TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
THE REAL FAIRY


Arshlan kembali melirik jam tangannya, dan dirinya mulai geram.


Karena Marco, kehadirannya di pesta tersebut telah diketahui begitu banyak orang, sehingga menyulitkan Arshlan untuk menghindar. Terlebih semua yang menyapanya, pada akhirnya selalu melontarkan pertanyaan yang sama, tentang keberadaan istri hebatnya dibandingkan wanita lain, sesuai apa yang pernah ia sesumbar dihadapan Marco tempo hari.


Marco memang brengsek..!


Arshlan bahkan tidak menyangka jika pria itu menggunakan uacapannya sebagai senjata, sehingga seisi dunia seolah benar-benar ingin membuktikan kebenaran perkataannya serta antusias ingin menilai perihal kepantasan Lana.


Sementara Lana..?


Huhhfh.. untuk hal itu Arshlan hanya berharap gadis itu bisa diajak bekerja sama, serta menahan diri untuk tidak mengeluarkan sikap seenaknya di pesta ini.


Saat ini Arshlan rasanya ingin menelpon Asisten Jo dan mengumpat, namun Arshlan tidak bisa melakukannya ditengah keramaian begitu banyak orang yang seolah berlomba menyapanya dengan misi yang sama, penuh rasa ingin tau..!


Para pebisnis yang membutuhkan sentuhan kerjasama.. belum lagi para wanita dengan penampilan yang menggoda dengan segala gaya dan usia..!


"Arsh, kau telah mencuri semua perhatian para tamuku dengan mudah." ujar Marco tersenyum datar, begitu situasinya sedikit lapang, usai seorang pengusaha muda datang menyapa Arshlan memohon untuk melakukan kerjasama, dan dengan embel-embel yang sama. Pada akhirnya mempertanyakan keberadaan istri seorang Tuan Arshlan.


Arshlan menyeringai. "Mau tak mau kau memang harus mengakuinya." ujar Arshlan mengejek membuat air muka Marco berubah.


"Tapi tetap saja kau telah membuat semua orang kecewa, karena menantikan kehadiran istrimu yang sepertinya enggan kau bawa serta.."


"Kenapa begitu..?" pungkas Arshlan cuek. "Aku tidak merasa berhutang pada siapapun atas kehadiran istriku di pestamu ini. Aku sudah cukup menghargaimu dengan datang..!"


"Tapi kemarin kau sudah menjawab tantanganku dengan sombong. Kau bilang istrimu wanita istimewa.."


"Dan kau bahkan menggunakan hal itu sebagai magnet penarik kemeriahan pestamu. Marco, apa popularitasmu benar-benar semenyedihkan itu..?" Arshlan terlihat semakin gusar.


"Kau yang menyedihkan. Kau bahkan tidak punya keberanian menjawab tantanganmu sendiri..!"


"Marco, tolong hentikan." lerai Maura yang sejak tadi hanya menyimak perdebatan itu seperti halnya Aldo dan kekasihnya Siska.


"Pesta dansanya akan segera dimulai. Aku hanya ingin melihatmu berdansa.." ujar Marco lagi, mengabaikan air muka Arshlan yang mulai mengeras marah.


"Apa kau sedang berusaha mengaturku..?!"


"Tidak.. aku hanya berpikir bahwa dengan demikian kau telah kalah oleh tantanganku tempo hari yang telah kau sambut dengan berani.."


"Kau.."


"Sudah Arsh, jangan dengarkan Marco.." akhirnya Maura memilih datang mendekat dan memeluk lengan Arshlan. "Kau sudah melakukan hal yang benar, dengan tidak mengajak bocah bar-bar itu. Dia hanya akan membuatmu malu.." bisik Maura seraya menempelkan lengan Arshlan dibelahan sepasang buah lezat miliknya, menekannya dengan intim.


"Tutup mulutmu." desis Arshlan dongkol, sambil berusaha melepaskan diri.


Tiba-tiba lampu ruangan itu meredup. Suasana terasa syahdu, diiringi sebuah instrumen yang mengalun lembut.


Ditengah ruangan sebuah cahaya lampu sorot besar, menyinari lantai dansa, salah satunya yang terfokus terlihat berbentuk lingkaran yang menyorot ketengah lantai.


"Lantai dansa telah siap." kedua tangan Marco terentang lebar seolah memuja kemeriahan pestanya. "Sayang, peri pesta yang sebenarnya tidak berkenan hadir di.."


Mengambang.


Seorang wanita yang menapaki pintu masuk dengan gaun semi corset dress berwarna putih gading telah mengusik perhatian Marco dalam sekejap.


"Peri pesta yang sesungguhnya.."


Desis Marco, menatap tak berkedip, mulutnya bahkan ikut terbuka.


Dengan rambut panjang terurai yang disampingkan dengan indah, seolah menjadi pelengkap yang pantas untuk tubuh ramping sempurna.


