
Victoria yang telah merasa sangat bosan berada dikamar sejak sore hari, sehingga iseng-iseng, ia telah memutuskan keluar dari kamar Leo yang ada dilantai dua, memilih untuk menghirup udara segar diluar rumah.
Victoria bahkan tidak menyangka, jika kakinya yang telah melangkah hendak menuju teras samping, disisi kolam renang rumah megah keluarga Arshlan, telah membawanya menemui kesibukan para maid dan sejumlah pengawal, yang sedang mempersiapkan tempat tersebut, untuk pesta penyambutan kedatangan Luiz pada besok hari.
Untuk sejenak Victoria hanya menatap semua kesibukan itu, sebelum sepasang matanya telah tertumbuk pada seorang maid yang sedang menyeka tumpukan piring keramik pada sebuah meja panjang, tak jauh dari tempat Victoria berdiri.
"Bolehkah aku membantu?" tanya Victoria, yang telah menawarkan dirinya kepada sang maid, bahwa dirinya pun berkeinginan untuk ikut menyeka tumpukan piring-piring keramik tersebut.
"Nona Victoria ...?" maid itu terlihat sedikit tercengang dengan kehadiran Victoria, yang saat ini merupakan satu-satunya menantu di keluarga Arshlan.
"Aku sedang merasa sangat bosan, karena tidak tahu harus melakukan apa. Jadi, tidak ada salahnya kan kalau aku ingin membantumu ...?"
Victoria telah menghempaskan tubuhnya keatas bangku, dan mengambil sebuah lap bersih yang tersusun tinggi diatas meja.
Kemudian dengan cekatan Victoria langsung menyambar sebuah piring keramik dan mulai menyekanya dengan hati-hati.
"Nona, jangan melakukan pekerjaan ini. Biar aku saja yang ..."
"Tidak apa-apa, aku menyukainya." Victoria tersenyum, menampik kalimat maid yang tentu saja merasa enggan saat victoria bersikeras membantunya.
Terlepas dari sebuah rahasia umum bahwa keberadaan sosok Victoria yang hingga detik ini belum juga bisa di terima dengan baik oleh sang nyonya besar, namun tetap saja status Victoria adalah menantu di keluarga Arshlan.
Jadi wajar saja rasanya, jika maid itupun sejujurnya merasa sangat keberatan jika Victoria mengerjakan pekerjaan pelayan, namun menjadi tak kuasa karena Victoria tetap bersikeras.
"Tidak apa-apa. Teruskan saja pekerjaanmu dan jangan pedulikan aku. Aku akan berhenti sendiri saat aku lelah." ujar Victoria lagi sambil tersenyum, seolah ingin meyakinkan sang maid, bahwa dirinya baik-baik saja, meskipun harus mengerjakan pekerjaan seperti itu.
"Baiklah, Nona ...". pada akhirnya maid tersebut mengalah, memilih meneruskan pekerjaannya yang sempat terbengkalai karena rasa canggung yang mendera akibat kehadiran Victoria
Nyaris setengah jam, Victoria berkutat dengan piring dan kain lap. Ia telah mengabaikan seluruh tatapan para pengawal dan maid lainnya yang seolah menatap heran dengan keberadaannya serta apa yang sedang ia lakukan.
"Nona Victoria, kalau Nona merasa lelah, sebaiknya Nona beristirahat saja."
Victoria sontak mengangkat kepalanya dan menggeleng. "Tidak, aku belum merasa lelah. Lagipula aku sudah mengatakannya, kan, bahwa berdiam diri dikamar, selalu membuatku bosan ..." tolak Victoria, tanpa menghentikan sedikitpun gerakan tangannya yang sedang terus bekerja.
"Sedang apa kau disini?" sebuah suara yang sangat dikenal oleh Victoria telah menyapa gendang telinganya.
"Mommy, aku ... aku tidak bisa tidur, jadi aku iseng-iseng membantu ..."
"Momm, apakah Mommy sudah menemukan Victoria?" sebuah suara lainnya, yang juga sangat dikenal Victoria terdengar mendekat.
"Memangnya dia bisa hilang kemana?" ujar Lana acuh menanggapi kalimat Leo yang terucap dengan napas sedikit ngos-ngosan, masih dengan suaranya yang datar serta tatapan yang tetap mengarah lurus kearah Victoria.
Leo telah berada disana begitu saja, sedikit terhenyak saat menyadari sosok yang sedang ia cari ternyata berada diteras samping, dan duduk bersama seorang maid sambil menyeka piring keramik!
"Kenapa kau juga ikut menyeka piring?" pria itu bertanya dengan nada keheranan, sambil menautkan alis.
"Egh, anu ... aku ... hanya iseng ..." ucap Victoria tergeragap, sambil buru-buru bangkit dari duduknya dan menaruh lap yang ada ditangannya keatas meja dengan gerakan yang sedikit gugup khas orang terciduk.
Leo menatap Victoria yang terlihat berdiri salah tingkah dibawah tatapan Mommy dan dirinya.
"Kalau kau berniat membantu, maka kau salah besar. Kehadiranmu justru akan membuat mereka tidak nyaman bekerja." ujar Lana sambil mengarahkan tatatapannya sejenak kearah maid yang telah tertunduk begitu dalam sambil terus menyeka piring, tidak berani mengangkat wajah demi mendapati adegan yang telah terjadi didepan hidungnya.
