TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 80. Janji


Sesaat setelah pintu kamar presidential suite itu terbuka, El telah melihat seraut wajah pria paruh baya dengan penampilannya yang sedikit nyentrik, berdiri tegak didepan pintu kamar.


"Ayaaahhh ...!" Florensia langsung menghambur ke pelukan Jody Frederick yang tak lain adalah sang ayah.


Keduanya berpelukan tepat di bingkai pintu, menyisakan El yang masih keukeuh disana, seraya memandangi adegan manis tersebut.


Bukan apa-apa, melainkan karena adegan manis dihadapannya telah mengingatkan dirinya kepada Mommy Laras, yang selalu menyambutnya dengan hangat setiap kali El datang, dengan pelukan yang sama.


"Ternyata semua wanita itu sama. Saat mereka sedang meluapkan rasa rindu, mereka akan bertindak semanis itu ...'


Bathin El, dengan bibir terkatup berhias senyuman. Namun sesaat kemudian senyumnya sedikit memudar saat menyadari sepasang mata Jody Frederick yang telah mengawasi dirinya, entah sejak kapan.


Refleks, El pun sedikit menundukkan wajahnya dengan penuh rasa hormat.


Ini adalah moment pertama ia bertemu Jody Frederick secara langsung, dan El berani bersumpah bahwa saat ini dadanya sangat berdebar gugup.


El tidak tahu apa yang membuatnya memiliki keinginan yang kuat untuk mengantarkan Florensia sampai kedepan sosok ayahnya secara langsung.


Yang El tahu bahwa dirinya hanya sedang mengikuti nalurinya saja, yang begitu bersikeras melakukan sesuatu yang tanpa sengaja telah memacu adrenalinnya dengan begitu hebat.


Jody Frederick masih betah melayangkan pandangannya yang penuh selidik kearah El, bahkan sampai pelukannya kepada putri semata wayangnya itu terurai sempurna, ia masih setia menguliti sosok asing El.


"Mmmm ... ayah, dia temanku." ucap Florensia sedikit gugup.


Sebelumnya Florensia tidak pernah segugup ini setiap kali memperkenalkan teman-temannya kepada ayahnya, namun kali ini rasanya sungguh berbeda.


El pun menunduk takjim. "Perkenalkan, namaku Lionel Winata, aku ... adalah teman Florensia." ujarnya dengan kalimat yang begitu yakin, seyakin tatapannya saat ia mengangkat wajahnya, menentang kilau mata Jody Frederick yang berdiri kokoh, tepat dihadapannya.


🌸🌸🌸🌸🌸


'Anak muda yang keras kepala, dan bermental baja ...'


'Lionel Winata? Siapa dia sebenarnya ...?'


'Aku belum mengenalnya, baru sekali ini bertemu, tapi sepertinya namanya tidak terlalu asing ditelingaku ...'


Itu adalah penilaian pertama Jody Frederick, kepada pria muda yang berdiri dengan penuh kepercayaan diri dihadapannya.


Saking percaya dirinya, pada akhirnya Jody Frederick yang harus mengalah, dengan mempersilahkan pria itu masuk, karena tidak mendapati tanda-tanda jika pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Lionel Winata itu, akan segera berpamitan.


Sementara disisi lain, pikiran El tak kalau galau.


'Aku ini sebenarnya sedang apa ...?'


Rutuk El dalam hati, begitu tersadar ia telah mengiyakan ajakan ayah Folerensia, untuk masuk ke dalam kamar presidential suite, yang menjadi tempat menginap pria berpenampilan nyentrik itu untuk beberapa hari ke depan.


Bayangkan saja ... El bahkan tidak tahu apa yang mendorongnya hingga sejauh ini.


Alhasil El telah duduk menempati sofa yang berada disudut ruangan, dan hanya bisa terdiam menyaksikan begitu ia duduk, Jody Frederick malah serta merta menarik lengan putrinya menjauh, kedepan lorong yang menuju ke arah kamar mandi.


