
Evan pun menyiapkan semua rencananya dengan sangat matang, baik itu rencana utamanya maupun rencana cadangannya.
Sementara Rayden masih saja disibukkan dengan melampiaskan kekesalnya terhadap kedua anak kembarnya pada Will dan juga Levi.
“Aku tahu! Bahwa aku bersalah telah membihongi mereka, tapi tidak seharunya mereka melampaiskan kekesalan mereka dengan mencoret-coret wajahku! Kalian tahu tidak, begitu membuka mata mereka berteriak sangat keras tepat ditelingaku dan begitu keluar dari kamar aku menjadi bahan tertawaan seisi rumah!”
Rayden terus menggertutu, mengulang kata-kata itu hampir lima kali lebih dan tentu saja membuat baik Will maupun Levi menjadi bosan mendengarkannya.
Will hanya bisa diam mendengarkan sambil mengelus dada, berharap kesabarannya masih banyak untuk mendengar ocehan dari pelampiasan kekesalan Tuannya itu.
“Tuan, jika anda merasa bersalah seharusnya minta maaf saja langsung pada Tuan dan Nona kecil! Lagian orang bodoh mana yang akan menjanjikan hal yang tidak pasti begitu!” ujar Levi yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Tuannya itu bodoh.
“Sekarang kau sudah berani mengataiku bodoh ‘yah, Lev!”
Bukan Rayden namanya kalau tidak sadar dengan maksud perkataan Levi barusan. Rayden pun langsung melontarkan tatapan membunuhnya pada Levi, tapi Levi malah terlihat mengabaikan tatapan Tuannya itu dengan santainya.
“Tuan, lebih baik anda pulang saja sekarang! Percuma juga anda disini hanya untuk marah-marah tidak jelas, karena kami berdua juga masih banyak pekerjaan yang harus kami urus. Iya ‘kan, Will!”
Levi dengan santainya mengalihkan pembicaraan, tapi bagi Rayden itu sedikit aneh. Karena tidak biasanya Levi dan Will bersikap sangat serius hari ini.
Bahkan secara langsung Levi memintanya untuk berhenti melakukan sesuatu yang tidak berguna seperti marah-marah tidak jelas, karena kesalahannya sendiri.
“Levi benar, Tuan! Saya telah menemukan tempat persembunyian Jaydon, tapi dia sedang berada dalam keadaan koma sekarang!” sahut Will yang terlihat sedikit tidak tenang saat menyampaikannya.
“Itu artinya keadaan kita semakin genting, karena meskipun Jaydon sang ketua klannya sudah diambang kematian. Tapi dilihat dari pergerakan mereka yang masih bisa menghalau semua serang kita, berarti pemimpin yang sesungguhnya sudah mulai turun tangan sendiri.” ujar Levi yang menyampaikan pendapatnya dngan kemungkinan yang sedang terjadi.
“Musuh kita yang sesungguhnya sudah mulai bergerak. Oleh sebab itu, kita juga tidak mempunyai waktu untuk terus seperti ini,Tuan!” sambung Will yang sepemikiran dengan Levi.
Sementara Rayden hanya terdiam, tapi bukan karena dia tidak pernah memikirkan tentang semua kemungkinan yang disampaikan Will dan juga Levi.
Sebenarnya Rayden dari semalam sudah menduganya, begitu melihat pemimpin yang menggantikan Jaydon. Rayden tahu bahwa waktunya untuk mengakhiri pertarungan ini telah dimulai.
“Tuan, berdiam diri seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah apapun! Lebih baik anda pulang sekarang dan berbaikkan dengan Tuan dan Nona muda!”
Levi kembali mengusir Rayden dari markas besar, terlebih lagi melihat Tuannya itu hanya diam melamun tanpa memberikan solusi.
“Benar sekali, Tuan! Sebaiknya anda kembali saja sekarang dan membujuk kedua anak kembar, Tuan! Karena hanya informasi yang didapat dari penyelidikan Tuan dan Nona kecil ‘lah yang bisa kita gunakan untuk menyusun rencana kedepannya. Dan juga kami harus mencari petunjuk dirumah Jaydon!” ujar Will yang masih sependapat dengan Levi, dia juga harus mencari tahu lebih banyak lagi informasi mengenai musuh yang mereka tidak ketahui itu.
“Sialan kalian berdua! Aku diam bukan karena aku tidak memikirkan semua ini, tapi karena dari semalam aku sudah menduga. Dan aku rasa kita tidak akan mendapat informasi apapun dari rumah Jaydon, karena musuh tidak mungkin akan sebodoh itu.”
Rayden mulai menunjukkan sosoknya yang dingin dan sangat serius saat sudah membahas rencananya.
“Tapi kalian tetap boleh kesana, jika mau mencobanya! Namun yang paling penting untuk kalian lakukan sekarang adalah menambah keamanan disekitar istri dan kedua anak kembarku. Karena aku mereka kan menargetkan Zhia dan juga si kembar, dilihat dengan cara mereka bersembunyi selama ini.” lanjut Rayden yang menunjukan insting berburunya.
“Baik, Tuan! Maafkan kami, karena sebelumnya kami bertindak sok pintar!” ucap Will dan Leviyang langsung tertunduk malu dihadapan Rayden.
