
Namun peringatan itu terlambat, sebuah tembakan telah dilepaskan dan tepat mengenai lengan kiri Rayden.
Sebuah keberuntungan bagi Rayden karena dia sempat sedikit menghindar kalau tidak peluru barusan pasti sudah menembus kejantung.
“Aaakhhh,……Sial! Seharusnya aku bisa menebak ini akan terjadi.”
Rayden merintih kesakitan sembari memegangi luka yang ada dilengan kirinya.
“Wahhh,….Sayang sekali, peluru dari senjata kesayanganku ini tidak tepat sasaran. Padahal dia sangat ingin bersarang dijantungmu ‘loh!”
Suara Evan terdengar dari lantai atas dan tidak lama kemudian dia terlihat sedang menuruni anak tangga.
Namun belum sampai setengahnya, Evan menghentikan langkahnya lagi dan tersenyum sinis pada Rayden.
“Ray!?! Ray, kau tidak apa-apa ‘kan? Katakan padaku, kau tidak terluka karena diriku ‘kan? Kenapa kau datang dan membahayakan nyawamu sendiri seperti ini? Hikss,….Hiksss,…..”
Zhia hanya bisa menangis histeris, tubuhnya sudah gemetaran hebat apalagi saat mengingat betapa kerasnya suara tembakkan barusannya.
Dan sepertinya Zhia juga mendengar Rayden merintih kesakitan, tapi dia sama sekali tidak tahu bagian mana yang terluka karena matanya masih ditutup dengan kain.
“Tenanglah, Zhi! Aku tidak apa-apa. Tetaplah diam disini, abaikan apapun yang kau dengar mulai sekarang! Tolong dengarkan kata-kataku kali ini saja, dengan begitu aku bisa focus dan menyelesaikan ini dengan cepat.”
Rayden berusaha menenangkan Zhia, dia juga secara tidak langsung meminta dengan sangat agar mempercayainya untuk menyelamatkanya.
Rayden menggenggam erat pundak Zhia yang gemetar, seakan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
“Berjanjilah padaku, Ray! Bahwa kau akan tetap hidup untukku dan anak-anak kita, maka aku akan mendengarkan kata-katamu. Hikss,….Hiksss,…Hiksss,…..Kumohon berjanjilah! Hikss,….”
Zhia meminta dengan suaranya yang bergetar, airmatanya terus mengalir dengan derasnya.
Sesungguhnya Zhia sangat takut hal buruk akan terjadi pada suaminya, meskipun begitu dia harus meminta Rayden berjanji dan menepatinya.
“Aku pasti akan terluka atau mungkin sekarang aku sudah terluka, tapi aku bisa berjanji akan terus hidup demi dirimu dan juga anak-anak kita. Karena itulah, percayakan padaku. Aku akan mengakhiri semuanya ditempat ini.”
Janji Rayden yang membuat perasaan Zhia hanya sedikit membaik, setidaknya itu akan membuatnya cukup untuk berharap bahwa Rayden akan menepati janjinya.
Zhia hanya menganggukkan kepalanya sembari menahan isak tangisnya, meskipun rasa takutnya kian membesar membayangkan Rayden yang akan melawan si brengsek Evan.
Rayden kemudian berdiri dan bersiap menghadapi Evan, dia harus membiarkan Zhia masih terikat dikursi dengan mata tertutup agar tidak bisa sosoknya yang sedang mengamuk.
Sungguh Rayden tidak ingin wanita yang sangat cintainya itu menangisi dirinya seperti ini dan semua itu karena bajingan yang ada dihadapannya sekarang.
“Sudah selesai mengatakan kata perpisahannya?” ujar Evan yang sedari tadi terus memperhatikan Rayden dan Zhia dari anak tangga.
“Hmmm,….Haruskah aku berterima kasih padamu karena memberikan aku sedikit waktu?” sahut Rayden tersenyum sinis pada Evan.
“Hahahahaaa,….Kau tahu betapa lucunya dirimu saat ini, Cano!”
Entah apa yang terasa lucu hingga membuat Evan tertawa seperti itu.
“Hay, kau sedang menertawakan dirimu sendiri atau bagaimana?” ujar Rayden dengan nada bicara dan tatapan yang meremehkan pada Evan.
“Sialan kau! Berani sekali kau,_.........”
“Berisik! Larilah, aku berikan satu kesempatan lagi untuk dirimu melarikan diri lagi seperti pecundang. Sebab aku tidak berniat untuk mengampuni dirimu walau hanya sedetik.” ujar Rayden yang memotong perkataan Evan dengan santainya.
“Kau meremehkan diriku karena selama ini aku hanya mempermainkanmu saja, bukan?”
Evan hanya tersenyum kecut mendengar tawaran dari Rayden, dia pun kini mulai menuruni anak tangga lagi untuk semakin mendekat pada Rayden.
“Haah,….Sepertinya kau salah paham! Aku bukanlah meremehkanmu, akan tetapi dari awal aku memang tidak pernah memperhitungkan dirimu. Kau itu hanya ‘lah seorang pecundang, aku bahkan merasa sangat kasihan kepada keluargamu yang bersedia mengorbankan nyawanya untuk sampah sepertimu! Lebih kasihan lagi anak buahmu yang harus mempunyai pemimpin cacat sepertimu. Sungguh aku merasa kasihan!”
Rayden terus saja mengatakan hal-hal bisa memancing emosi Evan. Dan benar saja, Evan dengan mudahnya terpancing dengan semua yang dikatakannya.
Evan langsung menyerang Rayden tanpa perhitungan apapun, hingga memudahkan Rayden membaca serangannya.
