Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Rekaman CCTV


“Jangan-jangan paman Evan baru menyadari perasaannya yang sebenarnya setelah melihat mamah menjadi milik papah!” jelas Lucia dengan mata berbinar.


“Aishh, jangan bercanda ‘deh! Tidak lucu tahu.” sahut Luca dengan wajah kesalnya. Lucia pun hanya bisa menertawakan wajah kesal kakaknya itu.


"Hehehee,.....Lagian kak Luca percaya saja dengan perkataanku!" ujar Lucia dengan senyuman manisnya.


Disisi lain, Rayden dan Zhia terus berdebat mengenai perawatan yang akan didapatkan Zhia kedepannya. Rayden ingin Zhia tetap dirawat pribadi dirumah mereka saja.


Sebab Rayden tidak ingin Evan menemui Zhia lagi tanpa sepengatahuan darinya, tetapi Zhia bersikeras menolaknya.


Karena ada Julia yang sependapat dengan Rayden, akhirnya Zhia mengalah dan menuruti apa yang di inginkan Rayden.


Semua persiapan untuk memindahkan Zhia pun telah selesai. Luka didadanya memang tidak terlalu parah, tetapi Rayden memperlakukan Zhia seperti seorang pasien yang terluka parah.


Zhia dibawa kembali dengan menggunakan ambulance serta dua dokter terbaik yang akan selalu standby selama 24 jam penuh, salah satunya adalah Dr. Ian yang direquest khusus oleh Noland.


Ditambah dengan 4 perawat yang akan merawatnya selama 24 jam penuh juga dan mereka pun dipilih secara hati-hati oleh Noland dan Rayden.


...----------------...


Sesampainya di manshion bahkan semakin terjadi kehebohan lagi. Kali ini Julia yang menjadi dalangnya, dia mengumpulkan semua juru masak yang bekerja dimanshion itu.


Julia benar-benar memperhatikan apa saja yang perlu dimakan Zhia dan apa yang tidak boleh dengan sangat ketat.


Dan disatu sisi, Noland mengumpulkan para pelayan agar selalu memperhatikan dan melayani apa yang Zhia butuhkan setiap saat.


Keluarga itu sungguh sangat memperhatikan hal-hal yang sangat kecil dan sepele hanya untuk Zhia dan si kembar.


Zhia pun langsung dipindahkan kedalam kamar pribadi milik Rayden. Tentu saja, Rayden sendiri yang menggendong tubuh Zhia.


Karena Rayden tidak mau Zhia disentuh siapapun didepan matanya, sepertinya dia trauma melihat Evan yang seenak jidatnya menyentuh Zhia saat dirumah sakit.


Dr. Ian pun segera mengatur kembali tekanan infusnya, dia hanya bisa menghela nafas dengan kasar melihat kegilaan keluarga Xavier itu.


“Cano, sebenarnya perawatan istrimu tidak perlu seheboh ini. Lagi pula lukanya juga tidak terlalu dalam, sehingga dalam satu minggu pun lukanya sudah mengering. Kau tidak perlu sampai meminta 2 dokter dan 4 perawat untuk merawat istrimu ini!” ujar Dr. Ian yang berusaha membuat Rayden mengerti untuk tidak terlalu membesarkan luka sekecil ini.


“Mau lukanya ringan ataupun parah, intinya istriku tetap terluka bukan?”


Rayden tidak peduli entah itu luka yang parah atau tidak, dalam pikirannya dia hanya tidak ingin Zhia merasa sakit sedikitpun.


“Tapi Cano, kami adalah dokter! Tugas kami bukan hanya untuk menyelamatkan ataupun merawat istrimu saja, banyak orang lain dirumah sakit yang juga membutuhkan pertolongan dari kami bahkan kondisinya ada yang jauh lebih parah dari istrimu ini. Cobalah kau bayangkan, jika berada diposisi mereka?”


Dr. Ian kembali berusaha membuat Rayden si keras kepala untuk mengerti bahwa perbuatannya ini terlalu berlebihan.


Rayden pun terdiam, dia mencerna perkataan Dr. Ian dengan baik. Rayden tersadar, dia sudah bersikap egois hanya karena dia punya kekuasan dan uang yang banyak.


Zhia pun menatap Rayden, meraih tangannya dan menggenggamnya sembari berkata “Ray, aku baik-baik saja! Jangan seperti ini. Kumohon!”


“Lihatlah, istrimu saja merasa tidak nyaman diperlakukan seperti ini!” sahut Dr. Ian lagi yang semakin mendesak Rayden untuk merubah pikirannya.


“Baiklah, tapi harus ada orang yang merawat istriku selama 24 jam disini!” ujar Rayden yang akhirnya menyetujui saran dari Dr. Ian itu.


“Nah, benar seperti itu! Aku akan meninggalkan dua perawat disini agar standby 24 jam penuh untuk menjaga istrimu. Kalau begitu kami pamit undur diri dulu, Tuan Xavier!” ujar Dr. Ian yang mewakili yang lainnya, mereka harus cepat-cepat pergi sekarang sebelum Rayden berubah pikiran lagi.


“Tunggu dulu! Kau hanya meninggalkan dua perawat saja, bagaimana dengan dokternya?” seru Rayden yang langsung menghentikan langkah Dr. Ian dan yang lainnya.


“Dua perawat itu sudah lebih dari cukup, Cano! Jika istrimu ini masih dirawat dirumah sakit, maka besok siang sudah diperbolehkan untuk pulang! Bukankah kau sudah mendengar penjelasannya dari dokter yang tadi menangani luka istrimu! Isshh, kau ini bikin emosi jiwa saja. Sudahlah, kami pergi sekarang!” ujar Dr. Ian yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Rayden dan Zhia berdua dikamar itu.


