
"Luiz akan kembali dalam waktu dekat."
Gerak tangan Victoria yang sedang membereskan bekas piring dan gelas yang baru saja dipakai makan olehnya dan Leo sedikit melambat, namun pada detik berikutnya wanita itu telah bergerak lagi seperti semula.
Tanpa kata Victoria mengangkat semua peralatan makan tersebut kearah dapur yang memang tidak bersekat dengan ruang makan, menaruhnya kedalam bak cuci piring.
Leo menatap setiap gerak-gerik Victoria tersebut, dengan kedua alis berkerut.
"Victoria ... kau mendengar ucapanku tidak?" Leo bangkit dari duduknya, berjalan mendekat.
Victoria memutar keran, yang membuat air mengucur dari sana. Mulai membilas peralatan makan yang kotor itu satu persatu, dimulai dari gelas terlebih dahulu.
"Aku mendengarnya. Kau mengatakan bahwa Luiz akan datang dalam waktu dekat. Begitukan?" berucap tanpa menengok.
Leo bersandar dimeja marmer, yang terhubung dengan bak cuci piring. Melipat tangannya kedada guna mengawasi penuh sosok victoria yang sibuk membilas gelas.
"Daddy ingin membuat perayaan kecil-kecilan dirumah untuk menyambut kedatangan Luiz. Beliau ingin kita kesana, dan menginap satu atau dua hari."
Victoria hanya mengangguk sambil mengerling sedikit. "Baik, aku akan mengingatnya." mengatakan kalimat tersebut, sambil tak lupa tersenyum tipis.
Leo membisu, namun sepasang matanya terus mengawasi gerak-gerik Victoria tanpa berkedip, sampai wanita itu selesai mengerjakan aktifitasnya hingga memutar lagi keran air kearah yang berlawanan, untuk menghentikan aliran air yang mengalir disana.
"Apakah masih ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya Victoria sambil mengambil washlap guna mengeringkan kedua tangannya yang basah.
Leo menggeleng. "Tidak ada."
"Lalu ...?"
"Lalu apa?"
Victoria menghembuskan nafasnya perlahan, tersenyum lagi. "Lalu kenapa kau masih berdiri disini, dan terus mengawasiku hingga selesai mencuci piring?"
"Tidak ada yang sedang mengawasimu. Kenapa kau ge-er sekali?" pungkas Leo sedikit sewot.
Victoria tertawa pelan mendengar kalimat ketus itu. "Aku pikir setelah lama tidak melihatku, kau tiba-tiba merindukan aku ..." Victoria berucap ringan, sambil ngeloyor begitu saja meninggalkan Leo yang terlihat melotot sempurna, mendengar kenarsisan dirinya.
"Merindukanmu? Apakah saat ini, otakmu sedang baik-baik saja?!"
Mendengar Leo yang meradang, membuat tawa Victoria semakin terdengar renyah.
Wanita itu melangkah dengan tenang, meninggalkan area dapur dengan Leo yang masih berdiri disana dengan wajah kesal.
"Victoria, kau ..." Leo menggeram dongkol karena merasa telah diacuhkan begitu saja.
Dengan langkahnya yang panjang, ia memburu Victoria yang telah masuk kedalam kamar mereka begitu saja.
"Victoria, kau pikir kelakuanmu ini lucu?"
"Astaga Leo, apa sih yang membuatmu panik? Aku kan hanya bercanda ..." pungkas wanita itu lagi sambil masuk kedalam kamar mandi, masih dengan senyum yang sama.
"Si al. Bisa-bisanya dia bercanda seperti itu. Cih ... apa dirinya tidak merasa malu?"
Leo menghempaskan tubuhnya keatas sofa, saat menyadari percuma saja ia mengomel, karena pada kenyataannya sosok Victoria telah menghilang dibalik pintu kamar mandi yang telah tertutup rapat.
πΈπΈπΈπΈπΈ
'Apa-apaan ini ...?'
Leo menelan ludahnya, sambil mengumpat dalam hati.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, dan sosok Victoria keluar dari sana, Leo memang telah merasa jiwanya tak lagi tenang.
Wanita itu ...
Victoria ...
Telah melenggang acuh keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang hanya terlilit selembar handuk mini berwarna putih.
Aroma wangi essential mawar yang segar dan memikat, yang bersumber dari keharuman sabun milik wanita itu seolah mulai menginvasi kesadaran Luiz.
'Berpenampilan seperti itu ... apakah dia memang sengaja ingin menggodaku ...?'
Bathin Leo kembali mengumpat kesal, saat menyadari jakunnya yang mulai bergerak naik turun, dan sesuatu yang dibawah sana seolah terbangun dengan mudah.
Sejujurnya, Leo hanya mencari pembenaran dan kambing hitam, untuk melarikan diri dari naf sunya sendiri.
"Leo, kau ..." suara Victoria tercekat ditenggorokan, saat menyadari sebuah tangan besar telah melingkari pinggang mungilnya yang ramping.
