TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 5. Vampire


Untuk hari ini semuanya berjalan dengan lancar, karena Leo telah menandatangani kontrak persetujuan dirinya sebagai brand ambassador resmi dari perusahaan daddynya sendiri.


Siang ini, Uncle Her yang memiliki pertemuan penting dengan salah satu pemegang saham tidak bisa berlama-lama. Pria tua itu telah menyerahkan semua urusan mengenai kontrak eksklusive tersebut, agar sepenuhnya dieksekusi oleh Luiz saja.


Sementara untuk persoalan berbagai dokumen yang diperlukan telah dihandle dengan baik oleh Victoria.


Luiz meninggalkan Leo dan Victoria sejenak, saat menyadari bahwa ia telah meninggalkan ponselnya diatas meja.


"Tuan Luiz, kapan semuanya selesai? aku sudah bosan ..." rengek Dasha saat melihat Luiz datang sebentar mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja, kemudian hendak pergi lagi.


"Tunggulah sebentar, dan jangan melakukan hal yang aneh." titah Luiz sambil lalu.


Luiz memasukkan ponselnya kesaku celana dan kembali membalikkan tubuhnya, berjalan keluar dari ruangannya.


"Tuan Leo, aku tau kau pasti merasa tidak nyaman dengan keberadaanku. Tapi bisakah aku diperlakukan sebagai teman biasa? tidak perlu menghindar, terus bertegur sapa, sesekali bersenang-senang, tanpa perlu sebuah komitmen yang mengikat ..."


Luiz urung memasuki ruangan Uncle Her yang bersebelahan tepat dengan ruangannya, manakala telinganya menangkap jelas ucapan Victoria yang terdengar lirih.


Leo tak langsung menjawabnya, dan entah kenapa disituasi tersebut Luiz malah tidak langsung menjauh tapi terus berada disana seolah tak kuasa menggerakkan kakinya untuk berlalu.


"Sejak kejadian dimalam itu, Luiz telah menjauhiku secara terang-terangan ..."


"Apa kau menyukai Luiz?" pungkas suara Leo.


Diluar sana Luiz menarik nafas, dadanya bergemuruh aneh entah kenapa, saat harus menanti detik-detik jawaban Victoria.


"Aku sangat mengagumi Luiz, tapi sejujurnya orang yang kusukai adalah dirimu."


"Victoria ..."


"Tidak, tidak, jangan salah sangka. Aku memang menyukaimu, tapi aku juga tidak mengharapkan perasaanku akan dibalas setimpal."


Ruangan Uncle Her kembali hening untuk kesekian kalinya, kali ini lebih lama.


"Lalu apa yang kau inginkan?" suara berat Leo terdengar lagi.


"Terserah padamu. Kau ingin menganggap diriku apa. Tuan Leo, kapan pun kau datang pintu hatiku terbuka. Kapan pun kau ingin pergi, aku berjanji tak akan menyulitkanmu ... kedepannya mari kita menjalin hubungan yang masing-masing memiliki benefit ..."


Untuk beberapa saat tidak terdengar ucapan apapun dari bibir kedua manusia yang berada didalam ruangan Uncle Her, namun tak lama setelahnya, Luiz malah mendengar suara khas pertukaran saliva yang sangat jelas, menandakan sebuah pertautan dua bibir telah berlangsung dengan hebatnya.


Luiz nyaris tidak bisa menguasai dirinya manakala ia berbalik dan malah mendapati wajah mungil Dasha berada tepat dibelakang tubuhnya.


Dasha tidak hanya sekedar menguping pembicaraan Leo dan Victoria seperti halnya yang Luiz lakukan, karena gadis bertubuh kurus itu malah dengan terang-terangan melongokkan kepalanya, seolah ikut menyaksikan secara langsung adegan long kiss antara Leo dan Victoria, yang suara kecipaknya terdengar begitu menggoda.


"Aaaaa ... uppsss ...!"


Teriakan kaget Dasha terbungkam sempurna oleh telapak tangan besar milik Luiz.


Luiz bahkan tidak memerlukan tenaga ekstra saat harus menyeret paksa tubuh mungil Dasha menuju ruangannya yang berada tepat disebelah ruangan Uncle Her.


