TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
DALAM PELUKAN


Untuk beberapa saat lamanya Arshlan masih berada didepan wastafel. Ia telah membilas tangannya terlebih jemari tangan kanannya entah untuk yang kesekian kalinya.


"Dasar bocah nakal..!! bisa-bisanya dia mengerjaiku begitu rupa..!!" umpat Arshlan tepat didepan kaca wastafel, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri kegiatan mencuci tangannya yang kini kelihatan sedikit kisut saking lamanya bersentuhan dengan air.


Arshlan pun keluar dari kamar mandi dengan wajah terlipat, terlebih saat melihat wajah tanpa dosa milik Lana yang duduk melipat kaki ditengah ranjang king size miliknya sambil cengengesan.


Gadis itu telah mengenakan setelan piyama berwarna abu-abu, terlihat senada dengan warna bed cover berwarna abu-abu tua yang baru saja digantikan seorang maid, karena Arshlan tidak tahan melihat darah kotor milik Lana yang berceceran diatas bed cover sebelumnya yang berwarna putih kombinasi hitam.


"Kenapa kau masih berada disini..?" tanya Arshlan sambil berkacak pinggang.


"Kenapa Tuan bertanya..? tentu saja karena ini memang tempatku yang sesungguhnya.." dengan percaya diri merebahkan tubuhnya ditengah-tengah ranjang berukuran super besar, dengan posisi terlentang serta kedua tangan dan kaki terbuka lebar, seolah sedang benar-benar menikmati empuknya ranjang mahal milik Arshlan.


Melihat itu Arshlan sontak mendelik panik. "Tidak.. tidak.. cepat menyingkir dari tempat tidurku..!"


"Astaga Tuan.. kenapa anda pelit sekali..? dengan tubuhku yang kecil ini aku bahkan tidak akan memakan banyak tempat. Lagipula tempat tidur sebesar ini bahkan bisa ditiduri lima orang sekaligus, Tuan.."


"Cepat menyingkir..! jangan sampai kau mengotori tempat tidurku lagi..!"


"Tenang saja, Tuan, aku sudah pakai pengaman.."


"Pengaman?"


"Iya, pengaman. Anti bocor. Jadi tidak mungkin aku mengotori tempat tidur Tuan.."


Arshlan terdiam, namun matanya tetap menyorot kesal pada gadis bermuka tembok yang masih saja tidak sudi bergeming dari atas tempat tidurnya.


"Tuan.. jangan kesal seperti itu. Aku kan sudah minta maaf.."


"Kau pikir semua akan selesai hanya dengan permintaan maaf?"


"Lalu aku harus apa lagi agar semuanya selesai..?"


"Menghilang dari hadapanku secepatnya!"


"Kalau itu aku tidak bisa.."


"Kau..?!"


"Tuan, sekali lagi aku minta maaf. Sumpah Tuan.. aku benar-benar tidak tau kalau aku sedang datang bulan. Terakhir saat aku berpakaian masih tidak ada apa-apa disana.. Tuan kan bisa melihatnya sendiri, aku bahkan memakai dalaman berwarna putih dan tidak memakai pembalut.."


"Sudah, diam!" hardik Arshlan jengkel. "Daritadi mengoceh terus apa mulutmu tidak sakit..?"


"Maaf Tuan.."


"Huhhf.." rasanya Arshlan ingin memukul kepalanya kedinding saking kesalnya, terlebih saat kembali teringat seluruh tangannya yang dipenuhi darah kotor milik Lana.


Sungguh si al..!!


Seumur hidupnya yang telah tiga puluh sembilan tahun berada didunia, tidak pernah sekalipun ada kejadian seorang wanita yang berani mempermainkan dirinya seperti ini.


'Hiii.. untuk pria sekeren diriku, aku bahkan telah memegang sesuatu yang paling menjijikkan dari seorang wanita..!'


Dalam diam Arshlan bergidik ngeri campur keki.


"Baiklah.. kalau begitu biarkan aku menebus kesalahanku.." tiba-tiba Lana bangkit dari tempat tidur, langsung mendekati Arshlan yang masih bertelan jang dada, memutari tubuh kekar Arshlan dan dengan kedua tangannya ia mendorong punggung Arshlan kearah ranjang.


"Egh.. kau.. kau.. mau apa.."


"Ssssttt.."


"Lana.. kau.."


Bukkk..!!


Terlambat bagi Arshlan untuk mengajukan protes apalagi berkelit, karena Lana dengan kenekadan yang mencapai seribu persen telah mendorong punggung polos Arshlan hingga terjerembab keatas ranjang.


Arshlan yang ingin bergegas bangkit dengan membalikkan tubuhnya terlebih dahulu kembali terhenyak kaget, karena begitu tubuhnya terlentang, bocah bar-bar itu telah naik keatas perutnya dan duduk disana sambil tersenyum senang.


"Lana.. aku peringatkan, agar kau jangan coba-coba melakukan hal yang aneh..!" Arshlan bergidik ngeri. Ia bahkan baru menyadari, datang bulannya seorang wanita ternyata bisa semenjijikkan dan semenakutkan itu buatnya.


"Tuan, bisa diam tidak..?" ujar Lana cuek, sambil berusaha mengeluarkan sesuatu dari balik kantong piyamanya.


