TERJERAT CINTA PRIA DEWASA

TERJERAT CINTA PRIA DEWASA
S2. 86. Maaf


Double up.


...


Ketukan di pintu kamar mampu membuyarkan konsentrasi Leo, yang sejak tadi hanya diam termanggu, sambil menatap Victoria dalam diam.


"Biar aku yang akan membuka pintunya."


Leo bangkit dari tepian ranjang dan beranjak mendekati pintu.


"Mommy?" alis Leo bertaut melihat sosok Lana yang berdiri tegak di bingkai pintu, sambil tersenyum.


Mendengar itu, Victoria pun langsung bergegas mendekati Leo.


"Kata Ruth, Victoria sudah bangun ...?"


"Aku sudah bangun, Momm. Maaf tadi aku ketiduran."


Leo belum sempat menjawabnya manakala Victoria yang tiba-tiba sudah berada disampingnya telah menjawab pertanyaan Lana lebih dahulu.


"Tidak apa-apa, Vic. Mommy hanya sekedar ingin memastikannya karena dokter John sudah tiba."


"Dokter John?"


"Mommy bersikeras memanggil dokter John untuk datang, karena begitu mengkhawatirkan keadaanmu." pungkas Leo sambil menatap Victoria.


"Leo berkata benar, Vic, akhir-akhir ini kesehatanmu sering sekali terganggu. Tapi kata Leo, kau malah selalu menolak setiap kali dia ingin mengajakmu memeriksakan diri ..."


Victoria terdiam sejenak, sedikit tertunduk.


Lana berkata benar, karena pada kenyataannya Victoria memang selalu menolak setiap kali Leo ingin memanggil dokter John, untuk memeriksakan kondisi kesehatannya.


Sejauh ini victoria bahkan belum tahu apa yang harus ia putuskan dan lakukan. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya atau malah menyimpannya seorang diri sampai pada batas waktu yang Victoria sendiri tidak tahu.


Yang terjadi pada Victoria adalah kehamilan yang untuk kedua kalinya, dan perasaannya tetaplah sama seperti awal ia mengalami hal serupa, lebih dari lima tahun yang lalu.


Cemas, gelisah, resah, dan yang paling menyesakkan dari semua rasa itu adalah bahwa Victoria merasa seperti berada dalam sebuah ketakutan yang besar.


Takut kembali tidak diinginkan ...


Takut kembali mendapat penolakan ...


Takut menghadapi semua ketakutannya seorang diri ...


"Vic," sentuhan Leo di pundak Victoria telah membangunkan Victoria dari alam lamunan yang menyakitkan.


Gestur tubuhnya yang terperanjat bahkan, ikut mengejutkan Leo dan Lana juga.


"Vic, kau melamunkan apa?" tanya Leo keheranan.


Victoria sontak menggeleng. "Tidak ... aku tidak melamun ..." kilahnya.


Melihat pemandangan itu, Lana pun menghembuskan nafasnya perlahan. Tatapan matanya telah mengarah kearah Leo.


"Leo, pergilah temui dokter John di ruangan daddy. Katakan untuk datang sepuluh menit lagi."


Leo menatap Lana sejenak, namun Lana malah mengusap lengan Leo perlahan.


"Ada yang harus mommy bicarakan dengan Victoria terlebih dahulu. Kembalilah sepuluh menit lagi." pungkas Lana kemudian, yang disambut anggukan Leo meskipun masih dengan wajah diliputi rasa ingin tahu.


Sementara Victoria berdiri dengan raut wajah yang jengah, menanti dengan dada berdebar, apa yang hendak dibicarakan mertuanya, dalam kurun waktu sepuluh menit.


"Baiklah Momm, aku akan kembali dengan dokter John, setelah sepuluh menit." ucap Leo patuh.


Sepasang matanya mengawasi Victoria yang masih tertunduk.


Leo menyentuh pipi Victoria sejenak, sebelum akhirnya beranjak keluar, meninggalkan kedua wanita itu dengan benak yang diliputi sejuta tanya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Hening.


Sepasang mata Lana tengah menatap lurus kearah Victoria, yang duduk tertunduk dengan dua jemari saling bertaut, tak jarang saling memilin satu sama lain, menggambarkan gestur khas dari seseorang yang sedang berada dalam situasi yang dilanda kegugupan.


