
Follow ig aq yah. @khalidiakayum
...
Sesungguhnya Leo tidak keberatan sama sekali saat kedua orang tuanya bersikeras membawa Victoria bersama mereka, untuk pulang ke ranch.
Tapi ketika mengingat semua itu sama artinya dengan dirinya untuk sementara akan berada jauh dari Victoria terlebih dengan dua kehidupan mungil yang sedang bersemayam di perut istrinya itu, mau tak mau kenyataan tersebut membuat Leo sedikit uring-uringan.
"Aku akan membereskan semua urusanku dengan managemen dan pihak media secepat mungkin, kalau semua urusannya sudah selesai, maka aku akan menemuimu secepatnya."
"Hhmm ..." Victoria mengangguk sambil menyunggingkan sekilas senyum kearah Leo, yang sedang menatapnya lekat dengan tatapan tidak rela.
Sejak tadi, Victoria memang terkesan sedikit mengacuhkan pria itu, dikarenakan kedua tangan Victoria yang terus disibukkan dalam merapikan travel bag berukuran besar, yang didalamnya telah berisikan pakaian dan beberapa perlengkapan pribadi miliknya sehari-hari yang kelak akan ia bawa serta ke-ranch milik mertuanya.
"Aku janji akan menelponmu setiap hari ..." pungkas Leo lagi.
Victoria lagi-lagi hanya mengangguk, kali ini ia telah menarik resleting panjang dari travel bag tersebut.
"Tidak hanya menelepon, tapi aku akan melakukan video call juga ..."
"Iya ... iya ..." jawab Victoria ringan sambil bangkit dari tepi ranjang, hendak mengambil hand bag yang tergolek lesu diatas meja.
"Vic ..." Leo buru-buru menahan pergelangan tangan Victoria serta-merta, membuat wanita itu urung melangkah dan berbalik menatap Leo dengan kedua alis bertaut jelas.
"Ada apa ...?"
Leo menatap bimbang. "Kau ... kenapa kau terlihat sangat tenang ...?"
Kali ini alis Victoria ikut-ikutan bertaut seperti halnya Leo.
Sungguh, Victoria merasa agak bingung dengan arah kalimat Leo.
"Maksudku ... kita akan berpisah dalam beberapa hari, tapi kau terlihat begitu tenang. Apa kau tidak merasa takut kehilangan karena harus berpisah denganku untuk sementara waktu?"
Sebenarnya sedikit gengsi harus mengatakan semua itu, namun Leo seolah tak lagi punya pilihan dikarenakan ketidak-pekaan Victoria.
Mendengar ucapan Leo, tanpa diduga Victoria malah tergelak kecil.
"Astaga, Leo ... kau ini sedang bicara apa? Apakah kau lupa bahwa sebelum ini kita begitu sering berpisah, bahkan dalam jangka waktu yang lebih lama dari hanya sekedar hitungan hari ...?" seloroh Victoria apa adanya, tapi Leo malah terpekur mendengarnya.
Leo tahu Victoria tidak sedang menyindir apalagi menyudutkannya. Wanita itu hanya bicara apa adanya, atau justru merasa lucu melihatnya bertindak berlebihan.
Tapi sesungguhnya Victoria berkata benar.
Pada kenyataannya, diwaktu yang lalu, Leo memang teramat sangat sering meninggalkan Victoria dan mengacuhkannya.
Tidak hanya berhari-hari, bahkan hingga berminggu-minggu lamanya Leo betah berada diluar rumah dan tak kembali, tanpa sedikitpun merasa iba membiarkan Victoria seorang diri.
Leo yang selalu membiarkan Victoria.
Leo yang tak pernah peduli ...
Leo juga yang selalu menyakiti hati.
'Semua ini salahku. Victoria terbiasa sendiri dan tidak lagi bergantung padaku ... semuanya itu jelas-jelas kesalahanku ...!'
Leo membathin masygul.
Leo sadar, perihal hari ini Victoria terbiasa hidup tanpa kehadirannya, sama sekali bukan salah wanita itu melainkan salah dirinya sendiri, dan hari ini, semua buah dari sikap buruknya telah dituai olehnya sedikit demi sedikit.
Mengingat semua itu membuat Leo bangkit dari duduknya guna merengkuh tubuh Victoria dengan erat.
"Vic, tolong katakan ... apakah nanti kau akan merindukan aku?"
Sungguh, Victoria ingin tertawa mendengar pertanyaan kekanak-kanakan yang terlontar dari bibir Leo.
Namun, menyadari wajah Leo yang begitu serius membuat Victoria urung meloloskan tawanya.
