TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 53. Cemburu


"Kenapa diam? Jangan bilang kalau sekarang kau sedang terharu ..."


Luiz berucap santai, namun pada kenyataannya Dasha terus menatap pria dihadapannya dengan tatapan lekat, sebelum akhirnya ia telah menubruk tubuh kekar Luiz hingga nyaris terlentang.


"Tuan melarangku untuk terharu, tapi Tuan sendiri malah melakukan hal semanis ini ..."


Luiz tertawa mendapati kalimat protes Dasha, yang diiringi sikapnya yang begitu manja.


"Makanya, di kemudian hari, berhentilah menyimpulkan sesuatu yang tidak-tidak." nasihat Luiz masih dengan sisa tawanya.


"Habisnya ... Tuan telah membuatku merasa sangat cemburu."


"Aku ...?" alis Luiz bertaut.


"Iya, karena Tuan sangat peduli pada Nona Victoria ..."


Luiz menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Tidak ... tidak ... Dasha, bukan seperti itu. Kenyataannya Victoria adalah istri Leo. Bagaimana mungkin aku bisa menutup mata jika melihat kesulitannya didepan mataku ...?"


Dasha membisu, hanya ujung jemarinya yang tetap memainkan permukaan kaos Luiz yang melekat didada bidang pria itu.


"Lagipula apa kau tidak merasa kasihan kepadanya? Dia selalu di acuhkan oleh semua orang, dia bahkan tidak punya teman ..."


"Itu karena kesalahannya sendiri. Karena dia selalu bersikap menyebalkan." kembali bersungut manja, masih dalam pelukan Luiz.


Luiz terdiam.


Dasha tidak salah, karena pada kenyataannya sejak awal sifat dan sikap Victoria pastilah akan terlihat menyebalkan untuk sebagian orang.


Angkuh dan over confidence. Sejak awal mengenal Victoria, Luiz pun bisa menilai Victoria dengan baik.


Meskipun sepertinya wajar saja jika Victoria menjadi seperti itu, karena Luiz bahkan ikut andil dalam membentuk kepercayaan diri Victoria menjadi semakin sempurna. Tapi dibalik semua hal yang Luiz lakukan, tidak bisa dipungkiri bahwa Victoria memanglah sosok yang cerdas, giat, dan tekun. Victoria adalah wanita kuat dan pekerja keras!


Untuk itulah, mendapati Victoria sekarang ini membuat Luiz mau tak mau sedikit khawatir.


Meskipun Victoria masih bisa berdiri dengan kepercayaan serta keyakinan diri yang seolah tak berkurang, namun sepasang mata Victoria tidak bisa membohongi Luiz, bahwa didalam sana ... ada luka yang sangat menganga, yang telah ia sembunyikan dihadapan semua orang ... tapi tidak dengan Luiz.


Apakah yang bisa membuat Victoria rapuh? Siapakah yang bisa mengubah Victoria menjadi lemah?


Apakah itu cinta ...?


Dan orang itu adalah Leo ...?


Sepertinya ...


"Lagipula tidak ada yang mengacuhkan dirinya. Dia sendiri yang suka menyendiri. Bahkan saat bersama Nyonya Lana sekalipun, Nona Victoria lebih banyak berdiam diri daripada mengajak Nyonya Lana berbincang ..."


"Mungkin karena dia merasa segan, dan tidak enak memulai pembicaraan terlebih dahulu." kemudian Luiz berucap pelan. "Kau sendiri ... kenapa kau tidak mencoba menjadi temannya?"


"Dia tidak menyukaiku."


"Mungkin hanya perasaanmu saja ..."


Dasha menggeleng tegas. "Tuan, aku tidak hanya sekedar berprasangka, tapi dia sendiri yang mengatakannya padaku."


"Oh ya? Apa katanya?" selidik Luiz penasaran, tapi dalam hati merasa lucu dengan nada suara Dasha yang terkesan seolah sedang mengadukan temannya yang nakal.


"Katanya aku adalah pencuri perhatian. Dia selalu kesal setiap kali aku bersenda gurau dengan Tuan Leo ..."


"Kalau seperti itu aku justru setuju dengan Victoria."


"Ap-pa?!" sepasang mata indah Dasha terbelalak mendengar kalimat enteng Luiz. Ia seperti tidak terima jika Luiz malah sepaham dengan Victoria.


"Tuan, kau ... kau ..."


"Victoria pasti merasa cemburu melihat suaminya bersenda gurau dengan seorang gadis cantik sepertimu."


Detik berikutnya pipi Dasha bersemu mendengar kalimat Luiz, yang secara tidak langsung telah menyebut dirinya 'cantik'.


"Bukan hanya Victoria, aku juga tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan Leo, dengan teman-teman priamu meskipun itu Devon, atau pria manapun. Kau paham?" Luiz menowel ujung hidung Dasha yang mancung.


"Tuan, kau sedang cemburu ya?" usut gadis itu penuh semangat.


"Menurutmu?"


"Egh, aku ... aku hanya tidak menyangka kalau Tuan juga bisa cemburu, bahkan kepada Tuan Leo sekalipun ..." saat berucap demikian, raut kebahagiaan nampak menjalari sekujur wajah halus milik Dasha.


