
“Akan aku naikan gajimu selama satu tahun kalau kita bisa menyelesaikan semua ini selama satu minggu saja, Will.”
Janji Noland yang secara tidak langsung menantang kemampuan Will.
“Baik, Boss! Saya siap lembur dari pagi sampai pagi, Boss!”
Will langsung gerak cepat jika sudah menyangkut tentang kenaikan gajinya, apalagi ini sampai satu tahun kalau bisa berharap dia ingin selamanya saja.
Semangatnya seketika langsung membara, Will sudah tidak peduli lagi dengan keinginan liburnya.
“Wahhh,…. Kau gampang sekali di suap dengan uang ‘yah, Will?” ujar Noland yang tidak manyangka sama sekali kalau reaksi Will akan seperti itu.
“Tuan, saya bekerja demi uang! Semakin banyak upah yang diberikan, maka semakin semangat pula saya bekerja,” sahut Will dengan senyuman lebarnya.
“Tuan, Ayo kita mulai dari mana? Semakin cepat kita bekerja, maka akan semakin cepat kita menyelesaikannya,” lanjut Will yang tidak ingin membuang waktu lagi.
“Panggil sekertaris yang diluar untuk membantu memilihkan berkas yang harus kita utamakan,” ujar Noland sembari berjalan menuju ke meja kerjanya.
“Baik, Tuan!” sahut Will yang segera melaksanakan perintah dari Noland.
Will pun segera keluar dari ruangan Ceo untuk memanggil sekertaris Rayden yang lainnya, tidak lama kemudian dia pun kembali bersama dengan para sekertaris lainnya.
Will menyuruh mereka untuk memilih berkas yang harus segera ditangani terlebih dahulu.
Terlihat Noland dan Will sangat serius mengerjakan setiap berkas yang memiliki batas waktu yang sedikit untuk diselesaikan.
Sebenarnya ada beberapa meeting yang harus Noland hadiri, tetapi mereka harus menundanya untuk sementara waktu sampai semua berkas yang sudah menggunung itu.
Ditambah lagi tanpa sepengetahuan Noland, Rayden ternyata telah membeli sebagian besar saham perusahan milik Evan.
Tentu saja membuat beban pekerjaan Noland dan Will semakin bertambah 10X lipat mengingat perusahaan itu ada berpusat dinegara lain.
Hari Will pun terasa semakin sibuk ketika Levi juga terus mengganggunya.
Levi terus saja menelponnya hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting dan terkadang hanya ingin menggodanya saja.
Sehingga membuat Will tidak bisa focus dengan semua pekerjaannya di perusahaan.
Sebab disisi lain, Levi juga tengah melakukan tugasnya. Saat ini Levi berada dikantor polisi untuk menangani masalah mengenai kasus Evan.
Levi yang memang pada dasarnya tidak suka melakukan diskusi tanpa hasil, akhirnya dia memilih menggunakan cara kekerasan saja disana.
Sehingga keributan dikantor polisi pun tidak dapat dihindarkan lagi. Beruntung Felix datang tepat waktu dan membereskan semuanya, dia yang pada akhirnya melakukan diskusi panjang mengenai kasus Evan hingga membuahkan hasil yang mereka inginkan.
“Terima kasih telah membantuku menyelesaikan masalah di kantor polisi,” ucap Levi pada Felix yang sedang berjalan disampingnya.
“Tidak masalah! Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu karena sudah mau menerimaku sebagai salah satu dari kalian, kalau tidak mungkin aku sudah mendekam dipenjara.”
Felix masih tidak menyangka bahwa dia bisa menjadi teman dari Levi. Apalagi mengingat pertemuan mereka yang saling bertarung mempertaruhkan nyawan sampai akhir.
Sekarang mereka bahkan berjalan beriringan seakan pertarungan sengit diantara mereka tidak pernah terjadi.
“Aku tidak alasanmu bisa bekerja dengan bajingan seperti Evan itu! Dari penilaianku, sayang saja orang kemampuan bela diri yang bagus seperti dirimu harus berakhir dipenjara. Apalagi aku melihat kau hanya menuruti perintah dari bajingan itu saja,” jelas Levi yang mengatakan alasannya sesuai dengan apa yang dia rasakan tentang Felix.
“Aku hanya butuh uang! Aku mempunyai seorang adik perempuan yang mempunyai penyakit jantung bawaan sejak lahir, karena itulah aku membutuhkan banyak uang." ujar Felix.
"Pekerjaan apapun akan aku lalukan untuk mendapatkan biaya untuk pengobatannya dan saat itu aku bertemu dengan Evan. Dia menjanjikan gaji yang sangat besar dan juga katanya dia kan mencarikan donor jantung untuk adikku, maka dari itulah aku mengikuti.”
Tidak pernah Levi duga, ternyata dibalik kemampuann beladiri Felix terdapat cerita yang begitu menyentuh hati dibaliknya.
Sekarang setidaknya Levi mengetahui bahwa Fellix tidak akan pernah menjadi ancaman bagi dirinya maupun klannya, penilaiannya memang tidak pernah meleset.