Bugh.


Tubuh Dasha terhempas keatas sofa, dengan Luiz yang berdiri berkacak pinggang tepat dihadapan gadis itu dengan wajah yang menyeramkan.


"Apa yang kau lakukan? kau mengintip ya?!" semprot Luiz tanpa ampun.


Dasha menggeleng berkali-kali, penuh penyangkalan. "Bukankah yang mengintip itu justru Tuan Luiz?"


Luiz melotot mendengar tuduhan balik tersebut. "Apa kau bilang ...?!"


"Aku baru mengintipnya sebentar, tapi justru Tuan Luiz yang sudah mengintip lebih dahulu sebelum aku ..."


Luiz melotot kesal mendengar bantahan itu, dan semakin melotot saat mendengar kalimat polos yang terucap begitu saja kearah Luiz.


"Tuan, apa Tuan melihatnya juga? tadi Tuan Leo mencium Nona Victoria seperti adegan yang ada di film ..." gadis itu terkikik lucu, seolah tak peduli dengan bola mata Luiz yang seakan hendak terlepas dari cangkangnya.


Luiz menghela nafasnya yang dipenuhi kekesalan. "Dasha, apakah kau benar-benar menonton film Romeo Love Story sebanyak enam kali?" usut Luiz sedikit ragu.


"Tentu saja benar. Tuan tahu tidak kalau di film itu Tuan Leo berciuman sebanyak sebelas kali dengan wanita yang berbeda dan berakhir dengan melakukannya ..."


"Hentikan."


"Tapi ..."


"Kalau kau terus membahas setiap adegan di film itu, dan kalau kau tidak menghentikannya ... maka aku akan menghukummu." titah Luiz, sedikit pun tidak main-main. Tapi bukannya menciut, wajah Dasha justru terlihat berbinar-binar mendengar ancaman Luiz.


"Kalau kau tidak menghentikannya, maka aku akan menghukummu. Astaga ... sulit dipercaya Tuan bisa mengucapkan ancaman seperti itu ..."


"Apa maksudmu?!"


"Kalimat itu sama persis dengan dialog Tuan Leo, sebelum mencium gadis kesebelas .."


"Oh my gosh. Dasha, tolong hentikan." Luiz mengacak rambutnya sendiri dengan wajah frustasi, menghadapi Dasha yang masih saja membahas adegan dewasa dari film Romeo Love Story yang diperankan oleh Leo.


Untuk sesaat Luiz bisa bernafas lega, karena pada akhirnya gadis itu benar-benar menutup mulutnya meskipun dengan bibir yang naik dua centi.


Tapi seperti biasa semua ketenangan itu pastinya tidak pernah bertahan lama, karena suara Dasha kembali menyeruak.


"Diamlah, Dasha. Semua ocehanmu membuat mataku berkunang-kunang!" semprot Luiz geram karena kesulitan mengendalikan Dasha.


"Tuan Luiz, apakah kau menyukai Nona Victoria?"


"Dasar bocah kecil..! kau ini bicara apa..?" pungkas Luiz, kali ini sedikit panik.


"Aku bisa melihatnya, kau menyukai Nona Victoria tapi Nona Victoria malah mencium Tuan Leo dengan bersemangat."


"Dasha ...! astaga ... kau ini...!! berapa sih umurmu sampai kau selalu bicara dan membahas tentang ciuman seolah kau adalah pakarnya saja ...!!"


Luiz memijat kedua alisnya sambil berjalan mondar-mandir kesana-kemari. Kepalanya selalu saja merasa pening saat harus berhadapan dengan Dasha, dengan seluruh perkataan dan argumennya yang seolah berpuluh-puluh kali lipat lebih dewasa dari umurnya sendiri.


'Ini semua karena Mommy! entah kenapa dengan begitu banyak tanggung jawab yang diberikan kepadaku, aku juga harus diberikan tanggung jawab untuk mengurus bocah kecil yang aneh ini ...?! haihh ...!!'