"Katakan, Vic, kau akan merindukan aku kan ...?"
Victoria tersenyum sambil membalas pelukan Leo. "Tentu saja ..." jawab Victoria lirih, sambil diam-diam meresapi rengkuhan hangat yang sudah pasti tidak akan ia rasakan dalam beberapa hari kedepan.
"Berjanjilah, setiap kali kau merasa rindu, kau akan menghubungiku ..."
"Iya, aku berjanji ..."
"Aku juga begitu. Bukan hanya setiap hari, tapi setiap saat, aku akan terus memantaumu. Kau harus membawa serta ponselmu kemanapun kau pergi, tidak boleh meninggalkannya sedetik pun. Kau mengerti?"
Lagi-lagi Victoria mengangguk mendengar semua aturan posesif dari Leo.
Meskipun demikian, disudut hati Victoria terasa hangat.
Victoria terharu mendapati perhatian pria yang biasanya sangat acuh itu.
"Vic, aku pasti akan sangat merindukanmu ..." Leo mengetatkan pelukannya.
"Aku juga. Aku juga akan merindukanmu ..."
"Dan kedua baby mungilku ini ..." sebelah tangan Leo mengusap lembut perut Victoria dibawah sana.
"Mereka juga pasti akan merindukanmu ..."
"Benarkah ...?" sepasang mata Leo mengerjap cerah hanya dengan mendengar kalimat Victoria yang terdengar begitu indah ditelinganya.
Victoria mendongak, guna mendapati wajah tampan Leo yang sedang menatapnya dengan wajah berbinar.
"Tentu saja, kau adalah daddy mereka. Sudah pasti kaulah satu-satunya orang, yang akan selalu dirindukan oleh si kembar ..."
"Oh, Vic ..." Leo memeluk Victoria lagi penuh haru, sedangkan Victoria memilih membalas pelukan pria itu ... dengan tak kalah hangat ...
🌸🌸🌸🌸🌸
Lana telah mengambil inisiatif melakukan pemesanan Food delivery untuk makan siang mereka di apartemen Leo.
Empat porsi menu ricebowl telah menjadi pilihan Lana, tanpa mengikutsertakan pendapat Leo dan Victoria terlebih dahulu, karena keduanya sibuk mempersiapkan berbagai keperluan Victoria didalam kamar.
"Iya sayang, aku juga berencana akan memesan menu yang praktis, namun harus sehat dan penuh nutrisi. Mulai sekarang, aku benar-benar akan memastikan bahwa Victoria hanya akan makan makanan yang bergizi ..."
Lana berucap sambil tersenyum lebar, sesaat setelah ia memutuskan untuk memesan menu ricebowl yang dilengkapi potongan salmon, dan aneka sayuran yang bukan hanya sehat, namun rasanya juga terkenal sangat enak, khusus untuk Victoria, sang menantu yang kini sedang mengandung cucu kembarnya dan Arshlan.
Arshlan mengangguk setuju dengan pemikiran Lana. "Aku mengandalkanmu, sayang. Untuk hal-hal seperti itu sudah pasti kau yang lebih tahu ..." ujar pria itu kemudian, sebelum ia beranjak menjauh, oleh karena sebuah panggilan masuk di ponselnya.
Lana pun kembali disibukkan memilih menu food delivery sehat lainnya, yang sesuai dengan keinginannya. Namun saat ia selesai melakukan orderan Lana baru tersadar jika Arshlan telah berada jauh diujung sana, dekat dengan jendela, lagi-lagi sedang menerima telepon seseorang dengan ekspresi wajah yang sulit tertebak.
Ini adalah kali kesekian Lana menyadari, bahwa selama ini Arshlan tidak pernah merasa perlu menjauh darinya saat harus menerima telepon dari siapapun, sepenting apapun orang itu.
Lalu kenapa sejak tadi pagi suaminya itu selalu mengambil jarak begitu ponselnya berdering?
'Aneh ...'
Lana membathin, sambil terus mengawasi Arshlan yang masih berdiri didepan jendela kaca apartemen Leo, dengan tatapan yang mengarah jauh kedepan.
Lana merasa sepertinya dia harus bertanya untuk memenuhi rasa penasarannya, namun kehadiran Victoria dan Leo yang baru saja keluar dari kamar dengan menarik sebuah travel bag berukuran besar itu telah membuat perhatian Lana tercuri lebih dahulu.
"Sudah siap?" tanya Lana.
"Iya, Momm." Victoria yang menjawab.