"Kau sengaja menggodaku, kan?" tuduh Leo. Tangannya mulai bergerilya, namun nada suaranya tak ubahnya seperti seseorang yang sedang marah.
Yah, marah.
Leo memang selalu seperti itu. Setiap kali tubuhnnya menginginkan Victoria, maka ia akan merasa sangat geram.
Victoria memanglah wanita yang sukar untuk ditolak oleh Leo, sejak dulu ... hingga sekarang.
Dulu, Leo selalu dibuat gila oleh karena setiap hal menarik yang dimiliki Victoria. Kecantikan fisik, disertai penampilan yang sempurna sebagai tolak ukur, seberapa menariknya seorang wanita dimata pria.
Tapi sekarang, wanita itu jelas-jelas bukanlah wanita yang dulu dikenal Leo.
Saat ini tidak ada lagi Victoria dengan wajah yang dilengkapi sapuan make up sempurna, penampilan sexy yang always fashionable, serta wanita percaya diri dengan karirnya yang cemerlang.
Seharusnya Leo tidak mungkin bisa meliriknya lagi. Tapi pada kenyataannya, hanya berbekal selembar handuk mini, lagi-lagi ego Leo yang setinggi langit harus goyah karena kembali mendambakan wanita ini.
"Kalau kau terus menuduhku sengaja menggodamu, maka mulai sekarang aku akan berganti baju didalam kamar mandi saja ..."
Victoria telah bersusah payah mengurai tubuhnya dari dekapan Leo. Ia telah menyambar asal-asalan, salah satu koleksi piyama tidur miliknya yang ada ditumpukan paling atas.
Rasanya sangat kesal selalu dituduh menggoda, padahal tidak ada setitik pun niat Victoria seperti yang selalu dituduhkan.
Victoria ingin menghindar secepat kilat dari Leo, namun yang ada pria itu dengan cepat telah mengangkat tubuh Victoria tinggi-tinggi, ala bridal style, sebelum akhirnya melemparnya dengan sedikit kasar keatas ranjang berukuran raksasa.
"Leo, kau ini apa-apaan ...?!" pekik Victoria sedikit kesakitan, saat tubuhnya terhempas keras, meskipun mendarat ditempat yang super empuk.
Handuk yang melingkari tubuhnya ikut terburai, sehingga tubuhnya yang polos tersaji dihadapan Leo seutuhnya.
Melihat pemandangan itu dengan gerakan secepat peluru Leo langsung meloloskan kaos hitam yang melekat ditubuhnya terlebih dahulu, membuangnya kelantai, sebelum akhirnya menyusul Victoria keatas tempat tidur sambil tersenyum sinis.
"Apa maumu, Leo?" Victoria mencoba bangkit namun ...
Bugh.
Sebuah tangan besar kembali mendorong tubuhnya kebelakang hingga terlentang, langsung menindihnya.
"Menurutmu?"
Victoria mengalihkan wajahnya kesamping, sengaja mengalihkan tatapannya dari wajah Leo yang nyaris tidak berjarak.
"Leo, kenapa kau masih mau melakukan semua ini? Kau bilang kau membenciku ... kau juga bilang kau tidak tahan dengan diriku ... tapi kau selalu saja ..."
"Apakah dengan melakukan semua ini, aku telah membuatmu menaruh harapan? Hmm ...?" Leo menyesap kulit leher Victoria, kemudian mengakhirinya dengan kecupan kasar diatas permukaan kulit yang telah meninggalkan warna keunguan, akibat perbuatan mulut dan lidahnya barusan.
"Kau kan bisa melakukannya dengan siapa saja. Kenapa masih mau melakukannya dengan orang yang tidak kau inginkan ..."
"Sama saja."
Victoria sontak menoleh. "A-apa maksudmu ...?"
"Maksudku sama saja. Melakukannya denganmu atau dengan wanita lainnya ..."
Saat Victoria menatap Leo lekat, Leo malah dengan sengaja menebarkan senyum mengejek kepadanya.
"Sebenarnya aku tidak sampai membencimu. Aku hanya tidak tahan dengan kehadiranmu dan merasa sedikit paranoid jika suatu saat media bisa mengendus hubungan kita. Setiap kali memikirkan semua itu, selalu membuatku kesal. Kehadiranmu sangat membahayakan citra diriku dimata semua orang, tapi meskipun demikian, bercinta adalah persoalan yang berbeda."
Leo telah berucap panjang lebar, yang disemua ucapannya telah menyisakan goresan belati yang membuat hati Victoria terkoyak.
'Sama saja ...?'
'Jadi begitukah arti diriku dimatanya ...?'
'Aku bahkan tidak lebih istimewa dari semua wanita yang ada diluar sana, meskipun aku adalah istrinya yang sah.'
'Ternyata semua itu tidak membuat nilaiku sedikit lebih tinggi dari wanita manapun, yang bisa Leo datangi sesuka hati ...!'
...
Bersambung ...
(Sedang mengumpulkan tenaga untuk double up, dan triple up. Dukung terus karya ini yah. Jangan lupa untuk di like, coment, favoritekan, tebarkan bunga, kopi dan vote yang banyak ...)