Luiz tak henti-hentinya merutuk dalam hati, sebelum akhirnya memutuskan untuk menghempaskan tubuhnya keatas sofa, tepat disisi Dasha yang terus saja menatap tindak-tanduk Luiz nyaris tanpa berkedip.


"Tuan, aku rasa, saat Nona Victoria mengatakan bahwa dia menyukai Tuan Leo ... dia pasti berbohong."


"Apa maksudmu?" Luiz menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi memijat alis.


Meskipun kesal, tapi Luiz sendiri tidak bisa mencegah rasa ingin tahunya atas apa yang sedang bersemayam dalam otak aneh bin ajaib milik Dasha, sehingga terlontar dalam kalimatnya yang bermakna ambigu.


"Karena sepertinya orang yang Nona Victoria sukai justru adalah Tuan Luiz, bukan Tuan Leo."


"Kau ini bicara apa ..."


"Yang aku katakan ini benar, Tuan. Nona Victoria itu menyukaimu, tapi karena Tuan selalu jual mahal dan tidak bisa didekati, maka ia mengganti targetnya begitu saja."


"Astaga, Dasha, bisa-bisanya kau menyimpulkan hal semrawut didalam otakmu yang kecil itu ...!"


"Eiitt ... Tuan Luiz, kau jangan salah. Justru aku menilai semua kejadian didepan mataku dengan sangat baik dan akurat ..."


"Kau seharusnya memakai otakmu untuk belajar, bukan memikirkan persoalan orang dewasa ...!" Luiz berucap dingin sambil menoyor kepala Dasha.


"Itu karena semua persoalan orang dewasa selalu terjadi didepan mataku ..."


"Kalau begitu tutup saja matamu!"


"Tapi nanti aku tidak bisa melihat ..."


"Sudah, diam." sepasang mata Luiz telah melotot sempurna kearah Dasha yang berada disampingnya.


Dan entah siapa yang memulainya tiba-tiba saja mata mereka telah bertaut lama tanpa kata.


'Indah ...'


'Dan berwarna coklat muda ...'


Luiz terhenyak menyadari suara hatinya yang bergema, saat tatapannya seolah tenggelam dalam sepasang mata Dasha yang berpendar jernih dan ... indah.


'Oh, astaga ... aku ini ... sedang memikirkan apa ...?'


"Tuan Luiz ... kau pernah tidak menonton film Twilight Saga?"


Pertanyaan aneh Dasha cukup membuat Luiz tersadar dari keterpukauannya, namun seperti biasa ia telah begitu pandai mengendalikan dirinya saat memutuskan untuk menggeleng acuh.


"Sayang sekali Tuan tidak menontonnya. Padahal Aku merasa pemeran utamanya sangat mirip dengan Tuan ..."


Mendengar kalimat itu mau tak mau Luiz kembali merasa penasaran. "Siapa yang kau maksud pemeran utamanya ...?"


"Edward cullen ..."


"Edward cullen ...? siapa dia ...?"


"Dia adalah vampire!"


Sepasang mata Luiz sontak kembali melotot menerima jawaban lugas tersebut.


"Jadi kau mau menyamakan diriku dengan seorang vampire..?!"


Suara tawa renyah Dasha yang terkikik jelas menyeruak, meskipun gadis itu telah berusaha menahannya mati-matian.


"Tuan, kau sadar tidak, kalau kulitmu sangat pucat seperti vampire, begitupun dengan sifatmu ... sangat dingin. Hhiii ...!"


"Kau..??!"


Luiz baru saja berniat menghadiahi Lana dengan sebuah pelototan yang tajam, namun urung manakala meihat sosok Leo yang melangkah masuk kedalam ruangannya.


"Dasha, kau jangan mengganggunya lagi. Apa kau tidak takut diterkam?"


Ucap Leo dengan senyum semringah, dibelakangnya ada Victoria yang menguntit langkah Leo sambil memeluk sebuah map file berisikan dokumen kontrak yang barusan telah ditandatangani oleh Leo.


Disudut bibir Victoria yang awalnya tersenyum, kini sedikit berkedut, saat menyadari, lagi-lagi ... Dasha terlihat begitu dekat dengan Leo, terlebih Luiz.


... Next