TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 92. Tidak Membujuk


Jody Frederick yang sejak tadi terus mengawasi gerak-gerik putrinya kini tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.


"Kau bicara dengan siapa, Flo?" tanya pria itu sambil menghempaskan tubuhnya tepat dihadapan Florensia yang baru saja menyelesaikan makan siangnya yang sudah kesorean.


"Luiz, Ayah ..."


Jody Frederick menautkan alisnya saat menyaksikan wajah kesal Florensia yang tergambar jelas di raut wajah putrinya itu.


"Ada apa? Kalian bertengkar?"


Florensia menggeleng malas-malasan. "Tidak bisa dikatakan bertengkar, tapi lebih tepatnya berselisih pendapat saja."


Jody Frederick terdiam, namun sepasang mata tuanya terus mengawasi seraut wajah Florensia.


Lama mereka tak saling membuka suara satu sama lain, manakala pria itu memutuskan kembali bicara dengan Florensia yang terlihat sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Kau yakin sebentar akan menyetir sendiri?"


Florensia mengangguk mantap, menatap sang ayah dengan tatapan meyakinkan. "Ayah tidak perlu meragukanku. I'm fine ..." ujar Florensia sambil menyunggingkan senyum tipis.


"Jangan lupa untuk bersikap baik dihadapan Tuan Arshlan dan Nyonya Lana ..."


Mendengar nasihat itu Florensia pun mengangguk serentak, sebelum kemudian terlihat sedikit termanggu.


Ia tahu persis apa yang sedang di khawatirkan sang ayah. Mengenai sikapnya yang manja dan keras kepala, yang seolah telah melekat erat dalam kesehariannya.


Florensia paham betul mengapa ayahnya merasa perlu untuk mengingatkan dirinya, pasti tak lain karena orang tua Luiz adalah bukan orang sembarangan, terlebih mengingat hubungan baik ayah dan Tuan Arshlan yang cukup baik serta telah terjalin dalam kurun waktu tidak singkat.


"Dadd, bagaimana kalau Luiz tidak menyukaiku?" tanya Florensia lirih.


Florensia tahu persis bahwa selama ini ayahnya tidak pernah sekalipun memaksakan kehendak kepada dirinya, namun karena itu pula keinginan ayah yang menginginkannya menjalin hubungan serius dengan Luiz, seolah menjadi sebuah beban tersendiri bagi Florensia.


"Sebelum ayah menjawabnya, ayah ingin bertanya terlebih dahulu kepadamu. Apakah kau menyukai Luiz?"


"Aku ... sejujurnya Luiz adalah pria yang baik ..." imbuh Florensia gugup, sangat terlihat tidak siap mendapati pertanyaan ayahnya yang mendadak.


"Ayah bisa melihatnya, bahwa Luiz adalah pria yang baik. Tapi apakah semua itu cukup untuk membuatmu menyukainya ...?"


"Seorang pria yang baik, tentu akan disukai siapa saja, ayah ..." imbuh Florensia lagi dengan jawaban yang diplomatis.


"Tapi bukan itu yang ayah maksudkan."


Florensia tertunduk jengah.


"Semua orang boleh saja menyukai Luiz, begitupun ayah. Tapi yang ayah ingin tahu adalah warna hatimu yang sebenarnya ..."


"Ayah ..." wajah Florensia terlihat memelas saat menatap wajah tegas milik Jody Frederick.


"Sudah jelas-jelas kau tidak menyukai Luiz, lalu bagaimana bisa kau malah mengkhawatirkan perasaan Luiz kepadamu ....?"


Telak.


Kalimat Jody Frederick benar-benar telak menghantam bilik hati Florensia. Sangat tepat sasaran.


"Kau masih menyukai 'pria itu' kan?"


Florensia tertunduk lagi.


'Pria itu ...'


'Lionel Winata ...'


'Bodohnya aku ...'


'Apakah semua perasaanku terlihat sangat nampak?'


'Sehingga ayah saja bisa menebaknya dengan begitu mudah, betapa aku masih sangat mengharapkan El ...'


Florensia mencoba tersenyum saat berusaha keras mengangkat wajahnya, agar tetap tegar saat menantang kilau mata ayahnya.


"Flo, ayah tahu kau menyukainya, tapi ayah tidak. Kau tahu kenapa?"


