Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Novel Sekuel ◦•●◉ Anak Kembar Sang Mafia ◉●•◦



𝚂𝚒𝚕𝚊𝚑𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚞𝚗𝚓𝚞𝚗𝚐𝚒 𝚍𝚊𝚗 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚐𝚜𝚞𝚗𝚐 𝚍𝚒 𝙼𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝𝚘𝚘𝚗 𝚊𝚝𝚊𝚞 𝙽𝚘𝚟𝚎𝚕𝚝𝚘𝚘𝚗. 𝙳𝚒𝚓𝚊𝚖𝚒𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚜𝚎𝚛𝚞𝚗𝚢𝚊!


𝙸𝚗𝚒 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕 𝚔𝚒𝚜𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊, .....


...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Cano, bagaimana keadaan Zhia sekarang?” tanya Noland dengan cemas.


“Dokter masih berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, Pah!” jawab Rayden dengan suara gemetar.


“Cano, sayang! Kamu yang sabar ‘yah, sayang! Zhi dan bayinya pasti akan baik-baik saja,” ucap Julia yang langsung memeluk putra untuk sedikit menenangkannya, meskipun dia sendiri tidak bisa tenang dalam situasi seperti itu.


“Mamah, Cano sungguh suami yang buruk untuknya! Hiks, … Cano, tidak bisa melindungi dengan baik dan membuatnya terluka lagi,” ujar Rayden layaknya nak kecil yang mengadu pada mamahnya sambil menangis.


“Tenanglah, Cano! Semuanya akan baik-baik saja.”


Noland pun ikut memeluk istri, anak dan cucunya. Mereka pada akhirnya menangis bersama, sehingga membuat Levi merasa seperti orang asing di sana. Akan tetpi, Levi menyadari bahwa mereka memang harus saling menguatkan disaat seperti ini.


****************


Sedangkan di dalam ruangan Zhia di rawat, Dr. Lena dan Dr. Ian mulai kewalahan. Sebab Zhia terus mengalami pendarahan hebat yang memacu pada keguguran. Jika tidak segera mendapat tindakan maka keduanya tidak akan selamat, baik ibu maupun ketiga bayinya.


“Bagaimana ini, Dr. Ian? Nyonya Zhia terus mengalami pendarahan hebat, kita harus fokus untuk menyelamatkan salah satunya,” ujar Dr. Lena yang sudah tidak mempunyai cara lain.


“Maksud anda?” tanya Dr. Ian yang berharap tidak seperti apa yang dia pikirkan.


“Antara Ibu dan Bayinya, kita harus fokus menyelamatkan salah satunya. Akan tetapi, lebih baik kita fokus menyelamatkan ibunya. Sebab bayinya sudah pasti tidak akan bertahan lama, meskipun di rawat dalam incubator. Kita harus cepat memutuskannya!” jelas Dr. Lena yang berpacu dengan waktu.


Setelah itu, Dr. Ian pun terlihat keluar dari ruangan itu. Dan begitu keluar semua orang yang menunggunya segera menghampirinya dengan cemas dan penuh harap.


Hanya dengan melihat ekspresi sedih Dr. Ian, mereka tahu bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Zhia di dalam sana.


“Bagaimana keadaan Zhia, Dok?” tanya Rayden dengan panik.


“Cano, masuklah! Ada sesuatu yang harus kami bicarakan denganmu,” ujar Dr. Ian, kemudian dia pun masuk kembali ke ruangan itu tanpa menjelaskan lebih lanjut.


Seperti permintaan Dr. Ian, Rayden pun memasuki ruangan Zhia di rawat setelah memakai pakaian khusus yang diberikan salah satu perawat yang berjaga di sana.


Begitu masuk, Rayden langsung menatap Zhia yang terbaring lemah dnegan wajah pucat nya, air matanya pun tidak bisa dia bendung lagi.


“Tuan Cano, maaf saya harus menyampaikan kabar buruk ini. Tapi anda harus memilih antara Ibu dan Bayinya, kita harus fokus menyelamatkan salah satunya. Akan tetapi, lebih baik kita fokus menyelamatkan ibunya. Sebab bayinya sudah pasti tidak akan bertahan lama, meskipun di rawat dalam incubator.” Dr. Lena langsung menjelaskan, karena sedang di kejar waktu.


“Maksudmu? Aku harus memutuskan untuk membunuh istriku atau anakku begitu?” ujar Rayden dengan air mata yang semakin deras mengalir di wajahnya.


“Tidak ada pilihan lain, Tuan! Kami telah melakukan yang terbaik untuk berusaha menyelamatkan keduanya, tapi pendarahan yang di alami Nyonya Zhia cukup hebat dan dapat membahayakan keduanya. Jika tidak mengambil keputusan ini,” jelas Dr. Lena lagi.


“Ba-ba-bagaimana bisa kau menyuruhku untuk membunuh antara istri dan anakku, _....” Rayden tak mampu melanjutkan perkataannya lagi.


“Keputusan ada di tangan anda. Silahkan tanda tangani surat persetujuan ini, jika anda sudah mempertimbangkannya. Tapi saya harap anda tidak membuang waktu lebih banyak lagi atau kita kan terlambat menyelamatkan keduanya,” ujar Dr. Lena sembari menyerahkan surat persetujuan yang harus Rayden tanda tangani.


Dan tanpa disangka pembicaraan itu terdengar oleh Zhia yang baru tersadar setelah tadi pingsan akibat rasa sakit yang tak tertahankan.


Dengan sisa tenaganya, Zhia meraih tangan Rayden yang berdiri tidak jauh di sampingnya.


“Ray, ….” Zhia memanggil dengan suara yang begitu lirih.


𝚂𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚎𝚖𝚞 𝚍𝚒 𝚗𝚘𝚟𝚎𝚕 ◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦🥰🥰🥰