TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 63. Ancaman Gila


Begitu Victoria menginjakkan kakinya di parkiran, ia langsung bisa menangkap pemandangan mobil Leo yang terparkir dibawah sebatang pohon akasia.


"Ternyata dia tidak berbohong," Victoria berucap perlahan, sambil melangkahkan kakinya kearah mobil sport tersebut.


Ditangannya, sebuah buket cantik pemberian Leo tadi siang telah ia peluk erat kedadanya.


Kira-kira tiga puluh menit yang lalu Victoria telah dikejutkan dengan sebuah pesan singkat dari Leo, yang memberitahukan dirinya bahwa Leo telah berada diparkiran belakang Mega Florist.


Membaca pesan singkat tersebut otomatis dahi Victoria berkerut.


Namun meskipun demikian Victoria tetap membalasnya.


'Aku akan segera kesana setelah jam kerjaku usai.'


Begitulah kira-kira bunyi ketikan Victoria atas balasan pesan Leo di kotak masuk pesannya.


Tak sampai satu menit usai menekan icon bertuliskan kata send, notifikasi pesan masuk di ponselnya kembali berbunyi.


'Aku akan menunggumu.'


Membaca balasan pesan Leo itu, lagi-lagi Victoria merasa sanksi.


'Sejak kapan Leo bersedia menungguku ...?'


'Apa karena hari ini aku sedang berulang tahun sehingga pria itu tiba-tiba berubah menjadi lebih baik dan perhatian ...?'


Bathin Victoria sedikit heran, namun lebih memilih untuk tidak membalas pesan terakhir itu, kembali dalam pekerjaan mula-mula yakni memeriksa kembali laporan transaksi penjualan Mega Florist untuk hari ini.


Tanpa terasa langkah Victoria telah membawa Victoria tiba disisi mobil Leo yang bunyi mesinnya masih menyala.


Sedikit terkejut ketika kaca dari mobil itu telah turun setengah, menampakkan seraut wajah kusut milik Leo muncul disana.


"Masuklah." tandas pria itu.


"Aku akan menaruh ini dulu." jawab Victoria sambil sedikit mengacungkan buket bunga yang berada dalam pelukannya.


"Taruh saja di kursi belakang."


Victoria pun menurut.


Victoria membuka pintu belakang terlebih dahulu untuk menaruh buket bunga miliknya.


Ternyata bangku itu tidaklah kosong, karena buket mawar merah yang tadi dipesan Leo masih berada disana.


'Kenapa bunganya masih ada?'


''Ternyata dia belum juga memberikan bunga itu kepada orang yang ia maksudkan.'


Victoria telah menaruh buket bunga miliknya itu bersisian.


Begitu selesai, ia pun menempatkan dirinya di kursi depan, tepat di samping Leo yang langsung menginjak pedal gas begitu Victoria selesai memakai seat belt.


Mobil sport berwarna hitam itupun melaju dengan kecepatan sedang, membelah ruas jalanan kota yang ramai.


Belum ada yang bicara diantara mereka. Karena Leo terlihat fokus menatap jalanan, sedangkan Victoria memang jarang bicara kalau Leo sendiri tidak mengajaknya bicara.


"Kita ke apartemen dulu." pungkas Leo, memecah keheningan yang ada.


Victoria mengangkat wajahnya, seraya mengangguk kecil, menatap Leo yang barusan bicara tanpa menoleh.


Tadi siang wajah pria itu terlihat ceria meskipun terkesan lelah.


Senyum menggoda Leo bahkan terus melekat dalam ingatan Victoria sepanjang hari, apalagi saat mengingat betapa manisnya Leo mengucapkan selamat ulang tahun kepada dirinya, diantara ciuman yang menggetarkan jiwa.


Sebuah buket bunga cantik yang ia rangkai untuk pria itu, bahkan telah dihadiahkan Leo untuk dirinya juga.


Namun pemandangan wajah Leo yang dingin saat ini, sangatlah berbeda seratus delapan puluh derajat.


Sekarang Leo terlihat sekali sedang kesal.


Ada apa?


Apakah dia sedang bertengkar dengan pacarnya Lisa?


Entahlah ...


Mobil Leo telah berhenti sempurna di area basement, dimana Leo mempunyai tempat parkiran khusus disana.


Saat Victoria membuka pintu belakang untuk mengambil buket bunga miliknya, matanya kembali tertuju pada serangkaian mawar merah yang sangat indah.


