
Assalamu alaikum wr. wb.
Selamat menjalankan ibadah puasa untuk semua reader yang menjalankannya. Selalu semangat, Inshaallah puasa dan ibadah kita semua dimudahkan, rejeki dilancarkan, hingga kita semua bisa bersama-sama menyongsong hari kemenangan. Amin ... Amin YRA ... 🙏
Sekedar info :
Novel "Terjerat Cinta Pria Dewasa", akan tetap diusahakan up setiap hari, tapi demi khusyuknya ibadah puasa, maka jam up-nya akan diatur pada malam hari, yah ... 🙂
Marhaban ya Ramadhan 🥰
...
Sesuai hasil pengundian, Leo menjadi orang pertama yang akan memulai pertandingan lompat rintang pagi itu, El menjadi yang kedua, sedangkan Luiz menjadi kandidat paling buncit alias yang terakhir.
Saat ini Leo baru saja selesai melakukan misinya dalam rangka menaklukkan semua lintasan yang telah ditentukan sebelumnya.
Sayangnya, meskipun pada awalnya performa Leo terlihat sangat lancar, namun karena kurang fokus atau mungkin juga karena terlalu percaya diri, pria itu justru gagal pada rintangan terakhir, yang merupakan rintangan kombinasi dengan tinggi rintangan diatas satu meter setengah, serta lebar genangan sejauh kurang lebih dua meter.
"Jangan kecewa, kau sudah melakukan yang terbaik sayangku ..." hibur Victoria sambil memeluk Leo, begitu Leo masuk kedalam gazebo.
"Padahal hanya tersisa rintangan terakhir, tapi aku malah salah memprediksi stride (langkah kuda) saat landing (pendaratan) ..." Leo berucap cengengesan kearah Victoria yang tetap menyambutnya penuh kebanggaan.
"Tidak sayang ... kau sudah melakukan yang terbaik. You'are the best ..." puji Victoria lagi kearah suaminya yang akhirnya bisa merasa lega, setelah semua kata-kata penghiburan Victoria yang terdengar tulus memujanya.
Pada akhirnya, meskipun Leo bisa melewati semua lintasan tanpa melebihi batas waktu yang telah ditentukan, Leo tetap harus rela mendapatkan delapan poin faults sekaligus, saat menjatuhkan rintangan kombinasi terakhir, sehingga ikut berimbas pada pijakan kaki kuda yang ia tunggangi menyentuh air di water jump.
"Nona Vic, sepertinya aku harus menggantikan tempatmu sekarang ..." Dasha menjadi penengah adegan manis berkasih sayang antara sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara tersebut.
"Dasar pengganggu ... memangnya kau mau apa sehingga berani-beraninya menyuruh Victoria pindah?" ujar Leo sambil melotot kearah Dasha.
"Giliranku sudah tiba, Tuan Leo, kau tidak lihat kalau Tuan El sudah bersiap-siap diujung sana ...?" jawab Dasha cuek.
"Apa kau bilang?!" Leo terlihat semakin melotot kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa manakala Victoria justru menarik lengannya untuk pindah, seolah sengaja memberikan panggung untuk Dasha.
Leo bahkan hanya bisa mendelik, terlebih saat melihat gadis belia itu terlihat sangat percaya diri saat berdiri tegak bertolak pinggang. Sebelah tangan Dasha kini terangkat dan melambai kearah El yang sedang bersedia di garis start.
"Tuaaann Eeeeelll ... ayoo semangaaattt ...!"
"Uhhukk ...!!"
Bukan hanya Leo yang terbatuk, melainkan juga El dan Luiz yang berada diujung sana.
Luiz yang awalnya sedang mengelus kuda kesayangannya, serentak mendongak mendengar suara teriakan penuh semangat yang sangat ia kenali itu.
'Dasha ...?'
Seiring dengan kepala El yang berpaling kearah gazebo, bersamaan dengan itu pula Luiz memalingkan wajahnya, dan pemandangan yang ditangkap oleh matanya membuat jantungnya ikut mendidih.
Dasha terlihat berdiri dibarisan depan, tempat dimana tadi Victoria berdiri saat menyemangati Leo.
Gadis itu terlihat bertepuk tangan dengan meriah.
'Jadi dia benar-benar memberi dukungan untuk El?'
'Baiklah, Dasha ... dasar bocah nakal, awas saja kau nanti ...!'
Berbeda dengan Luiz yang sibuk meredam amarah akibat rasa cemburu yang bertalu, El justru memilih meraba tengkuknya sendiri yang tiba-tiba saja merinding saat mendengar, menerima, sekaligus menyaksikan yel-yel dari Dasha.
'Hii ... kenapa hawanya terasa horor sekali sih ...?'
El justru beranggapan bahwa sedikit rasa ngeri yang ia rasakan saat ini, mungkin diakibatkan keberadaan Florensia yang sudah pasti sedang berada tepat dibelakang Dasha, yang kini sedang beraksi penuh percaya diri.
El tidak pernah tahu bahwa bisa jadi perasaan aneh yang ia rasakan dikarenakan tatapan tajam dengan aura geram dari seseorang yang sedang berdiri tepat dibelakangnya.
Siapa lagi kalau bukan Luiz ...?
'Aku memang tidak salah mencari supporter yang se-heboh Dasha ...!'
Pada akhirnya El hanya bisa tertawa dalam hati, sambil membayangkan wajah cemberut Florensia yang menggemaskan.
