
Pada akhirnya Victoria kembali melakukan hal yang sama, yakni merangkai sebuah buket bunga lagi, kali ini dengan materi florist full mawar merah, sesuai permintaan Leo yang kedua.
Namun meskipun tangannya terus bergerak untuk merangkai buket tersebut dengan teliti, tetap saja telinga dan matanya terus mencuri pandang kearah ketiga orang yang duduk disofa yang ada disudut ruangan, sambil berbincang santai.
Pembicaraan mereka bahkan sampai juga ditelinga Victoria yang terus menyimak dalam diam.
"Tuan Leo, kalau Tuan tidak keberatan, aku dan kakakku El ingin mengajak Tuan makan siang bersama ..." Luna berucap sambil tersenyum ramah.
Leo melirik jam tangannya sekilas. Dengan raut wajah penuh penyesalan, ia telah menggeleng perlahan.
"Terima kasih atas undangannya Nona Luna. Sejujurnya aku ingin sekali menerima tawaranmu, tapi sayang sekali waktuku sangat terbatas. Sejak tadi asistenku bahkan sudah mengirimkan message hingga berkali-kali untuk mengingatkan agendaku selanjutnya ..."
Leo menolak halus ajakan tersebut dengan apa adanya, karena pada kenyataannya, ponsel Leo terus saja disibukkan oleh bunyi notifikasi pesan masuk, yang tak henti-hentinya dari Paul, yang terus saja mengirimkan lebih dari lima message, demi mengingatkan Leo akan agenda kerja hari ini.
"Baiklah, tidak apa-apa kalau saat ini Tuan Leo sangat sibuk. Tapi aku sangat berharap, jika di lain kesempatan Tuan Leo bisa mampir kesini lagi. Karena kalau itu terjadi, seluruh karyawanku pasti akan berteriak histeris."
"Luna, kalau kenyataannya demikian, aku rasa sepertinya kau memerlukan kartu nama Tuan Leo secara profesional. Kau juga kan sering menangani berbagai event-event penting yang melibatkan artis, dengan demikian, siapa tahu kedepannya kau bisa mengundang Tuan Leo sebagai bintang tamu istimewa. Bukan begitu, Tuan Leo?"
Leo tertawa kecil mendengar usul EL yang gesit merespon ucapan adik kandungnya itu.
"Because business is business. Bukankah begitu, Tuan Leo?"
"Of course ...!" jawab Leo penuh semangat, diiringi tawa akrab ketiganya yang terdengar berbarengan.
Sesaat kemudian Leo telah merogoh dompetnya terlebih dahulu. Dia benar-benar mengeluarkan dua buah kartu nama sekaligus, dan menyerahkannya kepada El dan Luna.
"Tuan El berkata benar, sebaiknya kita bertukar kartu nama untuk kepentingan bisnis kedepan. Karena aku pastikan bahwa mulai besok, aku dan managemenku akan menjadi pelanggan setia dari Mega Florist."
Mendengar semua itu membuat Luna nyaris bersorak kegirangan.
Lagipula siapa yang tidak senang jika sang aktor idola telah mengikrarkan diri untuk menjadi pelanggan dari usaha yang baru saja ia rintis itu.
Luna menerima kartu nama Leo dengan suka cita, dan dia juga melakukan hal yang sama, yakni menyerahkan kartu nama Florist miliknya untuk pria itu, begitu pun dengan El.
"Maaf mengganggu. Tapi bunganya sudah selesai, Tuan." ujar Victoria yang kini telah berdiri di samping Leo, dengan buket bunga mawar merah ditangan.
Leo menatap Victoria sambil bangkit dari duduknya. Ia telah menyambut buket mawar merah yang cantik tersebut dengan senyum semringah, bahkan diam-diam mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi wajah yang genit, membuat Victoria hanya bisa menelan ludahnya kelu.
"Baiklah Nona Luna, Tuan El, dan ... Nona Victoria, karena bunganya sudah selesai maka sebaiknya aku pamit ..."
El dan Luna sama-sama bangkit dari duduknya sambil menganggukkan kepala.
"Senang mengenalmu, Tuan Leo," ujar El.
"Sama-sama, Tuan El."
"Kami juga akan keluar sekarang untuk makan siang," tutur Luna. "Vic, ikutlah dengan kami." tatapan Luna mengarah kepada Victoria lagi yang hanya mengangguk.
Dan mereka berempat beranjak dari ruangan tersebut, berjalan beriringan.
Leo dan El berada di depan sementara Luna dan Victoria dibelakang keduanya.
"Oh iya, Vic, setelah makan siang nanti aku akan langsung meninjau pekerjaan karyawan di sebuah hotel." tutur Luna, membuat alis Victoria sontak bertaut.
"Lalu aku bagaimana, Lun ...?"
"Tenang saja, Vic, aku yang akan mengantarmu kembali." suara El yang berasal dari depan mereka menyeruak begitu saja.
