
“Selamat pagi! Sedang apa kalian berdua berdiri seperti penguntit disini? Kalau masuk, silahkan masuk saja memangnya di rumah sakit ini ada yang berani menegur keluarga Xavier?”
Dr. Ian pun menyapa Noland dan Julia dengan ramah, namun tak lama kemudian langsung menyindir keduanya hanya dengan pertanyaannya saja.
Hal itu membuat Noland dan Julia merasa sedikit terkejut dengan kedatangan Dr. Ian, Noland bahkan melontarkan tatapan kesalnya pada Dr. Ian sekaligus sahabat baiknya itu.
“Hay, kau sudah lupa atau hanya pura-pura tidak tahu saja? Bukankah kemarin kau dengan lantangnya memarahiku dan juga Cano seenak jidatmu itu, sekarang masih berani menanyakan hal itu ‘yah!” seru Noland yang baru membahas persoalan kemarin yang sudah berlalu.
“Entahlah, aku hanya tidak mau mengingatnya saja! Lebih baik kalian berdua masuk saja, dari pada mengintip disini! Saya juga akan memeriksa kondisi Nyonya Julia setalah memeriksa mereka.” ujar Dr. Ian yang kemudian berjalan masuk keruangan Zhia dan si kembar dirawat.
Tanpa berpikir panjang lagi, Noland dan Julia pun mengikuti Dr. Ian masuk kedalam, mereka pun ingin mengetahui perkembangan dari kondisi menantu dan cucu kembar kesayangan mereka itu.
“Hai, selamat pagi semuanya! Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi kalian malah menangis?”
Sapa Dr. Ian masih dengan senyuman cerah diwajahnya, dia pun mendekati Luca pasien yang menjadi prioritas utamanya saat ini.
Benar saja dianogsa yang kemarin dia khawatirkan, Luca memang mengalami trauma yang cukup berat.
Buktinya begitu Dr. Ian berusaha ingin mendekatinya, Luca langsung bersembunyi dibalik tubuh Zhia dengan wajah memucat dan tubuh yang gemetaran.
Rayden, Zhia, Noland dan Julia pun dibuat khawatir dengan reaksi yang ditunjukan oleh Luca barusan.
Luca mereka yang biasanya ceria sekarang menjadi pendiam dan ketakutan, sehingga Dr. Ian pun mengurungkan niatnya untuk lebih mendekat lagi padanya.
“Baiklah, Nyonya Zhia! Bisa minta waktunya sebentar, saya perlu memeriksa perkembangan kondisi anda sekarang!” ujar Dr. Ian yang beralih pada Zhia terlebih dahulu.
“Ouh, baiklah Dok!” sahut Zhia yang terlihat sedikit bingung.
“Luca dengan papah dulu sebentar ‘yah! Mamah harus diperiksa oleh dokter dulu, setelah mamah baru Luca juga harus diperiksa. Mengerti?”
Zhia pun harus membujuk Luca agar mau melepas pelukkan Luca pada tubuhnya. Kemudian dengan cepat Rayden mengambil alih Luca yang langsung saja memeluk Rayden dengan begitu eratnya.
Saat Zhia sedang diperiksa, Lucia juga mulai sadar. Dengan cepat Noland dan Julia langsung menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
Selesai memeriksa Zhia, Dr. Ian pun beralih memeriksa Lucia dan Julia. Dr. Ian sengaja membuat Luca yag terakhir diperiksa untuk menurunkan kewaspadaan bocah laki-laki itu padanya setelah melihat orang-orang yang dikenalnya diperiksa lebih dahulu.
“Hai, Boy! Bagaimana aku tidak terlalu menakutkan seperti yang kau lihat, bukan?” ujar Dr. Ian sembari memeriksa keadaan Luca, tapi Luca hanya diam sembari terus menatapnya.
Dr. Ian pun tersenyum dengan cerahnya pada Luca, sehingga membuat Luca menjadi kebingungan sendiri oleh sikap dokter itu.
Kemudian, Dr. Ian kembali berkata “Kenapa kau takut disaat memiliki Grandpa dan Grandma yang kuat serta sangat penyayang, papah yang hebat, mamah yang penuh denggan cinta dan kasih sayang serta adik perempuan yang menggemaskan dan juga pemberani, Hmmm?”
“Apa kau tidak kasihan pada mereka? Lihatlah, diwajah mereka terlihat sangat khawatir yang melihatmu seperti ini!” lanjut Dr. Ian dengan lembut dan masih dengan senyuman hangatnya.
Luca secara spontan langung memperhatikan wajah nama-nama yang tadi disebutkan oleh Dr. Ian satu persatu.
Apa yang dikatakan Dokter itu memang benar, semua orang sedang khawatir denggan dirinya seperti dia yang khawatir dengan ketakutannya.
“Kau sudah melihatnya, bukan? Kalau kau ingin mereka tidak merasa khawatir lagi seperti itu, katakan padaku! Aku pasti akan dengan senang hati membantu, OK?”
Luca terus menatap Dr. Ian tanpa berbicara, tapi sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu. Dr. Ian tidak ingin memaksanya sebelum Luca sendiri siap untuk menrima pengobatan darinya, karena kesembuhan sebuah penyakit seseorang itu berasal dan bergantung dari kemauan orang itu sendiri.