Setidaknya Felix adalah kakak yang baik bagi adiknya, meskipun pekerjaan yang diambilnya sangat buruk dimata orang lain.
“Adikmu pasti akan sembuh! Aku akan meminta pada Tuan untuk membantu adikmu itu,” ucap Levi, meskipun tidak dapat menjanjikan apapun.
Setidaknya dia akan berusaha membicarakan tentang kesulitan Felix pada Tuannya, siapa tahu Tuannya mempunyai cara untuk membantunya.
“Bagaimana denganmu?” tanya Felix tiba-tiba yang membuat Levi menjadi bingung sendiri tentang apa yang tengah dia bicarakan.
“Bukankah waktu itu kau bilang sedang menyukai seorang gadis? Apakah gadis itu yang menjadi alasanmu bekerja seperti ini?”
Ternyata yang ditanyakan oleh Felix mengenai curhatan Levi saat mereka bertarung dulu.
Karena Levi mengatakan bahwa ada perbedaan status yang sangat besar antara dirinya dan juga gadis itu, maka Felix pun menyimpulkan bahwa alasan Levi menjadi mafia juga karena uang seperti dirinya.
“Hahahaa,…Tidak, gadis itu belum lahir saat aku memutuskan untuk menjadi seorang mafia! Ada suatu alasan dan itu terkait dengan masa kecilku,” jelas Levi yang entah kenapa dia malah tertawa saat teringat mengenai Nona kecil kesayangannya.
Senyuman Levi pun terus merekah begitu mengingat tentang Lucia, dia tidak pernah menyangka bahwa Lucia tidak menjaga jarak dengannya setelah mengetahui sosok aslinya yang mengerikan.
Namun, senyuman itu seketika sirna jika mengingat perbedaan besar diantara mereka berdua.
“Apa kau tidak mau memperjuangkan perasaanmu pada gadis itu? Kau terlihat sedih, jika membicarakan gadis itu,” ujar Felix lagi yang menyadarkan Levi dari lamunannya.
“Iya, aku menyerah! Tidak, sebenarnya sejak awal aku tidak pernah mau memperjuangkan sama sekali,” sahut Levi sembari menghela nafasnya.
“Kenapa? Apa karena perbedaan besar diantara kalian?”
Felix terus saja bertanya, baginya semakin Levi mengatakan sesuatu mengenai gadis itu. Rasa penasarannya semakin bertambah, dia ingin sekali mendengar kelanjutan ceritanya.
“Tidak, karena dari awal gadis itu memang tidak dapat aku gapai sedikitpun! Meskipun aku berusaha sekeras apapun, gadis itu tidak dapat aku raih!”
Levi tersenyum kecut kepada dirinya sendiri yang tidak berdaya atas rasa sukanya itu yang tidak pernah dia duga sama sekali.
Saat ini Levi tidak seperti dirinya sendiri, dia merasa seperti bukan Levi sang playboy seperti biasanya kalau sudah menyangkut Nona kecilnya.
“Apakah aku boleh tahu siapa gadis itu? Mungkin aku bisa membantumu mendapatkannya?”
Felix tidak menyangka bahwa dia akan menanyakan identitas gadis yang dimaksud Levi secepat ini, dia semakin dibuat penasaran dengan gadis yang telah berhasil menaklukan manusia setengah iblis seperti Levi ini.
“TIDAK! Siapa pun tidak boleh mengetahuinya. Sudahlah, ayo kita pergi bersenang-senang di bar malam ini. Karena besok kita masih banyak yang pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Dengan refleks yang sangat cepat, Levi langsung mengalihkan topik pembicaraan mereka. Kalau tidak, dia akan kelepasan lagi seperti yang terjadi belum lama ini.
Sehingga Will pun menjadi satu-satunya orang yang mengetahui bahwa dia menyukai Nona kecilnya.
Kalau Levi memikirkan lebih dalam lagi mengenai perasaannya, dia sudah seperti pedofil anak saja. Karena menyukai anak kecil, tapi perasaannya hanya tumbuh pada Lucia saja dan tidak untuk anak lainnya.
Waktu pun terus berlalu, Levi dan Felix sedang bersenang-senang di bar sebelum melakukan banyak pekerjaan lagi besok.
Sementara Will dan Noland masih terjebak di kantor, tapi setidaknya sudah satu gunung pekerjaan yang telah berhasil mereka selesaikan dalam satu hari dan semua itu berkas yang sangat mendesak.
“Will, kita pulang dulu sekarang! Jangan bekerja dari pagi sampai pagi, bisa-bisa dalam seminggu kita tinggal tersisa namanya saja,” ujar Noland pada Will yang masih sibuk dengan berkasnya.
“Baik, Tuan! Saya juga belum menikah, masa sudah mati duluan karena lembur terus.”
Dengan kekuatan super kilat, Will langsung membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang.
Mereka pun pulang sebelum waktu makan malam terlewatkan, karena Noland sebenarnya tidak tega membiarkan istrinya sendirian dirumah.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Terima kasih All!😙😘😚