Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Menagih Janji!


Rayden memang sedang asyik melampiaskan rasa frustasi yang selama ini dia pendam seorang diri dengan cara bertarung dan menghabisi semua musuhnya.


Berbeda dengan Zhia yang mulai pusing dengan kedua anak kembarnya yang terus menanyakan keberadaan 6 baby boy yang dijanjikan Rayden sebelum mereka pergi berbulan madu.


Saat ini Zhia, Julia, Noland dan bersama si kembar tengah makan malam.


Disela asyiknya menikmati menu makan malam mereka, si kembar membuka percakapan yang sangat Zhia hindari sejak kembali.


“Mamah! Papah dimana?” tanya Luca dengan mulut penuh makanan.


“Ouhya, Mah! Dimana 6 baby boy-nya, Luci? Kata papah, kalau sudah kembali akan bawa baby boy. Mana?” seru Lucia yang sangat antusias untuk membahasnya.


“Uhuukkk,….Uhuukk,…..”


Bukan hanya Zhia saja yang hampir tersedak makanan, Julia dan Noland juga mengalami hal yang sama dengan Zhia begitu mendengar pertanyaan dari Lucia.


“Kalian kenapa?” ujar Lucia dengan wajah bingungnya.


Sementara Luca sudah dapat menebaknya bahwa itu ada kaitannya dengan pertanyaan yang dilontarkan adik kembarnya barusan.


Tapi dia tampak tidak peduli dan lebih memilih untuk focus pada makanannya dulu, baru setelah itu membahas tentang 6 baby boy-nya.


“Tidak apa-apa, sayang!” sahut Zhia setelah sedikit merasa baikan.


“Sayang, bahas baby boy-nya nanti dulu ‘yah! Setelah kita semua selesai makan malam, okay?” ujar Julia yang meminta sedikit pengertian pada Lucia.


“6 baby boy, Grandma!” seru Lucia yang membenarkan ucapan Grandmanya.


“Hahahahaa,……Cano, sungguh mencari masalah saja!”


Noland tidak tahan lagi untuk menhan tawanya, saat melihat kelakuan menggemaskan cucunya itu terutama Lucia yang ngotot meminta adik laki-laki bahkan 6 sekaligus.


Dan semua ini terjadi karena ulah putranya sendiri yaitu Rayden yang menjanjikan hal yang mustahil pada anak kecil sperti Luca dan Lucia.


“Kenapa Grandpa ketawa? Lucia sangat lucu dan manis ‘yah?” ujar Lucia dengan percaya diri dan mulai bersikap manis didepan Grandpanya.


“Hahahahaa,…Iya kalian berdua sangat Lucu dan manis, terutama Lucia sangat menggemaskan!” sahut Noland yang semakin menertawakan tingkah kedua cucu kembarnya itu.


“Mamah! Papah ada dimana, dari tadi ‘kok Luca tidak melihat papah? Apa papah tidak ikut kembali dengan mamah?” ujar Luca yang terpaksa harus mengulang pertanyaannya, karena semua orang teralihkan pada pertanyaan dari Lucia.


“Mamah juga tidak tahu, sayang! Tapi katanya papah sedang menyelesaikan urusan yang sangat penting!” ujar Zhia, dia sendiri pun tidak mengerti


“Papah pasti sedang menjemput 6 baby boy kita, Kak!” sahut Lucia yang masih saja kembali ketitik awal pembicaraan mereka.


“Astaga, Lucia! Sudah terserah kau saja, nanti tanyakan saja langsung pada papahmu itu dimana baby boy ‘yah?”


Sungguh kali ini Zhia benar-benar angkat tangan dengan putrinya itu.


“6 baby boy, mamah! Sudah Luci bilang ‘kan tadi!” seru Lucia yang kembali harus membenarkan perkataan mamahnya.


“Iya, 6 baby boy-nya tanyakan saja langsung pada papah. Jangan tanyakan pada mamah lagi, Okay?” sahut Zhia dengan malasnya, kepalanya sudah berdenyut dan terasa sangat pening.


“Iya, Mah! Tapi kapan papah akan pulang?” ujar Lucia lagi seperti tidak ada habisnya.


“Mamah tidak tahu, sayang!” sahut Zhia dengan enggan untuk menjawabnya.


“Grandpa tahu kapan papah akan pulang?”


Tidak mendapat jawaban dari mamahnya, Lucia pun dengan cepat beralih pada Grandpanya.


“Grandpa juga tidak tahu, sayang!” ujar Noland yang tidak mau ikut campur masalah baby boy-nya Lucia itu.


“Huuuh,…Grandma juga tidak tahu?”


Dengan raut wajah yang sudah ditekuk, Lucia menyerahkan harapan terakhirnya pada jawaban dari Grandmanya.


“Grandma juga tidak tahu, sayang!” ujar Julia yang memang tidak tahu Ryden pergi kemana dan kapan pulang.


Setelah pulang sekolah, Zhia memang berhasil mengalihkan berhasil mengalihkan perhatian si kembar pada kue buatannya yang sebelumnya.


Tapi pada saat makan malam dan seterusnya, Luca dan Lucia terus saja menanyakan tentang keberadaan 6 baby boy yang telah dijanjikan Rayden sampai membuat Zhia sakit kepalanya mendengarnya.


Dan begitulah, makan malamnya berjalan penuh ketegangan dan tingkah meenggemaskan Luca serta Lucia.


“Mamah, kapan papah pulang?” tanya Luca sambil sesekali menguap karena sudah merasa sangat mengantukk.


