
Ig. @khalidiakayum
...
"Ssssttt ... Dasha, jangan takut, ada aku yang akan selalu menjagamu ..." bisik Luiz lembut.
"Tapi Tuan, pria itu ... pria itu ..."
"Aku telah memberikan pelajaran untuknya, dan aku juga telah mengirimnya kepenjara. Aku pastikan bahwa dia tidak akan pernah bisa mendekatimu juga mengganggumu. Kau pun tidak akan pernah lagi bertemu dengannya, apalagi melihat wajah jeleknya!" pungkas Luiz panjang lebar, berharap semua janjinya bisa menenangkan Dasha yang terus terisak didadanya.
"T-Tuan, t-tapi ..."
"Dasha, percayalah padaku, kau akan baik-baik saja."
Kali ini Luiz telah meraup dua lengan mungil Dasha dengan tegas, memaksa mengambil tubuh gadis itu yang awalnya menempel tanpa jarak dengan tubuhnya, memposisikannya dengan tepat, agar Dasha bisa melihat kesungguhan dalam kedua bola matanya.
Untuk sesaat sepasang mata mereka beradu begitu dekat. Dasha yang saat ini berdiri diatas ranjang membuat tubuh mereka menjadi sejajar.
Mata dengan mata ...
Hidung dengan hidung ...
Bibir dengan bibir ...
Dan jarak disetiap lekuk wajah mereka semuanya kurang dari lima centi.
Luiz mematung mendapati sepasang kelopak mata yang bertelaga, pucuk hidung yang memerah, bibir mungil yang bergetar lirih ... yang hembusan nafas kecilnya telah menerpa sekujur wajah Luiz, membuat nafas Luiz seolah tercekat ditenggorokan, saat ludahnya tertelan tanpa sengaja.
Setiap helai rambut yang tumbuh dipermukaan kulit Luiz pun rasanya ikut meremang.
'Oh, God, jika aku saja bisa merasa sesakit ini, lalu bagaimana gadis cilik ini menanggung semua ingatan buruk itu ...?'
Bathin Luiz, sedikitpun ia merasa tak bisa berpaling dari penderitaan yang dialami Dasha, yang sudah pasti akan disembunyikan dengan begitu rapi oleh gadis itu dihadapan semua orang.
"T-Tuan, b-bisa tidak Tuan menghapus semuanya ...?"
Tatapan sayu Dasha yang berisikan sebuah permohonan membuat Luiz termanggu berjenak-jenak lamanya.
"Tolong hapus semuanya, Tuan Luiz ... hapus semuanya ... karena aku ... aku ... aku tidak mau mengingatnya, aku benci mengingat semuanya ..." rengek Dasha dengan berlimpah air mata.
"Dasha, kau ... kau bicara apa ...?" baru kali ini Luiz merasakan kepanikan yang entah darimana datangnya.
Luiz merasa panik sendiri, saat insting dan otaknya mulai menyimpulkan apa yang sedang berusaha disampaikan Dasha tentang keinginannya, agar Luiz bersedia menghapus semua ingatan buruk yang sudah pasti menyisakan trauma yang mendalam.
"Dasha ..." bisik Luiz nyaris putus asa, saat menyaksikan begitu dekat, bagaimana dua kelopak mata yang bak malaikat itu sedang berlomba-lomba mengalirkan bening yang seolah tak kunjung usai.
Hati Luiz sangat sakit, dan rasanya baru kali ini Luiz merasakan hatinya sesakit ini.
Terasa ngilu, menusuk, menakutkan, sedikit aneh ... lengkap dengan sebuah rasa lain yang tiba-tiba bergolak liar ...
Dasha menangis tersedu dihadapan Luiz. Dan Luiz merasa tidak mampu mengendalikan dirinya lebih lama lagi, manakala tangan mungil gadis itu terangkat guna menuntun jemari Luiz, menyusuri beberapa bagian tubuhnya dengan sekujur tubuh yang gemetar hebat.
"Tuaann ... pria itu melakukannya disini ... disini ... dan disini ... disini juga ... dia melakukannya disemua tubuhku, Tuan, hu ... hu ... hu ..."
Dasha telah menunjuk pipinya, bibirnya, pundaknya, ceruk lehernya, permukaan dadanya ... nyaris diseluruh lekuk tubuh mungil gadis itu!
'Damned ...!!!'
Bathin Luiz memaki dengan keras.
Hanya dengan membayangkan pria breng sek buruk rupa itu menjelajahi seluruh tubuh Dasha dengan tangan dan mulutnya yang kotor, Luiz merasa seluruh amarahnya yang membuncah bisa membuatnya menghancurkan seisi dunia!
Sungguh, saat ini Luiz merasa gila!
Di detik berikutnya Luiz tidak bisa mengendalikan dirinya lagi, saat ia merengkuh tubuh Dasha dengan kedua tangannya yang kuat, guna mencium pundak gadis yang terbalut piyama tipis berbahan silky.
Hanya dalam hitungan detik bibir Luiz telah berpindah keleher, kepelipis, kepucuk hidung, dahi ... dua kelopak mata yang terpejam diam dan terasa asin oleh karena sisa tangis, saat tersentuh bibir Luiz.
Luiz tidak bisa berhenti ...
Dasha bahkan tidak berniat menghentikannya ...
