TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 115. Ancaman Konyol


Sesaat setelah pernyataan pembenaran Leo atas pertanyaan seorang wartawan telah terekam oleh semua orang, detik itu juga berita tentang hal itu menjadi viral.


Mendadak situasi dari pembukaan Gala Premiere tersebut nyaris tak terkendali, untunglah panitia bertindak cepat dengan menutup acara tersebut, kemudian langsung melanjutkannya dengan pemutaran film, guna meredam reaksi spontan dan berlebihan dari para penggemar Leo, yang menginginkan penjelasan lebih dari pernyataan Leo yang menggemparkan.


Opening film yang tersaji di layar besar telah membuat situasi menjadi sedikit terkendali, karena pada akhirnya, mau tak mau, para penggemar memilih duduk kembali dan menikmati mahakarya sang idola yang boleh jadi merupakan mahakarya yang terakhir.


Namun semua itu tidak serta merta menjamin bahwa situasinya akan terus kondusif hingga dipenghujung acara.


"Tuan Leo, kenapa Tuan membenarkan pernyataan wartawan itu ...? Itu adalah spekulasi yang ..."


"Paul, itu bukan spekulasi, melainkan kebenaran." pungkas Leo kearah Paul, sang manager, tepat saat mereka berada di belakang layar.


Leo memang telah mengendap kebelakang panggung begitu lampu ruangan bioskop padam, dan hal itu sengaja ia lakukan untuk menghindar.


Yang dilakukan Leo saat ini juga merupakan saran yang sama dari pihak keamanan khusus yang telah ditempatkan dirinya dan Luiz dalam menjaga keamanan dan keselamatan mereka semua, sehingga Leo bisa menghindar terlebih dahulu demi tidak terjadinya kericuhan akibat rasa penasaran masyarakat terlebih awak media atas penyataan Leo yang tiba-tiba.


Wajah Paul terlihat membeku, mendengar penggalan kalimat Leo yang terucap dengan penuh keyakinan.


"Tuan Leo jadi semua itu ..."


"Maafkan aku, Paul, karena pada akhirnya kau harus tahu dengan cara seperti ini. Sebenarnya aku ingin memberitahukan dirimu terlebih dahulu setelah premiere hari ini selesai, tapi pertanyaan pria tadi telah membuatku tak tahan untuk mengungkapkannya."


Paul masih setia mengawasi Leo yang tersenyum dengan wajah pias. Sejujurnya Paul sangat terpukul dengan keputusan Leo.


Itu sudah pasti.


Leo adalah sumber kehidupannya selama ini, bagaimana mungkin Paul tidak shock mendengar keputusan Leo yang ingin hengkang dari dunia entertainment yang telah membesarkan namanya?


"Tenanglah, Paul, aku tahu apa yang kau khawatirkan. Tapi kita akan membicarakannya nanti saja. Kau ... tidak perlu cemas." Leo menepuk bahu Paul yang membeku ditempatnya.


Leo tahu apa yang sedang menjadi beban pikiran sang manager, karena itulah dia meminta Paul untuk tidak khawatir.


"Tuan Leo mau kemana?" Paul bertanya lagi begitu melihat Leo yang hendak beranjak.


"Ada hal penting yang harus aku lakukan."


"Tapi Tuan ..."


"Aku akan pergi ke pintu samping, dan menunggu seseorang disana." bisik Leo lagi sambil menatap Paul lekat. "Kemudian bantulah aku untuk mengambil mobilku di parkiran belakang ..."


Paul tak bisa menyanggahnya lagi, karena pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk patuh saat Leo menyerahkan kunci mobilnya kedalam genggaman tangan Paul, sebelum pria itu menyelinap keluar menuju pintu samping.


🌸🌸🌸🌸🌸


Seperti yang telah diperkirakan, suasana diluar gedung bioskop pun semakin ramai dengan kehadiran awak media, yang jumlahnya semakin betambah dengan signifikan.


