TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 12. Sangat Wangi


Sinar hangat mentari yang telah merayap begitu tinggi telah menerobos masuk lewat celah tirai yang bergoyang, tertiup semilirnya angin.


Diatas ranjang berukuran besar, Luiz yang awalanya hanya menggeliat malas dengan sepasang mata yang masih setia terpejam, terlihat menarik tubuhnya berkali-kali sebelum akhirnya tersentak bangun.


"Astaga, jam berapa ini?" ucap Luiz seolah berbicara dengan dirinya sendiri.


Jam sembilan pagi, dan dia pasti telah melewatkan jam sarapan.


Lagipula bagaimana bisa Luiz terbangun di pagi hari, dengan pikiran yang kalut semalaman karena memikirkan semua yang terjadi antara dirinya dan Dasha, terlebih kelancangan yang telah membuat dirinya melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan.


Sepasang mata Luiz saja baru bisa terpejam sempurna disaat kokok ayam jantan mulai terdengar sahut-menyahut diluar sana.


Untuk sesaat Luiz masih sibuk mengumpulkan serpihan nyawanya yang masih berserakan, sebelum memutuskan turun dari ranjang dan melangkah gontai menuju kamar mandi yang berada didalam kamar itu juga.


Tidak sampai setengah jam Luiz telah berdiri didepan cermin dengan polo shirt berwarna hitam, terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih tanpa cela.


Tanpa membuang waktu lebih banyak Luiz telah melangkahkan kakinya keluar.


Begitu pintu kamar Luiz terbuka yang pertama terdengar oleh telinganya adalah suara tawa terkikik milik dua orang yang terdengar sangat khas ditelinganya.


Tak salah lagi, itu suara Leo dan ... Dasha.


Dasha?


Bagaimana mungkin gadis cilik itu bisa tertawa lepas berderai seperti itu, setelah beberapa kejadian beruntun yang ia lalui?


Meski sempat meragu, pada akhirnya Luiz tetap memantapkan hatinya untuk melangkah keluar.


Benar saja, pemandangan Leo dan Dasha yang seperti biasanya sedang bercengkerama ria setiap kali kedua makhluk itu bertemu, terpampang dengan jelas didepan mata Luiz.


Yah, Leo dan Dasha.


Keduanya sedang bersenda gurau disofa panjang yang ada diruang tengah sambil memainkan permainan yang mirip dengan permainan gunting, batu, kertas.


Rupanya Leo dan Dasha tidak hanya sendiri, karena diujung sofa yang lain, Mommy Lana ikut menyumbangkan tawa sesekali sambil memperhatikan tingkah polah Leo dan Dasha yang selalu mengundang gelak tawa.


Luiz sedikit termanggu mendapati pemandangan tersebut, terlebih saat menyaksikan keceriaan pada seraut wajah Dasha.


Sukar dipercaya, karena Luiz bahkan tidak melihat sedikitpun gurat kesedihan yang menampakkan jika gadis itu baru saja mengalami sebuah peristiwa yang bisa saja menyisakan trauma berat.


"Hei, Luiz, kenapa kau berdiam disitu?" Leo yang pertama kali menangkap sosok Luiz yang berdiri termanggu tak jauh dari sofa sontak menyapa saudara kembarnya itu.


Luiz tersenyum kecut, sambil melangkahkan kakinya mendekat, kemudian dengan gerakan perlahan ia menghempaskan tubuhnya ke salah satu sofa.


"Luiz, tumben kau bangun sangat terlambat? Kau bahkan melewatkan jam sarapanmu ..."


Bukannya menjawab pertanyaan Leo, Luiz malah menatap Lana yang saat ini juga sedang menatapnya.


"Maaf, Momm, aku tidak sempat ikut sarapan. Aku saja terkejut saat menyadari matahari sudah sangat tinggi." kilah Luiz.


Mendengar itu Lana tersenyum. "Tidak apa-apa, sayang. Tadinya Mommy juga ingin membangunkanmu, tapi seperti biasa, Daddy kalian tidak pernah suka jika ada yang mengusik kalian meskipun itu mommy ..."


"Daddy is the best ..." celetukan Leo yang tiba-tiba telah merubah arah tatapan Lana yang semula teduh kini ganti melotot kecil.


