Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Pengejaran Tak Berujung! Part. 2


“Tuan, gawat! Cano dan beserta anak buahnya sudah berada dilandasan. Apa kita akan menyelesaikannya semuanya disini?” ujar Jayden yang datang dengan membawa kabar kedatangan Rayden, Levi beserta anak buahnya yang sedeang menyerang dilandasan.


“Tidak. Aku punya rencana yang lebih baik sebelum kita membunuhnya. Aku ingin membuatnya merasa putus asa sebelum membunuhnya.”


Jelas Evan yang merencanakan hal yang lebih buruk untu Rayden daripada kematian yaitu pengejaran yang tidak berujung.


“Kita pergi dari sini, bawa Zhia ketempat persembunyian kita yang selanjutnya. Dan perintahkan anak buah kita untuk menghancurkan semua pesawat Cano, pastikan tidak ada kendaraan lain yang bisa digunakan untuk keluar dari pulau ini setelah kita pergi!” lanjut Evan yang ingin menjebak Rayden beserta anak buahnya dipulau terpencil itu.


“Baik, Tuan! Segera kami laksanakan!”


Jayden langsung pergi untuk menyelesaikan perintah Evan, dia memberi perintah pada anak buahnya untuk focus mengalihkan perhatian Rayden dan Levi.


Sementara dia akan membawa kabur Zhia lagi ketempat lain dan menghancurkan pesawat yang dinaiki oleh Rayden.


“Selamat tinggal, Cano! Matilah mengenaskan dipulau ini.”


Evan bergumam yang menatap kearah pulau itu, saat pesawat yang dinaikinya mualai terbang menjauh dari tempat itu.


Evan ingin Rayden terjebak dipulau itu selamanya, sementara dia membawa Zhia pergi ketempat yang lebih jauh dan terpencil lagi.


Sebenarnya, Evan merasa sangat aneh bagaimana Rayden mengetahui pulau itu secepat ini.


“Jay, apa kau tidak merasa aneh?” ujar Evan begitu melihat Jayden datang dan duduk tepat dihadapannya.


“Maksudmu mengenai Cano yang mengetahui pulau itu lebih cepat dari perkiraan kita?”


Jayden pun memastikan apakah pembicaraan itu yang dimaksudkan oleh Evan.


“Iya, bukankah ini sangat aneh kecuali ada alat pelacak diantara kita!” ujar Evan yang sebenarnya menebak dengan tepat, tapi dia sendiri masih ragu dengan tebakkannya itu.


“Atau mungkin ada alat pelacak yang terpasang ditubuh Zhia, sehingga Cano bisa dengan mudahnya menemukan kita?” seru Jayden yang teringat dan merasa curiga dengan Zhia.


“Aku sudah memeriksanya, tapi Zhia tidak memakai aksesoris apapun yang bisa untuk dipasang alat pelacak. Jadi tidak untuk sekarang kemungkinan itu sangat kecil, kita lihat saja kali ini. Kalau sampai Cano bisa menemukan keberadaan kita lagi dengan mudah, maka kita harus memeriksa seluruh tubuh Zhia lagi.”


Evan sebenarnya dari dalam lubuk hatinya masih menganggap Zhia sebagai wanita yang harus dia lindungi, tapi hatinya kalah dengan balas dendamnya pada Rayden.


“Terserah kau saja! Bagaimana dengan luka dikepalamu itu? Sudah membaik?” tanya Jayden yang mengalihkan pembicaraan pada luka yang diakibatkan oleh Zhia.


“Ini hanya Luka kecil! Bagaimana dengan Zhia, apa luka dilehernya sudah diobati?” ujar Evan yang malah menanyakan luka Zhia.


Hal itu menunjukkan bahwa Evan masih peduli dengan Zhia.


“Aku sudah mengoleskan obat pada lukanya, dia juga masih tidak sadarkan diri karena pukulanmu tadi untuk membawanya dengan mudah. Aku sangat heran denganmu, kau masih peduli padanya tapi disatu sisi kau malah menyakitinya.”


Jayden pun akhirnya mengungkapkan hal yang membuatnya penasaran itu, dia ingin tahu sebenarnya Zhia didalam hidup Evan itu mendapat posisi yang seperti apa.


Wanita yang dicintai, teman yang sangat berarti atau adik kecil yang harus selalu dia lindungi dan bisa jadi hanya alat untuk melampiaskan dendamnya pada keluarga Xavier saja.


Namun, Jayden tidak mendapat jawaban apapun karena Evan hanya diam sambil mengalihkan pandangannya kearah jendela pesawat.


Evan sendiri pun tidak tahu Zhia menempati posisi apa didalam hidupnya yang pasti dia tidak ingin menyakiti Zhia, meskipun Zhia adalah wanita tercinta dari musuhnya.


Dengan rencana yang begitu sempurna Evan dan Jayden behasil membawa Zhia lagi meninggalkan pulau itu. Sebenarnya tinggal sedikit lagi, Rayden berhasil mendapatkan Zhia.


