TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
5. HADIAH


"Katakan pada Marina, bahwa setelah ini, dia tidak boleh mendekatimu lagi." ujar Arshlan pada akhirnya sambil membelai punggung Lana perlahan, meskipun nada suaranya terdengar tegas.


"Tapi.."


"Apa kau mengerti..?"


"Sayang, setelah mendapat uang, ibu berencana tinggal diluar negeri dan.."


"Aku tidak peduli dia mau tinggal dimana. Diluar negeri atau diluar planet ini sekalian.. aku tidak peduli. Yang sedang aku bicarakan sekarang adalah tentang dirimu. Aku tidak ingin kau bertemu Marina karena aku tidak mau membuka peluang untuk wanita itu kembali memanipulasi pikiranmu seperti yang selalu ia lakukan hingga detik ini."


"Ish.. sayang.. apakah kau harus seserius itu menghadapi ibu?" ujar Lana mencoba tetap mengelak.


Lana mengerti apa yang sedang dikhawatirkan oleh suami posesifnya ini. Tapi jauh disudut hati Lana, dirinya pun sebenarnya ingin sekali bertemu Marina.


Apa kabar wanita yang selama ini dianggapnya ibu itu?


Setelah empat tahun tak pernah bertemu, dan menghilang tanpa bekas, Lana bahkan sangat terkejut saat kemarin menerima telepon dari Marina.


Lana tidak tau darimana Marina bisa mendapatkan nomor ponselnya, namun Lana tak bisa memungkiri bahwa jauh disudut hatinya Lana pun merasa rindu.


Saat mengetahui Robi meninggal tiga bulan yang lalu, Lana hanya bisa menangis didalam kamar.


Ia sedih mendengarnya, terlebih saat menerima kenyataan bahwa Arshlan sama sekali tidak mengijinkan dirinya menemui Robi untuk yang terakhir kalinya.


Melihat pemandangan Lana yang sedang termenung berjenak-jenak lamanya membuat Arshlan ikut terdiam.


Sesaat kemudian Arshlan hanya mampu menarik nafasnya berat sebelum akhirnya tetap memantapkan hati saat berucap dengan kalimat serupa, dengan nada suara yang tetap teguh dan datar.


"Lana, kau mengerti, kan..?"


Lana masih saja betah terdiam. Lana tau persis, bahwa jika Arshlan sudah bersikap keras kepala seperti ini, itu artinya ia tak lagi memiliki peluang untuk meminta dimengerti.


Sejujurnya, ibu secara terang-terangan telah meminta Lana agar mereka bisa bertemu langsung, namun suaminya yang keras kepala ini tidak bisa lagi dibujuk.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan mengatakan kepada ibu agar tidak perlu lagi mengkhawatirkan semuanya.." kemudian Lana berucap lirih seraya melirik Arshlan diam-diam. "Dan aku berjanji kepadamu, bahwa aku tidak akan menemui ibu.." lirihnya lagi.


"Gadis pintar.." desis Arshlan sambil mengecup bibir Lana sekilas. "Lalu apa imbalan untukku atas semua ini.." desis Arshlan dengan tatapan nakal.


Lana memanyunkan bibirnya sedikit kesal. "Tidak ada."


"Apa?! tidak ada?!" sepasang mata Arshlan melotot karenanya.


Melihat itu Lana tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, namun bibirnya tetap maju dua centi demi mengejek Arshlan.


"Beraninya kau.." desis Arshlan sambil menarik tengkuk Lana dengan gerakan secepat kilat, guna mendaratkan ciuman yang hangat dan menuntut disana. "Aku mau semuanya.. karena yang ada pada dirimu.. semuanya milikku." bisiknya dengan nada posesif, sambil mendorong bagian bawah tubuhnya yang telah begitu cepat membesar dan menegang, jauh kedalam lorong yang gelap dan lembab.


Seketika kamar yang luas itupun kembali menghangat..


Dipenuhi era ngan yang tertahan..


Rinti han manja..


Serta deru nafas yang saling berkejaran..


"Apa ini..?"


Lana membolak-balik sebuah amplop ditangannya, sementara dihadapannya, Arshlan terlihat tersenyum jumawa sambil melipat tangannya didada, membuat tonjolan otot-otot kekarnya yang ada dibalik kemeja berwarna putih yang lengannya terlipat sampai kesiku itu terlihat sempurna.


Sesaat setelah Arshlan tiba dirumah, ia telah mengajak Lana menuju ruang kerjanya terlebih dahulu.


Arshlan telah mengabaikan rutinitas mandi dan menemui si kembar seperti hari-hari biasanya, demi bisa secepatnya memberi kejutan terbaik untuk istri kecilnya yang sangat ia cintai itu.


"Hadiah khusus untukmu..."


"Hadiah khusus...?"


"Hhhmm..." Arshlan terlihat menebarkan senyum penuh arti.


Lana menatap wajah Arshlan dan amplop yang ada ditangannya berganti-ganti, seolah sedang menerka sesuatu dalam benaknya.


"Kalau kau begitu penasaran dengan isinya, kenapa kau tidak segera membukanya..?" ujar Arshlan lagi masih dengan nada bicara yang begitu tenang.


Empat tahun telah berlalu dan sudah terlalu banyak kejutan manis yang diberikan oleh Arshlan untuknya, namun tetap saja semua hal yang dilakukan suaminya yang tampan itu selalu saja terasa mengejutkan, mendebarkan dan sangat manis untuk Lana.


"Baiklah aku akan membukanya.." dengan berucap demikian Lana langsung memutuskan untuk merobek amplop yang terasa ringan itu, dan setelah memperhatikan beberapa saat isinya dengan alis bertaut, dalam sekejap seluruh wajah Lana telah berbinar.


"Bagaimana..? kau suka tidak dengan kejutannya..?"


Lana menatap Arshlan yang masih bersandar dimeja kerjanya, masih dengan senyum yang sama.


"Sayang.. ini.. ini.."


"Hhmm..?" alis Arshlan terangkat.


Detik berikutnya Lana memilih menghambur ketubuh kekar dihadapannya.


Arshlan tertawa renyah saat menyambut tubuh mungil Lana yang melompat kearahnya dengan suka cita, namun tawa lepasnya terbungkam sempurna begitu Lana mulai mengu lum bibirnya dengan bersemangat.


Seketika kedua bibir mereka mulai saling melahap satu sama lain, tak ketinggalan pula kedua lidah didalamnya yang saling membelit dengan tangkas.


Kedua tangan Lana terkalung erat dileher Arshlan, sedangkan kedua tangan Arshlan yang awalnya terlipat kini mulai menyusuri setiap jengkal pinggang Lana, terus kebawah, dan baru berhenti masing-masing diatas bo kong yang se kal.


Lewat tangannya Arshlan telah membuat gerakan mengusap dan meremas dua bongkahan mon tok itu dengan naf su yang mulai membara.


"Wah.. sepertinya aku akan mendapat hadiah istimewa, karena telah berhasil memberikan hadiah yang juga istimewa.." bisik Arshlan saat menyadari jemari lentik Lana mulai mempreteli kancing kemejanya satu persatu.


"As you wish, honey.."


Balas Lana dengan bisikan yang tak kalah mesra.


...


Kasih support dulu sebelum next bab yah.. 🔥