TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 23. Berkemas


Triple up.


Jangan lupa di support yang kenceng yah, kesayanganku ... πŸ₯°


...


Dasha belum juga bisa menetralisir keterkejutannya, manakala sosok Nyonya Rosana telah muncul dari balik rak yang dipenuhi dengan tumpukan buku koleksi perpustakaan.


"Dasha, akhirnya aku bisa menemukanmu." Nyonya Rosana terlihat mendekati Dasha dengan tergopoh-gopoh.


"Nyonya Rosana, ada apa Nyonya sampai repot-repot mencariku?" tanya Dasha dengan alis bertaut.


Nyonya Rosana terlihat menggeleng berkali-kali. "Akhh ... tidak ... tidak ... aku sama sekali tidak merasa repot Dasha, aku bahkan sengaja mencarimu kemari ..." Nyonya Rosana berdiri dihadapan Dasha dengan wajah yang penuh senyuman.


Tidak hanya itu, suara wanita bertubuh tambun itu saat ini bahkan terdengar sangat lembut dan lemah gemulai.


Baik Dasha, Mona maupun Devon nampak menatap Nyonya Rosana dengan wajah mengira-ngira.


Tinggal di asrama selama dua pekan telah membuat ketiganya mengenal dengan baik seperti apa watak wanita yang sering disapa oleh semua penghuni asrama itu dengan sebutan Nyonya Rosana.


Tak ada yang tidak mengenal wanita paruh baya itu, karena Nyonya Rosana adalah seorang kepala asrama yang terkenal judes dan tidak suka tersenyum kepada siapapun.


Jadi wajar saja jika saat ini mereka bertiga seolah sedang menyaksikan salah satu dari sekian banyak keajaiban dunia, yakni ... senyum Nyonya Rosana!


"Dasha, pergilah benahi semua barang-barangmu. Karena mulai hari ini kau tidak akan tinggal diasrama lagi, melainkan bersama Tuan Luiz."


Dasha terhenyak mendengarnya.


"Hah ...?! T-tapi Nyonya Rosana, aku lebih suka tinggal di asrama dengan teman-teman lainnya ..."


"Jangan membantah. Pergilah sekarang dan benahi semua pakaian dan barang-barang lainnya. Kau harus bergegas, jangan membuat Tuan Luiz menunggumu terlalu lama. Ayo cepat!"


"Baiklah, Nyonya ..."


Meskipun dengan berat hati, akhirnya Dasha pun hanya bisa mengangguk pasrah, menerima keputusan Nyonya Rosana yang mutlak, tak bisa lagi ditolak.


"Dasha, sebenarnya siapa gerangan tuan tampan itu? Kenapa kau bisa mengenalnya?" Mona tidak bisa lagi menunggu lebih lama dalam menuntaskan rasa penasaran yang ada dilubuk hatinya. Untuk itulah dia langsung bertanya, begitu sosok Nyonya Rosana menghilang kembali dibalik deretan rak yang ada di perpustakaan.


"Itu adalah Tuan Luiz." jawab Dasha dengan bermalas-malasan.


"Tuan Luiz? Kenapa nama itu sepertinya sangat familiar ditelingaku ...?" Devon terlihat berpikir sejenak, seolah memutar otaknya guna menemukan sebuah clue.


"Devon, tak heran jika kau merasa tidak asing dengan namanya, karena Tuan Luiz adalah salah satu dari putra kembarnya Tuan Arshlan, yang kelak akan menjadi pewaris perusahaan." jawab Dasha panjang lebar.


"Astaga, Dasha kau benar ...!" Devon terlihat menjentikkan jarinya dengan wajah yang semringah.


Wajar saja jika Devon merasa familiar, karena saat ini ayah Devon bisa dikategorikan sebagai salah satu karyawan yang ada di kantor pusat perusahaan milik Tuan Arshlan yang dipercayakan untuk memangku salah satu jabatan yang lumayan strategis disana.


"Aku sering sekali mendengar cerita tentang Tuan Arshlan dan Tuan Luiz. Ayahku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mengagumi mereka." ujar Devon dengan bersemangat.


"Dasha, tolong ceritakan padaku bagaimana rasanya memiliki kerabat yang sekeren Tuan Luiz ..." Mona menambahkan kalimat Devon, wajahnya terlihat berbinar-binar.


"Biasa saja." jawab Dasha dengan malas-malasan.


"Dasha, apa Tuan Luiz sudah punya kekasih ...?" bisik Mona lagi semakin merasa penasaran.


