
Hampir Dua minggu telah berlalu. Kini Noland, Will dan Levi telah selesai dengan tugas menumpuk mereka.
Seperti yang telah dijanjikan oleh Noland, Will dan Levi mendapat kenaikan gaji selama satu tahun kerena berhasil menyelesaikan semuanya dalam waktu satu minggu saja.
Akhirnya kini, hari-hari mereka bisa berjalan seperti biasanya.
Levi pun menghabiskan waktunya untuk bermain-main dan berlatih kemapuan bela dirinya bersama dengan Felix. Noland pun selalu menyempatkan waktu untuk selalu bersama dengan istrinya.
Sementara Will sedang memainkan trick untuk mendapatkan cintanya Alea.
Setiap hari Will akan datang kerumah Alea sembari membawakan sebuket bunga dan kemudian mengajaknya makan siang bersama.
Semua yang Will lakukan mengatas namakan Zhia sebagai alasan disetiap pertemuan mereka.
Seperti hari ini, Will kembali datang dengan membawa sebuket bunga dan juga sekotak coklat yang dibungkus dengan sangat cantik.
Will datang langsung ke rumah Alea dan tentu saja selalu disambut hangat oleh keluarga Alea karena dari awal memang dia sudah mendapat lampu hijau dari calon papah dan mamah mertuanya.
“Selamat siang, Tante!” sapa Will begitu di buka ‘kan pintu oleh Ibunya Alea.
“Ouh,… Tuan Will, anda datang lagi ingin bertemu dengan Alea ‘yah?” tanya ibunya Alea yang menyambut Will dengan senyuman dan pelukkan hangatnya.
“Iya, Tante! Alea-nya ada ‘kan?”
Will pun mencoba memastikan keberadaan Alea didalam rumah itu.
“Alea ada ‘kok di kamarnya! Sebentar ‘yah, Tante panggilkan dia. Silahkan masuk dulu, tunggu saja didalam ‘yah anggap saja seperti rumah sendiri!”
Ibunya Alea pun segera mempersilahkan Will untuk masuk dan duduk disalah satu kursi yang berada diruang tamu.
“Terima kasih, Tante! Maaf selalu merepotkan,” ucap Will.
“Kenapa anda datang lagi?” tanya Alea yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
Alea tampak tidak senang melihat kedatangan Will, apalagi selalu membawakan dirinya sebuket bunga dan juga berbagai jenis desert yang berbeda setiap harinya.
Bukan karena Alea tidak menyukainya, akan tetapi dia takut perhatian yang ditujukan Will selama ini bisa membuatnya menjadi salah paham.
“Alea, kenapa kau bersikap tidak sopan begitu kepada Tuan Will! Apa kami sebagai orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu sama sekali?”
Melihat sikap putrinya yang begitu ketus pada Will menantu idamannya membuat sang Ibu menjadi meragukan sendiri kemampuannya dalam mendidiknya.
“Bu-bukan seperti itu maksud Lea, Bu!”
Alea menjadi serba salah sendiri dihadapan ibunya. Alea bermaksud ingin menjelaskan tetapi sang ibu sepertinya tidak mau mendengarkannya.
Alea sudah merasa seperti anak tiri saja setiap kali Will datang mengunjunginya, karena ibunya pasti akan selalu mengutamakan Will dibandingkan dengan dirinya.
“Cepat minta maaf pada Tuan Will sekarang!” perintah sang Ibu dengan nada bicaranya yang penuh penekanan.
“Maafkan atas sikap saya pada anda Tuan Will,” ucap Alea sembari membungkukkan badannya memberi hormat, meskipun ada sedikit rasa terpaksa saat mengatakannya.
“Tidak apa-apa, kau pasti juga merasa tidak nyaman karena aku datang ssetiap hari dengan membawa seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi Nyonya muda memintaku untuk melakukannya selama dia sedang liburan, kalau kau tidak percaya coba tanyakan saja sendiri.”
Sebenarnya menggunakan nama Zhia hanya’lah sebagai trick dari Will saja untuk mencari alasan agar bisa menemui Alea setiap hari.
Sebab Will tahu jika dia tidak menggunakan alasan seperti itu, Alea pasti akan langsung menolaknya bahkan bisa jadi sangat menjaga jarak dengannya.
“Ti-tidak, bukan seperti juga maksud saya!” seru Alea yang semakin merasa serba salah kepada Will.
“Aishh,… Kalian berdua ini selalu saja membuatku serba salah,” gumam Alea dengan raut wajah cemberutnya.
“Tidak usah terlalu dipikirkan, aku tidak masalah ‘kok! Ouhya,…. Ini seperti biasa, Nyonya muda menyuruhkan memberikan ini padamu.”
Will lalu memberikan buket bunga dan sekotak coklat yang dibawanya kepada Alea, terlihat jelas bahwa Alea masih saja raguuntuk menerimanya begitu saja.
Namun, karena Ibunya terus saja melontarkan tatapan tajam padanya, Alea pun harus menerima semua itu.
“Terima kasih,” ucap Alea dengan lirih.
“Sama-sama! Ouhya,… Apakah sekarang kau mempunyai waktu luang? Maksudku Nyonya muda juga memintaku untuk memastikan bahwa juga makan makanan yang sehat, kalau kau ada waktu bisakah kita makan siang bersama?”
