
TRIPLE UP.
Jangan lupa LIKE dulu bab sebelumnya yah ... 🙏
...
Dasha berdiri mematung menatap semuanya.
Kehadiran seorang pria paruh baya seusia Tuan Arshlan beserta seorang wanita cantik, disambut dengan suka cita oleh Arshlan, Lana dan Luiz.
Wanita cantik itu ... Florensia. Dia adalah wanita yang benar-benar sempurna.
Cantik, terlihat sopan, apalagi dia adalah putri tunggal yang berasal dari keluarga kaya raya.
Sungguh wanita yang sangat cocok untuk mendampingi Luiz.
"Dasha, kau melamun?"
Sebuah sentuhan lembut dibahu kanan, telah menerbangkan lamunan Dasha hingga tak bersisa.
"Egh ... oh ... Nona Vic ...?"
Alis Victoria bertaut saat mendapati Dasha yang tergeragap, dengan wajahnya yang pucat. "Dasha, kau kenapa? Kau sakit?"
"Tidak, tidak, aku tidak apa-apa ..." kilah Dasha mencoba tersenyum, guna mengalihkan kecurigaan Victoria yang terlanjur melihat raut wajahnya yang buruk.
"Kalau begitu pergilah kedepan. Tamu daddy sudah datang, dan Daddy menyuruhku memanggil Leo terlebih dahulu ..."
"I-iya, Nona Vic ..." tak ada lagi alasan.
Pada akhirnya Dasha pun berjalan gontai menemui tamu yang dinantikan seluruh keluarga Arshlan, sementara Victoria masuk kedalam untuk memanggil Leo.
"Dasha, kemarilah sayang, kau juga harus berkenalan dengan Florensia ..." Lana tersenyum kearah Dasha yang sedang mendekat.
Dasha menyalami Tuan Jody Frederick terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengulurkan tangannya kearah Florensia yang entah kenapa terus menatap Dasha tanpa berkedip.
"Aku Dasha, senang mengenalmu, Nona ..." lirih Dasha mencoba mengulas senyum, berusaha sekuat tenaga tidak menoleh kearah Luiz yang berdiri mematung tanpa ekspresi, tepat di samping Florensia, sambil menatap lekat manik matanya.
"Senang mengenalmu juga Dasha, namaku Florensia ..."
Sepasang mata Dasha seolah terbakar, rasanya ada lahar yang ingin keluar dari sana, tapi telah ditahannya dengan sekuat tenaga.
Usai berjabat tangan, Dasha memilih mundur, berdiri disamping Lana.
"Itu Leo, saudara kembar Luiz ... dan menantuku Victoria ..."
Arshlan sontak berucap sambil mengarahkan telunjuknya kearah pria berkulit eksotis, yang muncul dengan menggandeng mesra seorang wanita.
Namun begitu keduanya muncul, tiba-tiba secara bersamaan seorang pria berwajah oriental pun muncul dari arah yang sama.
Leo, Victoria dan El.
Ketiganya berjalan mendekat dengan langkah lebar, disertai senyum yang tersungging di bibir masing-masing, namun perhatian Jody Frederick justru tertuju penuh pada pria berkulit putih, yang melenggang tenang disamping Leo.
Berbeda dengan Florensia, wanita itu justru terhenyak kaget dengan pemandangan seorang wanita yang merupakan menantu keluarga Arshlan.
'Menantu keluarga Arshlan ...?'
'Victoria ...?'
Bagi Florensia, rasanya tak ada lagi pemandangan yang lebih mengejutkan, dari pemandangan kedua lengan milik Leo dan Victoria yang saling bertaut mesra, sementara disamping pasangan tersebut ada El yang berjalan gagah, penuh percaya diri.
"El ...?" alis Jody Frederick bertaut nyata saat menyadari, bisa-bisanya ia kembali bertemu dengan El, di ranch milik keluarga Arshlan.
Menanggapi keterkejutan Jody Frederick, El yang merupakan pria yang dimaksud malah membalas keterkejutan tersebut dengan senyum yang menawan.
"Apa kabar, 'Ayah' ...?"
Wajah Jody Frederick merah padam, oleh karena sapaan 'Ayah' yang terucap tanpa canggung.
Saking gemasnya, rasanya ingin sekali Jody Frederick menjewer telinga El saat itu juga!
"Ayah ...?" ulang Arshlan, yang mengira ia salah mendengar.
"Ahhh ... El adalah salah satu teman Florensia. Semua teman dekat Florensia ... mereka ... memang sering memanggilku demikian ..." tepis Jody Frederick secepat kilat, menepis rasa heran yang telah menggantung di wajah Arshlan dan Lana secara bersamaan, dengan berpura-pura tersenyum akrab, sambil menepuk-nepuk bahu El sejenak.
"Oh, begitu rupanya ..." Arshlan manggut-manggut, sementara Jody Frederick bernafas lega saat menyadari ia berhasil meyakinkan sepasang suami istri dihadapannya.
'Dasar bocah edan ...!'
Rutuk Jody Frederick dalam hati, saat melirik sosok El yang berdiri tenang, sambil menatap berganti-ganti pada dirinya dan Florensia, yang terlihat salah tingkah.
"Aku baru ingin memperkenalkan El, tapi ternyata kalian sudah mengenalnya ..." imbuh Arshlan kearah Jody Frederick dan putrinya.
"Aku tidak mengenal dekat, hanya sekadar tahu saja ..."