"Leo, bunga yang satunya ..."


"Kalau kau mau, kau boleh mengambilnya." pungkas Leo cuek, membuat Victoria terkesima.


"Hah?"


"Tidak mau? Ya sudah, kalau begitu biar aku buang saja ..."


"Egh, j-jangan!" larang Victoria secepat kilat.


Lagipula bagaimana mungkin buket bunga secantik itu hendak dibuang?


Astaga, Victoria benar-benar tidak rela. Apalagi saat menyadari ia telah bersusah payah mendekorasi bunga tersebut seindah mungkin.


"Aku akan membawanya keatas. Mawar yang cantik ini, sayang kalau dibuang."


Victoria meraup buket bunga tersebut, sehingga kini dirinya memeluk dua buket bunga berukuran besar sekaligus.


Melihat Victoria yang telah berjalan sambil memeluk dua buket bunga yang lumayan besar itu sekaligus, membuat Leo mau tidak mau ikut terusik.


"Sini aku bawakan." pada akhirnya Leo telah mengambil alih semuanya dari tangan Victoria.


Leo berjalan meninggalkan Victoria yang masih saja berdiri kebingungan, menerima sikap Leo yang acuh tak acuh.


🌸🌸🌸🌸🌸


Leo menaruh kedua buket bunga yang ia bawa keatas meja.


Melihat itu Victoria bergegas mengambil dua pot kaca sekaligus dari arah dapur.


Saat Victoria kembali pria itu sudah tidak berada disana, namun Victoria bisa melihat pintu kamar yang terbuka menandakan seseorang telah masuk kesana namun tidak menutupnya kembali dengan benar.


Usai memajang kedua pot tersebut satunya diatas meja, dan satunya lagi diatas buffet kecil yang ada disisi televisi layar datar berukuran besar, Victoria pun menatap keduanya dengan penuh kepuasan.


Detik berikutnya Victoria telah memutuskan melangkah kedalam kamar, berniat segera menyiapkan diri untuk undangan makan malam di rumah sang mertua.


Begitu masuk dahi Victoria langsung mengerinyit.


Pria itu sedang tenggelam dalam kesibukannya, yang asik menscroll ponselnya sambil sesekali mengetikkan sesuatu disana.


"Leo, kenapa semua ini berantakan sekali?" tanya Victoria keheranan.


Meskipun kalimatnya tidak direspon, namun dengan gesit Victoria langsung memungut satu persatu paper bag tersebut, berusaha memindahkan dan menyusunnya dengan rapi disamping wadrobe milik Leo.


"Semua itu milikmu."


Victoria menoleh kearah pria yang telah bicara, namun perhatiannya masih tertuju penuh pada ponsel.


"Ha-ah ...? Apa?"


"Semua itu milikmu."


"Ha-ah ...?"


Kali ini Leo telah menatap Victoria dengan tatapan tajam. "Kau tuli yah? dari tadi 'ha-ah' terus ...?"


Leo bangkit dari posisi tidurannya, langsung menghampiri Victoria yang berdiri bingung.


Tanpa banyak bicara ia telah mengangkat tubuh Victoria.


Victoria pun memekik kaget, namun tidak mengurungkan niat Leo sedikitpun untuk membawanya mendekati ranjang.


"Leo ... ihh, kau mau apa ...?"


Leo menyeringai saat berhasil menghempaskan tubuh Victoria keatas ranjang mereka yang terlihat berantakan.


"Masih bertanya? Aku sudah menyeretmu ke ranjang dan kau masih menanyakan apa yang aku mau ...?" berucap demikian sambil membuka T-Shirt yang melekat ditubuhnya yang menawan.


Dalam sekejap mata, penampakan sebuah dada bidang lengkap dengan perutnya yang beruas indah terhampar didepan mata Victoria, yang hanya bisa menelan ludahnya sebelum membuang pandangannya kearah lain, sambil mencoba menetralisir degup jantungnya yang memacu tak terkendali.


Leo membuka gesper begitupun dengan celananya secepat kilat, menyisakan boxer ketat dimana sesuatu berukuran big size terlihat menyembul disana.


Victoria beringsut saat Leo naik keatas ranjang.


"Leo, kau jangan bercanda,"


"Apa kau melihatku sedang tertawa?" pungkas Leo acuh seraya mempreteli kancing hem depan milik Victoria.


