TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 87. Milikku


Usai memastikan bahwa mobil dokter John benar-benar telah berlalu dari gerbang depan ranch, Leo pun bergegas kembali memasuki bangunan artistik tersebut.


Melintasi ruang keluarga, Leo telah mendapati wajah kedua orang tuanya yang duduk disana sambil tersenyum.


"Momm ...?"


Alis Leo bertaut saat mendapati Lana, yang semula bersikeras untuk terus bersama Victoria saat dokter John datang memeriksa, kini telah duduk manis di samping Arshlan.


"Jangan bertanya tentang apapun. Sebaiknya, cepatlah kau pergi menemui Victoria sekarang, dan mintalah penjelasan langsung darinya ..."


Bukan Lana, melainkan Arshlan yang menjawabnya. Namun disebelahnya, Lana terlihat mengangguk menyetujui sang suami.


"Tapi, dadd ..."


Mengambang.


Menatap pancaran mata kedua orang tuanya yang sulit ia artikan, telah membuat Leo memilih enggan meneruskan kalimat yang hendak terucap.


Nafas Leo terhembus perlahan sebelum akhirnya memilih untuk kembali berucap.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menemui Victoria sekarang." ujar Leo, lagi-lagi disambut oleh anggukan Lana dan Arshlan.


Langkah Leo pun terayun memasuki kamarnya, hendak menemui Victoria istrinya, dengan pikiran yang dipenuhi sejuta tanya.


'Ada apa dengan Victoria ...?'


🌸🌸🌸🌸🌸


Saat Leo membuka pintu kamar, yang pertama kali dilihatnya adalah pemandangan punggung Victoria.


Tubuh ramping wanita itu terbalut dress berwarna hijau lumut dibawah lutut.


Victoria berdiri mematung sambil bersidekap dada, dengan tatapan yang mengarah lurus keluar jendela kaca, dimana terdapat hamparan padang rumput menghijau sejauh mata memandang, lengkap dengan pemandangan beberapa ekor sapi yang sedang merumput dibawah bukit, dikejauhan sana.


"Vic ..." Leo menyentuh lembut salah satu pundak Victoria, sanggup membuat wanita itu terjaga dari lamunan panjang yang entah apa.


"Leo ...?" wajah Victoria terlihat salah tingkah, saat menyadari Leo telah berdiri tepat dihadapannya.


"Apa kata dokter John?" tanya Leo lagi, tanpa basa-basi.


Victoria terlihat membisu, membuat kedua alis Leo sontak berkerut.


"Vic ..."


"Egh, anu ... aku ... katanya tidak apa-apa ..."


Melihat gerak-gerik gelisah dari Victoria, membuat Leo semakin menyangsikan jawaban itu. Apalagi saat melihat Victoria yang berdiri sambil memilin jari-jemarinya satu sama lain. Terlihat sekali jika ada yang hendak disembunyikan, namun tetap terbaca.


"Tidak mungkin hanya itu. Pasti ada sesuatu."


Victoria tertunduk, menyembunyikan sepasang matanya yang sontak berkaca, karena di sisi lain ia merasa tak mampu membohongi Leo, dan di sisi lain pula, ia pun tak berani berkata jujur.


Sungguh, Victoria belum siap menerima reaksi Leo nanti seperti apa, meskipun mommy Lana telah meyakinkan dirinya berkali-kali bahwa Everything will be fine, tetap saja Victoria merasa kehilangan segenap keberaniannya.


"Katakan yang sejujurnya, bagaimana hasil pemeriksaan dokter John, dan sebenarnya kau sakit apa selama ini ...?"


"T-tidak, aku tidak s-sakit ..."


Tergeragap nyata.


"Lalu?"


Victoria terlihat menggigit bibirnya lagi, dan saat ia memberanikan diri menatap Leo, dua buah bening langsung luruh disana, tanpa tercegah.


Leo terperangah mendapati pemandangan sendu itu.


"Leo, maaf ... maafkan aku ..."


Dua jemari besar Leo telah digenggam dengan begitu kuat, oleh kedua jemari lentik Victoria. Wanita itu telah tersedu dihadapan Leo, memperlihatkan perasaan bersalah yang sangat mendalam.


"Vic, kau kenapa ...?" tanya Leo prihatin.


"Maafkan aku, maaf ..."


"Demi Tuhan, Vic, katakan padaku ada apa?! Jangan membuatku gila ...!!"


"Ak ... aku ... aku ..."


Leo melepaskan tangannya dari dalam genggaman tangan Victoria, ganti mencengkeram kedua bahu wanita itu sekaligus dengan erat.


"Katakan ..."


"Maaf ..."


"Katakan!"


"Leo ... aku ... aku ..."


"Aku bilang katakan, Victoria!!" suara Leo menggelegar saking frustasi dan tertekan, melihat kondisi Victoria yang masih tidak bisa berkata jujur.


Dua tangan yang gemetar milik Victoria terlihat mengelus perutnya perlahan.


Sungguh, saat ini Victoria merasa sangat takut, dan itu merupakan titik ketakutan tertinggi dalam hidupnya.


Lima tahun yang lalu, pengakuannya telah membuat Leo meradang dan tidak bersedia menerima kehamilannya, apalagi bertanggung jawab.


Lima tahun yang lalu, pengakuannya telah membuat Leo nekad menyeret dirinya untuk melakukan aborsi.


