TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 123. Tak Ternilai


Follow ig aq yah. @khalidiakayum


...


Rona merah sang mentari mulai membias di ufuk timur saat Luiz rebah bersimbah peluh.


Entah ini ronde yang kesekian.


Namun seperti yang sudah-sudah, dirinya yang begitu gagah perkasa pada sesaat yang lalu pada akhirnya akan selalu berakhir dengan ambruk kedalam pelukan Dasha berkali-kali.


"Tuan, Tuan sudah berjanji ini yang terakhir ..."


Suara lirih Dasha untuk Luiz dibalas pria itu dengan menggigit kecil dagu Dasha yang runcing.


"Aaaww ..." Dasha meringis mendapati gigitan gemas itu.


"Harus berapa kali aku mengingatkanmu agar jangan lagi memanggilku 'Tuan', hhhmm ...?"


Mendapati kalimat kesal yang terucap tanpa menatapnya itu Dasha hanya bisa merenggut.


"Maaf, tapi lidahku belum terbiasa ..."


"Apakah memanggilku 'sayang' sesulit itu untukmu ...?" desis Luiz lagi-lagi, masih dengan intonasi yang sama.


"Maaf ..."


"Hhhh ...!"


Luiz membuang nafasnya kesal, sebelum akhirnya menggeser tubuh kekarnya dari atas tubuh mungil Dasha.


"Jangan pergi ..." Dasha menangkap cepat tubuh Luiz yang hendak bangun dari ranjang, dan dengan gerakan yang tak kalah cepat langsung memeluknya dari belakang.


Luiz membisu, meskipun dalam hati menikmati tekanan lembut dua buah benda kenyal dengan ukuran mini, yang sedang menempel ketat di permukaan kulit punggungnya.


"Sayaaangg ... kau marah ya ...?" ujar Dasha dengan nada merayu.


Kedua tangan Dasha yang melingkar di perut kotak-kotak milik Luiz ikut serta membelai lembut disana, seolah sengaja ingin meredam kemarahan pria itu, mengubahnya menjadi rasa cenat-cenut.


Luiz yang tak kuasa menerima tindakan provokasi tersebut akhirnya memilih menangkap kedua tangan yang bergerilya nakal, berusaha menghentikan pergerakannya sebelum ia lepas kendali dan kembali membanting tubuh Dasha keatas ranjang.


"Jangan seperti ini."


"Kenapa ...?" tanya Dasha dengan mimik pura-pura blo'on.


"Memangnya kau mau aku kembali ingkar janji, dan menambah jumlah ronde-nya lagi ...?" ujar Luiz mengingatkan Dasha akan janjinya yang telah berkali-kali ia ingkari di malam ini.


"Tapi aku tidak mau menerima kemarahan dan diacuhkan ..."


"Aku tidak marah, dan aku tidak akan mengacuhkanmu." pungkas Luiz, kali ini kalimatnya terucap dengan suara rendah karena kekesalannya pun sesungguhnya telah berlalu sesaat yang lalu.


Luiz berbalik menatap Dasha yang juga sedang menatapnya dengan wajah memelas.


"Maaf ..."


Luiz menyentuh bibir yang kembali berucap maaf.


"Jangan ulangi lagi ..."


"Hhhmm ..."


"Janji?"


"Iya, aku berjanji."


"Katakan dengan jelas "


"Aku berjanji tidak akan mengulanginya, dan akan menanamkannya diotakku agar terus mengingatnya ..."


"Anak pintar ..." desis Luiz sambil mengacak lembut rambut Dasha.


"Aku tidak mau dianggap anak-anak. Aku bukan anak kecil ..." protes Dasha dengan bibir yang naik dua centi.


Tawa Luiz pecah mendengarnya. "Dasha, kau memang masih kecil ..."


Dasha melotot mendengar kalimat bernada ejekan itu, membuat tawa Luiz semakin berderai.


"Kemarilah ..." ujar Luiz kemudian begitu tawanya mulai mereda, sambil merentangkan kedua tangannya, guna mengajak Dasha masuk kedalam pelukan.


Untuk beberapa saat lamanya keduanya hanya saling memeluk dan menikmati indahnya debaran jantung masing-masing.