"Sejak awal aku sudah mengatakannya, bukan? Bahwa tidak ada yang boleh mendekatimu, karena kau ... hanya milikku seorang."


Suara berat Luiz seolah mengisi seluruh ruang yang ada dihati Dasha, menyelinap kedalam sanubari sekaligus mengintimidasi dengan cara yang mendebarkan ... sedikit menakutkan ... namun teramat sangat manis, sukses membuat Dasha terpukau begitu rupa.


"Dasha, apa kau mengerti semua yang aku katakan? Kau tahu tidak bagaimana rasanya cemburu?"


Dasha mengangguk bodoh, lidahnya bahkan tercekat dan kelu. Dasha juga merasa tidak bisa bernafas dengan benar dalam keadaan wajahnya yang sedekat itu dengan wajah Luiz.


Hening.


Saking heningnya hingga seolah hanya detak jantung masing-masing dari merekalah yang detaknya terdengar riuh rendah.


Dasha merasa sekujur tubuhnya membeku laksana bongkahan es, sementara Luiz merasa sebaliknya, seluruh tubuhnya seolah dialiri lahar gunung berapi yang sangat panas membara.


Setelah beberapa saat lamanya mereka membisu dan saling pandang seperti itu, Luiz pun menurunkan tangannya dan menarik diri.


Luiz beringsut dari atas ranjang Dasha tanpa kata, namun detak jantungnya masih saja berdebar tak beraturan.


"Tidurlah ..." imbuh Luiz, laksana prajurit yang menyerah, kalah sebelum berperang.


"Tuan mau kemana?"


"Aku akan kembali kekamarku."


"Tuan, aku tahu rasanya!"


Langkah Luiz terhenti mendengar kalimat yang menyeruak tiba-tiba itu, namun ia tak kunjung menoleh, hanya mematung ditempatnya berpijak.


"Aku tahu bagaimana rasanya cemburu. Iya, Tuan, tentu saja aku tahu."


Luiz masih membeku ditempatnya, belum bergerak seinchi pun.


"Saat Tuan menawarkan diri mengantarkan Nona Victoria, aku cemburu! Saat Tuan menyuruh aku duduk dibelakang dan Nona Victoria duduk didepan, aku juga cemburu! Saat melihat Tuan berdua saja didalam mobil dengan Nona Victoria ... aku juga cemburu ...!!"


Luiz membalikkan tubuhnya, menatap Dasha penuh.


"Bukan hanya itu saja ..."


Dasha menatap luiz lekat-lekat.


"Saat aku melihat Nona Helena berada di apartemen Tuan di pagi hari dengan penampilan yang berantakan, aku sangat cemburu. Saat Nona Melanie terlihat begitu akrab dengan Tuan di bioskop, aku juga cemburu. Bahkan saat membaca semua berita affair Tuan selama ini dengan begitu banyak wanita, aku juga cemburu!!"


Sergah Dasha dengan wajah yang memerah sempurna, seolah menahan berjuta rasa yang menghantam bilik hatinya.


"Bukan hanya cemburu, karena rasanya aku juga ingin mencakar wajah setiap wanita yang terhubung dengan Tuan ...!!"


Luiz terhenyak mendengar kalimat bar-bar tersebut, terlebih saat menyaksikan sepasang mata Dasha yang berkilat-kilat menandakan kekesalannya, semua itu seolah membuat Luiz tersadar bahwa gadis itu telah mengatakan kebenaran, yang bahkan ia sendiri pun tidak menyadarinya, bahwa ia telah melukai hati Dasha tanpa ia sadari.


Betapa bodohnya!


Setelah terpaku ditempatnya sekian lama, entah dorongan darimana yang telah membuat langkah Luiz terayun ringan.


Luiz menaikkan satu dengkulnya keatas ranjang saat meraup dagu gadis itu agar bisa mengawasinya lebih dekat. Sepasang mata Luiz terus mengawasi seraut wajah Dasha yang semakin dekat ... terus mendekat ...


Disaat seperti ini Luiz harus mengakui bahwa kini bukan topik pembicaraan Dasha saja yang telah menarik perhatiannya, melainkan sebuah bibir yang terlihat berwarna pink alami. Penuh dan padat, membuat Luiz ingin mencicipinya.


'Luiz ... tolong kendalikan dirimu ...'


'Cukup alihkan pandangan matamu dari bibir yang merekah itu ...!'


Bathin Luiz mulai riuh rendah saat berupaya menyadarkan dirinya sendiri.


Luiz bahkan harus menelan ludahnya terlebih dahulu saat memutuskan untuk kembali beringsut turun dari tempat tidur Dasha, diiringi tatapan heran gadis itu.


"Tuan Luiz ..."


"Tidurlah, sudah malam." kalimatnya begitu dingin dan datar.


Kali ini, tidak menunggu waktu lebih lama lagi, manakala Luiz memutar roset pintu dan membukanya, sebelum akhirnya punggung pria itu menghilang sepenuhnya dibalik tembok ...


...


Bersambung ...