
Bela-belain Double up, di injury time, demi kalian ... π€
...
"Todd, jam berapa ini?"
Masih sambil menunduk mengawasi laporan dari beberapa divisi sekaligus yang bertebaran diatas mejanya, Luiz telah bertanya kearah Todd, asisten pribadinya yang sengaja ia bawa serta untuk membantu segala pekerjaannya di kantor pusat.
"Jam delapan, Tuan."
'Whaaatt ...?'
Luiz terhenyak mendengar jawaban Todd, refleks ia melihat jarum jam tangan miliknya untuk memastikan bahwa Todd tidak keliru.
"Astaga ... aku bahkan tidak menyangka sudah selarut ini. Kau pasti belum makan malam kan, Todd?"
Todd menggeleng. "Belum, Tuan."
"Baiklah, tolong rapikan semua berkas ini dan kita akan makan malam dulu sebelum pulang dan beristirahat."
"Baik, Tuan, tapi ..."
Alis Luiz bertaut menatap Todd yang terlihat segan meneruskan kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Tuan, bisakah aku ..."
Mengambang lagi.
"Aku apa?" potong Luiz tak sabar.
"Ahh, anu Tuan ... bisakah aku tidak ikut makan malam dengan Tuan?"
Alis Luis lagi-lagi bertaut. Rasanya baru kali ini ia mendengar penolakan Todd saat ia mengajak asistennya itu makan malam.
"Tuan, aku ... aku sudah terlanjur berjanji dengan seseorang ..." Todd menunduk jengah, tapi kemudian ia memberanikan diri mengangkat wajahnya secepat kilat. "Tapi kalau Tuan tidak mengijinkannya, aku akan membatalkan janjiku dengannya ..."
"Hari apa ini?" tanya Luiz lagi dengan bola mata sedikit menerawang, mengacuhkan kalimat Todd barusan.
"Hari jumat, Tuan."
Luiz menghembuskan nafasnya, sedangkan Todd terlihat mulai membereskan meja besar Luiz, dan menyusun dokumen-dokumen yang bertebaran diatasnya ke sisi meja dengan rapi.
'Ternyata hari jumat. Pantas saja ...'
Luiz membathin begitu menyadari, bahwa saking padatnya kesibukannya setiap hari, dirinya bahkan telah melupakan bahwa hari ini adalah hari dimana awal weekend telah dimulai.
"Ternyata kau sudah punya kekasih, ya?" imbuh Luiz sambil memperhatikan Todd yang telah selesai membereskan mejanya dalam waktu singkat.
Telinga Todd nampak memerah menerima pertanyaan sang bos besar, namun mau tak mau ia pun akhirnya mengangguk juga. "Iya, Tuan ..." jawab Todd, tak kuasa menyembunyikan rasa malu yang tergambar jelas di wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu kau boleh pulang."
"Lalu bagaimana dengan, Tuan?"
"Tentu saja aku juga akan pulang. Kau pikir cuma kau saja yang punya kekasih?" sungut Luiz, tak mau kalah.
"Ah, iya maaf, Tuan ... aku lupa kalau Tuan sedang menjalin hubungan dengan Nona Dasha ..."
"Ssssttt ..."
Luiz telah menyela kalimat Todd dengan terburu-buru.
"Simpan rahasia ini untuk dirimu sendiri, Todd. Jangan sampai ada yang mengetahui kalau aku memacari anak sekolahan ..."
"Tuan tenang saja, aku akan menjaga rahasia, Tuan, seperti nyawaku sendiri." ujar Todd bersungguh-sungguh, sambil menunduk takjim.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rencana Luiz gagal total.
Saat Luiz dan Todd sedang beriringan keluar dari bilik lift untuk menuju parkiran, ponsel Todd telah berbunyi.
"Tuan Luiz ..."
Langkah panjang Luiz terhenti. Terlebih saat menyadari Todd telah mensejajari dirinya dengan ekspresi wajah yang sulit tertebak.
"Todd, ada apa?" ulang Luiz.
"Asisten Tuan Patrick barusan mengirimkan message ..." ujar Todd masih sambil menggenggam ponsel ditangan kanannya.
Luiz mengerinyitkan alis. "Asisten Tuan Patrick? Lalu, apa hubungannya dengan ekspresi wajahmu saat ini?"
"Tuan Luiz, Asisten Tuan Patrick barusan memberitahukan bahwa Tuan Patrick ingin mengajak Tuan untuk meet up di La Viola malam ini."
Mendengar itu Luiz langsung memijat tengkuknya, karena ia tahu persis bahwa La Viola adalah sebuah club elite terbesar dan sangat terkenal di kota ini.
Luiz ingin menolak ajakan itu, namun menjadi tidak enak karena menyadari tadi siang dirinya dan Tuan Patrick bahkan baru saja menyepakati sebuah kontrak kerja sama, dan karena sepertinya ini malam ini merupakan malam terakhir Tuan Patrick berada di negara ini sebelum ia kembali ke negaranya pada besok hari.
"Aku sendiri yang akan kesana dan menemui Tuan Patrick, sedangkan kau ... pergilah temui kekasihmu." putus Luiz pada akhirnya.
"Tapi Tuan ..."
"Jangan membantah." pungkas Luiz seolah bisa menebak kemana arah kalimat Todd.
"Baiklah, Tuan., terima kasih ..." ucap Todd pada akhirnya, yang disambut Luiz dengan anggukan kecil.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Luiz tiba dirumah lewat midnight.
Saat Luiz tiba, suasana rumah megah itu telah temaram, menandakan sebagian besar penghuninya pasti telah terlelap ke alam mimpi.
