TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
MEMELUK DIBAWAH MENTARI


"Nyonya Alexandra, aku sudah selesai.. silahkan meneruskan sarapan paginya.." ucap Arshlan saat dirinya telah menyelesaikan sarapannya sendiri.


Sementara disamping Arshlan, Lana bahkan telah menghabiskan sisa pancakenya lebih dahulu, tanpa menyentuh omelet sama sekali.


Situasi yang kaku membuat Lana sedikit canggung.


"Baiklah, apakah kau akan langsung kembali atau.."


"Iya Nyonya, aku akan langsung kembali, tapi sebelumnya, aku berencana melihat peternakan terlebih dahulu.."


Nyonya Alexandra hanya bisa mengangguk mendengar penjelasan itu, sementara Arshlan telah menatap Lana yang telah ikut berdiri dari duduknya.


"Lana, ikut aku sebentar." ujar Arshlan sambil melangkahkan kaki, menjauh dari meja makan.


"Baik, Tuan.." Lana pun mengangguk patuh, sambil mengekori langkah panjang milik Arshlan.


Arshlan telah berjalan, hingga keteras depan dan baru berhenti disana, dimana mobil SUV hitam miliknya terparkir tidak begitu jauh.


"Kemarin kamu melakukannya dengan baik, seperti janjiku, aku akan memberimu bonus yang.."


"Aku tidak mau bonus seperti itu." pungkas Lana cepat, seolah hal yang akan dibicarakan Arshlan ini telah ia pikirkan dengan matang jawabannya.


Arshlan menatap wajah Lana yang menampakkan keyakinan. "Apakah kau yakin? nominalnya adalah dua kali lipat dari gajimu.."


"Tuan, bisa tidak aku menukarnya?" kembali menepis kalimat Arshlan yang belum selesai. Seolah tak peduli sama sekali dengan nominal yang menggiurkan.


Arshlan melengos mendengar penawaran Lana yang begitu gemar bernegosiasi.


"Kau ini.. selalu seperti ini.." rutuk Arshlan, menyadari Lana selalu punya seribu satu cara untuk bisa memanipulasi keadaan sehingga bisa berkesesuaian dengan keinginannya.


"Aku ingin menukarnya dengan waktumu, Tuan.."


"Wah.." Arshlan refleks berdecak mendengarnya. "Kau memang bocah yang licik dan serakah. Apakah kau tidak sadar bahwa waktuku bahkan jauh lebih mahal dari besaran bonusmu..?"


"Aku ingin ikut Tuan ke peternakan.." terus berucap tanpa peduli meski sepasang mata Arshlan mulai melotot karenanya.


"Kau.."


"Aku ingin melihat kuda.. sapi.. juga padang rumput yang luas.."


Kemudian saat Lana menatap Arshlan, sepasang kelopak matanya telah berpendar indah dan ceria, membuat Arshlan terus menatap kedua telaga itu seolah terhisap kedalamnya.


"Dulu aku sangat suka menonton film koboy. Seorang pria tampan sedang menunggang kuda dan dia mempunyai peternakan kuda dan sapi yang sangaaaattt banyak dan.."


"Sudah, hentikan..!!" potong Arshlan sambil menatap Lana, kini dengan tatapan sebal.


Yah sebal. Arshlan merasa sebal karena untuk beberapa saat ia mendapati dirinya telah terpesona begitu saja.


Nada keras Arshlan cukup membuat Lana terdiam mendengarnya.


"Pergi ganti pakaianmu.." ucap Arshlan akhirnya dengan nada datar, namun belum apa-apa, lagi-lagi Arshlan telah dihadiahi kejutan tak terduga.


"Aaa Tuaaann.. aku semakin mencintaimuuu.." Lana yang kegirangan mendengar persetujuan Arshlan, serta-merta menghambur kepelukan Arshlan, kemudian menghujani rahang pria kekar itu dengan kecupan gemas berkali-kali sebagai gambaran kebahagiaannya.


"Kau ini.. apa-apaan sih, cepat turun!" dumel Arshlan saat menyadari lagi-lagi tubuhnya telah menampung semua bobot gadis itu seutuhnya.