Akan tetapi hanya kerena rayden tidak bisa membaca cara berpikir Evan sama sekali, mereka malah berakhir dengan terjebak dipulau terpencil itu.


“Tuan, ada satu pesawat yang baru saja lepas landas. Saya rasa itu adalah Evan yang kembali membawa Nyonya muda keluar dari pulau ini!” ujar Levi yang tidak sengaja melihat sebuah pesawat yang lepas landas saat sedang membuka jalan untuk Tuannya.


“Tuan, kami tidak menemukan tanda-tanda ada Nyonya muda didalam rumah itu!”


Belum sempat Rayden berekasi dengan perkataan Levi, datang beberapa anak buahnya lagi yang telah berhasil menerobos masuk kedalam rumah itu yang diduga tempat Evan menyembunyikan Zhia. Karena tidak ada lagi rumah lain di pulau itu.


Rayden langsung memeriksa alat pelacaknya. Dan benar saja, bukannya jaraknya semakin mendekat tapi malah semakin menjauh dari posisi yang artinya Evan memang telah membawa Zhia pergi dari pulau itu.


“Sialan! Lev, beritahu semua anak buah kita untuk kembali ke pesawat secepatnya. Kitaharus menyusul mereka sebelum jauh!”


Perintah Rayden kepada Levi, terlihat jelas kemarahan diwajah Rayden.


Karena hanya tinggal sedikit lagi dia mendapatkan istrinya kembali, tapi Evan malah bersikap pengecut dan melarikan diri lagi darinya.


“Tuan, berita buruk! Semua pesawat kita dihancurkan oleh oleh musuh.”


“Tuan, ada masalah besar! Menara sinyal komunikasi di pulau ini juga telah dihancurkan.”


Salah satu anak buahnya lagi datang dengan membawa kabar buruk juga, sudah pasti Evan merencana menjebak Rayden dan smua anak buahnya didalam pulau itu.


Karena dengan tidak adanya kendaraan yang bisa mereka gunakan untuk keluar dari pulau itu dan segala macam alat komunikasi juga tidak berguna lagi.


Sehingga Rayden dan orang-orang terjebak didalam pulau itu tidak bisa meminta bantuan dari dunia luar.


“Bangsat sialan kau Evan!” umpat Rayden yang hanya bisa berteriak untuk melampiaskan kemarahannya.


“Kita terjebak disini oleh pengecut sepertinya!” gumam Levi sembari berjalan kesisi kiri pulau, dia berniat ingin melihat sekitar pulau itu untuk mencari jalan keluar.


Sementara Rayden hanya berdiam diri ditempatnya, dia sedang memikirkan sebuah jalan keluar untuk masalah ini.


Saat Rayden sedang terhayut didalam pikirannya sendiri, salah satu anak buahnya berlari mengampirinya dang mengatakan bahwa ada sebuah pesawat yang sedang mendekat kepulau itu.


“Tuan, ada sebuah pesawat yang mendekat kearah kita! Dan ada lambang klan kita di badan pesawat itu!” teriak anak buahnya itu yang terlihat sangat kegirangan.


Rayden pun langsung berlari untuk memastikannya sendiri dan ternyata memang benar itu pesawat pribadi klan mereka.


“Kalian semua sediakan tempat untuk pesawat itu mendarat!”


Perintah Rayden yang melihat puing puing pesawat yang dihancurkan menghalangi landasan.


“Baik, Tuan!”


Semua anak buahnya yang tersisa pun bahu mebahu membersihkan landasan agar pesawat yang akan menjadi satu-satunya penyelamat mereka bisa mendarat tanpa kendala.


“Tuan, apakah itu Will?” ujar Levi yang entah muncul dari mana, tiba-tiba saja sudah berada dibelakangnya.


“Astaga, sejak kapan kau ada disini?” sahut Rayden yang malah bertanya balik pada Levi.


“Baru saja! Apakah Will yang menemukan kita disini?” ujar Levi yang penasaran siapa yang menyadari bahwa mereka terjebak dipulau terpencil itu.


“Bukan! Tapi sepertinya aku tahu siapa yang menyadari kalau kita terjebak disini!” ujar Rayden yang menebak bahwa ini pasti ada kaitannya dengan kedua anak kembarnya terutama Luca.


Bersamaan dengan selesai dibersihkannya landasan, pesawat itu pun akhirnya mendarat dengan lancar disana.


Begitu pintu pesawat terbuka, terlihat dua bocah kembar yang langsung berlari turun sambil menyerukan papahnya.


“PAPAPAHH!!!”


Luca dan Lucia berseru dan berlari menghampiri papahnya, mereka pun langsung menghamburkan tubuhnya kepelukan sang papah.


“Sudah aku duga, ini pasti perbuatan kalian berdua!” ujar Rayden sembari memeluk erat kedua anak kembarnya itu.


“Apa papah marah pada Luci dan kak Luca?” tanya Lucia dengan raut wajah polosnya yang berusaha terlihat memelas tapi malah terlihat sangat menggemaskan dimata semua orang termasuk Levi tentunya.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