Sesampainya di kamar, Luiz telah membersihkan diri ala kadarnya, kemudian hanya dengan mengenakan kaos polo dan celana surfing diatas lutut, Luiz telah nekad melakukan satu hal.
Yakni keluar dari kamarnya dan mengendap-ngendap menuju sebuah pintu yang berada di lantai yang sama dengannya, jaraknya hanya terpaut pintu kamar Leo.
"Luiz, kau pasti sudah benar-benar gila ..."
Rutuk Luiz lirih kepada dirinya sendiri, saat ia nekad membuka handle pintu kamar Dasha yang seperti biasa tidak pernah terkunci, dan menggeser tubuhnya kedalam kamar tersebut seolah seorang penyusup handal.
Luiz menghembuskan nafasnya lega saat mengetahui usahanya tidak sia-sia.
Seperti seorang pencuri ia telah masuk ke kamar seorang gadis belia yang tertidur pulas diatas ranjang.
Luiz pun memutar roset pintu kamar tersebut, menguncinya dari dalam, kemudian dengan langkah perlahan namun pasti tubuhnya mendekati ranjang yang sama tempat dimana Dasha terlelap.
Setelah meredupkan lampu kamar terlebih dahulu, pada akhirnya Luiz langsung membawa tubuh mungil yang ia rindukan itu kedalam pelukannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
'Apa ini ...?'
'Tangan siapa ini ...?'
'Pencuri ...?'
Dasha yang tertidur pulas, langsung tersentak kaget.
"Aaaaaa ... hmmmpp ..."
Ingin berteriak, tapi mulutnya telah terbungkam paksa oleh sebuah tangan besar.
"Jangan berisik, ini aku."
Sepasang mata Dasha sontak melotot mendengar suara berat yang khas.
Suara yang begitu ia rindukan, sekaligus membuat kekesalannya muncul begitu saja.
Detik berikutnya Dasha telah meraup kasar tangan Luiz yang masih membekap mulutnya.
"Tuan Luiz!!" protesnya geram.
"Sssttt ..."
Dasha tidak mengindahkan pria itu. Ia malah beringsut bangun, berusaha duduk diatas ranjangnya dan kembali menyalakan lampu yang telah dipadamkan Luiz beberapa saat yang lalu.
Kini kamar Dasha telah terang-benderang.
"Tuan, kenapa Tuan berada disini?" usut Dasha tanpa menunda lebih lama.
"Tentu saja karena ingin melihatmu."
"Yang tadi itu bukan hanya melihat, tapi memeluk!" wajah Dasha terlihat sangat kesal, terlebih saat menyaksikan wajah Luiz yang super cool.
'Bisa-bisanya dia memasang wajah tampannya dengan ekspresi seperti itu ...!'
'Oh Dashaaaa ... pria dihadapanmu ini benar-benar tampan ...'
'Dan kau tidak boleh memarahi pria tampan ...!!'
Dasha menggelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba mengusir perdebatan gabut yang sedang terjadi di dalam benaknya.
"Kau benar. Awalnya aku memang ingin melihat, kemudian memeluk, kemudian ..."
Mengambang.
Sepertinya Luiz memang sengaja melakukannya, karena tanpa sengaja mulut Dasha telah terbuka ... memperlihatkan dengan jelas se-antusias apa dirinya menunggu kelanjutan kalimat Luiz.
"He ... he ..." Luiz terkekeh. "Kau pasti penasaran, kan?"
"Tidak sama sekali." seolah tersadar, Dasha kembali memasang wajahnya yang cemberut.
"Lagipula semua itu untuk apa? Tuan kan tidak peduli padaku ..." imbuhnya lagi. Ada kesedihan dalam wajahnya yang sedang jutek.
"Kata siapa aku tidak peduli?" ujar Luiz kalem, sambil memiringkan tubuhnya menatap Dasha, dengan posisi tangan kanan menyanggah kepalanya.
"Kenyataannya memang begitu. Tuan mengacuhkan aku nyaris seminggu."
"Kau juga melakukan hal yang sama. Kau juga mengacuhkan aku nyaris seminggu."
Mata Dasha kembali melotot galak, menerima balasan kata yang sama dari Luiz.
"Kenyataanya aku tidak mengacuhkanmu. Aku bahkan tau jam berapa setiap malam kau tidur, dan jam berapa kau bangun setiap pagi ..." berucap santai namun justru reaksi Dasha yang terlihat sangat terkejut.
"Tuan, kau ..."
"Aku juga tau, bahwa setiap malam kau melakukan ritual sebelum tidur dengan memandangi fotoku sambil mengumpat ..."
Dasha semakin melotot. "Si al, ini pasti ulah Mona!" tuduh gadis itu begitu telak.
"Masih mau menuduhku tidak peduli? Aku bahkan menaruh malaikat pelindung disampingmu yang menyelamatkan kamu dari lemparan bola basket saat kau melintas disana, membantumu memindahkan buku perpustakaan dari rak yang satu ke rak yang lain ..."
"Devon ..." pungkas Dasha seolah bergumam, kali ini intonasinya mulai terdengar lirih.
Sungguh dirinya tidak pernah menyangka bahwa Luiz telah bekerja sama dengan Devon dan Mona, hanya untuk mengawasi kesehariannya.
Luiz mendudukkan dirinya, tepat disisi Dasha. Ia tersenyum saat menyadari mulai bisa meluluhkan hati gadisnya yang masih sangat belia itu ...
...
Bersambung ...
Ig. @khalidiakayum