...----------------...


Sementara ditempat lain, Will telah mengumpulkan beberapa rekaman kamera cctv yang berada disekitar lokasi penyerangan Zhia.


Will pun harus melihat satu persatu sampai dia menemukan keanehan pada tiga rekaman cctv yang berada di beda tempat.


Pertama, Will menemukan keanehan di rekaman cctv yang berada di toko bunga tempat terjadinya penyerangan.


Didalam rekaman terlihat jelas pada raut wajah Zhia yang sepertinya mengenali siapa yang berusaha untuk menusuknya itu.


Will bahkan memutar videonya sampai berulang kali untuk lebih memastikan bahwa raut wajah Zhia memang benar menunjukan dia mengenal dengan pasti siapa orang yang berusaha untuk membunuhnya.


“Apa ini? Nyonya sepertinya mengenali siapa orang yang berniat untuk membunuhnya. Aku harus melaporkan ini kepada Tuan secepatnya!” gumam Will pada dirinya sendiri, karena memang tidak ada orang lain diruangan itu.


“Nanti dulu saja! Aku akan memeriksa rekaman cctv yang lain dulu, siapa tahu mendapat lebih banyak petunjuk lagi.”


Will pun langsung memisahkan rekaman cctv yang pertama itu dan mulai memeriksa rekaman cctv yang lainnya lagi.


Waktu semakin berlalu bahkan sudah hampir menjelang malam, tapi Will belum juga mendapat petunjuk lain pada rekaman cctv yang sudah dia lihat itu.


Will pun kembali membuka satu rekaman cctv yang berada di perempatan jalan.


Didalam rekaman cctv itu terlihat seorang pria yang sengaja menutup jalan menuju ketoko bunga dengan sengaja.


Akan tetapi, wajahnya tidak terlihat sama sekali dalam rekaman cctv itu.


Will pun berulang kali memutarnya, memperbesar gambarnya dan berusaha menjernihkan kualitas gambarnya.


Akan tetapi, wajahnya selalu saja membelakangi kamera cctv seakan dia sudah sangat ahli dalam bidang ini.


Namun, sedetik kemudian. Will tanpa sengaja melihat ada yang aneh pada pergelangan tangan pria itu.


Will pun semakin memperbesar gambar pada pergelangan tangan pria itu dan akhirnya dia berhasil menemukan petunjuk baru.


Pada pergelangan tangan pria itu, Will melihat sebuah tato berupa leopard hitam yang menandakan bahwa pria itu berasal dari klan Tiger Dark.


Perkataan Noland ternyata memang tepat, kejadian penyerang itu memang ada campur tangan klan musuh.


“Woahh, ternyata insting Tuan besar masih sangat hebat! Dia bisa menebak dengan tepat siapa musuh yang dia hadapi! Dia memang pantas menjadi ketua klan, meskipun sekarang sudah pensiun. Sayang sekali, aku tidak pernah bisa menemukan kelemahannya!” gumam Will yang masih saja merasa takjub dengan kemapuan Noland sebagi mantan ketua klannya yang dulu.


“Sudahlah, aku pisahkan dulu dengan yang tadi! Ayo, kita selesaikan sisanya dulu!”


Will pun kembali memisahkan rekaman cctv itu kedalam rekaman yang pertama, dia pun membuat satu folder baru.


Selesai memindahkan rekaman itu pada satu folder yang baru saja dibuatnya, Will pun kembali membuka rekaman yang tersisa.


Rekaman cctv itu berada disalah satu Café yang berada tidak jauh dari toko bunga tersebut.


Will langsung tersentak kaget, mengetahui bahwa dugaannya juga tidak salah.


Dia melihat seorang wanita cantik yang sangat dia kenal sedang berjalan memasuki caffe itu.


Wanita itu adalah Grace, mantan tunangan dari Tuannya.


Karena merasa semakin penasaran dengan apa yang terjadi didalam Caffe, Will pun langsung menghubungi pihak Caffe tersebut dan meminta rekaman cctv hari ini yang ada didalam Caffe.


Tak perlu menunggu lama, kini Will telah mendapatkan rekaman cctv yang dia mau.


Will pun segera memeriksanya, dia melihat Grace sedang duduk didekat jendela.


Tatapan matanya terus mengarah keluar jendela sembari tersenyum puas seakan melihat sesuatu yang sangat menarik baginya.


“Apa lagi ini? Apa yang sebenarnya dia lihat sampai tersenyum seperti itu?”


Otak Will pun langsung dipenuhi dengan berbagai pertanyaan saat melihat rekaman cctv itu.


Will pun segera mengambil ponselnya, dia pun mencari tahu letak caffe itu melalui internet.


Seperti yang dia duga, ternyata Grace duduk disana untuk melihat bagaimana para pembunuh itu beraksi membunuh Zhia.


“Astaga! Kali ini dia pasti akan mati ditangan Tuan langsung. Dasar wanita gila, seharusnya dia berhenti saat Tuan bersedia memberikan kompensasi atas batalnya petunangan itu. Tapi dia malah terus mencari masalah dengan Tuan! Mencari mati dia!” ujar Will yang tersenyum melihat tingkah bodoh yang dilakukan wanita cantik seperti Grace itu.


Will cukup menyayangkan wajah Grace yang cantik itu, tapi malah mempunyai otak yang sangat bodoh dengan menantang Tuannya yang bagaikan raja iblis itu.


Bersambung...................


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