"Sudahlah, jangan bertanya hal yang aneh dan tidak bermutu seperti itu. Kau ini hanya membuang waktu Dasha saja!" pungkas Devon dengan wajahnya yang mendadak kesal.


"Egh, Devon, kau ini kenapa? Aku kan hanya bertanya ..."


"Tapi pertanyaanmu itu tidak berguna."


"Kenapa kau marah ...?!"


"Siapa yang marah ...?!"


"Ahhh, D-Devon, jangan bilang kalau kau sedang cemburu yah ..."


Mendengar itu otomatis sepasang mata Devon melotot sewot. "Egh, apa kau bilang?! Aku ...?? Cemburu kepadamu ...?!"


"Hhhmm ...!!"


"Kau sudah gila yah?!" umpat Devon dengan begitu kesal kearah Mona, yang malah balas menatapnya dengan tatapan mengejek.


"Mona, kau ..."


"Oh, Tuhan, ada apa sih dengan kalian?! Kenapa kalian malah bertengkar? Apakah kalian berdua sama sekali tidak memikirkan perasaanku yang sedih karena harus berpisah dengan kalian ...?" Dasha menggerutu kesal sambil menatap Devon dan Mona berganti-ganti.


"Maafkan aku, Dasha, aku juga sedih berpisah denganmu. Tapi apa yang harus aku lakukan ...? Aku tidak mungkin ikut denganmu dan tinggal bersama Tuan Luiz, bukan ...?"


Mendengar kalimat spontan Devon, mulut mungil Dasha terbuka dengan refleks.


"D-Devon kau sadar tidak dengan apa yang barusan kau katakan?"


Devon menatap Dasha dengan tampang blo'on. "Memangnya aku mengatakan apa?"


"Oh tidak, aku bahkan tidak percaya kau bisa memberiku ide yang sangat cemerlang ...!" Dasha memekik dengan ekspresi wajahnya yang riang bukan kepalang.


Devon yang belum juga mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Dasha sontak menatap Mona yang malah mengangkat kedua bahunya dengan wajah bingung seperti dirinya.


"Kita bertiga akan berkemas ...!" ucap Dasha dengan wajahnya yang semakin berseri-seri.


"Kita bertiga ...?"


"Kita bertiga ...?"


Devon dan Mona berucap berbarengan.


Untuk yang kesekian kalinya Devon dan Mona kembali bertatapan dengan wajah bingung. Belum sepenuhnya paham dengan apa yang sedang berusaha disampaikan oleh Dasha yang dari wajahnya telah terlihat sangat bersemangat.


"Dasha, aku belum mengerti dengan apa yang kau inginkan ..."


"Jangan membuang waktu lagi, mari kita berkemas."


"Tapi kenapa aku dan Devon juga harus berkemas..."


"Kenapa? Tentu saja karena aku tidak rela berpisah dengan kalian. Aku sudah memutuskannya, bahwa kita bertiga ..."


Dasha terlihat menarik nafasnya sejenak dengan tatapan yang masih silih berganti menatap kearah Devon dan Mona.


"Kita bertiga ... akan keluar dari asrama ini, dan tinggal di apartemen Tuan Luiz, sampai dua minggu kedepan, sampai program ini selesai ...!"


"Hah ...?!"


"Hah ...?!"


Lagi-lagi ... Devon dan Mona telah mengucapkan hal yang nyaris bersamaan, tentu saja disertai dengan dua pasang mata yang juga melotot lebar.


Sementara Dasha hanya tertawa melihat ekspresi wajah kaget yang menghias jelas di raut wajah kedua sahabat karibnya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Luiz sedang bersandar acuh dipintu mobilnya.


Pria tampan itu bukan tidak menyadari sekian banyak pasang mata yang sedang mengawasi keberadaannya saat ini.


Pada kenyataannya mereka semua sudah berada disana sejak awal, dan terus berada disana seolah tak pernah bosan mengawasi Luiz, bahkan sejak awal mobil mewah milik Luiz yang berwarna hitam pekat itu secara tiba-tiba memasuki gerbang asrama, sebelum akhirnya memarkirkan diri dengan elegan dibawah sebatang pohon akasia, yang tumbuh tak jauh disamping lapangan basket.


Luiz yang turun dari mobil dengan kaca mata hitamnya terlihat begitu percaya diri, saat melangkah keluar dari dalam mobil ... melenggang acuh melintasi lapangan basket dibawah teriknya matahari sore ... dan dengan tekad pasti langsung menuju ruang kepala asrama, yang tak lain adalah Nyonya Rosana.