Victoria terdiam.
"Vic, kau tidak keberatan kan?" ucap Luna memastikan, saat menyadari Victoria yang belum memberi tanggapan apapun.
"Tidak ... tentu saja tidak ..." jawab Victoria perlahan, sambil menatap punggung tegap Leo yang berada tepat dihadapannya, yang seolah tak terusik dengan pembicaraan singkat itu ...
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sore ini, Luiz memang sengaja menyetir sendiri dan menyanggupi berbagai keinginan Mommy Lana sekaligus.
Mulai dari menjemput Dasha di asrama, mengambil pesanan kue tart ulang tahun untuk Victoria, bahkan sampai pada kegiatan mencari kado.
Lana bahkan secara terang-terangan telah menyangsikan maksud baik putranya itu, karena tidak yakin jika Luiz yang terkenal cukup dingin dalam kesehariannya mampu memutuskan hal-hal yang manis seperti ini.
"Aku tahu Mommy menyangsikan aku. Tapi aku akan tetap melakukannya."
"Bukan begitu, sayang, Mommy hanya merasa ..."
"Aku melakukannya demi mendukung Mommy. Agar pesta kejutan yang Mommy rancang dengan susah payah untuk Victoria nanti malam bisa berjalan dengan sempurna ..." itu adalah serangkaian kalimat Luiz yang ia ucapkan untuk meyakinkan Lana bahwa ia akan melakukan semua pekerjaan yang rasanya tak lazim dilakukan oleh seorang Luiz, yang merupakan tipe pria yang dalam kesehariannya sedingin es di kutub utara.
"Baiklah kalau begitu, Mommy mempercayai semua urusan itu ketanganmu." ucap Lana pada akhirnya.
"Siap, Momm."
"Jemputlah Dasha terlebih dahulu, agar kau punya teman dalam memutuskan semuanya. Dasha sangat menyenangkan jika diajak berbelanja apalagi mencari kado yang tepat ..."
"Baik, Momm. Aku akan menjemput Dasha terlebih dahulu."
Dan Luiz memang berkata benar, meskipun yang ia lakukan semata-mata bukan hanya sekedar mendukung rencana Mommy semata, tapi lebih dari itu.
Luiz butuh alasan yang jelas, agar bisa mengajak jalan Dasha bersamanya, tanpa perlu khawatir jika kelak akan menaruh curiga dihati siapapun.
"Tuan, mau apa kita ketempat ini?"
Dasha menatap Luiz dengan tatapan bingung, saat mobil Luiz berhenti tepat didepan sebuah toko kue ternama.
"Memangnya kau tidak tahu ini tempat apa?" jawab Luiz sambil membuka seat belt yang melingkar ditubuhnya.
"Ini kan toko kue."
"Itu kau sudah tahu, lalu untuk apa bertanya lagi?"
Dasha terlihat ikut membuka seat belt miliknya dan mengikuti gerakan Luiz yang keluar dari mobil miliknya.
"Apa kita akan membeli kue?" tanya gadis itu lagi, berusaha mensejajari langkah panjang Luiz.
"Hhmm ..."
"Kue ulang tahun untuk Nona Victoria?"
"Hhhmm ..."
Wajah Dasha berubah cemberut mendengar pembenaran Luiz. Namun ia memilih diam saja sambil terus berusaha mengimbangi langkah Luiz, yang karena tubuhnya yang tinggi membuat Dasha cukup kesulitan mengejar langkahnya yang panjang.
"Tunggulah disitu." Luiz menunjuk deretan sofa diujung ruangan kearah Dasha, sementara dirinya sendiri nampak mendekat ke area pemesanan.
Mau tidak mau Dasha pun menuruti titah pria itu.
Dasha berjalan kearah sofa dan menghempaskan tubuhnya disana, sambil tak luput memperhatikan tindak-tanduk Luiz yang bicara dengan seorang pelayan toko.
Tak berapa lama pria bertubuh tinggi tegap itu telah kembali dengan sebuah kotak kue dikedua tangannya.
'Huhhff ... aku sungguh si al harus menyaksikan semua hal manis ini didepan mataku ...'
'Bagaimana mungkin seorang Tuan Luiz sampai rela melakukan semua ini?'
'Memesan dan mengambil sendiri kue untuk Nona Victoria ...? Cih, semua itu terlalu manis ...! Lebay ...!'
'Alamat apa ini, kalau bukan karena Tuan Luiz yang masih menganggap istimewa Nona Victoria ...?'
Bathin Dasha mengoceh riuh-rendah.
"Dasha, ayo," ajak Luiz mengisyaratkan agar mereka kembali ke mobil.
Lagi-lagi, Dasha pun menurut tanpa kata, berdiri dari duduknya dan mengekori punggung tegap Luiz tanpa berkata apa-apa.
...NEXT...
LIKE dulu dong, baru lanjut π₯°