
Special thx 4 Reni Giany dan Eka Elissa, yang sudah ikutan promoin Tuan J di grup FB. Lophyuu pull.. 🥰
Bagi postingan yang belum ke notice, jangan sungkan DM author via Chat yah.. 🤗
...
'Kau punya banyak kekasih..'
'Tapi hanya aku satu-satunya, yang mencintaimu dengan tulus.'
'Meskipun aku tidak bisa memberi cinta yang sepadan,'
'Aku tau, aku mengerti.'
'Mungkin kau sudah berusaha menerimanya..'
'Tapi justru aku.. yang tidak bisa menggapai hatimu..' - (Lana)
...
"Tuan, bolehkah aku bertanya? ini adalah hal terakhir yang ingin aku ketahui.."
"Kau ingin bertanya tentang apa lagi..?" tanya Arshlan was-was, seraya menatap Lana dalam-dalam.
"Tuan, apakah Tuan benar-benar tidak pernah mencintaiku sedikitpun..? apakah tidak ada sedikitpun rasa dihati Tuan untuk mempertahankan hubungan ini..? apakah aku benar-benar tidak punya kesempatan untuk bersama dengan Tuan..?"
Arshlan melengos kesal. "Disaat seperti ini, hal seperti itu masih juga ingin kau tanyakan." desisnya dengan wajah acuh.
Lana menatap Arshlan lamat-lamat, namun pria itu justru terlihat dingin dan datar.
"Jawabannya sudah jelas. Aku tidak mencintaimu." pungkas Arshlan seolah mati rasa.
"Tapi selama ini.."
"Selama ini aku hanya bersenang-senang seperti biasa. Kau pikir dirimu seindah apa..? hingga bisa membuatku jatuh cinta..?"
Lagi-lagi kalimat Arshlan menusuk ulu hati Lana. "Jadi saat Tuan melamarku di pagi hari dan mengajakku menikah.. semua kalimat indah itu bohong belaka..? lalu saat Tuan memuji dan memuja saat kita bersama-sama mengarungi indahnya cinta.. semua itu.. palsu..?"
"Kapan aku pernah mengatakan aku mencintaimu..?"
Lana tercekat.
'Tidak pernah..!'
"Memang tidak pernah..!'
'Bahkan saat mereka sedang berada di puncak tertinggi yang menggelora, dimana aku begitu sering mengungkapkan cinta.. Tuan Arshlan tidak pernah sekalipun membalas ungkapan segenap perasaanku dengan kalimat yang sama.'
'Baiklah.. karena pada kenyataannya.. selama ini.. memang aku lah yang bodoh..'
Lana membathin perih. Sebuah bulir bening kembali jatuh dari sudut matanya.
"Sejak awal niatku hanya ingin bercinta denganmu. Aku nekad melamarmu, karena kau selalu menolak untuk bercinta. Memangnya apalagi yang aku inginkan dari seorang wanita selain bercinta..?" Arshlan tersenyum dengan wajah mengejek. "Lagipula kau juga menyukainya kan? kau yang terus memberi syarat agar aku harus menikahimu terlebih dahulu baru bisa mendapatkan semuanya. Katamu kau rela melakukan apa saja demi bisa bersamaku.. bercinta dengan hebat.. serta memiliki masa depan yang tidak lagi berkekurangan.."
Lana tertunduk menerima semua kalimat menyakitkan yang tanpa henti.
Semuanya benar. Yang dikatakan Arshlan tak ada satupun yang salah.
Arshlan benar.. selama ini Lana lah yang terus merayu Arshlan setiap waktu.
"Lana.. sejak awal kau memang mengincar hidup enak dan punya banyak uang. Dan hari ini, aku telah mewujudkannya, dengan mewujudkan impianmu. Semua itu sudah lebih dari cukup, asalkan kau tidak menjadi serakah untuk menguasai sesuatu yang sampai kapanpun, tidak akan pernah bisa menjadi milikmu."
Kalimat demi kalimat milik Arshlan sudah tak ubahnya sembilu yang terus menoreh luka, merobek harga diri Lana satu persatu tanpa bersisa.
"Aku benci padamu, Tuan. Teganya kau mengatakan begitu banyak kalimat yang kejam.." desis Lana perlahan.
Arshlan membuang pandangannya, manakala kalimat Lana kembali terdengar.
"Tuan.. sejak awal aku melihat Tuan di club malam itu, aku telah jatuh cinta. Sejak saat itu juga.. aku terus mengejar-ngejar Tuan seperti orang gila. Aku menempel pada Tuan, melakukan semua hal yang diluar nalar, terus menunjukkan bahwa cintaku sangat besar, berharap akan dibalas dengan cinta yang sama disuatu saat. Tuan, aku bukannya tidak tau, bahwa selama ini Tuan telah melakukan banyak hal untuk membuatku kesulitan. Aku bertahan dalam keyakinanku, bahwa hanya aku yang bisa mencintai Tuan dengan tulus. Tapi sayang.. dimata Tuan semua yang aku lakukan, tak lebih dari keegoisan serta keserakahanku untuk memiliki lebih dari yang bisa Tuan berikan.."