"Sayang, bolehkah aku mengatakan sesuatu ...?" tanya Dasha memecah keheningan, masih dalam hangatnya pelukan Luiz.


"Katakan saja ..."


"Kalau tidak diijinkan memanggilmu 'Tuan', lalu aku harus bagaimana jika berada dihadapan Tuan Arshlan dan Nyonya Lana ...?"


"Tidak masalah."


"Tapi ..."


"Dasha, aku tidak berniat lagi untuk mengulur waktu. Sudah kuputuskan bahwa pagi ini kita akan kembali ke-ranch, dan menunggu daddy dan mommy disana." ujar Luiz tanpa keraguan.


Dasha terdiam. Ia tahu jika kedua orang tua Luiz akan kembali sore ini ke ranch.


Mengingat hal itu membuat jantung Dasha berdebar tak karuan.


Dasha bahkan belum bisa membayangkan bagaimana reaksi Tuan Arshlan dan Nyonya Lana saat harus menerima kenyataan tentang hubungan dirinya dan Luiz.


"Kau tidak perlu memikirkannya, karena aku berjanji akan menyelesaikan semua permasalahan ini secepatnya. Aku tahu keputusanku atas dirimu akan membuat mommy dan daddy kecewa, tapi akan aku pastikan bahwa semua keputusanku tidak akan merugikan masa depanmu ..."


"Sayang, apa hanya masa depanku saja yang kau pikirkan? Kenapa kau tidak memikirkan apakah aku cukup layak untukmu atau tidak? Apakah Tuan Arshlan dan Nyonya Lana bisa menerimaku dan ..."


"Selama ini kau mengenal mereka dengan baik. Kenapa kau malah meragukan tentang apakah kau akan diterima atau tidak?"


"Tapi ..."


"Daddy sangat menyayangimu, mommy apalagi ..."


"Tapi itu berbeda ..."


"Apanya yang berbeda?"


Dasha membisu, sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.


Dasha tahu bahwa selama ini dirinya diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga Arshlan.


Tapi apakah ia juga akan diterima dengan baik seperti Nona Victoria ...


Entahlah ...


Untuk satu hal itu, Dasha justru merasa sangsi, dan sangat tidak percaya diri.


"Kita akan menghadapinya bersama-sama ..." bisik Luiz lembut, sambil membelai punggung polos milik Dasha, seolah bisa membaca pemikiran Dasha yang sedang berkecamuk liar.


Jauh dikedalaman lubuk hati, Luiz tahu keputusannya ini sudah pasti akan mengecewakan kedua orang tuanya.


Namun kekhawatiran atas kekecewaan versi Luiz justru tidak sama dengan kekhawatiran Dasha, yang hanya bertumpu pada pantas tidak dirinya menjadi bagian seutuhnya dalam keluarga Arshlan.


Awal kisah percintaan kedua orang tuanya membuat Luiz menyakini bahwa status sosial bukanlah penghalang utama.


Karena itulah Luiz yakin bahwa daddy dan mommy bukanlah tipe orang yang sangat mementingkan semua hal tersebut, seperti apa yang saat ini sedang dikhawatirkan Dasha.


Dulu, mommy Lana juga berasal dari kehidupan strata sosial yang berbeda jurang dengan daddy Arshlan.


Penolakan daddy Arshlan justru karena daddy menginginkan masa depan yang lebih baik bagi mommy Lana, yang justru berbuntut sebuah tragedy besar, yang membuat dirinya dan Leo dilahirkan kedunia lewat mukjizat Tuhan yang luar biasa.


'Masa depan ...'


Luiz membathin.


Sesuatu yang dulunya dirasa penting bagi daddy Arshlan untuk mommy Lana, yang pada akhirnya berbuntut penyesalan yang untungnya belum sepenuhnya terlambat.


Bukan berarti masa depan Dasha tidak penting untuknya, melainkan karena Luiz sadar, bahwa cintanya untuk gadis itu pun tak kalah penting bagi mereka berdua.


Egois?


Bisa jadi.


Tapi salahkah jika Luiz ingin memberikan keduanya untuk Dasha?


Tidak bisakah mereka berdua mewujudkan cinta dan masa depan bersama-sama, tanpa perlu mengorbankan salah satunya ...?