Lagi-lagi Will menggunakan nama Zhia hanya untuk mengajak Alea makan siang bersama.
“Nyonya, kumohon maafkan saya yang selalu menggunakan namamu. Tolong maafkan saya kali ini saja, karena saya tidak ingin jomblo terus. Maafkan saya, Nyonya!” batin Will yang terus saja memohon maaf setiap mengatasnamakan Zhia sebagai setiap alasannya kepada Alea.
“Tentu, Alea banyak sekali waktu luang semenjak dia tidak bekerja lagi. Kalian pergi saja makan bersama ‘yah.”
“Ta-tapi, Bu,_....”
“Sudah sana, kalian pergi saja sekarang. Ini biarkan Ibu yang simpan!”
Ibunya Alea segera mengambil bunga dan coklat dari tangan Alea, kemudian menarik paksa Alea dan Will untuk segera pergi berduaan.
Ibunya tahu kalau Alea pasti akan menolak ajakan makan bersama itu dengan menggunakan berbagai alasan, maka dari itulah dia harus segera bertindak.
“Dahh,…Kalian bersenang-senanglah!” seru Ibunya Alea yang malah tampak lebih bersemangat di bandingkan dengan Alea.
Will dan Alea pun akhirnya makan siang berdua, Will sengaja memilih resturant yang menunya serba sehat agar Alea tidak mencurigainya.
Mereka berdua pun menikamati makan siang itu dalam diam, hingga Will memulai pembicaraan.
“Apa kau ada waktu kosong akhir pekan ini?” tanya Will dengan sangat hati-hati.
“Bukankah kau sudah tahu kalau aku mempunyai banyak waktu luang dari ibuku tadi. Ehmmm,…. Maksudku, Iya aku ada waktu kosong!”
Awalnya Alea menjawab pertanyaan dari Will dengan malas dan juga terdengar sangat ketus, tapi sesaat kemuadian dia tersadar dan segera meralat semua perkataan dan sikapnya.
“Hahahaa,…Sepertinya kau sangat membenciku ‘yah?” ujar Will yang tertawa dan tersenyum kecut setelahnya.
“Bu-bukan begitu, saya tidak membenci anda sama sekali. Saya hanya takut menjadi salah paham saja.”
Alea mencoba menjelaskannya, tapi pada akhirnya dia hanya bergumam pada dirinya sendiri.
“Aku tahu, lalu apakah kau mau pergi denganku? Ini permintaanku pribadi, bukan karena perintah dari Nyonya muda atau siapapun. Aku ingin mengunjungi suatu tempat, tapi aku juga tidak ingin sendirian pergi ketempat itu.”
Will pun kembali membahas pembicaraan awal mereka, nada bicara dan juga wajahnya dibuat memelas agar mendapat simpati dari Alea.
Karena Will sadar tidak akan mudah untuk mengajak pergi Alea tanpa menggunakan nama Nyonya mudanya lagi.
“Baiklah, kabari saya waktu dan tempatnya.”
Setelah cukup lama mempertimbangkannya, akhirnya Alea pun menyetujuinya. Entahlah apa yang dirsakan Alea, tapi menurutnya permintaan ini lebih baik daripada hanya karena perintah dari orang lain saja.
“Tidak perlu, aku akan datang untuk menjemput! Kita pergi bersama saja,” sahut Will dengan senyuman yang mengembang diwajah tampannya.
Will pun mengantarkan Alea kembali pulang ke rumahnya setelah selesai makan, kemudian dia kembali kekantornya dengan perasaan riang gembira.
Sebab baru kali ini Alea mau di ajak pergi tanpa harus mengatas namakan Zhia.
...****************...
Disatu sisi, Rayden juga memanfaatkan trik yang sama. Rayden memanfaatkan Dr. Ian sebagai pangasuh Luca dan Lucia, apalagi Luca sudah kembali seperti Luca yang biasanya, Luca yang selalu tersenyum menggemaskan dan juga Luca yang sangat menyukai dunia IT.
Selama dipulau itu, Luca terus saja tersenyum dan bermain dengan bahagia dengan Lucia.
Sekarang sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi oleh Rayden dan Zhia, karena Dr. Ian pun telah menyatakan sudah tidak ada masalah dengan kondisi Luca tapi tetap saja dia harus melakukan pemeriksaan akhir untuk lebih memastikannya.
“Sayang, apa tidak masalah membiarkan Dr. Ian menjaga Luca dan Lucia sementara kita berdua seperti ini?” tanya Zhia yang merasa tidak enak hati dengan Dr. Ian yang harus menjaga si kembar.
“Tidak apa-apa, anggap saja ini hukuman kecil untuknya karena waktu dia mengomeliku dengan keras. Lagian kita sudah lama tidak bercumbu seperti ini, bukan? Biarkan saja untuk hari ini, ingatlah Zhi aku juga membutuhkan perhatian, cinta dan kasih sayang darimu,” ujar Rayden yang merengek layaknya anak kecil.
“Iya, baiklah suamiku sayang!”
Setelah itu, terjadilah sesuatu yang sangat mengairahkan diantara mereka berdua. Tanpa dijelaskan pun pasti kalian juga mengerti sendiri, apa yang terjadi jika suami istri sedang berdua didalam kamar.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Terima kasih All!😙😘😚