"Aaaa.. Tuaaann.." bukannya takut malah semakin bergelayut manja dileher Arshlan.


"Kalau kau tidak turun dan segera berganti pakaian, maka aku akan pergi kepeternakan tanpa dirimu.."


"Egh, jangan..! baiklah.. baiklah.. aku turun sekarang dan akan segera mengganti pakaianku juga.."


Mengambang. Kalimat Arshlan bahkan belum selesai begitu menyadari gadis bar-bar yang selalu merespon semua tindakannya dengan begitu manis itu telah melesat kedalam villa seperti peluru.


Melihat itu Arshlan hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali.


XXXXX


Empat tahun yang lalu Arshlan telah membeli properti dan lahan peternakan dengan luas dua ribu kilometer persegi ini.


Arshlan telah membelinya di bursa jual-beli dengan harga tujuh ratus dua puluh lima juta dollar AS atau setara dengan sembilan koma delapan triliun rupiah.


Di dalam peternakan ini terdapat sepuluh ribu ekor sapi, tiga ratus ekor kuda, dan kurang lebih dua ratus orang karyawan, sehingga peternakan milik Arshlan memang diklaim sebagai peternakan terbesar di negeri ini.


Lana terlihat berlari kesana kemari diatas padang rumput yang menghijau. Kedua tangannya terentang seperti seekor kupu-kupu sementara diatas kepalanya, sinar matahari yang mulai menghangat seolah tidak bisa mengusik kesenangan gadis belia itu.


Diam-diam Arshlan tersenyum menatap pemandangan tersebut.


Arshlan baru saja mengecek sebagian kecil sapi-sapi yang masih berada dikandangnya masing-masing. Sementara banyak juga diantaranya yang terlihat merumput di kejauhan.


"Tuaann.." Lana berlari kecil mendekat begitu melihat kehadiran Arshlan yang mendekat sambil menarik tali seekor kuda.


"Kau tidak ingin mencoba menaikinya?" Arshlan terlihat mengelus kuda yang terlihat sangat jinak itu.


Lana terlihat bergidik. "Tidak mau. Aku takut."


Melihat Lana menggeleng membuat Arshlan tertawa.


"Tapi kalau menaikinya berdua dengan Tuan aku mau.." ujarnya lagi dengan senyum malu-malu.


"Dasar bocah modus.." ujar Arshlan menanggapi kalimat yang terucap dengan gaya kenes itu.


Lana tertawa kecil, langkahnya telah mendekati Arshlan, dan memeluk tubuh pria itu tanpa sebab.


"Ada apa lagi ini..? kenapa tiba-tiba memeluk..?" pungkas Arshlan begitu Lana telah memeluknya erat, dibawah teriknya sinar mentari.


"Tidak apa-apa. Aku hanya suka melakukannya.." Lana menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arshlan yang wangi aromanya merupakan perpaduan woody dan oceanic. Hangat tapi menyegarkan, ringan namun misterius.


Sementara Arshlan sendiri seolah terkesan beberapa saat, menikmati pelukan yang nyaman tanpa alasan itu begitu saja.


Dikejar dan digilai sekian banyak wanita adalah hal yang biasa untuk Arshlan.


Para wanita bahkan mampu berjejer rapi dan mengantri dengan tertib, hanya demi bisa memeluknya dan bercin ta meskipun hanya semalam.


Demi bisa bersamanya juga, wanita-wanita itu rela selalu berdandan cantik, berpenampilan menawan, sambil tak lupa menjaga image untuk membuat Arshlan terkesan.


Tapi cara Lana mengejarnya sungguh berbeda. Gadis itu sama sekali tidak sedang berusaha menunjukkan kelebihannya yang sekiranya bisa membuat Arshlan tertarik, tapi malah sibuk menunjukkan perasaannya dengan gayanya yang alami.


Nekad, bar-bar, memaksa, sedikit norak dan tidak tau malu.. tapi entah kenapa membuat bathin Arshlan.. diam-diam terusik..


.


.


.


Bersambung


Thx and Lophyuu all.. 😘