Nyonya Rosana yang sama sekali tidak menyangka akan didatangi oleh pengusaha muda tersukses di negeri ini, yang kebetulan merupakan salah satu dari jejeran donatur elite terbesar untuk sekolah itu nyaris tidak bisa menggerakkan lidahnya yang mendadak kelu, saat harus dihadapkan oleh pesona Tuan Luiz yang menguar hebat dari diri pria menawan itu.


"Aku ingin menjemput Dasha. Aku merasa was-was jika membiarkan Dasha terus-menerus tinggal diasrama sekian lama, sampai program ini berakhir pada dua pekan depan." ujar Luiz to the point, begitu tubuhnya terduduk sempurna didalam ruangan Nyonya Rosana.


Luiz merasa tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang siapa dirinya, karena sepertinya tidak ada lagi satupun penduduk negeri ini yang tidak mengenal siapa Luiz.


Meskipun Luiz bukanlah seorang aktor dan model papan atas seperti halnya Leo, tapi secara popularitas, keduanya cukup berimbang.


Luiz telah menjadi seorang pengusaha sukses diusianya yang tergolong muda. Apalagi dalam waktu dekat Luiz juga akan menjadi pewaris utama yang kelak akan mengambil alih semua tanggung jawab dalam menjalankan semua bisnis milik Tuan Arshlan, sesuai dengan janjinya.


"Oh, tentu ... tentu saja bisa Tuan Luiz. Kami selaku penanggung jawab asrama sama sekali tidak keberatan, jika itu merupakan hal yang diinginkan oleh Tuan Luiz ..."


Begitulah ...


Hanya seperti itu ceritanya ...


Karena memang sejauh ini, tak ada satupun hal yang terasa begitu sulit bagi Luiz.


Usai menemui Nyonya Rosana, Luiz memilih menunggu dimobil, namun setelah setengah jam berlalu, Luiz belum menemukan tanda-tanda kehadiran Dasha.


Merasa bosan menunggu dan berada didalam mobil akhirnya Luiz memutuskan keluar, menyandarkan tubuh atletisnya dengan santai, dipintu mobil yang terkatup rapat.


Luiz menghirup udara sore yang terasa segar, sambil mengabaikan sekian banyak pasang mata yang seolah tak pernah bisa berhenti mengawasinya.


Kesabaran Luiz nyaris hilang seutuhnya, manakala sosok gadis yang dinanti tiba-tiba telah berada tepat dihadapan Luiz dengan wajah penuh senyuman.


"Tuan Luiz, kami sudah siap."


Alis Luiz mengerinyit, saat menyadari jika gadis yang sedang menenteng tas punggung dan sebuah travelbag dengan bahan kulit sintetis berukuran sedang itu ternyata tidak sendirian.


Dibelakangnya ada sepasang remaja yang seumuran dengannya, terlihat berpenampilan serupa, lengkap dengan tas punggung dan travelbag ditangan.


"Kami ...?" ulang Luiz sangsi bahwa jangan-jangan ia telah salah mendengar.


"Iya, Tuan. Kami."


"Kami ...?" ulang Luiz lagi seolah semakin meragukan pendengarannya sendiri, namun yang ada Dasha malah semakin terlihat mengangguk yakin.


"Iya, Tuan, Kami. Kami bertiga ...!"


Luiz terhenyak sempurna mendengarnya.


"Halo Tuan Luiz, aku Mona, teman Dasha ..." Mona melambaikan tangannya dengan senyum malu-malu.


"Aku, Devon. Aku ... aku juga teman Dasha ..." ujar Devon sedikit kikuk.


Luiz menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan sekali hentakan. Kali ini, ia yakin bahwa dirinya tidak lagi salah menduga, tentang keberadaan dua remaja yang entah darimana asal-usulnya ini.


"Dasha, kau ..."


Luiz merutuk geram dengan gigi yang saling merapat satu sama lain, namun ia urung meneruskan kekesalannya, saat mendapati sepasang mata Dasha yang mengerjap indah dipenuhi bujuk rayu, membuat Luiz mende sah pasrah menerima kenyataan ...


...


Bersambung ...


Hai, cuma mau nanya, kemarin aq dapat pemberitahuan dari editor bahwa novel ini mendapatkan promo untuk genre 'digemari masyarakat'.


Sayangnya promo itu gak muncul di aplikasi aq. Bagaimana dengan aplikasi kalian? apakah kalian pernah melihat novel ini mendapatkan promo dari Noveltoon?


Kalau 'Iya' aq minta tolong untuk di screenshoot dan kirimkan ke aq via chat yah ... plisss πŸ™


Terima kasih sebelumnya ... πŸ€—