Will juga tahu bahwa yang membunuh Rayna memang anggota klan Tiger Dark dan alasan mereka sekarang mulai menyerang adalah untuk menargetkan Zhia dan juga kedua anak kembarnya.
“Tuan, bagaimana dengan Nyonya muda? Nyonya belum melihat tentang ini, bukan?” ujar Will yang mengkhawatirkan keadaan Nyonya mudanya jika sampai mengetahui tentang teror ini, maka sudah dipastikan dia akan sanga ketakutan.
“Beruntung, Zhia tadi kembali tidur! Jadi, dia tidak mengetahui soal ini.”
Rayden terlihat sangat bersyukur, karena bukan Zhia yang membuka pintu dan menemukan bingkisan peringatan bertuliskan hadiah pernikahan itu.
“Segera bereskan semua ini dan kembalilah secepatnya untuk memberitahu soal ini pada Tuan besar. Cari tahu siapa saja yang terlibat tentang kejadian 10 tahun yang lalu, apakah kita telah melewatkan sesuatu atau tidak?” lanjut Rayden yang menyuruh Will untuk kembali dan menyelidiki kembali mengenai kejadian yang sudah lama berlalau dan dilupakan semua orang.
“Tapi bagaimana dengan Tuan dan Nyonya muda disini? Aku harus selalu berada disamping anda dan Nyonya muda agar bisa melindungi anda sekalian.” ujar Will merasa sedikit enggan untuk meninggalan Tuan dan Nyonya muda sendirian dalam situasi yang sedang berbahaya ini.
Pasti musuh pasti sedang mengawasi dari dekat maupun kejauhan yang berarti nyawa Rayden dan Zhia juga sedang tidak aman jika terus menetap dipulau itu.
“Kembali saja, ikuti perintahku dengan baik! Aku akan mengurus yang disini.”
Rayden masih kekeuh dengan perintahnya, sepertinya perlahan dia sedang menyusun rencana untuk menangkap orang yang telah membunuh adik kembarnya itu.
Bukan hanya itu, mereka bahkan sekarang telah berani menargetkan Zhia dan kedua anak kembarnya.
“Tuan, tapi ini sangat berbahaya. Kita tidak tahu seberapa besar musuh yang mengintai disin!”
Meskipun Will sangat mempercayai bahwa Tuannya bisa menangani semua musuh seorang diri, tetap saja itu cukup berbahaya.
Walaupun Rayden mempunyai ketampilan bela diri yang lebih tinggi darinya, tapi percuma saja kalau musuhnya lebih banyak dan ditambah lagi ada Zhia yang harus dilindunginya.
Bertahan untuk melindungi diri sendiri itu mudah, tapi bertahan sembari melindungi orang lain itu sangatlah sulit.
Tanpa disangka, Zhia ternyata sudah bangun dari tidurnya lagi.
Melihat Rayden yang tidak berada disampingnya saat bangun, Zhia pun perlahan beranjak ddari tempat tidurnya dan mencoba mencari keberadaan suaminya itu diseluruh ruangan.
Karena tidak menemukan didalam seluruh ruangan, Zhia pun memutuskan untuk mencari Rayden diluar.
Belum sempat Zhia berjalan sampai didepan pintu keluar, dia sudah melihat Rayden sedang berdiri disana dan sepertinya sedang berbicara dengan seseoarang.
Sementara Rayden dan Will masih asyik berdebat dan membicarakan tentang musuh-musuh mereka yang semakin meresahkan saja.
“Ray, kau sedang apa disini?” tanya Zhia yang tiba-tiba saja memeluk tubuh Rayden dari belakang dengan eratnya.
“Zhi, kau sudah bangun? Kenapa kau tidak berbaring lagi saja, bukankah masih sakit?” ujar Rayden yang berusaha menutupi kepanikkan.
Rayden dan Will pun langsung panik, mereka takut Zhia telah mendengar pembicaraan mereka dari awal.
Dan yang membuat Rayden dan Will semakin panik adalah bingkisan yang bertuliskan hadiah pernikahan yang berisi mata dan gigi manusia itu masih berada didepannya.
“Saat aku bangun kau sudah tidak ada disampingku, makanya aku mencarimu dan ternyata kau sedang disini!” ujar Zhia yang terus saja bersikap manja kepada suaminya itu.
“Ouh,…Will! Ternyata kau disini, ada apa?”
Kini Zhia baru menyadi keberadaan Will disana, padahal dari tadi Will memang sudah berada disana.
Maklum saja, mereka ‘kan pasangan pengantin baru. Jadi dunia sekan milik berdua dan yang lainnya hanya ngontrak saja.
Mendengar pertanyaan Zhia, Rayden dan Will pun semakin merasa panik.
Will segera menyembunyikan surat dan foto yang diberikan Rayden didalam saku celananya, sementara mereka masih bingung dengan bingkisan hadiah itu.
“Will kesini untuk berpamitan pada kita sebelum pergi, Zhi! Papah sepertinya sedikit kewalahan mengurus perusahaan seorang diri, jadi dia meminta Will untuk kembali secepatnya. Iya ‘kan, Will?” ujar Rayden dengan cepat dan Will pun terpaksa harus mematuhi perintah Rayden untuk kembali.
“Iya, Nyonya muda! Semoga bulan madu anda sekalian menyenangkan, meskipun tanpa diriku ini!” sahut Will yang terpaksa membenarkan perkataan Tuannya itu.
“Itu malah lebih baik, cepat pergi sana!”
Rayden pun segera mengusir Will pergi sekalian menyingkirkan bingkisan meresahkan itu.
“Ray, itu apa? Hadiah pernikahan untuk kita ‘kah? Ayo, kita buka bersama!”
Benar saja, mata Zhia langsung tertarik dengan bingkisan yang terlihat seperti hadiah itu.
Rayden dan Will langsung keluar keringat dingin, mencoba mencari akal untuk menyingkirkan bingkisan itu dari ke tertarikan Zhia.
Bersambung........
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