"Maafkan aku, Momm, sungguh aku tidak sampai berpikir bahwa kehadiranku telah membuatnya tidak nyaman bekerja. Maaf ..."
Victoria tertunduk dalam, namun Lana tidak lagi menggubrisnya. Ia telah memilih untuk fokus dengan keberadaan Leo yang baru saja tiba sesaat yang lalu.
"Sayang, kau sudah makan belum? Mau Mommy sediakan makan malam?" tanya Lana penuh perhatian.
Leo terlihat menggeleng, "Tidak, Momm, tadi aku sudah makan dilokasi pemotretan." tolak Leo.
"Wait, tadi sore Mommy telah membuat puding coklat kesukaanmu. Kau mau tidak mencicipinya sedikit ...?"
"Mari ikut Mommy," Lana telah menggandeng lengan putranya untuk masuk kedalam rumah.
Melihat itu, meskipun dengan langkah gontai, akhirnya Victoria pun memilih mengikuti langkah kedua sosok itu untuk masuk juga kedalam rumah.
"Leo, duduklah disini." Lana telah menuntun Leo kearah sofa yang ada diruang tengah, lalu tatapannya beralih kearah Victoria. "Vic, pergilah ke dapur, dan ambilkan puding coklat kesukaan Leo yang ada di dalam kulkas."
"Baik, Momm." Victoria mengangguk, sambil melangkah kearah dapur, tempat dimana kulkas yang didalamnya terdapat puding coklat kesukaan Leo berada.
Saat Victoria kembali, ia telah melihat keakraban Lana yang sedang berbincang dengan Leo.
"Kemari," titah Lana, tangannya terjulur hendak meraih piring puding yang dibawa Victoria, dan kemudian langsung menyerahkannya kearah Leo. "Ini, makanlah ..."
Lana tersenyum saat melihat Leo mulai mencicipi puding buatannya yang menjadi favorite Leo sejak Leo masih kecil, sementara Victoria yang masih berdiri akhirnya mendudukkan tubuhnya juga disalah satu sofa kosong yang letaknya persis dihadapan Leo, hanya mengawasi interaksi manis antara ibu dan anak itu dalam diam.
"Bagaimana? Enak?" Lana bertanya lagi dengan tidak sabar, seolah jawaban dan penilaian Leo sangat penting untuk dirinya.
"Hhhhmm ..." Leo mengangguk, sibuk memasukkan potongan demi potongan puding yang lezat tersebut kedalam mulutnya hingga tandas dengan begitu cepat.
"Mau lagi?"
"Cukup, Momm." tolak Leo masih sambil mengunyah potongan puding terakhir didalam mulutnya, sambil menaruh piring kecil bekas puding tersebut keatas meja.
"Oh iya, Leo, kau sudah bertemu Dasha belum?" tanya Lana lagi, tiba-tiba, begitu ia mengingat sesuatu.
Leo menggeleng serentak, sambil melirik jam yang melingkar ditangannya. "Belum, tapi sepertinya ini sudah larut, Momm, bocah itu pasti sudah tertidur ..."
"Padahal sejak sore tadi begitu tiba dari asrama, Dasha terus saja menanyakanmu tanpa henti. Katanya kau akan mengabulkan permintaannya ..."
"Oh, itu ..." Leo sontak tertawa berderai, begitu mengingat permintaan Dasha.
"Memangnya Dasha telah meminta apa kepadamu, Leo?" tanya Lana lagi penuh rasa ingin tahu.
"Dasha dan teman-temannya sangat mengidolakan Lisa. Karena itulah dia ingin meminta tanda tangan Lisa untuknya dan untuk teman-temannya." jawab Leo masih saja tersenyum.
"Lalu?"
"Lalu apa, Momm?"
"Apa kau telah membawakan tanda tangan Lisa, sesuai permintaan Dasha dan teman-temannya?" usut Lana memastikan, namun gelengan kepala Leo telah membuat Lana menaikkan kedua alisnya. "Leo, kenapa kau tidak meluluskan permintaan Dasha? Bukankah akhir-akhir ini kau selalu bersama Lisa dalam berbagai kesempatan ...? Mommy bahkan sering sekali melihat kalian bersama dalam setiap wawancara dan beberapa program televisi ..."
"Ssstt, Mom, calm down ... aku memang sengaja tidak membawa tanda tangan Lisa, tapi aku telah melakukan sesuatu yang lebih besar untuk menyenangkan bocah manja itu." pungkas Leo sambil tersenyum-senyum penuh misteri.
"Maksudmu ..."
"Tidak hanya tanda tangan, aku telah mengundang orangnya langsung untuk datang pada pesta besok hari, special untuk Dasha dan teman-temannya ..." ucap Luiz dengan senyum penuh kebanggaan, terlebih saat melihat kilatan senyum semringah Lana.
"Leo, kau hebat sekali. Dasha pasti akan senang kalau mengetahui bahwa ia bisa bertemu langsung dengan artis idolanya ..."
"Of course ..." Leo membalas senyum Lana, juga dengan seuntai senyum, namun merasa sedikit terusik saat harus menyaksikan pemandangan yang kontras dihadapannya, dimana Victoria justru terlihat membuang wajahnya ...
Tanpa sedikitpun senyuman ...
...
Bersambung ...
Jangan lupa support terus novel ini yah ... 🤗 Terima kasih ... 🥰