
“Kak, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada mamah ‘kan?” tanya Lucia yang menatap kepergian papahnya dengan perasaan khawatir.
“Kita hanya bisa percayakan mamah pada papah, Luci! Sekarang lebih baik kita membuat papah sebisanya.” ujar Luca yang sebenarnya merasakan kekhawatiran yang sama dengan yang dirasakan adik kembarnya.
Tapi Luca harus bisa menenangkan dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum menenangkan adik kembarnya.
Luca pun kembali focus dengan layar komputernya. Sebab hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membantu papahnya dalam mengungkap identitas Evan yang sebenarnya.
“Luci, sudahlah! Luci bantu kakak memisahkan file saja seperti tadi, dari pada memikirkan hal yang buruk terus!” lanjut Luca yang menyadari bahwa adiknya itu masih saja memikirkan keadaan mamah dan papahnya.
“Baiklah, kak!”
Tak lama kemudian, Lucia bergerak melakukan apa yang diminta oleh kakaknya.
...****************...
Sementara, Rayden langsung berjalan cepat menuju ke mobilnya yang baru saja dia parkirkan di depan pintu masuk manshion.
Namun saat hendak masuk kedalam mobilnya Noland dan Julia menghampirnya. Noland dan Julia menghampirinya karena dari kejauhan wajah putra mereka itu terlihat sangat panik dan juga cemas seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
“Cano, ada apa? Kenapa kau terlihat terburu-buru sekali?” tanya Julia pada Rayden yang baru saja membuka pintu mobilnya.
“Maaf, Mah! Cano tidak ada waktu untuk menjelaskan. Cano harus pergi sekarang juga!” ujar Rayden yang mengabaikan pertanyaan mamahnya dan langsung saja masuk kedalam mobilnya.
Sebelum Rayden menutup pintunya, Noland merasakan sesuatu yang aneh dari sikapRayden pun segera menahan pintu itu agar tidak tertutup sepenuhnya dan berkata “Katakan pada papah apa yang terjadi? Apa telah terjadi ssesuatu yang buruk dimarkas?”
“Zhia sekarang dalam bahaya, Pah!” lirih Rayden agar mamahnya tidak mendengar perkataannya.
“Ba-bagaiamana mungkin? Tadi Zhia bahkan berpamitan untuk menemui temannya bersama dengan Eva dan Alea. Bagaimana mungkin dia berada dalam ba,_...........”
“Sebenarnya Evan adalah pembunuh Rayna, Pah! Dan teman yang dimaksud Zhia adalah dia, ditambah lagi sekarang Evan merupakan ketua klan Tiger Dark yang sebenarnya.”
Rayden terpaksa memotong perkataan papahnya untuk memberitahukan kebenaran tentang Evan.
Terlihat jelas bahwa Noland sangat terkejut saat mendengarnya, ternyata selama ini pembunuh putrinya sampai sekarang masih hidup dengan sangat baik.
“Maaf, Pah! Cano harus pergi sekarang.”
Rayden pun langsung menarik pintu mobilnya dan menutupnya dengan rapat. Setelah itu, Rayden langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Sementara Noland masih mematung ditempatnya, dia sangat takut kejadian tragis 10 tahun yang lalu akan terulang kembali pada menantu kesayangannya Zhia.
“Sayang, ada apa? Apa yang kau dengan Cano bicarakan tadi, hmmm?” tanya Julia yang menghampiri Noland dengan perasaan khawatir, kerena tiba-tiba saja wajah suaminya itu terlihat pucat.
“Tidak ada apa-apa, sayang! Ayo kita masuk saja! Tadi Cano bilang ingin menjemput Zhia, makanya dia buru sepertinya Zhia sudah menunggunya dari tadi.”
Sebisa mungkin Noland harus menyembunyikan kebenaran ini pada Julia, dia pun dengan cepat mengalihkan perhatian Julia dengan mengajaknya untuk masuk kedalam manshion.
“Kau yakin?” ujar Julia memastikan.
“Iya, sayang! Ayo, kita masuk sekarang!” sahut Noland menyakinkan.
...****************...
Sementara didalam mobil yang malaju dengan kecepatan penuh, Rayden menyetir sambil berusaha menghubungi Levi atau Will.
Dan ternyata diantara kedua orang itu, Levi ‘lah orang yang langsung mengangkat teleponnya.
“Lev, segera datang dengan membawa banyak pasukan ke Café QH! Bergeraklah secepat mungkin yang kau bisa, karena istriku sedang dalam bahaya sekarang!”
Perintah Rayden dengan nada bicaranya yang terdengar sangat cemas.
“Hah? Sebenarnya apa yang ter,_........”
“Jangan banyak bertanya cepat lakukan saja seperti yang aku perintahkan!” bentak Rayden karena situasinya benar-benar mendesak tapi Levi malah banyak bicara.
“Baik, Tuan! Segera saya laksanakan.” sahut Levi dengan cepat.
“Ouhya bawa Will sekalian bersama denganmu!”
Setelah mengatakan itu Rayden langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
Rayden pun melanjutkan perjalan menuju ke Café QH dengan perasaan yang seakin berkecamuk.
Sedangkan Levi langsung menyiapkan anak buahnya dan menghubungi Will, setelah berhasil dihubungi mereka langsung bergerak cepat ke Café yang dimaksud.