Dokter hanya berlaku sebagai perantara disini dan sementara kuasa Tuhan yang menentukan hasil akhirnya.
“Sepertinya sudah cukup, kalau begitu saya permisi dulu,_...”
“Apa yang harus Luca lakukan, Dokter?”
Tanpa disangka Luca tiba-tiba mengatakan sesuatu, sehingga membuat semua mata tertuju padanya.
Jauh berbeda dengan Dr. Ian, dia langsung tersenyum dengan cerah karena dari awal dia tahu Luca pasti akan terpengaruh dengan perkataannya.
Semenjak menangani Luca dan Lucia yang demam dipertemuan pertama mereka, Dr. Ian telah menyadari bahwa dibandingkan dengan Lucia sifat Luca sangat mirip dengan Rayden saat kecil.
Tanpa segan Dr. Ian memuji keputusan Luca, dia pun membelai lembut kepala Luca hingga membuatnya tersenyum.
Walaupun senyuman itu sangat tipis, tapi semua orang dapat melihatnya dengan jelas harapan pun mulai tumbuh.
“Tunggu ‘yah! Dokter akan mempersiapkan semuanya untukmu dulu,“ ujar Dr. Ian.
“Tuan Xavier, bisa kita bicara ditempat lain?” lanjutnya yang secara tidak langsung meminta Rayden untuk bicara diruangan pribadinya untuk menjelaskan kondisi kempat pasiennya.
“Baiklah, Dok!” sahut Rayden yang menyetujuinya.
“Kalau begitu saya pamit dulu 'yah semuanya!” ujar Dr. Ian dengan ramah.
Dr. Ian pun keluar dari ruang rawat itu bersama dengan Rayden dan langsung menuju keruangannya. Sesampai diruang pribadinya, Dr. Ian hanya mempersilahkan Rayden untuk duduk.
Sementara Dr. Ian sibuk mengambil beberapa berkas yang menumpuk dikerja mejanya yang cukup berantakan, kemudian meletakkannya di meja tempat Rayden sedang duduk manis sambil memperhatikannya.
“Aku menemukan caranya!” seru Dr. Ian sembari memberikan sebuah berkas pada Rayden.
“Maksudmu?” ujar Rayden yang tidak membaca tulisan yang amburadul dikertas itu kecuali Namanya dan juga nama putranya disana yang bisa dia baca.
“Setelah memeriksanyan lagi, ternyata trauma pada Nyonya Zhia dan juga Lucia tidak perlu dikhawatirkan lagi. Kita hanya perlu mengutamakan pada Luca saja dan seperti yang kau lihat tadi, dia juga mau bersedia berjuang untuk mengatasi traumanya.” ujar Dr. Ian yang merebut kembali berkas yang ada ditangan Rayden tadi.
“Tadinya aku ingin menyarankan untuk melakukan hipnotis pada putramu itu, tapi resikonya cukup besar untuk anak seorang kecil yang masih berusia 6 tahun sepertinya. Namun setelah melihat hasil pemeriksaan terhadapnya, sepertinya dengan mencuptakan suasana baru yang menyaman dan menyenangkan untuknya melupakan ketakutannya itu sudah cukup. Maksudnya ajak dia berlibur kesuatu tempat yang indah dan yang jauh dari sumber yang menjadi traumanya!”
Dr. Ian pun menjelaskan semuanya dan menyarankan yang terbaik untuk mengobati trauma anak kecil itu.
Perasaan lega pun memenuhi hati Rayden, dia tersenyum dan terus mengucapkan terima kasih pada Dr. Ian. Karena telah berhasil menemukan solusi yang membuatnya terus kepikiran.
”Terima kasih banyak, Dok! Terima kasih!” ucap Rayden dengan mata penuh haru.
“Iya, Iya sudah cukup terima kasihnya! Ini juga belum dimulai pegobatannya. Bagaimana kau punya tempat yang aku maksud seperti tempat untuk liburan juga tidak masalah? ” ujar Dr. Ian yang entah kenapa malah kesal jika terus mendengarnya.
“Saya punya beberapa pulau pribadi dengan resort lengkap dan beberapa pemandangan yang indah dan nyaman. Nanti saya akan menyuruh Will untuk memperlihatkan padamu, pilihlah mana yang lebih efisien menurut anda, Dok!”
Dengan penuh semngat Rayden pun menjelaskan bahwa itu sama sekali bukan masalah untuknya asalkan keluarganya kembali seperti semula.
Mendengar penjelasan Rayden, Dr. Ian pun tersadar bisa-bisanya dia melupakan orang terkaya di negeri A.
“Okay, aku akan atur jadwal yang tepat untuk keberangkatan kalian! Kau boleh pergi sekarang.” sahut Dr. Ian yang sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi dengan Rayden, karena semuanya sudah terlalu jelas baginya.
“Kalau begitu saya pamit dulu, dok! Terima kasih banyak sekali lagi.” ucap Rayden yang kemudian meninggalkan ruangan pribadi Dr. Ian dengan suasana hati yang sangat senang.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Terima kasih All!😙😘😚