Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Malam Kedua


“Apaan ‘sih, Ray! Ayo cepat katanya mau jalan-jalan.” sahut Zhia wajahnya sudah sangat merah, dia pun langsung saja pergi dari restaurant itu untuk menghindari tatapan orang lain padanya.


“Haaa,…. Siapa yang ingin jalan-jalan? Aku maunya langsung mengunci kita berdua saja didalam kamar sampai besok pagi!” gumam Rayden manatap Zhia dengan gemasnya.


“Tuan, anda sungguh sangat menawan jika bersikap romantis seperti tadi! Andai saja anda dari dulu bersikap romantis dan perhatian seperti tadi, sudah dapat dipastikan mungkin sekarang mantan kekasih anda tidak dapat dihitung dengan jari lagi.” ujar Will yang tiba-tiba saja berada disamping Rayden.


“Astaga! Sejak kapan ku disini?” seru Rayden yang sedikit merasa terkejut dengan kehadiran Will.


“Baru saja, Tuan!” sahut Will dengan senyuman andalannya.


“Kau tadi mengajari aku soal percintaan ‘yah?” ujar Rayden dengan tatapan dinginnya.


“Hehehee,…Sedikit, Tuan!” sahut Will seraya tersenyum dengan canggung seakan firasatnya mulai terasa tidak enak.


“Kau saja sampai sekarang masih jomblo dan spertinya tidak mempunyai mantan satu pun mau sok ngajarin aku soal percintaan! Dengar ‘yah, Will! Setidaknya aku sudah mempunyai dua anak dan sekarang aku telah mempunyai seorang istri, seharusnya kau yang belajar dariku. Masa jomblo mengajari orang yang sudah menikah ‘kan lucu?” ujar Rayden yang secara tidak langsung membanggakan dirinya sendiri sekaligus menyindir Will dengan telak.


“Tuan, anda jahat sekali padaku!” gerutu Will dengan wajah sedihnya.


“Bodo!” sahut Rayden dengan senyuman mengejeknya.


“Zhi, tunggu aku!”


Rayden pun kemudian berlari menyusul istrinya yang semakin menjauh darinya. Sedangkan Will sesaat memikirkan perkataan Rayden barusan, memang benar sampai sekarang dia tidak dengan satu wanita pun.


“Apa benar aku berguru soal percintaan juga pada Tuan? Atau dengan Levi saja yang wanitanya banyak? Akhh,….Jangan Levi, wanitanya kupu-kupu malam semua!”


Will masih saja bergumam sendiri memikirkan masalah jodohnya yang belum kunjung datang.


...****************...


Sementara disisi lain, Rayden dan Zhia sudah saling berpegang tangan menyusuri semenanjung pantai dengan pemandangan malam yang sangat indah.


Pemandangan semakin terlihat indah dimata Rayden saat melihat Zhia yang tersenyum dengan manisnya, sementara hembusan angin terus memainkan rambut Panjang Zhia dengan nakalnya. Sehingga sosok Zhia terlihat sangat mempesona pada malam itu.


“Ray, apa yang tadi kau bicarakan dengan Will tadi?” tanya Zhia yang membuka percakapan terlebih dahulu.


“Bukan pembicaraan yang penting! Will hanya meminta bantuanku mencarikan jodoh untuknya. Hahahaaa,…..!” ujar Rayden yang tertawa setelah mengatakannya.


“Hahahaaa,…Pasti hanya mengarangnya saja!”sahut Zhia yang tertawa karena dia sangat yakin dia Rayden hanya mengarangnya saja.


"Tidak percaya ‘yah sudah! Ayo kita kesana, ada suatu tempat yang ingin aku tunjukan padamu!”


Rayden pun langsung menarik Zhia ke suatu tempat yang sudah Will siapkan sebagai kejutan kedua untuk Zhia.


“Tunggu, kita mau kemana!” ujar Zhia yang merasa sedikit penasaran dengan tempat yang dimaksud Rayden itu.


Setelah berjalan cukup lama, sampailah Rayden dan Zhia ketempat yang dimaksud. Sebelum memasuki tempat kejutannya, Rayden menutup mata Zhia dengan kain.


Kemudian, Rayden membantu Zhia berjalan ketengah kejutan yang teelah dia persiapan dengan sangat sempurna.


“Kejutan apalagi ini, Ray?” ujar Zhia yang sudah tida sabar ingin segera mengetahuinya.


“Hitunglah sampai tiga! Nanti aku akan membuka penutup matanya dan kau bisa melihatnya sendiri.


“Benarkah? Kalau begitu aku mulai menghitung ‘yah?”


Senyuman Zhia semakin merekah, detak jantungnya semakin cepat. Dia tidak dapat membayangkan kejutan apa lagi yang akan Rayden berikan untuknya, mungkin sesuatu yang tidak pernah Zhia bayangkan sedikitpun di masalalunya.


“Hmmm,……Hitunglah!” sahut Rayden yang bersiap membuka penutup mata Zhia.


“,…1,……2,…….3,…..!”


Zhia pun menghitungnya dengan semangat. Pada saat hitungan ketiga, penutup mata Zhia pun terbuka.


Zhia sangat tertegun dan tidak percaya Rayden menyiapkan tempat seindah itu hanya untuk dirinya seorang.


“Ray, kau yang menyiapkan semua ini juga!” Zhia menatap Rayden penuh haru dan kebahagiaan.


“Sudah aku katakan, aku,_.......”


“Terima kasih banyak, Suamiku! Karena kau selalu menepati setiap janjimu padaku!”