Namun keempat orang yang berdiri di parkiran belakang itu akhirnya bisa bernafas lega begitu meyakinkan mobil Leo telah benar-benar hilang dari pandangan, dengan membawa Victoria bersamanya.


"Kita benar-benar tidak jadi menonton?" tanya Dasha memecah keheningan.


Luiz yang mendengar pertanyaan bernada polos, sepolos raut wajah Dasha itu sontak melotot kesal. "Kau bisa melihatnya sendiri bahwa situasinya semakin tak terkendali, dan kau masih ingin masuk kedalam sana dan menonton?!"


"Ish ... aku kan cuma bertanya ..." sungut Dasha yang seolah tak terima menerima kekesalan Luiz begitu saja.


"Hal bodoh seperti itu masih perlu kau tanyakan ...?!"


Dasha terdiam mendengar nada suara Luiz yang terdengar semakin sinis. Hanya bibir atasnya yang telihat naik dua centi.


"Luiz, kau tidak perlu memarahi Dasha untuk hal sepele ..." celetuk El tiba-tiba kearah Luiz.


Namun Luiz yang menerima pembelaan spontan El untuk Dasha menjadi semakin berang saat menyadari El yang menurutnya sok jadi pahlawan kesiangan.


"Lalu untuk apa kau ikut campur?" ujar Luiz dengan intonasi suara yang mulai meninggi.


"Bukan ikut campur. Aku hanya mengingatkan."


"Aku tidak butuh nasihatmu." balas Luiz.


"Luiz, El, sudahlah ... kenapa kalian malah beradu mulut?" Florensia menengahi kedua pria yang terlihat saling menatap dengan wajah yang sama-sama mengeras.


"Leo sudah pergi, dan kita tidak jadi menonton. Kalau seperti ini, aku rasa sebaiknya aku kembali ke-apartemenku saja ..." ucap Florensia lagi sambil menatap Luiz dengan seksama.


"Aku juga memikirkan hal yang sama. Sebaiknya aku pulang ke rumah ..." desis El.


"Egh, Tuan El, kalau kau hendak pulang kerumahmu, lalu bagaimana denganku?" usik Dasha lagi sambil menatap El yang baru saja tersadar bahwa ia telah datang ketempat ini bersama Dasha.


"Astaga, Dasha, kau benar. Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu kembali ke-ranch terlebih dahulu sebelum ..."


"Tidak perlu. Aku akan pulang bersama Dasha." pungkas Luiz dengan wajah yang dingin.


"Tapi Tuan ..."


"Jangan membantah."


"Tapi kan Tuan datang kesini bersama Nona Florensia ..."


Luiz pun sontak membisu, seolah baru tersadar bahwa ternyata Dasha benar. Florensia memang datang ketempat ini bersamanya.


"Tidak usah khawatir, Luiz. Apartemenku dekat dari sini, dan aku bisa memesan taxi online ..." ucap Florensia yang menyadari kebimbangan Luiz.


"Apakah kau yakin bahwa apartemenmu berada tidak jauh dari tempat ini ..."


"Tentu saja. Apartemenku memang tidak jauh dari sini."


"Tapi, Flo ..."


"Pergilah ... sebelum tempat ini semakin ramai. Aku tidak apa-apa ... trust me ..."


"Baiklah ..."


🌸🌸🌸🌸🌸


"Ayo."


El meraih pergelangan tangan Florensia yang semula hendak membuka aplikasi untuk pemesanan taxi online, setelah sesaat yang lalu mobil Luiz juga telah meninggalkan area parkiran, dimana El dan Florensia masih berdiri bersisian disana.


Florensia yang terkejut refleks mengibaskan tangannya, namun ternyata cengkeraman El sama sekali tidak mengendur.


"Lepaskan El, kau ini mau apa?"


"Tidak usah memesan taxi online, aku yang akan mengantarmu." tanpa menunggu persetujuan Florensia, lagi-lagi El telah menarik pergelangan tangan wanita itu menuju mobilnya yang terparkir tak terlalu jauh.


