
“Bukankah Tuan dan Nona kecil terlihat sangat dekat dengan Evan? Padahal mereka sudah tahu mengenai rekaman cctv itu ‘kan?” ujar Will yang saat ini kepalanya sudah enuh dengan berbagai pertanyaan mengenai sikap Tuan dan Nona Kecilnya itu.
“Benar! Sebenarnya apa yang sedang anak kembarku rencanakan ‘yah, Will?” sahut Rayden yang juga tidak bisa memprediksi rencana kedua anak kembarnya itu.
“Atau jangan-jangan,_......”
Will menggantung ucapannya seolah otaknya sudah menemukan sesuatu.
“Jangan-jangan apa? Kalau ngomong yang jelas!” sahut Rayden dengan kesal, karena rasa penasarannya malsh semakin bertambah saja.
“Heheheee,…..Tidak ada, Tuan!” ujar Will diiringi senyuman canggungnya.
“Haisshhh,….Kau ini! Bikin naik darah saja!” geram Rayden dengan tingkah Will itu.
“Tuan, sepertinya Tuan dan Nona kecil sangat genius! Apakah Tuan tidak mau memastikan IQ nya?” ujar Will yang sebenarnya lebih penasaran dengan IQ dari kedua bocah kembar itu yang baru berusia 6 tahun tapi sudah menguasai kemampuan yang begitu hebat melampaui orang dewasa.
“Benar juga katamu,Will!” sahut Rayden setelah memikirkan perkataan Will sekilas.
“Benarkan apa kataku!” ujar Will dengan bangganya.
“Benar-benar tidak bisa diharapkan! Sudah pasti IQ mereka sangat tinggi ditambah lagi siapa dulu ayahnya. Memangnya kamu si otak tokek!”
Rayden langsung saja mematahkan rasa percaya diri Will sampai tak tersisa sedikitpun.
“Tuan jahat sekali!” gumam Will dengan raut wajah sedihnya.
“Will, kau urusan semua pekerjaan ini! Aku akan pulang saja sekarang, karena aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!” ujar Rayden yang segera beranjak dari tempat duduknya dan meraih jasnya.
“Tuan, anda tidak bisa pergi sekarang! Semua berkas ini hanya tinggal menunngu persetujuan dari anda saja! Jika anda pergi sekarang, maka besok banyak sekali pekerjaan yang harus anda selesaikan!” seru Will yang kembali mengingatkan jadwal Rayden yang sangat padat sebagai seorang Ceo perusahaan besar.
“Tidak bisakah kau menanganinya sendiri!” sahut Rayden dengan kesal.
“Kalau saya bisa menanganinya sendiri, maka saya sudah menjadi Ceo sekarang bukan sekertarisnya!” ujar Will dengan santainya.
“Apa katamu, Will!”
Rayden langsung melontarkan tatapan membunuhnya kearah Will.
“Tidak ada, Tuan!” sahut Will dengan cepat sebelum tanduk iblis Tuannya keluar.
“Tuan, lihatlah ini! Nona kecil sepertinya mengajak kedua pengawal baru Nyonya muda bertarung diruang latihan milik Tuan!”
Secepat mungkin Will harus mengalihkan pembicaraan yang barusan. Beruntung, Will tidak sengaja melihat rekaman cctv yang ada diruang Latihan.
Didalam rekaman itu terlihat jelas bahwa Luca dan Lucia mengajak kedua pengawal baru Zhia masuk kedalam ruang Latihan milik papahnya.
“Mana?”
Rayden yang mendengar bahwa putri kecilnya mengajak bertarung pada kedua pengawal baru Zhia pun segera kembali kekursinya dan melihat rekaman cctv itu.
“Lihatlah, Tuan! Bahkan Tuan kecil sampai meminta laptop pada pelayan dan membawanya masuk!” ujar Will yang tampak sangat serius melihat rekaman itu.
“Jangan-jangan Luca mau meretas data informasi kedua orang itu!” gumam Rayden yang hanya bisa menebak-nebaknya saja melihat rekaman itu.
“Tuan, Tuan! Lihatlah, Tuan kecil sungguh perhatian sekali pada adik kembarnya. Padahal dia ‘kan anak laki-laki, tapi mau saja mengikatkan rambut adik perempuannya!” ujar Will yang senyum-senyum sendiri melihat aksi Luca yang sangat perhatian pada Lucia.
“Memangnya kenapa kalau laki-laki mengikat rambut perempuan? Aku juga suka melakukannya pada rambut Zhia!” sahut Rayden yang menatap tajam pada Will meminta penjelasan.
“Tuan, lihatlah Nona kecil yang menyerang duluan!” seru Will yang lagi-lagi mengalihkan Tuannya pada rekaman cctv itu.
Rayden yang lebih penasaran dengan aksi putrinya langsung saja mengabaikan perkataan Will yang sebelumnya dan beralih menatap pada layar komputernya lagi.
Benar apa yang dikatakan Will bahwa Lucia yang menyerang terlebih dahulu. Dilihat dari gerakannya Lucia tampak sudah sangat menguasai seni bela diri itu. Dan disisi lain, putra kecilnya sedang focus dengan laptopnya.
“Tuan, Nona kecil,_.......”
