
Aku mau rekomendasikan sebuah novel karya temanku, author Komalasari yang bergenre Mafia. Kisahnya bagus banget, keren, dan seperti biasa ... π₯π₯π₯ (Kompooorrr π)
Buat kalian yang sudah support Keluarga Arshlan, plis support novel Ini juga yah ... π€
"Mengisahkan tentang Mia, gadis lugu yang jatuh cinta, kepada Matteo, pewaris tunggal dari sebuah organisasi mafia yang sangat berpengaruh."
Penasaran ...? Kepoin langsung Flower and Gun, dari author Komalasari. π₯°
...
"Lisa ... jangan seperti ini ..."
Memang sedikit shock, saking terkejutnya. Tapi setelah bisa menguasai diri dari rasa terkejut akibat sikap Lisa yang tak tertebak, pada akhirnya Leo bisa melepaskan diri dari jeratan kedua lengan Lisa yang terkalung erat di lehernya begitu saja.
Namun sayang semuanya telah terlambat, karena begitu Leo menoleh, ia tidak lagi menemukan sosok kedua kurir pengantar bunga barusan.
"Kemana mereka pergi?"
Leo telah meninggalkan Lisa yang berada tepat dihadapannya.
Kepalanya ikut celingak-celinguk kesana-kemari, menyapu setiap sudut ruangan dengan kedua tangan yang bertolak pinggang.
"Mereka? Mereka siapa yang kau maksudkan, Tuan Leo?" tanya Paul, asisten Leo yang tadi masuk ke ruangan itu bersama Lisa.
Leo terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan ekspresi wajah bingung. "Kedua orang tadi ... kemana mereka?"
"Apakah yang Tuan maksudkan adalah dua orang kurir pengantar bunga ...?"
Leo mengangguk cepat.
"Ohh, mereka sudah pergi ..."
"Damn ..." umpat Leo dengan intonasi rendah.
"Tuan Leo, sebenarnya ada apa? Kenapa Tuan masih mencari mereka ...? Bukankah bunganya sudah ada?" tatapan Paul sontak mengarah pada Lisa yang terlihat membungkuk guna meraih buket bunganya kembali.
"Paul, dimana kau memesan bunga itu?"
"Mega Florist ..." jawab Paul semakin bingung dengan tindak-tanduk Leo yang terlihat semakin aneh.
Leo terlihat memijat pelipisnya dengan kalut.
"Memangnya ada apa? Apakah ada yang tidak Tuan suka dari bunganya ...?"
"Tidak, bukan itu, tapi ..."
"Aku menyukainya. Ini indah sekali ..."
Kepala Leo dan Paul sama-sama menoleh kearah yang sama, kearah asal suara dimana Lisa telah berdiri dengan buket bunga ditangannya. Senyum wanita itu terkembang sempurna, seolah ingin menggambarkan betapa bahagia dirinya mendapatkan hadiah dari Leo.
Untuk sejenak, Leo sempat terdiam, sebelum akhirnya berucap perlahan meski sedikit melenguh.
"Syukurlah ... kalau kau menyukainya ..." lirih Leo lagi, pasrah, terlebih saat menyaksikan Lisa yang telah memeluk buket bunga itu erat-erat, dengan wajahnya yang berbinar.
"Leo, kau bicara apa? Aku pasti akan selalu menyukai apapun pemberianmu."
Leo tidak berucap lagi, hanya diam dengan wajah kuyu.
Sejujurnya buket bunga itu sama sekali bukanlah untuk Lisa, melainkan untuk seseorang yang akan berulang tahun pada besok hari.
Setelah lima tahun, untuk yang pertama kalinya Leo telah memberanikan diri untuk memberikan sesuatu kepada wanita itu.
Lama nian Leo mengumpulkan keberaniannya, agar bisa menghadiahi Victoria sesuatu, dan Leo seolah mendapat celah saat Victoria telah bergadang semalaman suntuk, hanya untuk menunggui dirinya yang sakit pada malam itu.
Sebuah hadiah ulang tahun, sekaligus rasa terima kasih atas perhatian Victoria yang rela mengurus dirinya yang sedang tak berdaya.
Leo sungguh tidak menyangka, dan semuanya seolah seperti kebetulan.
Saat Leo memutuskan menghadiahi sebuket bunga yang indah kepada Victoria, Leo lupa bahwa Victoria bekerja di salah satu Florist.
Saat Leo telah mempercayakan semua ursan itu ke tangan Paul, Paul malah memesan bunga di Florist tempat Victoria bekerja.
Saat Leo sedang menunggu bunga pesanannya, jusru Victoria yang datang mengantarnya langsung.
Namun yang terakhir, yang justru merupakan kebetulan yang paling naas ... tepat dihadapan Victoria, Lisa telah merusak semua kejutan manis Leo, yang sedianya diperuntukkan untuk Victoria, tepat pada jam dua belas malam nanti.