"Kita makan siang dulu sebelum pergi, dan mommy sudah memesan food delivery untuk makan siang." ucap Lana sambil menyambut Victoria yang duduk tepat disampingnya, seraya mengusap perut rata Victoria penuh kasih sayang.
"Terima kasih, momm ..."
"You're wellcome, sayang ..."
Arshlan yang barusan telah menyelesaikan pembicaraan di telepon kembali mendekat.
"Sayang, siapa yang barusan bicara denganmu?" usut Lana tak lagi ingin membuang waktu saking penasarannya dengan gerak-gerik Arshlan yang terlihat aneh sejak tadi pagi.
"Hans."
'Lagi-lagi ...'
Lana membathin, semakin curiga.
"Baru sampai pada pertengahan hari, belum juga beranjak petang. Kita bahkan baru saja berencana untuk makan siang, tapi di hari yang sama ... Hans telah meneleponmu lebih dari empat kali."
Tidak hanya Arshlan yang serentak menoleh kearah Lana, melainkan Victoria dan Leo juga.
Kini ketiganya telah menatap Lana serius, seolah hendak mencari tahu dengan pasti apa yang sebenarnya sedang berusaha disampaikan oleh wanita itu, lewat kalimatnya yang terdengar sarkas namun tetap lembut mendayu.
Arshlan sedikit salah tingkah ditodong seperti itu oleh Lana. "Tidak, sayang. Tidak ada yang ..."
"Katakan."
Arshlan yang telah duduk disisi lain dari Lana hendak menyentuh bahunya namun sontak ditepis halus.
Tentu saja Arshlan kaget mendapati respon berani sang istri, terlebih Leo dan Victoria.
"Bicara tentang Hans, itu sama artinya ada sesuatu yang menyangkut Luiz dan Leo. Sekarang, aku bisa memastikan keadaan Leo dan Victoria baik-baik saja dengan mata kepalaku sendiri. Tapi Luiz ..."
Arshlan memijat pangkal hidungnya. Ia sadar bahwa kali ini sudah pasti ia tak bisa lagi mengelak, karena Lana telah menaruh curiga, dengan sedemikian tepat.
"Momm, dadd, ada apa ini?" Leo tak bisa lagi memendam rasa ingin tahunya yang besar, atas pembicaraan serta gelagat aneh dari kedua orang tuanya.
"Daddymu menyembunyikan sesuatu tentang Luiz." ucap Lana lebih mirip sebuah pengaduan kepada Leo.
"Luiz?" alis Leo bertaut, tatapannya beralih kepada Arshlan. "Benarkah itu, dadd?"
Arshlan mengusap wajahnya kembali. "Lana sayang, aku bukan menyembunyikan sesuatu tentang Luiz, tapi lebih tepatnya ... aku sedang mencari waktu yang tepat, agar bisa membicarakan semua ini denganmu ..."
"Bohong."
"Lana ..."
"Kalau begitu katakanlah sekarang juga, aku ingin mendengarnya."
Arshlan menarik nafas, semakin merasa jika dirinya benar-benar tidak punya pilihan lagi.
"Baiklah, kau memang benar. Semua ini ... memang tentang Luiz ..."
Baik Lana, Leo, maupun Victoria kembali menatap Arshlan lekat.
Terlihat sekali bahwa ketiganya sedang menunggu penjelasan Arshlan.
"Kemarin malam, sesaat setelah Leo dan Victoria meninggalkan premiere film Leo, seharusnya Luiz langsung kembali ke ranch." tutur Arshlan memulai penjelasannya.
"Bukankah Luiz dan Dasha sudah berada disana?" potong Lana, yang masih bingung dengan arah pembicaraan Arshlan.
"Tidak, karena kenyataannya mereka ... baru saja tiba siang ini ..."
Sepasang mata Lana telah terbuka lebar. "S-sayang, apa ... apa maksudmu ..."
Napas Arshlan terdengar berhembus berat, namun Arshlan tahu bahwa ia memang harus mengatakan semuanya sekarang juga, tanpa tersisa.
Arshlan menatap Lana yang sedang menanti lanjutan kalimatnya dengan wajah was-was, menyentuh kedua bahu wanita itu dengan kedua tangannya.
"Lana, mereka baru saja tiba di ranch siang ini, setelah menginap semalam disuatu tempat ..."
Mulut mungil Lana terbuka. "M-mereka ...?"
Arshlan mengangguk.
"Iya, mereka. Mereka ... Luiz dan Dasha ..."
...
Bersambung ...
LIKE and SUPPORT-nya selalu ditunggu ... 🤗