"Sayang, aku takut ..." cicit Dasha, cukup ampuh menerbangkan semua lamunan Luiz.


"Kalau kau takut peluk aku saja ..." imbuh Luiz, usil, yang dihadiahi Dasha dengan cubitan kecil di perut pria itu.


"Dasar modus ..." semprot Dasha dengan bibir yang kembali naik dua centi.


Tawa Luiz berderai mendapati ekspresi menggemaskan itu, sebelum kemudian ia memutuskan untuk menundukkan kepala, melabuhkan ciumannya yang hangat ...


Dalam ...,


Dan panjang ...


Diatas permukaan bibir Dasha yang rasanya begitu lembut.


Sementara itu, di ufuk timur ...


Cahaya merah membias semakin kentara, menandakan dunia yang telah siap menghadapi hari yang baru.


Hari dengan sejuta harapan setiap insan didalamnya, yang sedang berusaha mewujudkan setiap jengkal asa ...


Juga indahnya cinta ...


🌸🌸🌸🌸🌸


Wajah Lana berseri-seri, namun sepasang matanya berkaca-kaca.


"Ada apa?" Arshlan yang baru saja masuk kedalam kamar, kini berdiri tegak dihadapan wanita itu dengan alis bertaut.


Mau tak mau Arshlan ikut khawatir mendapati ekspresi wajah Lana yang campur aduk, sulit tertebak.


"Sayang ..." tangan Lana bergetar saat menaruh ponsel keatas permukaan tempat tidur, membuat Arshlan semakin panik.


"Katakan ada apa? Victoria baik-baik saja, kan? Bayinya juga baik-baik saja, kan?" mau tak mau Arshlan ikutan panik karena ia tahu pasti bahwa yang barusan berbicara dengan Lana diseberang sana adalah Leo.


Lana mengangguk.


Seharusnya anggukan itu sudah cukup membuat Arshlan merasa lega, apalagi saat menyaksikan bibir Lana yang tersenyum bahagia, namun melihat sekujur tubuh Lana yang semakin gemetar membuat Arshlan kembali diburu kekhawatiran.


"Lana, kau kenapa? Kau bilang Victoria baik-baik saja, bayinya juga. Kalau mereka berdua baik-baik saja ... lalu kenapa kau malah gemetar seperti ini ...?" Arshlan berucap sambil berjalan mendekati Lana.


Arshlan mencoba merengkuh bahu istrinya itu, mengusap punggungnya dengan lembut seolah ingin menenangkannya.


Lana menggeleng. "Tidak sayang, Victoria dan bayinya ... bukan hanya mereka berdua ... melainkan mereka bertiga ..."


Arshlan sontak tercekat, masih sibuk mengira-ngira meskipun sebuah pemikiran manis telah melintas begitu saja didalam benaknya.


"Baby twins. Leo dan Victoria memiliki bayi kembar ... dan itu artinya, kita akan punya dua cucu sekaligus ..."


Kali ini Arshlan tak mampu lagi menahannya. Sepasang matanya sontak berkaca dalam sekejap.


Padahal Arshlan baru saja membayangkannya, namun semuanya sudah membuat Arshlan sangat bahagia.


'Lagi-lagi ... masa lalu kembali terulang ...'


Bathin Arshlan.


Bukankah kenyataan ini sangatlah indah?


Mendadak berbagai moment dimana tangis, celotehan, bahkan aroma khas bayi saat Luiz dan Leo masih sangat kecil, seolah berputar dalam benak Arshlan.


"Sayang, aku mau bertemu Leo dan Victoria sekarang juga. Antarkan aku bertemu mereka ..."


Mendengar permintaan itu, Arshlan langsung mengangguk, tanda ia menyanggupi keinginan Lana.


"Kau benar, kita akan menemui mereka," imbuh Arshlan.


Kemudian dengan wajahnya yang tiba-tiba berubah serius, Arshlan kembali berucap.


"Lana, aku juga sudah memutuskan bahwa Victoria harus tinggal di ranch selama masa kehamilannya. Aku tidak ingin kejadian buruk yang pernah menimpamu saat mengandung Luiz dan Leo akan terulang ..." saat berucap demikian, air mata Arshlan benar-benar telah jatuh dari sudut matanya.