"Lepaskan, aku tidak mau ikut denganmu!" Florensia yang tiba-tiba saja memberontak membuat El tak siap.


Mendadak cengkeraman di pergelangan tangan Florensia terurai, sehingga lewat tekanan yang kuat, tubuh Florensia telah terhuyung kebelakang dan ...


"Aaaaa ...!!"


"Flooo ...??"


Bughh ...!!


Terlambat, karena saat El berbalik hendak menangkapnya, tubuh ramping Florensia sudah lebih dahulu terjerembab menyentuh permukaan aspal yang keras.


"Astaga, Flo, kau berdarah ..." El berjongkok disisi tubuh Florensia yang terduduk diatas aspal yang mulai berembun.


Lutut wanita itu memang nampak memerah dan mengeluarkan darah.


"Ini semua karena dirimu! Hu ... hu ... hu ..." umpat Florensia yang langsung tersedu mendapati lututnya yang lecet. Perih bercampur rasa sakit hati untuk El terasa menyatu dalam lubuk hatinya.


"Maaf ... maafkan aku ..." wajah El terlihat memelas. Pria itu sangat merasa bersalah mendapati kenyataan bahwa ia telah membuat Florensia terluka. "Aku akan membantumu berdiri ..."


"Jangan sentuh aku!" Florensia menepis kasar tangan El yang hendak menyentuhnya, hendak membantu dirinya berdiri.


El tak membalas. Masih sambil berjongkok di sisi Florensia yang sedang berusaha mengangkat tubuhnya sendiri untuk bangun dengan susah payah. Namun manakala Florensia terlihat meringis menahan sakit ... El menjadi tak sanggup lagi untuk menjadi penonton dari kesakitan wanita itu semakin lama.


Dengan nekad El meraih tubuh Florensia dan membopongnya, tak lagi peduli dengan aksi protes Florensia yang begitu keras.


"Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku!"


El tak menggubris, melainkan tetap membopong tubuh florensia kearah mobilnya.


"El, apa kau tuli? Aku bilang turunkan aku!!"


Florensia memukul dada El berkali-kali, namun pria itu hanya meringis kecil, tetap tak sudi mengikuti kemauan Florensia.


"Kau benar-benar tuli yah ...?! Kau hendak membawaku kemana?!"


"Dokter ..."


"Aku tidak sakit!"


"Kau terluka."


"Lalu apa urusanmu ...?!"


"Aku yang membuatmu terluka."


"Turunkan aku!"


Wajah El tak beriak. Detik berikutnya ia telah membuka pintu samping mobilnya dan menaruh tubuh Florensia disana.


Begitu terduduk, Florensia malah berniat turun dari mobil El meskipun dengan kepayahan karena menahan sakit dari luka yang ada di lututnya, sehingga membuat dirinya tak bisa bergerak dengan leluasa.


Cup.


Satu buah kecupan mendarat di permukaan bibir Florensia secepat kilat, sanggup menghentikan pergerakan Florensia.


"Kau ...?!" Florensia mendelik marah.


"Kalau kau masih mencoba turun, maka aku akan melakukannya lebih dari itu." bisik El seraya menampilkan raut wajahnya yang bersungguh-sungguh.


"Apa kau bilang ...?!"


Bugh.


Pintu mobil yang ada disisi Florensia telah ditutup oleh El dengan ekspresi wajahnya yang dingin.


Pria itu terlihat berjalan mengitari mobilnya sebelum akhirnya naik ke mobil, memposisikan dirinya tepat dibelakang kemudi.


Meskipun raut wajah El terlihat dingin, namun yang ada didalam hatinya justru sebaliknya.


El tersenyum dalam hati saat menyadari bahwa Florensia tak berani membantahnya lagi, setelah menerima ancaman konyolnya, yang hendak mencium kembali wanita itu ...


Jika masih saja keras kepala ...!


...


Bersambung ...


LIKE and SUPPORT terus yah πŸ€—