Evan membuang senjatanya dan mengeluarkan sebilah pisau, dia sudah bertekad akan membunuh Rayden disana.
Meskipun bisa membaca setiap serangan Evan, Rayden sedikit terdesak karena Evan menggunakan senjata tajam sementara dirinya hanya bisa menahan dan melawan setiap serangannya dengan menggunakan tangan kosong.
Apalagi ditambah dengan luka di lengannya akibat tembakan dari Evan barusan, sehingga membuatnya sedikit kesulitan untuk membalas setiap serangannya.
Beberapa kali Rayden terkena serangan dari Evan yang tanpa disangka selama ini Rayden salah memperkirakan kemampuan dari lawannya itu.
Ternyata Evan mempunyai kemampuan bela diri yang sangat tinggi, sementara perbedaan kekuatan mereka jauh berbeda.
Rayden yang sudah kelelahan dan bahkan sekarang lengannya terluka, harus berhdapan dengan Evan yang staminanya masih sangat banyak.
Evan selalu saja melakukan penyerangan dengan membabi buta, sementara Rayden harus menahan dan menghindari serangan tersebut tanpa mendapat kesempatan untuk membalas serangannya.
Sedangkan Zhia hanya bisa mendengarkan pertarungan Rayden dan Evan, dia hanya bisa menangis dan berdoa didalam hatinya agar Rayden bisa menghukum Evan tanpa mengalami luka yang parah.
Apalagi tawa Evan selalu terdengar, sementara Rayden terkesan diam seakan sedang menahan kesakitannya.
“Kumohon, lindungilah suamiku dan juga yang lainnya! Jangan biarkan mereka terluka hanya karena ingin menyelamatkan diriku yang bodoh ini. Hikss,….hiksss,….”
Tiada hentinya Zhia berdoa dari dalam lubuk hatinya, berdoa untuk keselamatan dan kemenangan Rayden serta yang lainnya dalam menghadapi sampah seperti Evan beserta anak buahnya.
“Sial! Jika seperti ini terus aku bisa benar-benar mati ditangannya hari ini! Aku harus memikirkan untuk membalikkan keadaan.” batin Rayden yang berusaha mencari celah untuk membalikkan keadaan.
Evan terus menyerang tanpa henti sembari mengeluarkan ssenyuman iblisnya, dia tahu bahwa sekarang Rayden sudah berada di ambang batasnya untuk bertahan saja dia mendapat banyak celah sehingga memudahkannya untuk terus menyerang.
Dari awal Evan sudah menyadarinya bahwa Rayden bukanlah lawan yang mudah untuk dilawannya, karena itulah diua mencari kesempatan untuk melukai Rayden.
Dengan begitu, posisinya kan diuntungkan untuk terus menyerang dan mungkin juga bisa segera membunuhnya.
Terlebih lagi, Evan sudah menyusun semua rencananya dengan sangat matang. Pertarungan yang sesungguhnya hanya ‘lah antara dirinya dan juga Rayden saja.
Oleh sebab itu, Evan memerintahkan anak buahnya untuk berjaga diluar rumah dan menahan anak buah yang dibawa Rayden.
...****************...
Disisi lain, Luca dan Lucia sudah sampai tepat dihalaman rumah itu. Betapa terkejutnya kedua anak kecil itu, ternyata ditempat itu lebih banyak lagi orang yang terbunuh.
Disana juga ada Levi dan Grandpanya yang sedang melawan Jayden dan satiu orang laigi yang kemampuannya bertarungnya setara dengan Levi.
“Kak Luca, itu Grandpa dan kak Levi! Luci harus segera membantu mereka, sepertinya mereka dalam keadaan terdesak.” ujar Lucia yang lagi-lagi langsung bertindak tanpa memikirkan apapun.
“Tidak! Kita biarkan saja, kita harus menemukan papah terlebih dahulu. Jangan bertindak gegabah, kita harus menemukan papah dan mamah dulu.”
Dan lagi-lagi, Luca ‘lah yang harus menghentikan aksi adik kembarnya itu. Karena tinggal sedikit lagi mereka bisa sampai dilokasi papahnya, tepatnya didalam rumah itu.
Luca sangat yakin bahwa sekarang papah mereka pasti sudah menemukan keberadaan sang mamah didalam rumah itu atau mungkin juga sekarang papahnya sedang menghadapi Evan secara langsung.
Sebab setelah beberapa kali melewati arena pertarungan yang berbeda, mereka tidak melihat adanya keberadaan Evan.
“Tapi, kak! Lihatlah, kak Levi sepertinya semakin terdesak mundur oleh orang itu. Luci harus segera membantunya.”
Lucia bersikeras ingin membantu Levi, dia tidak tega melihat Levi yang tengah semakin terdesak oleh lawannya.
“Jangan, Luci! Kita harus ketempat papah sekarang. Sepertinya papah sudah menemukan mamah didalam rumah itu atau mungkin sajan papah sedang melawan musuh sendirian disana.”
Dengan cepat Luca melarangnya, kali ini gentian Luca yang menyerat tangan adiknya dan memaksanya untuk mengikuti keinginannya.
Sambil menghindari pertarungan itu, Luca membawa masuk Lucia secara diam-diam kedalam rumah itu.
“Ini semakin menarik! Sepertinya aku mendapat kartu As.”
Tanpa Luca dan Lucia sadari, keberadaan mereka berdua disana ternyata dilihat oleh Jayden yang sedang mencari cara untuk tetap bertahan hidup dari amukan Noland.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