Lana menatap Arshlan lamat-lamat, seolah tak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapannya. "Sayang, kau ..."


"Leo tidak boleh ceroboh dan bertindak bodoh seperti apa yang pernah aku lakukan di masa lalu. Aku harus memastikan, bahwa aku tidak boleh membiarkan dia menyakiti Victoria dan bayinya, seperti apa yang pernah aku lakukan kepadamu ..."


Lana terpaku menatap sosok suaminya yang tertunduk dalam tangis. Serentak ia mendekat dan memeluk tubuh Arshlan erat-erat.


Awalnya Lana mengira, Arshlan hanya sangat terharu karena mereka akan mendapatkan cucu kembar.


Lana sama sekali tak menyangka bahwa semua bayangan kelam masa lalu yang pernah mereka lalui, serta tragedi yang menimpa dirinya, rupanya telah membawa trauma tersendiri bagi diri Arshlan.


"Sayang, tolong jangan seperti ini. Selama ini kau selalu membuatku bahagia, aku bahkan tidak ingat sama sekali, jika aku pernah melalui waktu yang sulit bersamamu ..."


"Tapi aku tidak bisa melupakannya begitu saja, sayang. Itu adalah catatan dosa terbesar di dalam hidupku ... yang membuatku hampir saja kehilangan dirimu, begitupun dengan si kembar ..."


"Hentikan, jangan mengingatnya lagi ..." larang Lana.


"Tidak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan semuanya begitu saja ...?"


"Sayang ..."


"Saat itu hidupku sangat hancur ..."


"Ssssttt ..."


Lana nekad menutup mulut Arshlan dengan jemarinya yang lentik, tak ingin membiarkan pria itu kembali mengulang hal yang buruk dalam ingatannya.


"Lupakan. Lupakan semuanya, karena hari ini aku bahkan tidak bisa mengungkapkannya lewat kata, bagaimana besarnya kau memberikan aku kebahagiaan ..."


Arshlan tergugu mendengar kalimat tulus Lana, sejujurnya Arshlan bahkan merasa bahwa hingga detik ini ia malah belum bisa memaafkan dirinya sendiri, atas semua catatan dosa yang telah menorehkan luka dihati Lana, meskipun hal itu telah terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu.


Namun sepasang mata Lana yang sedang menatapnya lembut membuat Arshlan seolah memiliki kekuatan ekstra dalam menghadapi kemelut, serta setiap rasa sakit yang justru dirinya sendirilah yang menorehkannya.


"Berhenti mengingat semua hal menyakitkan, karena kau harus tahu ... bahwa hari ini, betapa besarnya aku bersyukur. Kau telah memberikan aku begitu banyak kebahagiaan, dan setiap kebahagiaan yang kau berikan untukku, semua itu jauh lebih berharga dari apapun yang ada dimuka bumi ini. Semua yang kau berikan dalam hidupku ... semua itu begitu utuh, dan tak ternilai ..."


Kalimat Lana yang cukup panjang terucap lembut, seolah ingin mengikis segenap kepedihan dari dalam lubuk hati Arshlan ... sedikit demi sedikit ...


Yah ... Lana memang benar.


Kebahagiaan, adalah suatu hal yang paling berharga juga tak ternilai.


Arshlan bersyukur bisa merasakan semua kebahagiaan itu bersama Lana, dan kedua buah hati mereka, Luiz dan Leo.


Arshlan menggenggam lembut jemari Lana, kemudian mengecupnya.


"Lana sayangku, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Jika tak ada dirimu, maka hari ini ... hidupku pun tidak akan bisa sebahagia ini ..."


Lana tersenyum menerima ungkapan hati pria yang sangat dicintainya itu.


"Begitupun juga denganku, sayang, karena tanpa dirimu ... hidupku pun tak mungkin sempurna ..."


Detik berikutnya keduanya pun semakin larut dalam indahnya cinta serta hangatnya kebahagiaan, manakala Arshlan telah membawa tubuh mungil Lana kedalam hangatnya rengkuhan ...


Yang bergelimang cinta dan kasih sayang ...


...


Bersambung ...


LIKE and SUPPORT-nya selalu ditunggu ... πŸ€—