“Sudahlah kalian berdua memang pintar, kalau tidak mana mungkin menjadi orang kepercayaanku!” ujar Rayden yang tidak mempermassalahkannya sama sekali.
“Kita lakukan seperti biasanya! Will, sebaiknya kau saja yang pergi mengunjungi Jaydon. Sedangkan Levi, kau kumpulkan pasukan dan tambahkan perlindungan pada istri dan anak-anakku. Sepertinya untuk mamah tidak perlu, karena papah akan selalu ada untuk melindunginya setiap saat! Sementara aku, tentu saja membujuk kedua anak kembarku yang nakal itu.” Lanjut Rayden yang membagi tugas untuk semuanya.
“Baik, Tuan! Kami akan segera melaksanakan perintahnya.”sahut Will dan Levi sembari membungkuk memberi hormat.
“Okayy, aku akan kembali sekarang dan membujuk kedua iblis kecil itu!”
Rayden pun berjalan meninggalkan markas besar dan menuju ke manshionnya.
...****************...
Sementara didalam kamar Luca tenyata si kembar tengah mulai merentas data yang terdapat di dalam computer milik Evan, sesekali membicarakan hal buruk tentang ayahnya.
Bahkan menyalahkan papahnya yang telah berbohong sampai mereka hal penting itu.
“Bagaimana kak? Apakah virus yang kita tanam masih aktif?” ujar Lucia yang memperhatikan Luca sedang bekerja dengan perasaan khawatir.
“Entahlah, kakak sedang mencoba memeriksanya terlebih dahulu!” sahut Luca yang tengah serius melakukan keahliannya.
“Semua gara-gara kebohongan papah! Kalau papah tidak berbohong pasti kita tidak akan berharap seperti kemarin. Iya ‘kan, kak?”
Lucia masih saja menggerutu dengan raut wajah cemberutnya yang malah terlihat sangat menggemaskan.
“Tapi kamu memang ingin mempunyai adik, bukan!” sahut Luca yang semakin menggoda adik kembarnya itu.
“Memang kak Luca tidak mau punya adik?” ujar Lucia masih dengan wajah cemberutnya.
“Kakak sudah punya satu yaitu kamu!” sahut Luca yang tersenyum pada Lucia.
“Iihhh,…Kak Luca curang!” seru Lucia yang semakin cemberut.
“Papah benar-benar jahat! Bisa-bisanya papah tidak membujuk kita dan meminta maaf setelah berbohong dan mempermainkan kita seperti anak kecil. Seharusnya ‘kan papah merasa bersalah, bukannya malah marah-marah. Itu ‘kan baru hukuman kecil dari kita, kalau mau kita masih banyak cara lagi untuk mengerjai pa,_.................”
“Luci, kakak berhasil meretas semua datanya!” seru Luca yang tanpa sadar memotong perkataan adiknya.
“Benarkah? Mana kak, coba Luci lihat?”
Lucia pun dengan antusias langsung memperhatikan layar computer milik kakanya untuk melihat data apa saja yang berhasil diretas oleh Luca.
“Nanti dulu! Kakak akan print out semua datanya dulu, karena jika virusnya ketahuan. Maka semua data yang sebelumnya kita retas akan menghilang sepenuhnya. Itu memang virus yang bagus yang kakak ciptakan untuk meretas, tapi belum bisa kakak sempurnakan. Ini juga baru uji coba pertamanya.”
Luca menjelaskan panjang lebar, tapi tangan dan matanya tidak berhenti bekerja sedetik pun. Luca pun mencetak semua dokumen yang dia dapatkan satu persatu, tanpa meninggalkan satu data pun.
“Kak, nanti ajari Luci jug cara meretas ‘yah? Luci ingin mencobanya pada papah!” pinta Lucia yang mempunyai ide nakal lainnya untuk mengerjai papahnya lagi.
“Okay, baiklah! Tapi tolong isikan kertas lagi disana!” ujar Luca yang menyuruh adik kembarnya untuk mengidsi kertasnya pada mesin pencetak karena sudah mau habis.
“Siap, kak!”
Lucia pun dengan senang hati malakukan apa yang diminta oleh sang kakak.
“Revan Sam Joseph?” ujar Lucia yang mengabil satu lembar data yang sudah berhasil dicetak.
Terdapat gambar wajah Evan disana, namun identitas itu atasnama Revan Sam Joseph.
Tertulis dengan jelas semuanya didalam kertas itu, mulai dari nama, tanggal lahir, tempat tanggal lahir, nama orang tua kandung dan alamat rumahnya.
Tapi yang membuat Lucia heran kenapa foto Evan yang tertera untuk kartu identitas itu.
“Siapa itu, Luci?” tanya Luca yang menjadi penasaran dengan apa yang membuat adik kembarnya itu terdiam.
“Ini foto paman Evan! Tapi namanya berbeda dan identitasnya sangat berbeda dengan identitas yang kita tahu selama ini, kak!” ujar Lucia yang menunjukannya pada Luca dengan raut wajah bingung dan juga penasaran.
Begitu melihat kertas identitas itu, reaksi yang ditunjukan Luca pun sama seperti dengan Lucia.
Terkejut dan juga penasaran dengan siapa Paman Evan yang selama ini mereka kenal.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