"Apa maksudmu, Leo? apakah kau ingin mengatakan bahwa mommy bukan yang the best ...?" protes Lana berpura-pura galak.


Melihat Lana yang seperti itu membuat Dasha tertawa kecil sambil mengejek Leo, sementara Leo telah beringsut secepat kilat menajuhi Dasha, guna merapat kearah Lana.


"Aaahh ... tidak, Momm, bukan seperti itu. Tentu saja Mommy juga the best." rayu Leo sambil menjatuhkan kepalanya kepangkuan Lana.


Seperti biasa, pria bertubuh atletis dengan kulit berwarna eksotis itu sangat suka bermanja dengan sang Mommy.


"Dasar bayi besar." desis Luiz dengan intonasi suara datar, saat melihat kemanjaan Leo yang kini telah terang-terangan menyurukkan kepala kepangkuan Lana yang justru menerima kemanjaan salah satu putra kembarnya itu dengan senang hati.


Lana selalu merasa senang, karena pada kenyataaannya kesempatan untuk memanjakan putranya, seperti biasa hanya berlaku untuk Leo seorang.


Sementara Luiz?


Hhhh ... Lana tidak bisa mengharapkan adegan super unyu itu bisa berlaku untuk putranya yang berwajah dingin dengan sifat dan sikapnya yang juga berkali-kali lipat lebih dingin.


"Hei ... hei ... Luiz, ada apa dengan wajahmu? Apakah sekarang kau sedang cemburu padaku?" pungkas Leo, seperti biasa ia selalu suka menggoda Luiz.


"Luiz, kalau kau mau kau juga bisa bermanja seperti Leo ..." Lana ikut menggoda sambil merentangkan tangannya kearah Luiz dengan senyum yang juga menggoda.


"What ...? No ...!"


Tepis Luiz tegas.


Mendengar penolakan itu sontak saja Lana, Leo, dan tak ketinggalan Dasha langsung memperdengarkan gelak tawa mereka yang berderai, tinggalah Luiz seorang yang tetap diam sambil terus menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan wajahnya yang seperti biasa ... minim ekspresi.


🌸🌸🌸🌸🌸


"Luiz, tunggulah disini sebentar, Mommy akan menyuruh maid, untuk membawakan sarapan untukmu." ujar Lana kemudian setelah ruangan yang awalnya dipenuhi gelak tawa itu mulai normal kembali.


Mereka bertiga begitu puas menertawakan Luiz, namun Luiz sendiri malah tidak bergeming sama sekali.


Luiz pun mengangguk tanpa kata. Hanya memperhatikan bagaimana Lana bangkit dari duduknya setelah Leo mengangkat kepalanya dari pangkuan.


"Dan kalian, sudah cukup bercandanya. Kalau tertawa terus, nanti perut kalian berdua bisa sakit ..." ucap Lana kearah Leo dan Dasha yang masih betah dengan senyuman.


"Kapan kau datang?" tanya Luiz kearah Leo begitu Lana menghilang dibalik dinding pemisah ruangan.


"Kira-kira sejam yang lalu." jawab Leo setelah melirik jarum jam tangannya terlebih dahulu.


"Tuan Luiz, tadi pagi Tuan Leo datang kesini dengan membawa pacar barunya ..."


Celetukan ringan Dasha telah membuat Leo melotot, sementara Luiz masih terlihat sedikit tidak peduli.


"Jangan bicara sembarangan. Memangnya sejak kapan Victoria jadi pacarku?"


"Victoria?" tanya Luiz tanpa sadar.


"Kau datang sepagi ini bersama Victoria?" ulang Luiz nyaris tak percaya.


"Ohh ... itu karena dia memiliki dokumen penting yang harus ditandatangani oleh Daddy secepatnya." kilah Leo dengan lihainya.


Luiz membisu.


"Kau tidak percaya? buktinya saat ini dia masih berada diruang kerja Daddy."


"Aku tidak peduli." Luiz bangkit dari duduknya begitu saja.


"Egh, kau mau kemana?"


"Istal."


"Tuan Luiz, aku ikut ...!" Dasha berdiri dari duduknya dengan bergegas, mengekori langkah panjang Luiz yang terayun acuh, meninggalkan Leo yang bengong karena ditinggalkan begitu saja.