Lana menghela nafasnya sejenak, sementara Arshlan terpekur lama.
Menyulitkan hidup Lana dengan mengirimnya ke villa Black Swan, meninggalkan Lana di pinggir sungai sehingga Lana harus menempuh sekian kilometer untuk berjalan pulang, menyeret Lana ke altar pernikahan untuk membalas dendam, mengurung Lana tanpa makan dan minum lebih dari dua puluh empat jam, membawa wanita lain, bemesraan dengan Maura, bertingkah seenaknya.. mengacuhkan.. menceraikan..
Mendadak semua rentetan perbuatan buruknya mengisi benak Arshlan satu-persatu.
"Tidak apa-apa, Tuan. Aku cukup tau diri, karena pada kenyataannya aku bukanlah wanita yang tepat, yang bisa membuat Tuan jatuh cinta dan menyayangiku tanpa syarat. Aku tidaklah sepadan.."
Kemudian lana terlihat membuang nafasnya berat, sebelum akhirnya meraih dokumen yang sejak tadi Arshlan inginkan untuk ia tandatangani.
'Apakah semuanya memang harus berakhir seperti ini..?'
'Apakah aku harus mengalah..?'
Sudut hati Lana membathin ngilu.
Sungguh Lana tak kuasa menatap dokumen perpisahan yang berada ditangannya, namun disisi lain ia juga tak punya pilihan.
Tekad Arshlan yang bulat benar-benar mencerminkan bahwa Arshlan tidak lagi menginginkan dirinya, meskipun ia telah menyerahkan segenap cinta serta kasih sayang.
"Tuan, semua ini bukan karena aku tidak ingin lagi bertahan dan berjuang. Bukan juga karena cintaku hanya sejengkal. Tapi karena aku tidak ingin membuat hidup Tuan menjadi susah karena harus hidup bersama dengan wanita yang tidak layak." Lana memejamkan matanya beberapa saat sebelum kembali berucap lirih. "Baiklah.. aku akan menandatangani semuanya."
"Bagus." pungkas Arshlan. Tatapannya jatuh begitu saja seiring dengan rasa nyeri yang memenuhi seluruh bilik hatinya mendengar keputusan akhir Lana.
"Iya, Tuan. Aku mengerti, karena sepertinya lebih cepat lebih baik."
"Apa maksudmu..?" Arshlan terhenyak. Terlebih saat ia mendongak guna kembali mendapati wajah pucat Lana, Arshlan malah melihat Lana sedang mengusap pipinya dengan kasar.
"Itukan yang Tuan inginkan..? terlepas dariku secepatnya..?"
"Tentu saja."
Kini Lana tersenyum kecut menyadari wajah Arshlan bahkan terlihat semakin datar.
"Tuan, kau menang." tanpa menunggu lebih lama Lana telah menunduk kearah dokumen yang diangsurkan Arshlan, membacanya sambil lalu, kemudian tanpa berpikir panjang mencoret beberapa point kesepakatan sekaligus terkait materi yang tertuang didalamnya, hanya menyisakan satu point tentang keberangkatan keluar negeri, dan hidup menjauh.
"Kenapa kau mencoretnya..? itu adalah dokumen resmi."
"Aku tidak memerlukan semua itu." ucap Lana sambil membubuhkan tanda tangannya diatas meterai tanpa menoleh. Setelah selesai Lana pun menaruh kembali pulpen tersebut diatas dokumen.
Arshlan terdiam, begitupun juga dengan Lana. Namun sepasang mata mereka kini saling bertatapan tanpa kata, sementara tubuh mereka masing-masing terduduk kaku berbatas meja.
"Tuan, apa sekarang kau merasa lega..?"
Arshlan tidak menjawabnya, pandangannya beralih saat melihat seraut wajah Lana yang dipenuhi luka.. hati Arshlan pun ikut terluka.
"Tuan, berjanjilah kedepannya Tuan akan hidup dengan baik. Karena mulai detik ini, aku pun akan berjanji.. untuk menghilang selamanya dari kehidupan Tuan." Lana terus menatap Arshlan yang tidak lagi menoleh padanya, terus membuang muka.
Begitulah..
Pada akhirnya Lana memang harus mengalah demi mengikuti keinginan Arshlan, meskipun sisi hatinya tidak rela.
Bagi Lana, hidup tanpa Tuan Arshlan..
Tak ada bedanya dengan sebuah kematian..
...
Next boleh..tapi Like dulu, jangan lupa yah.. 🥰