“Will! Pastikan kedua orang itu untuk tutup mulut mengenai kemampuan Luca dan Lucia! Dan pastikan juga si kembar jangan sampai mengunjungi markas apapun yang terjadi. Segera beritahu aku jika Tuan besar yang membawa mereka ke markas!”
Perintah Rayden yang terlihat sangat serius saat mengatakannya. perasaannya menjadi tidak tenang mengenai kedua anak kembarnya itu.
“Baik, Tuan! Akan saya pastikan sendiri, mereka tidak akan pernah bisa mengatakannya pada siapapun.” sahut Will yang seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Tuannya.
“Tunggu dulu! Bukankah kau bilang mata-mata yang dikirim untuk mengawasi Evan telah kehilangan jejaknya saat diperjalanan?” ujar Rayden yang menyadari sesuatu ada yang salah.
Will tak mampu melanjutkan perkataannya. Lagi-lagi dia sadar akan kesalahannya. Bisa jadi mata-mata yang dia kirim merupakan mata-mata musuh yang sedang mereka cari, karena tidak mungkin orang yang sangat professional dibidang mafia akan kehilangan orang yang sedang diincarnya.
“Kau sudah mengerti rupanya! Jadi urus mereka dengan benar.” Perintah Rayden dengan ekspresi dinginnya.
“Baik, Tuan! Kalau begitu saya pamit undur diri untuk segera mengurusnya.” pamit Will seraya membungkukkan tubuhnya, memberi hormat pada Tuannya sebelum pergi.
“Ehmm, pergilah!” sahut Rayden secara singkat.
Will yang sudah mendapat ijin dari Rayden pun segera keluar dari ruangan Ceo dan mengurus semua yang baru saja diperintahkan oleh Tuannya itu.
Terutama mengenai mata-mata yang dikirim untuk mengawasi Evan itu, bagaimana pun caranya Will harus segera menangkap mereka.
Sementara Rayden kembali memeriksa rekaman cctv yang ada di seluruh manshionnya itu. Tidak ada yang aneh dalam semua rekaman cctv itu, kecuali aksi kedua anak kembarnya yang selalu saja membuat Rayden terkejut.
“Apa yang harus aku lakukan pada kalian berdua?” gumam Rayden sembari menatap Luca dan Lucia melalui rekaman cctv yang tengah dilihatnya.
“Terutama kamu Luci! Apa yang harus papah lakukan agar kamu berhenti masuk kedalam dunia penuh kekerasan itu. Kamu itu anak perempuan, kenapa tidak menyukai hal lain saja seperti berdandan dan menghabiskan uang papah juga tidak apa-apa! Asalkan kamu bisa berhenti menyukai dunia seni beladiri!”
Rayden menatap gambar putri kecilnya itu dengan perasaan sedih dan cemas. Ketakutan Rayden semakin besar saja melihat aksi Lucia yang terlihat semakin hebat dan tak terkendali itu.
“Kalau untuk Luca! Papah malah akan selalu mendukungmu, karena dunia IT tidak berbahaya seperti dunia seni beladiri. Bahkan kalau bisa harus menjadi penerus papah memimpin perusahaan BLOUSHZE Group untuk lebih maju lagi kedepannya!”
Kini Rayden beralih menatap gambar putra kecilnya, dia merasa sangat bangga terhadap kemampuan Luca bahkan tanpa ragu Rayden mengharapkan Luca untuk menjadi penerusnya diperusahaan.
“Luci, bagaimana denganmu putri kecilku? Papah harap kau segera menemukan hobi yang lain dan melupakan dunia beladiri!” lanjut Rayden yang masih saja mengkhawatirkan tentang Lucia.
“Apa ini?” seru Rayden yang menemukan rekaman cctv lain yang juga berada diruang latihannya, tapi terekam beberapa hari sebelumnya.
“Bukankah ini papah dan mamah? Ada apa mereka datang keruang latihan?”
Rayden terus saja memperhatikan rekaman cctv itu dengan seksama.
“Luca! Luci! Bahkan ada Zhi juga disana. Kapan mereka datang kemanshion?”
Tenyata bukan hanya ada papah dan mamahnya saja yang masuk keruang latihan pribadinya, melainkan ada Zhia dan si kembar juga yang pertama kali mengunjungi manshionnya.
“Dan apa lagi ini? Papah berduel dengan Luci!”
Tampak jelas dalam rekaman cctv itu bahwa Noland sedang melawan cucu perempuannya sendiri yang masih berumur 6 Tahun.
“Hahahahahaaa,…..Bagaimana bisa mantan ketua klan mafia dikalahkan oleh anak kecil, bocah perempuan lagi! Hahahaaa,….”
Rayden tidak dapat menahan tawanya lagi. Dia langsung tertawa terbahak-bahak melihat papahnya dikalahkan oleh putri kecilnya dalam bermain Anggar.
Bahkan dalam beberapa bidang seni bela diri lainnya, Noland mantan sang ketua mafia selalu dikalahkan oleh Lucia.
“Jadi ini alasan sebenarnya kenapa papah bisa tahu mengenai kemampuan Luci! Bukan karena Luci yang mengatakannya, tapi karena Luci yang langsung mengalahkannya dengan telak! Terima kasih, Pah! Sekarang Cano punya kartu AS untuk mengoda papah. Hahahaa,….”
Rayden tertawa puas, karena sekarang dia sudah mengetahui kelemahan papahnya.
Bersambung.......
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