Potongan gaun wanita itu bahkan tidak memperlihatkan bahunya secara terbuka, apalagi belahan yang biasanya sering dipamerkan setiap kaum hawa.


Elegan.


Karena lewat pemandangan bagian atas dadanya hingga keujung tulang selangka, begitupun dengan sedikit bagian atas paha yang terbelah, hingga tersaji pemandangan indah sepasang betis jenjang sampai kemata kaki, semua itu seolah sudah cukup sebagai pembuktian yang nyata.. bahwa gadis itu memiliki kulit seputih susu..!


Luar biasa.


Entah sejak kapan suasana kemeriahan pesta itu telah berubah, terasa semakin lama semakin hening.


Momentnya begitu tepat, seiring dengan berpindahnya fokus lampu sorot secara perlahan kearah pintu masuk, hingga menyorot utuh kearah wanita memukau yang dalam sekejap telah mencuri perhatian semua orang.


Wanita itu kini terlihat berdiri tegak seraya mengedarkan pandangan kesana-kemari, seolah sedang mencari sesuatu, atau mungkin seseorang.. bak peri yang sedang tersesat..!


"L-Lana..?"


Desis Siska juga yang berdiri disebelah Aldo dengan teramat sangat perlahan, nyaris berbisik, seolah tidak bisa meyakini penglihatannya sendiri.


Marco telah bersiap beranjak, dengan tujuan mendekati mangsa lezat, manakala punggungnya terasa ditahan dengan kuat.


Saat ia berbalik, ia telah menemukan sepasang mata elang milik Arshlan yang seolah siap mencabik dirinya dalam sekejap.


"Jangan berani mendekat.." larang Arshlan tegas, membuat Marco terhenyak.


Dan sepatah kata yang keluar berikutnya dari bibir pria itu telah membuat Marco berdiri mematung dengan mulut yang semakin terbuka.


"She is mine."


XXXXX


'Biarkan dunia yang akan menilaimu..'


'Kekasihku..'


'Aku bahkan tidak rela, dan ingin mencongkel mata siapapun yang berani memandangmu..'


...


'Tuaaaann..'


Rasanya Lana ingin memekik, dan berlari menubruk tubuh kekar yang seharian ini tidak terlihat, seperti kebiasaannya selama ini.


Tapi Lana urung melakukannya, manakala sebuah larangan yang begitu dekat ditelinganya terdengar berteriak panik.


"Nyonya Lana, kendalikan dirimu. Tolong jangan melompat ketubuh Tuan Arshlan..! Jangaaann..!!"


"Tersenyumlah.. nah.. bagus.. tersenyum seperti itu, tersenyumlah dengan manis dan tidak.. tidak.. jangan berlebihan. Aku bilang manis, bukan menyeringai..!"


"Dasar cerewet..!"


Lana mengumpat perlahan ketika suara Asisten Jo terus berputar-putar dibenaknya, seolah selalu mengacaukan apapun yang sedang ingin ia lakukan berdasarkan instingnya sendiri.


"Nyonya.. ingatlah baik-baik, kau.. adalah Nyonya Arshlan, dan kau pantas untuk itu..!"


Suara Asisten Jo terus menyemangati setiap relung sanubari Lana, membuat Lana merasa kepercayaan dirinya yang awalnya sempat mencelos kini bangkit perlahan namun pasti.


Semua mata yang ada disana seolah tertuju pada satu arah dan tidak lagi terbagi, terlebih ketika menyadari Tuan Arshlan telah mendekati wanita itu dengan langkah lebar, serta senyum yang menawan. Mengambil tangan sang wanita untuk mencium punggung tangannya, kemudian mengecup singkat bibir yang terlihat merah alami.. juga terkesan basah.


"Manis. Apakah ini benar istriku..?" bisik Arshlan sambil merengkuh penuh kebanggaan pinggang mungil Lana yang langsung merona mendengarnya.


"Tuan, aku tidak mengecewakanmu, kan..?" bisik Lana sambil memeluk lengan Arshlan kuat-kuat. Bergayut manja disana.


Arshlan meremas jemari Lana. "Sebaliknya, Sayang, aku adalah pria yang beruntung.."


Arshlan mengecup sesaat bibir Lana lagi, sebelum akhirnya mengamit pinggang Lana, mengajaknya beranjak mendekati Marco sang Tuan pesta, yang masih saja betah terpukau seperti halnya para tamu lainnya.


"Kita sapa sebentar Tuan pestanya, sebelum aku akan menculikmu dari tempat ini.."




Bersambung..


Maaf lama up.. 😅🙏


Novel PASUTRI akan selesai, endingnya sudah didepan mata. Karena PASUTRI mau tamat, maka author akan fokus up novel ini. 🤗


Yang belum baca PASUTRI, baca yah.. dijamin baper parah dan uwwwwuuuu.. banget. Seriusaaann.. 🥰


Jangan lupa di Support yah.. 😃😃


Thx and Lophhyuu all.. 😘😘