Florensia menggelengkan kepalanya lesu.


"Karena setelah sekian lama, pria itu selalu membuatmu bersedih ..."


"Ayah, percayalah ... selama ini aku selalu berusaha melupakan El, tapi aku tidak bisa ..."


"Karena kau tidak pernah mencobanya, sekeras yang kau kira."


"Tapi, ayah ..."


"Tetapkanlah hatimu untuk Luiz, dan berhentilah mengharapkan El. Cukup lakukan semua itu, selebihnya serahkan saja semua urusan tentang kalian ke tangan ayah. Ayah akan berusaha untuk meyakinkan Tuan Arshlan dan Nyonya Lana, agar bisa mewujudkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius lagi setelah malam ini ..."


🌸🌸🌸🌸🌸


Mendapat pemberitahuan dari salah seorang pengurus asrama bahwa ia telah diperbolehkan pulang sore ini juga, telah membuat Dasha senang bukan main, apalagi saat melihat siapa gerangan sang penjemput yang datang, begitu ia mengenali mobil mewah tersebut dari kejauhan.


Sudah tidak bisa lagi terlukiskan sesenang apa hati Dasha. Saking senangnya ia telah berlari kecil menghampiri mobil berwarna hitam tersebut dengan gerakan gesit, dan begitu pintu terbuka, tanpa membuang waktu lebih banyak Dasha langsung melompat masuk kedalam mobil Luiz yang sejuk dan wangi.


"Halo sayangku ..." sapa Luiz sambil tersenyum.


"Tuaaannn ...!" Dasha memeluk leher Luiz tanpa tercegah, langsung menghujani wajah pria itu dengan ciuman bertubi-tubi, membuat Luiz tertawa kecil sekaligus agak risih.


"Jangan seperti ini, kalau ada yang melihatnya bagaimana ..." bisik Luiz, seraya berusaha mengurai pelukan Dasha, setelah itu langsung menginjak pedal gas mobilnya agar bisa segera berlalu dari area asrama secepat kilat.


Dasha yang berada disamping Luiz sontak mencebik mendapati sikap Luiz.


Penolakan Luiz sudah terlalu sering ia dapatkan, sehingga hal itu sudah tidak mengejutkan dirinya lagi.


"Tuan, apakah kita akan langsung menuju ranch?" tanya Dasha bersemangat, begitu mobil yang dikendarai Luiz mulai bergerak di jalan utama yang padat kendaraan.


"Pesta barbeque lagi?"


Lagi-lagi Luiz mengangguk.


"Kali ini perayaan tentang apa?"


"Daddy Arshlan telah mengundang seorang sahabat lamanya, untuk makan malam ..."


"Cuma itu?"


"Hemm ..."


"Tapi kenapa kata Nyonya Lana, nanti malam akan ada kejutan yang membahagiakan ...?"


Glek.


Luiz menelan ludahnya dengan susah payah.


'Kejutan yang membahagiakan?'


'Huhhf, mommy benar-benar gemar melakukan hal yang memusingkan kepala ...'


Bathin Luiz menggerutu.


Dalam hati Luiz telah benar-benar bertekad untuk menyudahi semuanya malam ini juga, sebelum Florensia dan ayahnya Jody Frederick tiba.


'Aku harus bisa bicara dan bernegosiasi dengan mommy, sebelum semuanya terlambat, karena Dasha jangan sampai tahu bahwa aku sempat menjanjikan kesediaanku untuk membangun hubungan dengan Florensia, meskipun aku melakukannya karena terpaksa, dibawah ancaman wanita keras kepala itu ...!'


Lamunan Luiz yang sedang membayangkan wajah licik Florensia pun terhenti, saat ia merasakan lengannya telah dipeluk Dasha dengan erat.


Tidak hanya sampai disitu saja, karena saat ini Dasha bahkan terang-terangan mengendus dan mencium lengan kekar Luiz yang ada dipelukan gadis itu.


"Dasha ..." lirih Luiz, kembali mengingatkan.


"Tuan tidak merindukan aku sama sekali yah?" saat berucap demikian kepala Dasha telah mendongak, menatap Luiz dengan seksama.


"Kau ini bicara apa, tentu saja aku rindu ..."


"Bohong ..."


Luiz menghembuskan nafasnya pelan, namun fokusnya tetap terarah penuh kejalanan yang ada didepan sana.