"Tapi kita harus pergi kerumahmu ..."


"Ini masih sore."


"Kau mau aku hanya datang dan langsung makan begitu saja? Aku harus membantu Mommy Lana menyiapkan semuanya ..."


Usai membuang hem tersebut kelantai kini giliran b r a milik Victoria yang melayang kearah yang sama.


"Dirumahku tidak kekurangan pelayan. Untuk apa kau memikirkan semua itu?"


"Tapi aku ..."


"Hentikan." berucap singkat, kemudian mengecup singkat juga bibir Victoria yang sedikit terbuka. "Vic, kau jangan membuatku bertambah marah."


"Aaaww ..."


Victoria memekik, manakala dengan sekali gerakan yang cukup kasar, Leo telah berhasil menarik lepas celana beserta segi tiga pengaman miliknya sekaligus.


Marah?


Victoria bahkan tidak tahu, apa penyebab kemarahan Leo padanya.


"Leo, kalau kau selalu saja bergerak kasar seperti ini, kau bisa merusak semua pakaianku ..." protes Victoria kesal.


"Dan kalau kau terus menunjukkan keengganan untuk melayaniku, maka akan kubuat kau tidak bisa turun dari ranjang ini sampai besok pagi!"


Mendengar ancaman gila Leo sontak sepasang mata milik Victoria telah membelalak sempurna.


"Kau sudah gila yah?!" sengitnya berusaha melepaskan diri dari kungkungan Leo yang semakin memenjarakannya lewat himpitan tubuh kekar pria itu.


"Kau ingin melihatku menggila diatas tubuhmu, hhmm?"


"Dasar gila. Tidak waras!" umpat Victoria berusaha memberontak saat merasakan kedua pergelangan tangannya telah ditangkap, dan dipenjarakan diatas kepalanya sendiri.


Leo menyeringai mendapati tubuh Victoria yang mengge liat dibawah tubuhnya.


Pemandangan erotis itu sungguh ampuh membuat jakun Leo turun naik tak beraturan.


Victoria pasti tidak menyadarinya, bahwa pemberontakan dirinya telah membuat tubuh se xy miliknya meliuk-liuk indah bak penari ular, membuat jamur raksasa milik Leo bangkit dengan perkasa.


Pemberontakan Victoria ikut berdampak pada berguncangnya dua buah bukit berukuran super yang menjadi kesukaan Leo selama ini, seolah merayu agar dijamah.


Leo menundukkan wajahnya kepucuk bukit yang mengeras itu, memainkan ujung lidahnya dengan lincah, diselingi kecupan dan kulu man yang membuat angan Victoria ikut melayang ke langit ke tujuh.


"Sshh ... mmmh ..." desa han merdu Victoria akhirnya lolos tak tercegah, menyadari tembok pertahanan dirinya yang telah ambrol tak bersisa.


"Leo ... ohh ..."


Leo menyeringai senang mendapati penerimaan Victoria pada dirinya.


Tubuh wanita itu akhirnya telah memperlihatkan gestur yang mendamba, sebesar has rat yang kini telah menguasai sekujur tubuhnya.


"Perlakukan aku dengan baik, kalau kau tidak mau aku hancurkan. Kau mengerti?!" bisik Leo sambil mengangkat wajahnya dari bukit kembar milik Victoria, sebelum akhirnya melabuhkan ciumannya di leher wanita itu, yang diakhiri dengan gigitan gemas.


"Awww ..." desis Victoria sedikit kesakitan.


"Kau dengar tidak apa yang aku katakan?"


"Iya, Leo, aku mendengarnya ..." ucap Victoria sambil meringis.


"Ulangi dengan lebih baik."


Victoria mengatur nafasnya yang mulai memburu, saat menerima intimidasi Leo terhadap dirinya, sementara dibawah sana jamur raksasa pria itu mengusap gerbang gua keramat miliknya yang telah basah.


"Sayang, aku mendengarmu ... aku akan menurut. Tolong lakukan dengan lembut, sayang ..." pinta Victoria bersungguh-sungguh.


Sesungguhnya Victoria merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, namun perlakuan intim Leo telah membangkitkan gai rahnya secara alamiah.


Namun demikian, Victoria hanya bisa meminta sejak awal, agar Leo mau melakukannya dengan perlahan ...


...


Bersambung ...


Syukurin lu. Emang enak di gantung ...? πŸ€ͺ