Belum selesai Rayden berbicara, Zhia langsung saja memotongnya. Dia pun langsung memeluk Rayden dengan erat dan perlahan mulai mencium bibirnya.


Rayden sengaja mendekorasi sebuah tempat yang terdapat ditepi pantai layaknya tempat yang akan digunakan untuk pesta pernikahan outdoor.


Semua bahan dekorasinya menggunakan warna putih disertai deretan lampu yang, ditambah alunan music romantis kembali dimainkan entah dari mana asalnya.


Rayden pun membalas ciuman Zhia dengan senang hati, dia terus mencium Zhia dengan lembut dan ssemakin memperdalam ciumannya.


Rayden dan Zhia semakin larut dalam keromantisan mereka, pemandangan malam pantai yang indah, disinari lampu-lampu kecil dan sinar rembulan, hembusan angin malam, suara debur ombak dan alunan musik romantis semakin membawa mereka seakan menuju alam mimpi indah yang tiada duanya.


Cukup lama bibir Rayden dan Zhia saling berpaut satu sama lain, hingga mereka seperti kehabisan oksigen.


Rayden pun melepas ciumannya, membiarkan Zhia untuk bisa sedikit bernafas begitu juga dirinya.


“Ayo, kita lanjutkan ini di kamar saja!” ujar Rayden dan Zhia pun hanya menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.


Rayden segera menarik Zhia kedalam kamar yang ternyata sangat dekat dengan tempat itu.


Sesampainya didalam kamar suasana hening dan penuh kecanggungan mulai menyelimuti ruangan itu.


Lagi-lagi, Zhia yang berinisiatif terlebih dahulu. Zhia perlahan mengulurkan tangannya mencoba membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh Rayden.


Karena merasa malu Zhia terus saja menundukkan kepalanya, dia tidak kuasa melihat wajah tampan Rayden yang semakin menggoda dimatanya.


Melihat Zhia yang tampak sangat gugup, Rayden pun tersenyum. Rayden kemudian memegang kedua bahu Zhia dengan tangan besarnya yang terasa hangat saat menyentuh kulit Zhia.


Mata mereka kini saling memandang, terlihat jelas dimata Rayden bahwa hasratnnya untuk memiliki Zhia semakin menggebu.


Perlahan Rayden pun menurunkan dress yang dikenakan oleh Zhia, kembali mencium bibirnya dan mengarahkannya menuju keranjang.


Satu persatu pakaian Zhia dia tanggalkan sampai tidak tersisa satu pun, begitu pula dengan Rayden sendiri.


Bibir mereka saling bertautan satu sama lain, menambah gairah Rayden yang selama ini telah dia tahan untuk menyentuh Zhia.


Tanpa menghentikan ciuman pada bibirnya, tangan Rayden mulai berjalan-jalan menyusup kedalam pakaian yang dikenakan Zhia.


Tangannya besar terasa hangat dan membuat tubuh Zhia terasa panas saat tangan itu mulai menyentuh tubuhnya dengan lembut. Memunculkan sebuah sensasi yang tidak dapat Rayden maupun Zhia tolak untuk berhenti.


“Ray,…” Zhia menatap dalam kedua bola mata Rayden.


“Tenanglah, sayang! Aku akan melakukannya dengan lembut!” sahut Rayden dengan senyuman manisnya.


“Aku mencintaimu!”


Zhia mengucapkan kata-kata yang selama ini sangat ditunggu dan diharapkan Rayden.


“Aku juga sangat mencintaimu, Zhi!” balas Rayden, dia kembali mencium bibir Zhia.


Kali ini Zhia tidak akan menghentikannya lagi, bagaimana pun juga Rayden adalah suaminya.


Sudah sewajarnya bagi Rayden untuk meminta haknya sebagai suami Zhia dan sudah kewajiban bagi Zhia untuk melayani suaminya itu.


Apalagi mengingat betapa sabarnya Rayden menahan hasratnya setiap waktu mereka bersama.


Rayden menatap mata Zhia dengan intens seakan sedang meminta ijin untuk melanjutkannya. Deru nafasnya sudah semakin memburu, menahan hasrat yang lama terpendam didalam dirinya.


“Zhi, bolehkah aku,_......” ucap Rayden yang terdengar begitu sensual di telinga Zhia.


Zhia hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban bahwa dia telah mengijinkan Rayden untuk melakukan sesuka hatinya.


“Terima kasih, sayang!”


Rayden langsung mengecup puncak kepala Zhia, kelopak matanya, hidungnya, pipinya dan berakhir pada ******* bibirnya yang kembali saling bertautan satu sama lain.


Akhirnya, setelah sekian lama menahannya dengan susah payah. Hari ini Rayden mendapatkan haknya yang sudah lama dia sangat nantikan.


Malam panas yang panjang untuk Rayden dan Zhia akhirnya tiba pada waktunya, Rayden tidak perlu terganggu ataupun menahan hasrat gairahnya lagi untuk menyentuh istrinya.


Sepanjang malam Rayden terus menyalurkan hasrat yang telah lama dia pendam pada Zhia.


Entah sudah berapa kali, mulai sekarang Rayden tidak akan menghitungnya lagi.


Malam yang indah untuk sepasang pengantin baru yang menjadikan malam ini sebagai malam kedua bagi mereka berdua.


Dan tentunya akan ada malam ketiga, keempat dan seterusnya yang tidak akan pernah bosan untuk mereka lakukan.


Bersambung............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