'Ternyata Dasha benar-benar bisa diandalkan. Tidak sia-sia aku mengirim dua lusin cokelat ke kamarnya tadi pagi ...'
'Baiklah bocah manis, karena kau telah melakukan semua tugasmu dengan sempurna, maka itu artinya, aku pun tidak boleh mengecewakanmu ...!'
Begitulah kira-kira tekad El dalam hati, sebelum akhirnya dengan kepercayaan diri penuh ia menarik tali kekang kudanya dengan kuat, memulai pergerakan guna menaklukkan lintasan yang ada didepan mata.
Atraksi menegangkan serta kemampuan yang menuntut konsentrasi tinggi dan keselarasan antara penunggang dan kudanya, sudah pasti memerlukan keahlian dan strategi yang tepat.
Tantangan itulah yang telah membuat El menggilai showjumping.
Tidak berlebihan rasanya jika El merasa yakin ia bisa mengungguli sepasang pria kembar menawan dari keluarga Arshlan. Tapi meskipun begitu, bagi El menang saja tidak cukup.
Misi untuk mengembalikan kepercayaan serta keyakinan Florensia kepadanya, dengan cara menyentil rasa kecemburuan wanita manja itu, merupakan satu-satunya keinginan El.
"Waoowww hebaaaatt ...!!" teriakan Dasha terdengar membahana.
Kali ini ungkapan pujian Dasha tidak lagi bertujuan untuk memanas-manasi Luiz dan menggoda Leo semata.
Sama halnya seperti semua orang yang berada disana, saat menyaksikan bagaimana tangkasnya seorang El dalam menaklukan rintangan demi rintangan, benar-benar telah membuat decak kagum dari semua mata yang memandang.
'Sial ... ternyata pria itu benar-benar mahir dalam berkuda ...!'
Luiz mengumpat dalam hati.
Sama sekali Luiz tidak merasa gentar, oleh karena penampilan El yang memukau.
Melainkan Luiz cukup tahu diri, karena diam-diam ia harus mengakui bahwa ternyata dalam hal berkuda, kemampuannya berada jauh dibawah pria, yang si alnya juga sedang mendapat support penuh dari Dasha.
"Yuhuuuu, aku padamuu Tuaaann Eeeelll ...!!" Dasha tak henti-hentinya bersorak-sorai penuh kegembiraan, tepat disaat El berhasil menaklukkan rintangan terakhir dengan mudah.
Rintangan terakhir, yang tadi telah membuat Leo kehilangan delapan angka sekaligus.
El mendapatkan nilai sempurna, setelah mengeksekusi semua rintangan, dan menyelesaikan semua itu tanpa melebihi waktu yang telah ditentukan.
"Tuan El, kau hebat ...!" puji Dasha sambil memyambut agresif kedua telapak tangan El yang mengajaknya melakukan tos di udara, begitu El memasuki gazebo.
"Berkat dirimu, Dasha ..." ungkap El sambil tersenyum senang.
"Tuan El, melihat aksimu barusan, aku seperti sedang menonton atlit showjumping profesional ..." ungkap Victoria saat El menghempaskan tubuhnya disisi Leo.
"Benarkah? Ah, kau terlalu memuji, Vic ..."
"Aku berkata sesuai kenyataan. Bagaimana menurutmu Nona Flo, bukankah Tuan El terlihat sangat berbakat?" pungkas Victoria lagi, mencoba mencari dukungan penuh dari Florensia yang sejak tadi hanya menyimak tanpa kata.
"Hhemm ... i-iya, kau benar Nona Vic ..." jawab Florensia dengan begitu kikuk.
"Setiap orang tak jarang melakukan sesuatu dengan sempurna, itulah yang disebut kebetulan ..." celetuk Leo tiba-tiba, belum juga sudi mengakui kehebatan El yang baru saja meraih nilai sempurna.
"Tapi Tuan El memang hebat dalam berkuda. Buktinya Tuan El bisa mengalahkan nilaimu ..." celetukan Dasha tanpa ampun, sambil tersenyum mengejek kearah Leo
"Kau ...?!"
"Kompetisi belum berakhir, dan keajaiban bisa terjadi." pungkas Florensia yang seolah baru tersadar, jika ternyata dia harus bisa menyemangati Luiz, kalau perlu harus lebih baik dari Dasha.
Namun saat Florensia berdiri dari duduknya guna memberikan dukungannya, ternyata yang ia lihat didepan matanya telah membuatnya terhenyak.
Tanpa membuang waktu Luiz memang telah memulai aksinya pada sesaat yang lalu.
Entah karena emosi dengan pemandangan keakraban El dan Dasha ...
Entah karena Luiz memang tidak memiliki keahlian yang sepadan dalam berkuda ...
Pada akhirnya pemandangan yang sangat diluar perkiraan pun terpampang nyata di setiap lintasan yang berhiaskan rintangan.
Dimana poles (batang kayu), dengan panjang yang lebih dari tiga meter serta berdiameter kurang lebih sepuluh centimeter yang diletakkan pada cups, serta terpasang di sayap rintangan sehingga dapat jatuh apabila tersentuh kaki kuda, kini semuanya telah berhamburan tak bersisa di sepanjang lintasan.
Total Faults!
Dari dalam gazebo Leo menepuk dahinya melihat pemandangan tersebut.
Sama seperti yang lainnya, penampilan Luiz yang sangat buruk telah memukau setiap pasang mata ... dengan caranya yang berbeda ...
...
Bersambung ...
LIKE, hadiah, vote, comment jangan lupa yah ... 🤗