"Florensia, siapa dia?" tanya Jody Frederick, begitu ia berhasil menyeret lengan Florensia, putri semata wayangnya, yang baru saja tiba di Hotel Mercy dengan seorang pria tak dikenal.


El yang memang sejak awal begitu nekad dan bersikeras menemani Florensia hingga bertemu ayahnya di Hotel Mercy, berpura-pura kalem dan tidak mendengar kasak-kusuk antara ayah dan anak tersebut.


"Ayah ... anu ... dia ..."


"Bukankah kau bilang kau selalu bersama Luiz? Lalu kenapa selarut ini, kau malah bersama pria lain? Siapa dia ...?"


Florensia meringis kecil mendapati wajah ayahnya yang melotot tajam. Detik berikutnya sepasang matanya beralih kearah pria yang duduk anteng di sofa yang ada disudut kamar, dengan kedua jemari yang saling bertaut sama lain.


Meskipun El terlihat anteng, namun Florensia berani bertaruh bahwa pria itu pasti bisa mendengar suara bariton ayahnya walaupun samar.


"Ayah, tolong pelankan sedikit suaranya, nanti El bisa mendengarnya ..." rajuk Florensia kearah ayahnya yang menatapnya dengan tatapan yang meminta penjelasan, namun kini menampakkan reaksi terhenyak.


"Oooohh ... jadi dia yang bernama El? Lionel Winata ... El ...? Itu artinya dia adalah pria yang selama ini selalu kau kejar setengah mati, tapi tak sedikit pun dia berniat untuk membalas perhatianmu ...?!"


"Ishh ... ayaaahhh ..." kali ini ganti Florensia yang menarik lengan sang ayah agar semakin menjauhi El.


Wajah Florensia merah padam menerima kalimat sang ayah yang blak-blakan, meskipun El terlihat masih tak bergeming, terus berpura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Bukan hanya tidak berniat membalas perhatianmu, aku dengar dia bahkan bisa kesal hanya dengan melihat bayanganmu ... ku rang ajar ... siapa dia sehingga begitu berani memperlakukan putri kesayanganku seperti itu ...?!"


"Aaakh ... ayaaah, siapa yang sudah mengatakan hal-hal yang konyol seperti itu ...?" ujar Victoria lagi, mencoba berkelit saat menyadari suara sang ayah yang semakin meninggi.


"Ck ... ck ... ck ... bahkan setelah semua itu, kau bahkan masih ingin membelanya ...?"


"Ayah, kalau memang seperti itu, lalu untuk apa El bersedia menemaniku, bersusah payah melewati sepanjang malam yang dipenuhi berbagai hal-hal semrawut yang tidak menyenangkan, juga kemacetan panjang ..."


"Untuk apa? Kenapa kau malah bertanya kepada ayah? Tanyakan saja kepadanya, apa yang membuat dirinya tiba-tiba memperhatikanmu. Jangan-jangan dia malah berniat bur ..."


"Ssssstt, ayaaahh ..." Florensia nekad membekap mulut Jody Frederick yang sontak melotot menerima perlakuan Florensia.


Florensia memang selalu seperti itu. Begitu manja dan keras kepala. Jody Frederick tahu bahwa selama hidupnya ia tidak pernah menentang keinginan Florensia, namun kali ini berbeda.


Jody Frederick, sangat kesal saat mengetahui pria angkuh yang selalu menolak putrinya selama kurang lebih lima tahun lamanya, malah berada tepat dihadapannya.


Mengetahui pria yang duduk di sofa itu adalah El, naluri ingin menonjok wajahnya menjadi semakin menggelora.


Rasanya Jody Frederick benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya, namun sayang, kalau ia nekad melakukan niatnya tersebut, sudah pasti Florensia tidak akan menerimanya.


"Huh, memangnya siapa juga yang memintanya untuk melakukan semua hal itu?"


Florensia merenggut mendengar kalimat ayahnya. "El bermaksud baik."