"Apa kau bilang..?!" hardik Arshlan, rasanya ia ingin sekali melempar tubuh gadis itu keluar jendela.


"Kan sudah aku bilang aku hanya ingin menebus kesalahanku." bertepatan dengan itu Lana telah berhasil mengeluarkan sebotol minyak zaitun andalannya.


"Kau.. mau apa..?"


"Mau apa? tentu saja ingin memijat. Memangnya Tuan pikir aku mau melakukan apa..?" dengan acuh Lana menumpahkan minyak zaitun ke dada bidang milik Arshlan.


Arshlan ingin mengajukan protes, namun begitu kedua tangan Lana menyentuh dan memijat lembut dengan tenaga yang pas, mendadak keinginan Arshlan untuk menolaknya menjadi urung.


Melihat raut wajah Tuan Arshlan yang mengendur membuat Lana bersorak dalam diam.


'Akhirnya.. kau menyukai pijatanku juga kan, Tuan arogan..?'


"Bagaimana Tuan..? enak tidak?" tanya Lana sambil tersenyum, kedua tangannya terus bekerja dengan profesional.


"Hmmm.."


"Tuan kau tau? aku memang ahlinya memijat.."


"Bisa tidak kau hanya memijat tanpa perlu bicara?" pungkas Arshlan masih dengan mata terpejam, sambil menikmati pijatan Lana yang terasa begitu pas.


"Aaaa.. baiklah.. baiklah.."


Akhirnya Lana pun mengunci mulutnya, namun tidak demikian dengan tangannya yang terus menerus menyusuri setiap jengkal tubuh Arshlan dengan pijatan, sambil tak henti berdecak kagum dalam hati.


'Tuan.. kau ini benar-benar pria tua yang sangat tampan. Pantas saja begitu banyak wanita yang menyukaimu.. dan tergila-gila padamu.. termasuk aku.. hihihi..'


Lana terkikik dalam hati. Tak berani bersuara karena takut mengusik wajah Tuan Arshlan yang saat ini terpejam dengan aura yang begitu tenang.


'Tuan.. selain tampan dan rupawan kau juga sangat keren.. bagaimana bisa dengan umurmu itu kau bisa memiliki fisik yang menawan seperti ini..?'


Saat ini otak Lana mulai disinggahi pikiran-pikiran genit. Matanya terus jelalatan kesana-kemari, menikmati setiap inchi tubuh Tuan Arshlan yang begitu liat dan eksotis.


Dada yang bidang..


Perut yang kotak-kotak..


Lengan yang kekar..


'Tuan.. kau bahkan bisa membuat aku mabuk hanya dengan merasakan semua yang sedang aku sentuh ini..'


Jari-jemari Lana menari dengan hati-hati.


Dan meskipun pikirannya telah dipenuhi fantasy, namun fokus Lana tetap tidak terbagi. Lana benar-benar ingin mengambil hati Tuan Arshlan sedikit demi sedikit.


Karena itulah, meskipun kini matanya mulai dijalari rasa kantuk, Lana terus bertahan agar tetap terjaga..


XXXXX


Dukk..!


Kedua bola mata Arshlan yang awalnya terpejam sambil menikmati pijatan yang super enak itu sontak melotot sempurna.


Arshlan nyaris menghardik kesal begitu menyadari tubuh Lana yang jatuh tepat diatas tubuhnya. Namun begitu telinganya mendengar bunyi tarikan nafas halus yang turun-naik secara teratur, Arshlan mengerinyitkan alisnya keheranan.


'Apakah dia tertidur..?'


Bathin Arshlan.


"Lana.." panggil Arshlan perlahan.


Hening. Tak ada sahutan, lagi-lagi hanya helaan nafas yang turun-naik dengan irama yang sama.


Arshlan menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajah Lana yang nampak pulas.


"Astaga.. dia benar-benar tertidur.." Arshlan bergumam perlahan, seraya menatap lekat wajah Lana yang berada tepat diatas dadanya.


Untuk sesaat Arshlan berpikir apa yang harus ia lakukan, namun merasa aneh saat menyadari ia malah merasa nyaman berada dalam posisi seperti itu.


Tubuh mungil Lana yang berada diatas tubuhnya terasa seringan kapas, dan tanpa sadar Arshlan telah membelai sebelah pipi Lana. Warna kulit Arshlan yang kecoklatan terlihat begitu kontras saat menyentuhnya.


'Gadis ini.. kulitnya seputih susu.. dan lembut seperti bayi..'


Dalam diam Arshlan mengagumi keindahan itu.


Mungkin merasa terusik dengan sentuhannya, membuat Lana menggeliat.


Menyadari gadis mungil itu merasa sedikit tidak nyaman, Arshlan pun menjatuhkan perlahan tubuh Lana kesamping, menaruh kepala gadis itu keatas lengannya dengan berhati-hati, sebelum akhirnya membawa seluruh tubuh Lana kedalam pelukan.


Dan Arshlan pun tersenyum saat melihat Lana yang terlihat semakin lelap.. meringkuk dengan nyaman dalam pelukannya..


.


.


.


Bersambung..


Favoritekan, Like, Comment, Vote, jangan lupa.. 🤗


Berharap dengan support yang maksimal akan menambah performa novel ini sehingga bisa lebih banyak yang membacanya..🥰


Thx and Lophyuu all.. 😘