Lima tahun yang lalu, saat Victoria nekad mempertahankan janinnya dalam kondisi fisik dan mental yang buruk, Victoria justru merasakan sakitnya keguguran.


Yah, lima tahun yang lalu ...


Namun semuanya masih terasa nyata di pelupuk mata Victoria, seolah enggan sirna begitu saja ...!


Leo terhenyak luar biasa, saat ia mulai mengerti apa maksud yang hendak disampaikan Victoria, lewat gestur tubuhnya.


Cengkeraman di bahu Victoria pun perlahan mengendur, kemudian terlepas, bahkan kini langkah Leo pun surut tiga langkah, menjauh dari tubuh Victoria.


Leo mengawasi keseluruhan tubuh Victoria yang berguncang hebat dihadapannya, dan mendadak jiwanya seperti di tohok keras, begitu dirinya menyadari betapa besarnya ia menoreh luka dihati wanita itu.


"Leo, m-maafkan aku ... sungguh aku tidak pernah berniat ... untuk kembali menjebakmu. Aku ... aku tidak bermaksud begitu ... aku ... aku juga tidak menyangka jika aku telah ..."


Dalam sekejap, Leo telah membungkam seluruh kalimat Victoria, dengan cara merengkuh keseluruhan tubuh wanita yang sedang bergetar hebat itu.


"Sssttt ..." Leo berusaha menenangkan tangis Victoria yang pecah didadanya.


"Leo, maafkan aku ..."


"Tidak ada yang perlu dimaafkan."


Kepala dalam rengkuhan Leo itu menggeleng. Wajahnya yang dipenuhi air mata itu kemudian mendongak, menatap Leo dengan utuh.


"Kali ini, aku tidak akan menuntutmu lagi. Sungguh aku berjanji ... tapi tolong, Leo ... ijinkanlah aku memiliki anak ini, jangan memintaku untuk menghilangkannya seperti dulu, karena aku ... aku bersedia ... bahkan jika kau ingin kita berpisah ..."


Meskipun dalam tangis dan terbata-bata, namun tekad Victoria terdengar begitu bulat.


Leo tercenung saat menatap kedalaman mata Victoria.


Selama dalam kurun waktu lima tahun, Leo selalu saja meminta berpisah dengan berbagai cara, namun Victoria terlalu keras kepala dan memilih terus bertahan meskipun harus terluka.


Leo sungguh tak menyangka, jika saat ini justru kedua telinganya malah mendengar permintaan itu, langsung dari mulut Victoria sendiri.


"Vic, kau ..."


"Setelah keguguran tempo hari, selama lima tahun ini aku telah menggunakan kontrasepsi non hormonal Intra Urine Device untuk jangka waktu lima tahun. Namun setelah lima tahun berlalu, aku sungguh khilaf dan lupa menggantinya tepat waktu, sehingga kata dokter, telah terjadi sedikit peradangan di rahimku, yang membuat aku harus menjeda untuk pemasangan IUD kembali. Rencananya aku baru akan membuat janji dengan dokter kandungan di akhir minggu ini, tapi ternyata ... ternyata saat ini ... aku ... aku sudah terlanjur ..."


Tidak hanya Victoria yang merasakan lehernya seolah tercekat, karena pada kenyataannya, Leo pun merasakan hal yang serupa.


Leo bahkan baru mengetahui kebenarannya saat ini, bahwa ternyata dalam kurun waktu lima tahun, diam-diam Victoria telah menggunakan kontrasepsi.


'Pantas saja sekeras apapun aku berusaha, tidak pernah membuahkan hasil sedikitpun. Ternyata ... beginilah kenyataannya!'


Bathin Leo masygul.


Leo sungguh tak menyangka, bahwa selama ini ia telah benar-benar kecolongan, karena Victoria terbukti telah menggunakan kontrasepsi tanpa sepengetahuan dirinya!


"Aku akan membawa anak ini bersamaku ..."


"Aku tidak mengijinkannya."


Victoria terperangah mendengar sanggahan itu. "T-tapi ..."


"Jangan mimpi!"


"Leo ... kau ... kau ...."


Wajah Victoria terlihat panik, juga pucat pasi. Bayangan bahwa kelak Leo akan mengambil anak ini dari dirinya telah membuat bathinnya berkecamuk.


"Aku menginginkan bayi itu. Dia milikku." tukas Leo dingin, tak terbantah.


Kepala Victoria menggeleng tegas, air matanya tumpah ruah seolah tak pernah mengering, terus jatuh berlomba-lomba keatas kulit pipinya yang halus.


"Tidak Leo, dia milikku ..."


"Dia milikku ... begitupun dirimu."


Victoria terhenyak, nyaris tak percaya saat mendengarnya. Kepalanya kembali menggeleng berkali-kali ... sangsi dengan pendengarannya sendiri.


Mendapati itu Leo pun mendekati Victoria, merengkuh tubuh yang serapuh kapas itu, dan membawanya kedalam pelukan.


"Victoria, kau sudah mendengarnya kan? Dia milikku, begitupun dirimu. Kalian berdua adalah milikku, dan aku tidak akan pernah membiarkan satupun dari kalian, pergi dari diriku. Tidak akan pernah ...!"


...


Bersambung ...


"Dukungkah aku dalam Doa, agar senantiasa baik-baik saja, selalu berada dalam lindungan ALLAH SWT, & dilimpahkan kebahagiaan agar terus bersama. Amin ... Amin YRA ..."


Terima kasih para penyemangatku πŸ™