"Padahal aku merindukan Tuan tidak hanya setiap hari, tapi setiap waktu ... setiap detik ... setiap saat ..."


"Aku juga merindukanmu, Dasha, kenapa kau selalu saja tidak percaya?"


"Kalau rindu kenapa tidak memeluk ... tidak mencium ... tidak ..."


"Aku kan sedang menyetir, lalu bagaimana bisa melakukan semua itu?" kilah Luiz lagi, melirik kecil kearah wajah cemberut Dasha yang masih menempel di lengannya.


Dasha mengangkat wajahnya dari lengan Luiz, membuat wajahnya kini terlihat sejajar dengan wajah pria yang lebih memilih tetap fokus menatap kepadatan jalan, meskipun degup jantungnya mulai cenat-cenut tak karuan, mendapati senyum nakal yang menghiasi bibir mungil Dasha yang beralaskan lip tint berwarna cherry.


"Kalau begitu hentikan saja mobilnya dan peluk aku dulu ..." ucap Dasha dengan senyumnya yang menggoda. Sedikitpun tak ada nada canggung dalam ajakan nakalnya itu.


Luiz terhenyak mendengar ide gila tersebut, sepasang matanya sontak melotot. "Dasha, kau ..."


"Tuan juga bisa sekalian menciumku dulu ..."


"Astaga, Dasha ... kau ... " mengambang, Luiz hanya bisa mengusap wajahnya dengan frustasi.


Dimatanya kini, gadis belia yang berada tepat disampingnya ini sudah tak ubahnya iblis kecil, yang kerap menggoda imannya untuk berbuat mesum.


Bukannya gentar dengan niat Luiz yang seolah ingin mengajukan penolakannya kembali, Dasha malah semakin melebarkan senyumnya.


"Tuan, sebelum pergi ke ranch, bagaimana kalau kita berkencan sebentar?" seperti biasa Dasha selalu saja bisa membuat hati Luiz menjadi dilema.


Tidak munafik, sesungguhnya Luiz sangat ingin merasakannya. Tidak hanya memeluk, atau sekedar mengecap betapa lembutnya bibir milik Dasha dengan rasanya yang manis, melainkan lebih dari semua itu ... Luiz ingin memiliki setiap inchinya!


Namun disisi lain, jika Luiz nekad melakukannya maka sama saja Luiz telah mengingkari janji yang terlanjur terikrar kepada dirinya sendiri, agar ia harus bisa melindungi Dasha hingga waktunya tiba, saat dirinya benar-benar menjadi seorang pria sejati, pemilik gadis itu seutuhnya.


Sayangnya semua niat tulus Luiz itu terasa begitu berat, manakala Dasha seolah tidak pernah lelah menguji seberapa kuat kadar keimanan Luiz, untuk bertahan dari jerat rayu gadis itu!


"Tuan ..."


Refleks Luiz menepis jemari Dasha yang membelai lembut pahanya.


"Dasha, berhentilah melakukan hal yang konyol seperti ini." pinta Luiz bersungguh-sungguh, rasanya ia bisa gila jika Dasha terus-menerus menguji kesabarannya.


"Tapi Tuan ..."


"Aku bilang hentikan." Luiz melirik sejenak dengan sepasang matanya yang bersinar tegas.


Mendapati hal itu Dasha terlihat melotot kesal.


"Tuan Luiz, aku benci padamu!" semprot Dasha sebelum akhirnya menghentakkan tubuhnya dan menjauhi Luiz.


Namun bukannya membujuk, Luiz malah diam saja, membiarkan Dasha dengan kekesalan yang sudah sampai ke ubun-ubun.


Dasha membuang wajah cemberutnya keluar kaca, dengan bibir yang naik dua centi.


'Tuan Luiz, keterlaluan. Aku bahkan sudah berusaha agresif, tapi dia selalu menolakku!'


'Oh, Dasha, kau harus waspada, karena sepertinya apa yang kau takutkan itu benar adanya ...'


'Bahwa Tuan Luiz tidak benar-benar menyukaimu apalagi mencintaimu, melainkan hanya belas kasihan semata serta perasaan bersalah saja, atas semua kekhilafan yang pernah pria itu lakukan di masa lalu ...'


...


Bersambung ...