"El adalah putra sulung dari seorang parner bisnis, sekaligus sahabat dekat. Kami sengaja menahannya untuk menginap agar bisa ikut makan malam bersama. Aku harap Tuan Jody tidak keberatan ..." ujar Lana kemudian.
"Tidak, tentu saja kami tidak keberatan ..." jawab Jody Frederick sekenanya.
"Tuan Jody, kalau ini adalah Leo, saudara kembar Luiz, dan ini istrinya Victoria ..." Lana mengamit bahu Leo dan Victoria secara bersamaan, lagi-lagi dengan senyum penuh kebanggaan.
Namun begitu Leo dan Victoria mengulurkan tangannya kearah Florensia, mereka mendapati kecanggungan yang menggantung jelas di wajah wanita itu.
Leo dan Victoria sama sekali tidak tahu, betapa shock-nya Florensia saat mengetahui kenyataan yang berada didepan matanya saat ini, situasi rumit ibarat benang kusut yang sulit terurai.
Meskipun Luiz telah memberikan bocoran terlebih dahulu tentang keberadaan El di tempat ini, namun tetap saja Florensia merasa gundah saat harus dihadapkan pada sosok El yang akhir-akhir ini terus ia hindari dengan berbagai cara.
Pada kenyataannya Florensia merasa semua yang ada dihadapanya saat ini, tak ubahnya ibarat lelucon yang ter-skenario dengan begitu apik.
Florensia tetap dipeluk keresahan saat harus berhadapan dengan El, terlebih lagi saat harus menerima kenyataan yang tak kalah mengejutkan, dimana Victoria, wanita yang ia anggap sebagai rival terberat dalam menarik perhatian El selama ini ... wanita yang membuatnya menyerah dengan begitu mudah untuk melepaskan El ...
Tak disangka wanita itu justru berstatus menantu di dalam keluarga Arshlan ...!
Jadi inikah alasan Luiz yang selalu mengatakan bahwa hubungan El dan Victoria adalah mustahil?
Karena Luiz tahu persis, bahwa Victoria adalah istri dari saudara kembarnya Leo, yang merupakan aktor papan atas di negeri ini ...?
'Nasi sudah menjadi bubur Florensia ...'
Bathin Florensia mendadak gundah gulana.
Usai sesi perkenalan keluarga tersebut, Arshlan telah mengajak semua yang ada disana untuk menuju halaman samping, dimana makan malam outdoor dengan tema barbeque party telah dipersiapkan tuan rumah dengan sangat istimewa.
Florensia menahan langkahnya guna bisa berjalan bersisian dengan Luiz yang berada di jejeran paling belakang.
"Ada apa?" kalimat dingin Luiz terucap setengah berbisik.
"Luiz, aku ..."
"Jangan coba-coba mengacaukannya. Kalau kau berani mengacaukan semua ini, maka aku tidak akan mengampunimu ...!" ancam Luiz, seolah tahu bahwa Florensia sedang berusaha bernegosiasi, di detik-detik terakhir.
Florensia menelan ludahnya kelu, hatinya ikut mengkerut mendengar ancaman yang terdengar tidak main-main itu.
Sungguh Florensia tak mengerti, apa yang membuat Luiz berbalik arah dan menginginkan semua ini terjadi.
'Apakah hubungannya dengan Dasha telah berakhir ...?'
Entahlah ...
Satu hal yang pasti adalah bahwa saat ini semua keadaannya telah terbalik seratus delapan puluh derajat, karena yang memimpin sudah bukan Florensia lagi ... melainkan Luiz.
Mau tak mau ... Florensia telah terjebak oleh permainannya sendiri.
Florensia harus pasrah mengikuti alur permainan untuk saat ini, meskipun ia tidak tahu pasti apa yang diinginkan pria dingin itu.
Sementara itu ...
Diam-diam Dasha mengusap sudut matanya yang berair.
Luiz dan Florensia, keduanya berada tepat dibelakang punggung Dasha.
Dasha bahkan bisa mendengar keduanya saling berbisik satu sama lain, meskipun tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
'Ternyata seperti itu ...'
'Ternyata kau hanya mencari kesempatan yang tepat untuk menyingkirkan aku ...'
'Perjodohan ini ... semua ini hanya alibi, agar kau punya alasan untuk semakin menjauhiku!'
'Tuan Luiz ... kau sungguh pria yang brengsek ...!'
Dasha tak henti-hentinya mengumpat dalam hati, saat menyadari betapa bodoh dan naif dirinya, yang selama ini telah mempercayai Luiz lebih dari seribu persen.
Sedangkan Luiz ...
Ia hanya bisa memandangi punggung mungil Dasha yang berada tepat didepan matanya.
'Dasha ...'
Rasanya Luiz ingin memeluk kedua bahu mungil yang pastinya sedang diliputi kesedihan yang mendalam itu.
Hati Luiz terluka.
Yah, hati Luiz terluka oleh karena ia telah melukai hati Dasha.
'Dasha, suatu saat kau akan mengerti, bahwa aku melakukan semua ini demi dirimu ...'
'Kau boleh membenciku seumur hidupmu, tapi aku tidak akan pernah ingin menghancurkan masa depanmu ...'
'Dasha, maafkan aku ... aku mohon, maafkan aku ...'
Luiz semakin terpekur, terlebih saat menyadari bahwa untuk yang kesekian kalinya ... ia telah melukai hati Dasha ... berkali-kali ...
...
Bersambung ...
Jangan lupa di LIKE, COMMENT, dan VOTE yang banyak yah ... 🤗