“Iya, ini ‘kan sudah semakin larut tapi papah tidak pulang-pulang ‘sih?”


Lucia ikut menimpali pertanyaan kakaknya.


“Tidak tahu, sayang! Lebih baik kalian tidur saja. Besok ‘kan hari libur kalian bisa tanya papah sepuasnya besok, Okay?”


Bujuk Zhia pada kedua anak kembarnya itu agar mau tidur sekarang dan berhenti menunggu rayden yang entah kapan pulangnya.


“Tapi Luci sudah tidak sabar ingin bertemu dengan 6 baby boy-nya, Mah!”


Sementara Luca sudah memasuki alam mimpi terlebih dahulu, tanpa perlu waktu lama lagi.


“Ya ampun, sayang! Begitu inginkah kalian punya adik laki-laki?” ujar Zhia sembari membelai lembut kepala Lucia yang mulai terlelap didalam tidurnya.


Bahkan sebelum tidur pun, Luca dan Lucia masih setia menunggu papahnya pulang.


Luca dan Lucia bersikeras menunggu sampai papahnya pulang, hingga tanpa terasa mereka mulai terlelap dikamar mamah dan papahnya.


Luca dan Lucia bahkan melupakan tentang virus yang sudah tentang virus yang sudah terpasang di komputer Evan, serta rencana mereka untuk merentas data milik Evan hari itu.


Perhatian si kembar hari itu hanya tertuju pada Baby boy yang dijanjikan oleh papahnya, mereka yang sangat menginginkan adik tidak sabar untuk menemui papahnya. Hingga Luca dan Lucia lupa akan rencana mereka tentang Evan.


Tidak lama setelah Lucia terlelap dalam tidurnya, pintu kamar itu terbuka dan menampakan sosok Ryden yang baru saja pulang entah dari mana itu.


Zhia pun menyambutnya dengan tatapan kesal dan penuh amarah, karena berkat perbuatan Rayden yang menjanjikan sesuatu yang mustahil pada si kembar.


Zhia harus dibikin pusing kepalanya dengan pertanyaan-pertanyaan si kembara yang tidak ada habisnya.


“Zhi, kau belum tidur rupanya?” ujar Rayden yang sebenarnya menyadari tatapan tajam Zhia semenjak masuk kamar, tapi dia memilih bersikap tidak merasa apapun.


“Menurutmu?” sahut Zhia dengan nada juteknya, hal ini menandakan akan ada peperangan diantara mereka.


“Hehehee,….Luca dan Luci juga tidur disini!”


Rayden hanya tersenyum menyadari dirinya salah bertanya, dia pun segera mengganti topik jika ingin selamat dari kemarahan istrinya.


“Apa kau tidak bisa melihatnya sendiri?” Zhia masih menanggapi setiap pertanyaan Rayden dengan ketus dan sikap dinginnya.


“Sayang, kau kenapa ‘sih? Kenapa terus bersikap jutek padaku seperti ini, Hmmm,…?”


Rayden pun membaringkan tubuhnya disamping Zhia, memeluknya dan menghirup harumnya tubuh istrinya itu.


Zhia memang sedikit merasa marah, tapi dia juga merasa sangat nyaman dengan pelukkan Rayden. Zhia pun membiarkan Rayden memeluk tubuhnya sesuka hatinya.


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Rayden lagi.


“Karena dirimu seharian ini aku sakit kepala mendengar pertanyaan dari kedua anak kembarmu ini!” ujar Zhia masih dengan raut wajah kesalnya.


“Karena aku?” sahut Rayden dengan wajah sok polosnya seakan tidak tahu apapun, tapi kenyataannya dia sudah menduga ini berkaitan dengan si kembar yang ingin mempunyai adik lagi.


“Iiiihhh,….Kau ini ‘yah! Masih pura-pura tidak tahu segala didepanku!” seru Zhia yang langsung berbalik menghadap Rayden dan mencubit perutnya dengan sangat keras sebagai pelampiasan kekesalannya.


“Auwhh,…Sakit sekali, sayang!” rintih Rayden yang berpura-pura merasa kesakitan.


“Lagian siapa suruh kau membuatku kesal!” ujar Zhia yang tidak peduli dengan rintihan Rayden yang hanya pura-pura itu.


“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk kesal padaku!” sahut Rayden yang semakin ingin menggoda istrinya itu.


“Rayden!?!”


Zhia kembali mencubit tubuh Rayden berkali-kali, kerena merasa dikerjai oleh suaminya itu.


“Auwh,…Auwhh,…Iya, Zhi! Maaf aku hanya bercanda saja, sudah cukup jangan mencubitku lagi ‘yah!” pinta Rayden sambil merintih kesakitan dan tersenyum dengan puas, dia kemudian memeluk tubuh Zhia semakin erat.


“Besok aku akan menjelaskan kepada Luca dan Lucia mengenai apa yang aku janjikan waktu!” sambung Rayden sembari mencium kening Zhia beberapa kali.


“Kau sudah ingat sekarang kesalahanmu itu?” ujar Zhia yang mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wajah tampan suaminya itu.


Cupp,…..Rayden pun menjadi gemas sendiri saat melihat wajah istrinya itu, tidak puas rasanya jika dia tidak mengecup bibir mungil yang menggoda itu.


“Mereka bertanya tentang baby boy untuk mereka, bukan?” ujar Rayden yang mencoba memastikan dan Zhia pun dengan cepat membenarkannya.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