TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 96. Hancur Lebur


DOUBLE UP.


Jangan lupa LIKE dulu bab sebelumnya yah ... πŸ™


...


Dasha, bisa jadi hanya seorang bocah belia. Tapi Luiz memang menyukai gadis itu.


Entah jika itu adalah perasaan cinta yang tulus, hanya sebatas kasih sayang semata, atau malah hanya sebuah refleksi dari perasaan bersalah Luiz.


"Tidak perlu repot mengurusi diriku, karena saat ini, aku merasa tidak lagi memiliki keinginan tentang apapun. Jadi, apa keinginanku itu tidak penting lagi, dan yang kau inginkan, akan kau dapatkan ..."


"Aku sudah mengatakannya dengan jelas, bahwa aku ingin mencoba menjalaninya ..."


Suara hembusan nafas yang sangat berat terdengar dari seberang sana, dan anehnya, bisa merasakan betapa beratnya beban Luiz justru membuat Florensia merasa semakin takut.


Sebuah ketakutan yang justru menyeruak, manakala Florensia menjadi sangat khawatir jika Luiz akan mengambil keputusan yang lebih gila dari keputusannya.


"Kau benar- benar tidak ingin berubah pikiran?"


"Tentu saja tidak." jawab Florensia keras kepala.


"Lalu bagaimana dengan El?"


"Just Forget it." nada suara Florensia terdengar dingin dan datar.


"Baiklah, kalau begitu terserah kau saja."


"Egh, Luiz ... tunggu! Tunggu sebentar!!"


Luiz urung menutup panggilannya secara sepihak, mendengar suara Florensia yang bersikeras mencegahnya.


"Ada apa lagi, Flo? Bukankah semuanya sudah sesuai dengan yang kau inginkan?" suara Luiz terdengar kesal.


"Luiz, kau ... kau kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini ...? Kenapa kau berubah? Kau ... kenapa kau malah setuju ..."


"Bukan urusanmu."


"Luiz, tapi ..."


"Seharusnya kau lega, karena aku telah bersedia membiarkan dirimu bertindak sesuka hati. Tapi ingatlah ini baik-baik, Florensia ... jika nanti keputusanmu akan menjadi boomerang untuk dirimu sendiri di kemudian hari, maka kau jangan pernah menyalahkan aku apalagi mencoba melarikan diri ..."


"Kenapa aku harus melarikan diri?" jawab Florensia pongah. Ia merasa kesal saat menyadari kalimat-kalimat Luiz sedikit banyak telah mempengaruhi keyakinannya yang semula begitu teguh.


Luiz terkesan memberikan ancaman, dan itu membuat sisi keras kepala Florensia tidak mau menerima begitu saja.


"Hanya ingin mengingatkan, bahwa kelak ... keputusanmu itu akan berdampak besar. Kau akan membuat El benar-benar pergi dari kehidupanmu karena semua ini ..."


"Aku tidak takut dia pergi, karena dia bahkan tidak pernah datang dalam kehidupanku ..."


Suara tawa kecil Luiz terdengar diujung sana.


"Sempurna. Kalau begitu kebetulan sekali ... kau bisa mengatakan semua keputusanmu langsung dihadapan El malam nanti ..."


"A-apa maksudmu dengan mengatakan langsung?"


"El akan berada di pesta barbeque nanti malam.


"A-apa ...?!"


"Dia adalah tamu khusus kedua orang tuaku, dia bahkan telah berada di ranch lebih dulu sebelum aku tiba di ranch tadi sore ..."


Mendengar informasi itu Florensia sontak terbelalak.


"Ha-ah ...?!"


Florensia terhenyak diatas sofa, pikirannya seolah melayang meninggalkan raga.


Si alnya, saat kesadaran Florensia kembali utuh, hubungan telepon tersebut telah lebih dahulu diputus oleh Luiz begitu saja ... tanpa pamit ...


🌸🌸🌸🌸🌸


"Jadi nona Vic akan punya baby ...??!"


Sepasang mata bulat milik Dasha terlihat bersinar cemerlang. Mulut mungilnya yang sejak tadi tak henti mengunyah potongan apel hijau ikut terpana mendengar bocoran kabar bahagia yang baru saja dibisikkan Lana ke telinganya.


"Hhmm ..." Lana terlihat mengangguk gembira, meskipun begitu ia tak menghentikan aksi kedua tangannya yang sedang sibuk menata apel hijau ke dalam keranjang buah.


"Grandma and grandpa ... of course ..." Lana berucap bangga.


"Lalu aku akan jadi aunty ..." wajah Dasha ikut berbinar seperti Lana saat berucap demikian. "Pantas saja Nyonya terlihat sangat bahagia sejak tadi, rupanya ada kabar bahagia yang sangat dinanti-nanti ..."


"Apakah sangat terlihat ...?" usut Lana lagi masih sambil senyum-senyum.


Dasha pun mengangguk cepat.


Lana tak menampik penilaian Dasha atas dirinya, karena pada kenyataannya gadis itu berkata benar.


Lana memang sangat bahagia, dan seharian ini ia nyaris tak pernah sedikitpun berhenti tersenyum, bahkan tak jarang berdendang kecil.