Sementara diarea Café QH, suasananya sudah tidak kondusif lagi.
“Mau mendengarkan atau tidak? Sekarang kalian semua berada didalam kendaliku!” ujar Evan yang tersenyum sinis pada Eva, Alea dan juga Zhia yang masih terdiam ditempat.
“Terserah kau mengatakan apa, Evan! Tapi maaf aku harus pulang sekarang.”
Selesai mengatakan itu, Zhia pun langsung berbalik untuk meninggalkan Café itu karena dirinya merasa sedang terancam bahaya oleh orang yang dia percayai sendiri.
“Akhhhh,………”
Zhia pun langsung berbalik untuk melihat dan betapa terkejutnya Zhia saat menyaksikan dengan bola matanya sendiri Evan sedang menusuk Eva dengan kejamnya, sedangkan Alea sepertinya sudah terlebih dahulu ditusuk.
Karena saat Zhia berbalik, Alea sudah memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan darah.
Belum selesai rasa tidak percayanya dari apa yang sekarang dia lihat sendiri, Zhia kembali dikejutkan dengan suara tembakan senjata api yang terus terdengar dari kejauhan.
Ternyata Café QH adalah Café milik Evan dan semua ini sudah menjadi rencana dari Evan yang sangat matang.
Semua orang yang berada didalam Café itu ternyata anak buah Evan yang menyamar sebagai pegawai Café dan juga pelanggan,
Evan menunjukkan sisi kejamnya dengan melukai Eva dan Alea sampai terluka parah dengan tangannya sendiri dan tepat dihadapan Zhia.
Anak buah bayangan yang dikirim Levi dan Noland pun terbunuh oleh anak buah Evan yang menang jumlah.
Zhia hanya bisa menangis sembari memohon agar Evan tidak melukai kedua pengawalnya lagi dengan kejam.
Bagaimana Zhia bisa diam saja melihat kegilaan Evan yang terus menancapkan pisau tajam di tubuh Eva dan Alea yang berusaha melindunginya.
“Sudah aku katakan dengan jelas, bukan? Mau mendengarkan atau tidak? Sekarang kalian semua berada didalam kendaliku!” ujar Evan yang menyeringai jahat dengan wajahnya yang terkena cipratan darah dari Eva dan Alea.
Evan bahkan dengan kejamnya menginjak-injak tubuh Eva dan Alea yang sudah terbaring lemah dilantai.
“Kalian berdua tangkap wanita itu!”
Perintah Evan pada kedua anak buahnya yang berdiri disamping Zhia dan menyuruh mereka untuk menangkap Zhia secara paksa.
“Baik, Tuan!”
Kedua anak buah itu pun langsung menangkap Zhia sesuai dengan perintah yang diberikan.
“Lepaskan aku, Evan! Kau gila, kenapa menjadi seperti ini, Hah?” seru Zhia sembari berusaha memberontak untuk melepaskan diri.
“Maksudmu menjadi seperti apa, Zhi? Dari awal aku memang seperti, suami serta seleuruh keluarga Xavier bahkan sudah mengetahuinya. Tapi kenapa kau tidak, Zhi? Apa karena kau tidak dianggap sebagai keluarga oleh mereka atau karena kau terlalu mudah untuk dibohongi? Hahahahaaa,…..” ujar Evan yang tertawa senang melihat kebingungan Zhia dan wajah terkejutnya yang terlihat sangat manis itu.
“Evan, kau,_.....”
“Aku apa, Zhi?"
“Aku gila?"
“Tidak waras?"
“Psikopat?"
“Kejam? Semua itu memang aku yang sebenarnya dan aku yang kau lihat selama ini, hanyalah sebuah topeng belaka!”
Evan mengakui segalanya dengan penuh percaya diri, sehingga membuat Zhia terdiam seribu kata.
“Bawa dia pergi! Ayo, kita tinggalkan negara ini, Zhi! Bukankah itu yang selalu kau inginkan, hmmm?”
“Evan, aku mohon padamu! Biarkan aku pergi, kenapa kau melakukan semua ini padaku? Kau yang selama ini melindungiku, tapi kenapa kau sendiri yang melukaiku seperti ini?”
Zhia memohon sambil menangis terisak bersujud didepan Evan.
“Memang aku tidak akan berbuat seperti ini padamu? Tapi sayangnya, kau menikahi musuh terbesarku. Dan lebih jauh dari itu, ternyata selama ini kau membuatku merawat anak kembar dari musuhku. Jika aku tahu dari awal bahwa Luca dan Lucia adalah anak Cano, maka aku sudah membunuhnya semenjak kau dinyatakan sedang mengandung!” ujar Evan sorot matanya dipenuhi kemarahan yang sangat besar.
“Ayo, bawa pergi! Biarkan saja yang disini. Pemandangan ini akan menjadi hadiah terbaik untuk Cano! Hahahahaaa,…..”
Evan pun berjalan pergi meninggalkan café itu sambil tertawa bahagia, sementara kedua pengawal yang membawa Zhia setia mengikutinya.
Evan langsung membawa Zhia menuju kebandara untuk menghindari pencarian Rayden, setelah mengetahui bahwa Zhia telah diculik olehnya.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