Sesungguhnya Victoria pun tidak tahu apa yang diinginkan sang mertua, namun meminta waktu sepuluh menit secara terang-terangan untuk berbicara empat mata, jelas membuat bathin Victoria mau tak mau menjadi risau.


"Victoria ..." panggil Lana setelah nyaris satu menit terlewati dengan percuma.


"I-iya, momm."


"Vic, mommy tahu bahwa tidak semudah itu kau bisa mengatakan tentang semua hal kepada Leo, terlebih mommy. Tapi, sebaliknya ... tidak-lah salah jika mulai sekarang, kau pun mencoba membuka diri ..."


Victoria mengangkat wajahnya sedikit. Ia mencoba menentang lama kilau mata Lana, namun pada kenyataan Victoria merasa tidak mampu.


Alhasil Victoria kembali tertunduk, saat menyadari bahwa ia bahkan tidak memiliki keberanian meskipun hanya untuk beradu pandang.


"Yang terjadi padamu sekarang ... pasti kau telah mengetahuinya."


Wajah Victoria kembali terangkat sedikit mendengar kalimat yang terkesan to the point itu.


Mendadak Victoria merasa bibirnya menjadi kelu. Ia semakin tak mampu berkata apapun.


"Ini bukan yang pertama, dan minimal kau pasti telah mencurigai sesuatu. Kau selalu mengatakan dirimu baik-baik saja, dan kau selalu menolak setiap kali Leo ingin kau diperiksa oleh dokter. Kau terlalu gigih dalam menyembunyikan semuanya ..."


"Momm, aku ..."


"Momm, aku tidak mengerti apa yang mommy bicarakan ... aku ... aku ..."


Dengan panik Victoria berusaha membantahnya, namun pada akhirnya ia kembali tertunduk tak berdaya, mendapati seraut wajah Lana yang justru terlihat begitu tenang.


"Maafkan mommy, Vic ... karena pada akhirnya mommy harus melakukan hal yang melanggar privacymu."


Lana menggenggam jemari Victoria, memaksa menantunya itu agar mau menatapnya.


"Mommy begitu ingin tahu, sehingga tanpa kau ketahui, mommy telah menyuruh seseorang untuk membuntutimu pada beberapa hari terakhir."


"A-apa ..? T-tapi untuk apa mommy melakukannya ...?" Victoria terperanjat mendengar pengakuan Lana.


"Untuk mengetahui hal yang sangat ingin mommy ketahui." pungkas Lana, nada suaranya tak berubah sedikitpun, tetap tenang seperti di awal.


Wajah Victoria terlihat bingung. Masih belum paham dengan niat Lana yang telah mengakui bahwa telah memerintahkan seseorang untuk mengawasi gerak-geriknya akhir-akhir ini.


"Tiga hari yang lalu, mommy mendapat laporan bahwa kau telah pergi ke apotik untuk membeli beberapa alat test kehamilan ..."


Nafas Victoria sedikit tercekat mendengarnya, nyaris tak percaya jika dirinya benar-benar dibuntuti hingga sedetail itu.


"Saat semalam kau dan Leo menginap di pantai xx, mommy juga telah menyuruh seseorang untuk menggeledah apartemen kalian, namun mereka tidak menemukan apapun disana ..." Lana berhenti sejenak, sambil mengawasi wajah Victoria yang memucat mendengar semua perkataannya. "Tapi akhirnya mommy menemukan apa yang ingin mommy temukan, saat kau tertidur. Disini, di kamar ini, tepatnya di dalam tas mu ..."


Victoria serentak membekap mulutnya. Kini ia telah paham seratus persen, kemana sebenarnya arah kalimat Lana.


Lana memang benar, perihal tiga hari yang lalu saat Victoria mampir ke sebuah apotik, sengaja membeli beberapa buah alat test kehamilan.


Namun dalam kurun waktu tiga hari, pada kenyataannya dirinya begitu takut untuk menghadapi kenyataan tentang apa yang ia takutkan.


Sampai pada pagi tadi, pada akhirnya Victoria telah melakukan test tersebut pada urine pertamanya saat ia dan Leo masih berada disalah satu kamar hotel xx, dan hasil test tersebut telah disembunyikan Victoria didalam tas miliknya.


Dua buah alat test sekaligus dan keduanya telah menunjukkan dua hasil yang sama.


Positif.