Sore ini, sebuah majalah ibukota telah mengambil waktu resmi untuk mewawancarai Leo dan Lisa secara eksklusive, sekaligus melakukan pemotretan, disebuah resort mewah yang ada dipinggiran kota.
Semua jadwal tersebut masih terkait tentang kesuksesan besar film Love Desire, yang saking suksesnya akan dibuat sekuel sesion dua oleh sang sutradara.
Lisa menyerahkan buket bunga ke tangan salah seorang crew dengan hati-hati. "Tolong bawakan bunga cantik ini keruanganku." pesannya kemudian, sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya kearah Leo. "Leo, aku ikut mobilmu yah ..."
"Lisa, kau kan punya mobil sendiri."
"Aaaa ... aku bosan kalau naik mobilku. Kalau bersama denganmu kita kan bisa mengobrol sepanjang perjalanan." kilah Lisa lagi bersikeras.
Perjalanan ke lokasi wawancara sekaligus pemotretan, memang terbilang cukup jauh.
Butuh waktu beberapa jam lamanya untuk sampai sehingga Lisa sangat berharap bisa menghabiskan sekian waktu tersebut bersama Leo, namun malangnya pria itu tetap mengggeleng.
"Tidak bisa, Lisa, mobilku sudah penuh. Kalau kau memaksa ikut mobilku, nanti Paul bagaimana?"
Mendengar kalimat tegas itu, Lisa tidak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang cemberut, namun toh tetap saja tidak bisa membuat Leo mengubah keputusannya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Cuaca yang sejak siang tadi begitu cerah entah kenapa bisa berubah drastis menjelang tengah malam.
"Tuan, sebaiknya kita menginap saja." usul Paul, saat pihak penyelenggara kembali menawarkan kepada Leo dan Lisa beserta beberapa crew agar menginap di resort tersebut.
"Tidak bisakah kita memaksa pulang malam ini?" tawar Leo, sambil menyibak tirai jendela, tepat disaat bunyi petir telah menggelegar diatas langit malam yang dipenuhi luapan air hujan yang sangat deras disertai angin kencang.
"Menurut berita, di sepanjang jalan juga terdapat pohon tumbang dibeberapa titik."
"Benarkah?"
"Iya, Tuan. Akan percuma juga kalau kita memaksa keluar dari resort malam ini, karena pada akhirnya kita pun akan terjebak kemacetan hingga puluhan kilometer ..."
Leo mengusap pelipisnya, mendengar penjelasan panjang lebar Paul.
Mau tak mau akhirnya Leo pun harus setuju dengan ide sang asisten kalau kenyataannya memang demikian.
Cuaca malam ini memang sangat buruk, dan mereka telah terjebak ditempat ini tanpa bisa melakukan apapun.
"Baiklah, kalau begitu kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Kita akan menginap semalam disini, dan nanti akan pulang pada besok pagi." putus Leo, yang disambut anggukan kepala yang penuh kelegaan, diwajah Paul.
...
Kira-kira tiga puluh menit setelah kepergian Paul, Leo telah meredupkan lampu kamar resort tesebut.
Kini, masih dengan ponsel yang berada ditangan kanan, tubuh tegap Leo terlentang menatap langit-langit kamar yang temaram, diiringi suara gelegar petir yang masih betah bersahut-sahutan dari luar sana.
Tepat pukul dua belas malam, saat alarm ponsel Leo berbunyi, Leo telah menatap layar ponselnya lekat-lekat.
Degup jantung Leo berdegup saat ia telah dihadapkan pada sebuah kontak yang tak lain adalah nomor kontak milik Victoria.
Leo sedang berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menelpon wanita itu, dan berusaha menjadi orang pertama yang akan mengucapkan kalimat 'selamat ulang tahun' untuk istrinya sendiri, manakala ...
Ting ...!
Bunyi khas notifikasi yang menandakan sebuah chat telah masuk kedalam ponselnya terlebih dahulu, membuat tangan Leo refleks menekan icon terima.
'Lisa ...?'
Detik berikutnya alis Leo telah bertaut sempurna, saat mengeja isi chat Lisa yang letak kamarnya hanya terpaut dua kamar dari kamar Leo.
'Cuacanya sangat buruk, dan aku takut tidur sendirian. Bisakah aku kekamarmu?'
Leo belum bisa berpikir jernih manakala ponselnya kembali berbunyi. Nama Lisa tertera jelas dilayar, menandakan identitas dirinya sebagai si penelepon.
Sekali, dua kali, Leo terus saja mengabaikannya, namun terlihat sekali betapa keras kepalanya Lisa kali ini.
Ponsel Leo terus berdering tanpa patah semangat, meskipun Leo telah mengacuhkannya hingga berkali-kali.
"Mau apa lagi sih wanita ini?!" Leo menggerutu kesal, saat menyadari Lisa yang tak kunjung mengalah.
Sehingga pada akhirnya, Leo telah membulatkan tekad untuk mematikan daya ponselnya sendiri dan menaruh wajahnya dibawah bantal.
...
Bersambung ...