Kehamilan Victoria kali ini bisa dibilang menjadi titik tertinggi kebahagiaan Lana, ditambah dengan membayangkan jika misi untuk menjodohkan Luiz dan putri tunggal Jody Frederick akan segera terlaksana.


"Dasha, kau harus tahu, bahwa hari ini aku telah merasakan separuh beban hidupku berkurang. Hubungan Leo dan Victoria terus membaik dan semua itu membuatku merasa teramat sangat lega ..."


Dasha menanggapi curahan hati Lana dengan manggut-manggut. Ia duduk di kursi sambil menatap Lana penuh perhatian, selayaknya pendengar yang baik dan setia, seperti selama ini.


"Karena persoalan Leo, nyaris selesai, sudah saatnya aku memikirkan tentang masa depan Luiz. Jika Luiz bersedia menikah dalam waktu dekat, mungkin di saat itu, barulah aku benar-benar akan merasa tenang ..."


Degh.


Mendengar nama Luiz disebut, terlebih dikait-kaitkan dengan pernikahan, sontak membuat jantung Dasha seolah ditohok keras.


Dasha masih membisu, malah berpura-pura menggigit potongan apel hijau yang ada ditangannya guna mengalihkan kegugupan yang melanda jiwa.


Sesungguhnya dalam beberapa waktu terakhir ini pikiran Dasha selalu saja merasa tak tenang. Seperti saat ini, entah kenapa Dasha justru merasa dirinya bak seorang penipu ulung yang sedang mengkhianati sang majikan, begitupun semua orang.


Sampai detik ini, baik Nyonya Lana dan siapapun itu tak pernah ada yang benar-benar tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi antara dirinya dan Luiz.


Bahwa Dasha telah mencintai Luiz selama bertahun-tahun lamanya, dan terus mencintai Luiz hingga detik ini ...


Bahwa mereka berdua telah resmi berkencan dibelakang semua orang ... dan ...


Bahwa Luiz telah menjanjikan masa depan yang begitu banyak untuk Dasha, namun anehnya pria itu tak kunjung siap membuka diri dan berterus terang ...!


Hingga saat ini Dasha masih tetap menunggu dengan sabar.


Janji Luiz adalah begitu dirinya selesai dengan urusan menyangkut pendidikan sekolah menengah atas, maka apapun yang terjadi, pria itu akan menggenggam jemarinya menuju altar pernikahan.


Namun, meskipun Dasha sangat mempercayai Luiz, sebagaimana pria itu telah mengambil tanggung jawab yang besar atas seluruh kehidupannya selama ini, semakin kesini entah kenapa yang ada Dasha semakin meragukan keseriusan Luiz.


"Dasha, tamu kita sebentar adalah tamu yang sangat istimewa. Pria itu bernama Jody Frederick, salah satu kolega bisnis terbaik Tuan Arshlan selama ini. Dia akan datang dengan seorang putrinya yang cantik bernama Florensia ..."


Kalimat Lana telah membuyarkan segenap lamunan Dasha tentang Luiz, membuat Dasha mengangkat wajahnya, menatap penuh Lana yang juga sedang menatapnya, begitu usai menata seluruh apple di dua buah keranjang buah sekaligus.


"Sejujurnya kami sedang bertekad untuk menjodohkan Luiz dengan Florensia ..."


Degh ...!


Jantung Dasha berdetak keras mendengarnya.


"Tapi di dunia yang semakin modern ini, kami sebagai orang tua tidak bisa semudah itu mengambil keputusan untuk melakukan perjodohan, melainkan mereka berdua yang harus memutuskannya sendiri ..."


Degh ...! Degh ...!!


Semakin keras.


"Saat ini, memang semuanya belum juga sampai pada tujuan akhir dari kedua belah pihak, tapi setidaknya Tuan Jody Frederick telah memberitahukan Tuan Arshlan sore tadi, bahwa ia telah berhasil memberikan pengertian untuk putrinya, sehingga Florensia pun setuju untuk menjajaki hubungan yang lebih serius ... dan menjalaninya dengan Luiz secara perlahan ..."


"L-lalu bagaimana dengan Tuan Luiz, Nyonya ...?" tanya Dasha tak bisa lagi menahan diri, terlebih saat merasakan jantungnya yang semakin lama semakin berdetak keras tak menentu, membuatnya nyaris kesulitan menguasai diri.


Lana tersenyum mendapati pertanyaan Dasha. Ia berpikir gadis kecil itu pasti sangatlah penasaran dengan semuanya, mengingat sedekat apa hubungan antara Luiz dan Dasha selama ini.


Dasha memiliki ketergantungan yang tinggi pada sosok Luiz, dan semua itu wajar saja, karena pada kenyataannya, semenjak Lana memberikan Luiz tanggung jawab untuk semua hal yang menyangkut Dasha tempo hari, sejak itu pula Luiz seolah menjadi orang terdekat sekaligus orang yang paling peduli, dengan semua urusan yang menyangkut Dasha.


"Sama seperti Florensia, pada awalnya mereka berdua menolak, namun pada akhirnya, keduanya sepakat untuk mencobanya ..."


Detik dimana Lana usai mengucapkan kalimat tersebut, maka detik itu juga Dasha merasa dunianya hancur lebur ...


... NEXT


Sebelum NEXT, jangan lupa di LIKE yah ... πŸ€—