Kemudian hal yang paling menakutkan pun terjadi, manakala berbagai kenangan buruk, tentang bagaimana dirinya pernah mendapat penolakan terbesar di sepanjang hidupnya kembali terputar ulang dalam benak Victoria.


Penolakan dan penghinaan, yang telah mengikis seluruh rasa kepercayaan dirinya, merusak ketegaran jiwanya, menyakiti seluruh bilik hatinya tanpa bersisa.


Membayangkan semua kepahitan itu, rasanya Victoria ingin berlari pergi, menjauh dan menghilang.


"Untuk beberapa saat lamanya mommy selalu berpikir apa yang membuatmu menyembunyikan hal yang begitu penting, sampai akhirnya mommy menyadarinya. Bahwa satu-satunya alasan yang membuatmu melakukannya adalah karena kau tidak memiliki rasa percaya diri, sebagai bagian dari keluarga ini. Kau masih menyangsikan, bahwa untuk hari ini dan selamanya kau adalah menantu di keluarga Arshlan. Victoria, kau adalah istri Leo, dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun ..."


Dua buah bening mengalir bersamaan dari sudut mata Lana.


Sungguh Lana merasa sangat bersalah, telah membuat Victoria mengalami sebuah trauma, yang didalamnya terdapat pula dirinya yang telah andil dan ikut serta.


"Victoria maafkanlah mommy. Mommy penyebab semuanya, sehingga kau telah mengalami hal yang sangat buruk di masa lalu ..."


"Mommy, tidak, jangan berkata begitu ..." dalam sekejap wajah Victoria telah basah oleh air mata. Ia merasa tak sanggup menyaksikan bagaimana Lana menangis sambil meminta maafnya.


"Mommy yang salah, Vic, atas semua penderitaanmu selama ini, tolong berikan mommy kesempatan untuk menebusnya ..."


"Tidak, momm, jangan bicara seperti itu lagi, aku yang bersalah karena aku tidak mendengarkan peringatan mommy sebelumnya. Apapun itu, maafkanlah aku, momm ..." ucap Victoria dengan suara yang serak.


Lana pun mengangguk cepat. "Maafkan Mommy juga ..." ujar Lana kemudian, sambil membalas pelukan Victoria dengan erat. "Victoria please ... jangan pernah kau merasa takut dan sendirian lagi, karena mulai sekarang, mommy berjanji, akan selalu berada disampingmu ..."


Keduanya pun kini saling memeluk, sambil terisak penuh tangis.


Namun berbeda dari sebelumnya, karena kali ini tangis keduanya adalah tangis kebahagiaan, manakala dua hati telah sepakat untuk saling memaafkan, dan menata masa depan dengan sebaik-baiknya.


🌸🌸🌸🌸🌸


Dokter John hendak pamit pergi, setelah memeriksa Victoria, dan Leo yang mengantarkannya sampai ke depan pintu.


"Dokter, apa yang terjadi? Apakah keadaan istriku baik-baik saja?" tanya Leo dengan mimik wajah yang penasaran.


Sejak tadi Leo memang terus berada diluar, karena Lana telah melarangnya masuk kedalam kamar.


"Tidak apa-apa. Semuanya baik." jawab dokter John sambil tersenyum.


"Lalu kenapa mommy melarangku masuk? Memangnya ada apa, dokter?" tanya Leo lagi masih saja penasaran.


"Kalau hal itu, aku tidak tahu, Tuan Leo. Sebaiknya Tuan menanyakan alasannya langsung, kepada Nyonya Lana." jawab dokter John lagi dengan senyum dikulum.


Adalah usaha yang sia-sia, jika Leo berusaha mencari petunjuk, karena sesungguhnya dokter John pasti tidak akan pernah mengatakan apa-apa kepada Leo, sesuai janjinya kepada Lana.


Teenn ... Teenn ...


Dokter John membunyikan klaksonnya dua kali saat mobilnya melintas di teras depan, dimana Leo terlihat masih berdiri disana, menunggu sampai dokter John benar-benar berlalu.


Leo bahkan mengangkat tangan kanannya begitu bunyi klakson mobil dokter John terdengar.


"Ini adalah kejutan yang menyenangkan untukmu, Tuan Leo. Saat kau mengetahuinya, aku yakin, kau pasti akan merasa sangat bahagia ..."


Dokter John bergumam perlahan dibelakang kemudi, sambil tak lupa tersenyum ...


...


Bersambung ...


Support pliiss ... πŸ€—