🌸🌸🌸🌸🌸


Meskipun kesulitan tapi Dasha tidak berniat menyerah dengan mudah, saat terus berusaha mensejajari langkah Luiz yang panjang-panjang.


"Dasha, kau mau apa?" tanya Luiz dengan intonasi suara tak bersahabat, menyadari Dasha yang terus berusaha mengimbangi langkahnya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin mengikuti Tuan Luiz ke Istal."


"Jangan mengikutiku."


"Kenapa tidak boleh?"


"Apa kau sudah pikun? Bukankah semalam aku sudah mengatakannya dengan jelas agar kau harus menjaga jarak denganku ...?"


"Aku kan tidak bilang kalau aku setuju ..."


"Kau ...?!"


Langkah Luiz terhenti begitu saja. Namun saat Luiz menoleh, ia malah mendapati wajah Dasha yang cengengesan.


"Pergi sana!" usir Luiz dengan wajah kesal.


"Tidak mau."


"Kau ... beraninya kau menentang perintahku ...?!"


"Tuan Luiz, kenapa kau menyuruhku menjauh? Memangnya apa salahku ...?"


Sinar mata Dasha yang menatap Luiz tanpa dosa telah membuat Luiz semakin frustasi.


'Gadis ini ...'


'Bisa-bisanya ia terus berusaha menempel padaku. Apakah dia tidak merasa canggung sama sekali, setelah apa yang terjadi semalam ...?'


Luiz menghembuskan nafasnya yang berat, tatapannya mengarah penuh pada Dasha yang masih menatapnya.


"Dasha, apakah kau... kau yakin otakmu baik-baik saja?" tanya Luiz memastikan.


"Apakah Tuan tidak melihatnya? Aku baik-baik saja, memangnya ada apa ...?"


Luiz menekan rasa terhenyak yang menguasai jiwanya mendengar jawaban remeh itu.


"Baiklah ... aku harap, kau memang tidak mengingatnya. Kau ... jangan pernah mengingatnya lagi. Lupakan. Lupakan semuanya, Dasha ... karena itu lebih baik."


"Tuan tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku tidak lagi mengingat sesuatu yang buruk, melainkan hanya sesuatu yang indah ..."


"Apa ...?! Hentikan. A-apa maksudmu ...?!" pungkas Luiz cepat, mau tak mau kalimatnya ikut terbata.


Luiz menatap Dasha lagi, kali ini wajah gadis itu terlihat semakin semringah bahkan tersenyum malu-malu.


Anehnya, semua itu justru membuat kekesalan Luiz seolah terpancing, namun urung manakala suara seorang wanita menyela keheningan diantara dirinya dan Dasha yang berdiri berhadap-hadapan diselasar, yang menghubungkan rumah utama dengan Istal.


"Tuan Luiz, Nyonya Lana meminta Tuan untuk sarapan dulu ..."


Seorang maid terlihat berdiri tak jauh dari mereka, sambil menunduk takjim.


"Terima kasih, aku akan kesana sekarang." jawab Luiz sambil membalikkan badan.


Luiz telah mengacuhkan Dasha yang masih berdiri tegak, sambil menatap Luiz yang melangkah berbalik arah, kembali menuju ke rumah utama.


Diam-diam Dasha tersenyum kecil, saat menyaksikan punggung kekar Luiz yang semakin menjauh.


Luiz mungkin masih meragukannya, tapi sesunguhnya Dasha tidak berbohong.


Saat ini, tidak ada lagi hal yang membuat Dasha takut.


Tidak ada lagi bayang-bayang menakutkan pria berwajah buruk, karena sejak semalam Dasha hanya sibuk membayangkan sosok Luiz yang tampan, menawan dan sangat wangi.


Yah, sangat wangi ...!


Aroma mulut dan nafas yang segar seperti daun mint ...


Begitupun dengan aroma tubuh yang sangat manis ...


Dengan keharuman khas oceanic ...


(Cukup Dasha aja. Lah ini kenapa reader malah ikut-ikutan ngebayangin harumnya Tuan Luiz ...?? Bubar ...! Bubaaarrr ...!! πŸ€ͺ)


...


Bersambung ...


My Ig. @khalidiakayum