"Sudahlah, Flo. Hentikan semua pembelaanmu itu dan biarkan ayah bicara kepadanya ..." ucap Jody Frederick, kali ini ia benar-benar berusaha untuk bersikap tegas, demi harga diri putrinya.


"Tapi, ayah ..."


"Kembalilah kekamarmu.",


"Aaakh ... ayah ..." Florensia telah merajuk di lengan kokoh sang ayah.


"Flo, sudah Ayah katakan, kembalilah kekamarmu."


"Tapi, Yah ..."


"Ayahmu benar, Flo. Kembalilah ke kamarmu."


Baik Florensia maupun Jody Frederick, keduanya sama-sama telah menoleh ke sumber suara yang barusan menyela tiba-tiba, dan tersentak saat menyadari kehadiran El diantara mereka.


"El ..."


"Pergilah ke kamarmu, Flo. Aku berjanji setelah selesai bicara dengan ayah, aku akan menghubungimu ..."


Sepasang mata El dan Florensia terlihat beradu beberapa saat.


Disana, El bisa melihat kekhawatiran Florensia untuk dirinya, dan semua itu telah membuat hatinya merasakan sebuah kesejukan.


Sementara itu, Florensia telah menunduk. Ia tak kuasa menentang kilau mata El, yang seolah ingin berucap agar dirinya mau mendengarkan dan mempercayai pria itu seutuhnya.


"Everything will be fine. Trust me."


Bukan El, bukan pula Florensia.


Namun Jody Frederick nyaris terhenyak ditempatnya, saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana kepala Florensia mengangguk patuh dihadapan pria muda itu.


"Ayah, aku akan kembali ke kamar ..."


Jody Frederick hanya bisa mengangguk dengan bibir kelu. Sepasang matanya telah menyaksikan sendiri, bagaimana Florensia berjalan gontai menuju pintu keluar, dengan kepala tertunduk dalam.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Ayah, aku minta maaf ..."


"Beraninya kau memanggilku ayah! Sejak kapan kau jadi anakku?!"


El terhenyak mendengar suara bariton yang begitu solid itu.


'Ini tidak mudah, dan aku pasti sudah gila karena telah melangkah sejauh ini.'


'Aku bahkan tidak tahu, apa yang telah aku lakukan ... tapi entah kenapa keyakinanku begitu kuat.'


'Jody Frederick ... kau jangan terlalu meremehkan aku, karena aku adalah Lionel Winata, yang telah memutuskan untuk mendapatkan putrimu Florensia, meskipun dengan begitu ... aku harus menghadapi pria tangguh seperti dirimu ...!'


Itu adalah janji El, yang bergema diseluruh sanubari.


"Jadi kau adalah pria itu? Pria yang telah menyakiti hati putriku selama lima tahun ...?"


"Ayah, aku minta maaf ..."


"Sudah aku bilang jangan memanggilku ayah!"


Jody Frederick melotot saat menyaksikan El yang justru tersenyum, saat menerima kemarahannya.


"Kau mengejekku ...?"


"Tidak, 'ayah' ..." lagi-lagi menyebut 'ayah' tanpa canggung dan gentar sedikitpun.


"Kau ..."


Mengambang.


Jody Frederick nyaris kehilangan perbendaharaan kata dalam menghadapi El, yang terlihat sangat nekad namun tetap santun dalam menghadapi kemarahannya.


"Ayah, maafkan aku. Aku mengakuinya, bahwa selama ini aku telah keliru menilai putrimu Florensia."


"Langsung katakan saja, apa tujuanmu."


"Aku ingin meminta ijin, untuk bisa mendekati Florensia."


Jody Frederick mengusap wajahnya yang masih terasa kaku, tatapannya tidak seinchi pun berpindah dari sosok El.


"Ayah, ijinkan aku mendekati Florensia dan menjaganya. Aku berjanji, asalkan ayah mengijinkannya, maka mulai detik ini ... aku tidak akan pernah menyakiti hati Florensia lagi ..."


...


Bersambung ...