Luiz menunduk untuk menyapukan bibirnya dengan lembut kepermukaan da da yang terbuka, kedua jemari besar Luiz ikut menyapu seluruh permukaan tubuh Dasha yang lainnya, yang diam tanpa gerak, seolah sengaja memberikan ijin untuk Luiz meraba seluruh permukaan kulit tubuhnya tanpa bersisa!
Kemudian bibir Luiz kembali singgah dipucuk hidung Dasha, turun perlahan dan berlabuh diatas kedua bongkahan bibir yang sangat lembut, menempel disana tanpa bergerak ... tanpa bernafas ...
Luiz merasakan dua jemari Dasha bergerak pelan, membingkai kedua rahangnya yang mengeras, seolah menuntunnya untuk memperdalam sentuhan yang awalnya hanya menempel satu sama lain.
Itu adalah respon pertama yang diterima Luiz setelah sejak tadi tubuh Dasha mematung tanpa gerak.
Kesadaran Luiz yang sempat pergi seolah kembali. Namun saat Luiz terjingkat pelan dan ingin menarik diri, namanya telah tersebut lirih, menahan setiap kesadaran dan otak waras Luiz, menolak menguasai hasrat yang telanjur menang.
"Tuan Luiz ..."
"Tuan Luiz, jangan berhenti. Jangan biarkan aku mengingat perbuatan pria itu terus-menerus. Aku ... aku telah menyikat gigi dan membasuh mulutku hingga terluka, tapi ... tapi aroma m-mulut b-busuk pria itu ... seolah masih tertinggal didalam sana ... didalam otakku juga ... diseluruh pikiranku ... hmmmp ..."
Kalimat panjang berurai air mata itu telah terbungkam sempurna.
Bibir Luiz telah berada diseluruh permukaan bibir Dasha hingga kedalam rongga mulut gadis itu.
Lidahnya melesak kedalam, menyapu keras seluruh isi didalamnya sebelum membuatnya saling membelit dengan lidah yang terasa sangat empuk, mengu lumnya dengan luma tan yang tidak lagi hanya sebatas rasa iba, dan melindungi, namun telah mengarah pada gai rah seorang lelaki dewasa kepada sosok lawan jenis.
"Mmmhh ... T-Tuan Luiz ..."
Dasha nampak tereng ah, mencoba berkelit hanya untuk mengambil udara yang nyaris membuat lehernya tercekat kehabisan nafas, dan semua itu telah menyadarkan Luiz dari kegilaan yang sebenarnya.
Luiz terhenyak, seolah baru tersadar dari rasa mabuk yang hebat, sepasang matanya menatap Dasha dengan nanar, namun yang terlihat adalah wajah mungil Dasha justru terlihat berbinar, sedikit demi sedikit.
"Tuan Luiz terima kasih ..."
Luiz terpekur mendengar ungkapan yang terdengar sangat tulus dan polos.
'Apa ...? Apa yang telah aku lakukan?'
'Oh, astaga, semua ini terasa sangat salah, tapi kenapa aku malah melakukannya?'
'Aku telah mengikuti semua jejak sentuhan yang pria brengsek itu tinggalkan disekujur tubuh Dasha. Saat ini aku juga telah menjadi pria brengsek selanjutnya, karena melakukan hal yang sama ditubuh bocah berusia sebelas tahun ...!'
'Ini semua salah ...! Dan aku pasti sudah sakit ...!!'
Dasha pasti tidak tahu, juga tidak akan pernah menyangka, seberapa besar rasa penyesalan yang saat ini menyesak didada Luiz.
'Aku adalah pria yang brengsek!'
'Aku bahkan jauh lebih brengsek dari pria buruk rupa itu!'
'Aku yang seharusnya menjaga Dasha dengan seluruh jiwaku, bukan merusak masa depan gadis kecil dengan perlakuan yang tidak seharusnya!'
Dalam hati, Luiz terus saja memaki dirinya tanpa henti, sambil kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan keras.
"Tuan Luiz ..."
"Jangan mendekat!"
Dasha yang bergegas turun dari ranjang, urung mendekati sosok Luiz yang telah mundur selangkah demi selangkah, dengan wajah pucat pasi.
Dasha bahkan bisa melihat dengan jelas, bagaimana kulit Luiz yang aslinya berwarna pucat itu terlihat semakin memucat seperti mayat, dibawah temaramnya lampu kamar.
"Tuan Luiz, aku ..."
"Dasha, aku bilang jangan mendekat. Jangan mendekat ... mulai sekarang, kau jangan coba mendekatiku lagi ..."
"Tapi Tuan ..."
"Diam."
Dasha berdiri bingung mendapati wajah Luiz yang mengeras.
"Maafkan aku. Dasha, maafkan aku."
"Tidak, Tuan, kau tidak bersalah ..."
"Aku bersalah!" pungkas Luiz cepat, dengan wajah putus asa. "Tidak seharusnya aku melakukan semua itu kepadamu. Kau ... kau masih sangat kecil untuk menerima semua yang telah aku lakukan."
"Tuan Luiz tapi aku ..."
"Berhenti." Luiz kembali melarang Dasha yang hendak melangkah mendekat. "Jangan mendekatiku lagi. Dasha, aku mohon ... menjauhlah mulai saat ini, demi kebaikanmu ..."
"Dengarkan aku dulu, Tuan Luiz, aku ..."
Terlambat.
Dasha termenung ditempatnya, saat menyaksikan tubuh Luiz yang telah berbalik, dan dengan cepat menghilang dibalik pintu.
...
Bersambung ...
Support dong akaakk ... 🤗